Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 19. Kalaupun Iya


__ADS_3

Gea melangkah pulang menuju rumahnya. Ia merasa sangat kesal dengan film india tersebut. Seorang pemuda mengehentikan langkahnya.


“Haa, Sehun Oppa.” Gea menatap wajah pemuda itu, dengan wajah berbinar-binar. Pemuda ini sekilas mirip dengan salah satu boyband Korea.


“Sihun opa??” Tanya Pemuda itu rancu, Gea tersadar jika itu bukan orang yang dia maksud.


“Aaah, maaf.” Jawab Gea menunduk malu bercampur kikuk.


“Hahaha, tidak masalah. Perkenalkan, aku Dami.” Pemuda itu menjulurkan tangannya.


“Gea.” Sahut Gea dengan tersenyum manis membalas uluran tangan Dami. “Wajah ini seperti tidak asing di kepala ini. Siapa yaa?” Bisik Gea dalam hati.


“Aah, apa kau tidak ingat sesuatu mengenai diriku?” Tanya Dami dengan wajah cemas pada Gea. Gea mulai mengingat, dengan melirik resleting Dami.


“Itu semua kesalahpahaman. Aku bukan seperti yang kau pikirkan.” Dami semakin cemas ketika menangkap sorotan mata Gea.


“Aku belum ingat kau siapa? Kesalahpahaman?” Tanya Gea. Raut cemas di wajah Dami, membuat Gea ingat semuanya.


“Khakhakhakhak, kamar Brian kan?” Tanya Gea lagi dengan tertawa geli.


“Aku ini normal. Aku menyukai wanita. Sumpah, aku tidak berbohong.” Dami menjelaskan dengan bersungguh-sungguh, membuat Gea terdiam. Dami mulai menjelaskan kejadian sebenarnya.


“Jadi, semua itu hanya kesalahpahaman?” Tanya Gea dengan wajah serius.


“Mmmm.” Angguk Dami.


“Sudahlah, aku juga tidak akan mengatakannya pada siapapun kalaupun itu benar. Khakhakhakhak. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Tawa Gea lepas berjalan melewati Dami. Penjelasan Dami tidak mengubah pemikiran


Gea tentangnya.


“Aaaah, tetap saja.” Keluh Dami melihat reaksi Gea. Dami langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan komplek.


Sementara itu, Gea melangkah menuju rumahnya. Ia melihat Gina telah menggantikan pekerjaannya, yaitu membersihkan rumput liar. Dengan gaya sombong, Gea melangkah masuk ke dalam rumahnya lalu masuk ke dalam kamarnya. Gea melirik wajah Gina yang tampak kesal melihat Gea.


“Haa, aku akan membuat aktivitasku sesuai dengan hari minggu.” Gea berbaring cantik di ranjangnya, lalu memejamkan matanya. Ponselnya mulai berbunyi.


“Aaaahkk, menganggu saja!!” Teriaknya sembari meraih poselnya yang ada di atas meja.


“Lia?” Tanyanya sembari menerima panggilan tersebut.


“Ya, ada apa Lia?”


“Gea, apa kau sakit? Kenapa kau tidak membalas pesan di grup?”


“Tidak, aku sehat. Ponselku tertinggal di kamar, sementara aku diluar.”


“Oooh, aku kira kau kenapa-napa. Lalu, kemarin kau kemana?”


“Aku, aku ada urusan keluarga.”


“Kau kalau mau libur kode sedikit kenapa. Biar kami ikutan libur.”  Bentak Lia dengan nada emosi.


“Iiiish, baiklah.”


“Mau keluar dengan kami.” Tawaran maut Lia.


“Kemana?”


“Beli masker ke Kepati.”


“Beli masker sampai sejauh itu.”

__ADS_1


“Mau ikut atau tidak.”


“Oke deh, aku mandi dulu.”


“Jam 1 kau sudah sampai di halte Kepati Okee!!” Lia lalu  panggilan. Gea melirik jam dindingnya.


