
“Dia sudah membuka matanya.” Bisik salah satu siswa. Padangan buram di mata Gea mulai terang.
“Aku ada dimana?” Tanyanya sembari duduk.
“Tidur saja dulu, kau terlihat sangat lemah.” Jawab Haris dengan menahan tangan Gea.
“Haris?” Tanya Gea sembari melirik jam di dinding.
“Tidak usah cemas, hari ini kita kebagian lot pentas seni bagian Band. Jadi kita tidak belajar. berbaringlah.”
“Sekarang, katakan padaku kenapa kau bisa pingsan di pagi hari yang sangat cerah ini?” Tanya Haris lagi.
“Aku, keracunan sarapan.” Jawab Gea mengambil kesimpulan.
“Keracunan sarapan?” Tanya Haris curiga.
“Gisel mana?” Tanya Gea lagi.
“Dia ada di luar, mau aku panggilkan?” Tanyanya. Tiba-tiba Omar datang.
“Bos Raja yang terhormat, dua orang baru itu sudah mengambil panggung. Bagaimana ini?” Tanyanya dengan wajah cemas.
“Siapa?”
“Brian dan Dami, Bos.”
“Biarkan saja, kita di ronde kedua.” Haris berdiri.
“Oh iya, aku ke lapangan dulu. Ketika aku keluar, aku akan menyuruh Gisel untuk masuk.” Gisel masuk dengan wajah cemas.
“Apa kau baik-baik saja? Syukurlah, kau terlihat sangat syok ketika aku membicarakan tentang Brian. Maafkan aku.” Gisel tertunduk sedih.
“Ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Jadi, Brian adalah Dino?”
“Mmmmm, bagaimana skandalnya dulu, aku kurang begitu tau.” Gisel memegang tangan Gea.
“Huuft.” Gea menghela nafas panjang.
“Kenapa? Apa mungkin?” Tanya Gisel memandang Gea dengan sepenuh hati.
“Astaga. Kaulah masa lalu Brian yang hilang.” Ungkap Gisel dengan menutup mulutnya.
“Apa maksudmu?” Tanya Gea lagi.
“Jadi kau tidak tau, jika dia kehilangan seluruh ingatannya tentang dirimu.”
“Apa?”
“Kau, adalah alasan untuk dirinya kembali ke Indonesia.” Gea tampak berpikir lama, dan mulai mencerna semua ucapan Gisel.
“Gisel, apa kau bisa aku percaya?” Tanya Gea dengn sepenuh hati.
“Iya, katakan saja.”
“Cukup diam dan tunggu.”
“apa maksudmu?”
“Jangan bicarakan perihal ini padanya.”
“Kenapa?”
“Percuma, Ji-jika di-dia memang Di-di-dino, dia bukan Dino yang dulu. Dino yang sekarang, sangat membenciku.”
“Benarkah?” Tanya Gisel. Tiba-tiba Lia dan Dina masuk ke dalam ruangan.
“Hoi, bangunlah kau ingin melihat pertunjukan kelas kita. Brian dan Dami kereeen. Sepertinya, kelas kita akan menang.” Sorak bangga Dina mengajak Gea turun dari ranjang.
“Kau terlihat sehat, apa pingsanmu tadi itu acting?” Tanya Lia berusaha menggoda.
“Ya aku beracting, ayoo” Ajak Gea membuat Gisel, Lia dan Dina tertawa.
Mereka berempat sampai di lapangan. Brian terlihat amat piawai dengan bass yang berada di tanggannya. Hampir semua siswa ricuh menyaksikan penampilan mereka.
__ADS_1
The Man Who Can't Be Moved | The Script
Going back to the corner (Kembali ke sudut (jalan) itu)
where I first saw you (Di mana aku pertama bertemu denganmu)
Gonna camp in my sleeping bag ((Aku) 'kan berkemah dalam kantong tidurku)
I'm not gonna move (Aku takkan pergi)
Got some words on cardboard (Kutulis kata-kata di kertas karton)
Got your picture in my hand (Kugenggam fotomu di tanganku)
Saying, "If you see this girl (Tertulis, "Jika Anda melihat gadis ini)
can you tell her where I am" (bisakah kau katakan padanya dimana diriku)
Some try to hand me money (Beberapa orang mencoba memberiku uang)
They don't understand (Mereka tak mengerti)
I'm not broke (Aku bukan orang bangkrut)
I'm just a broken hearted man (Aku hanya pria yang patah hati)
I know it makes no sense (Aku tahu ini tak masuk akal)
But what else can I do (Tapi apalagi yang bisa kulakukan)
How can I move on (Bagaimana bisa kulanjutkan hidupku)
when I'm still in love with you (Jika