“Gila, 1 jam lagi. Bagaimana mungkin?” Tanya Gea sembari mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah berberes-beres secantik mungkin, Gea melangkah menuju halte depan komplek. Di halte, ia bertemu dengan Ervan.


“Woi Gea mau kemana?” Tanyanya dengan wajah curiga.


“Kepati.” Jawab Gea dengan cuek.


“Ngapain?” Tanyanya lagi.


“Beli masker.” Jawab Gea dengan tersenyum manis.


“Ceeilaah, cuman beli masker sampai sejauh itu. Beliin aku juga yaak.” Ervan menatap Gea dengan wajah semanis mungkin. Gea hanya melirik kesal lalu naik ke atas bus.


Sesampai di Kepati, Gea dan kedua temannya langsung menjelajahi seisi Mall tersebut.


“Hei Lia, bukankah di sini barang-barangnya terkenal mahal. Kau tau itukan?” Tanya Dina dengan wajah sedikit cemas.


“Tenang saja, kita cuma melihat dan membeli satu bungkus masker.” Jawab Lia dengan merangkul kedua temannya. Mereka sampai di toko yang menjual masker. Gea juga ikut memborong beberapa perlengkapan gadis zaman sekarang.


“Apa kau yakin ingin membeli semua ini?” Tanya Lia dengan wajah tidak percaya.


“Mmmm.” Angguk Gea dengan mengeluarkan kartu kreditnya.


“Benar, semua gadis membutuhkan ini.”Dina membantu Gea membawa barang-barang tersebut.


“Masker ini, kau ingin memakai mereka selama 1 tahun?” Tanya Lia lagi.


“Mmmm.” Angguk Gea dengan manis.


“Waah, tempat yang bagus, ayo foto untuk instagram kita.” Ajak Dina sembari mengeluarkan ponselnya.


“Pakai ponsel Gea saja, ponsel baru.” Bisik Lia sembari mengambil ponsel Gea dari tasnya.


“Kau ponsel baru lagi?” Tanya Dina dengan wajah tidak percaya.


“Virus film drama china.” Bisik ganas Lia pada Dina.


“Ooooh, pantas saja.” Dina tertawa geli. Mereka mulai berpacu mempost foto terbaru mereka. Jam menunjukkan pukul 6 sore. Mereka bertiga beranjak pulang. Gea terlihat kewalahan dengan barang belanjaan yang sangat berlebihan, terlebih ia menggunakan bus untuk pulang. Sesampai di halte, ia mulai menghubungi teman-temannya. Sebuah mobil berhenti.


“Apa kau butuh tumpangan ke dalam?” Tanya seorang gadis dari dalam mobil tersebut. Gea hanya mematung dengan sebuah panggilan di ponselnya.


“Hey, gadis murahan, apa kau butuh tumpangan?” Tanyanya lagi .


“Sraaak.” Segelas minuman dingin melayang mengenai wajah gadis tersebut.


“Aaah, apa kau sudah gila?” Tanyanya lagi, ternyata dia Oliv.  Ervan melempar minuman dingin pada wajah Oliv dengan eksepresi tidak peduli.


“Kaulah gadis murahan itu.” Ervan menyeringai, lalu berjalan kearah Gea.


“Apa kau sudah menunggu lama?” Tanya Ervan sembari membawa beberapa barang belanjaan Gea. Gea menggeleng. Dengan cuek, Ervan melangkah duluan.


“Baru juga naik mobil udah sombong, dasar!!” Sindir Bimo yang juga membawa barang belanjaan Gea.


“Aduh, jatahmu sudah dilempar Ervan ke wajah Oliv. Minum saja punyaku.” Didi memberikan minuman dingin miliknya pada Gea yang masih mematung, sementara itu mobil tumpangan Oliv sudah melaju kencang masuk


ke dalam komplek.

__ADS_1


“Tidak usah, aku juga sudah minum.” Gea melangkah santai karena semua barang belanjaannya sudah dibawa oleh ketiga temannya.


“Mengesalkan sekali si Oliv itu.” Lirik Didi dengan wajah kesal.


“Sudahlah, ini bukan pertama kalinya kan, dia memang selalu bertingkah seperti itu. Mengatakan jika aku ini wanita murahan.” Gea melangkah mendahului Didi.


“Hoi Gea, jika kau murahan, berarti kami bertiga juga murahan. Bukankah, derjat kita ini sama.” Gea menghentikan


langkahnya dan menoleh pada Didi. Didi melangkah ke hadapan Gea.


“Benarkan.” Didi mengguntik pelan dahi Gea.


Ervan dan Bimo dengan licik langsung membawa barang belanja Gea menuju rumah Bimo. Mereka mulai membuka satu persatu tas belanja Gea.


“Apa kau tidak pernah membereskan kamarmu ini?” Tanya Gea melihat kamar Bimo yang berantakan.


“Kau bertanya seperti itu seolah-olah kamarmu tidak jauh lebih bersih dari kandang ****.” Jawab Bimo membuat Gea tertawa geli lalu menepuk pelan bahu Bimo.


“Kemarin aku sudah membersihkannya. Hehehe.” Bisik Gea pada Bimo.


“Ini apa?” Tanya Didi sembari membuka sebuah penjepit bulu mata.


“Hey, kalian tidak membutuhkan itu. Itu punyaku.” Jawab Gea sembari merebut penjepit bulu mata tersebut dari tangan Didi.


“Dari sebanyak ini, punya kami yang mana?” Tanya Bimo dengan wajah sangat antusias.


“Ini, lalu masker ini dan yang bungkusan itu.” Jawab gea mulai membagi barang belanjaannya.


“Ini juga?” Tanya Ervan dengan heran.


“Iya, bibir keringmu lebih seksi jika menggunakan lip itu, satu orang dapat satu lip.” Jawab Gea dengan membagikan


lip.


“Apa kau sudah gila? Kami ini anak cowok.” Teriak Didi dengan geram namun tetap mencoba lip tersebut dengan mengoles tipis pada bibirnya.


“Sudah rahasia umum jika perlengkapan wanita juga sudah dibutuhkan oleh pria. Pakai saja!” Teriak kesal Gea.


“Aku akan mencobanya di rumahku.” Ervan berlari pulang ke rumahnya.


“Aku juga.” Didi ikut berlari pulang.


“Mereka, tidak tau terima kasih.” Umpat Gea dalam hati. Gea melirik Bimo yang sudah memakai masker.


“Hey Bimo, bukan seperti itu memakainya, terbalik. Sesuaikan lobangnya.”  Gea membetulkan pemakaian masker Bimo.


“Oh seperti ini, pantas saja aku mangap.” Gea menatap datar pada Bimo.


“Ya sudah, aku pulang dulu.” Gea melangkah keluar kamar Bimo.


“Jangan lupa tutup pintunya.” Gea menutup pintu kamar Bimo.


Gea melangkah menuju rumahnya. Ketika ia hendak melintasi rumah Brian, ia kembali ingat dengan flashdisknya.


“Apa aku jemput sekarang? Ah, besok saja.” Bisiknya. Ia melihat seorang pemuda tenagh bersandar di depan sebuah mobil berwarna hitam dan memandang kearah rumahnya. Tanpa memperdulikan pemuda tersebut, Gea melangkah maju menuju rumahnya.


“Gea.” Gea menghentikan langkahnya dan menoleh pada pemuda tersebut.


“Dia mengetahui namaku, siapa dia?” Tanya Gea dalam hati. Pemuda itu melangkah ke hadapannyanya.


“Apa dia seorang penculik? Tunggu, bukankah itu mobil yang di tumangi Oliv tadi. Suaranya juga, sepertinya aku juga pernah mendengarnya.” Ketika pemuda itu berdiri dihadapannya, Gea memandangnya dengan mendongakkan kepalanya keatas.

__ADS_1


“Astaga,”Gea sangat terkejut melihat wajah pemuda ini, hingga barang belanjaan yang berada di tangannya jatuh.


__ADS_2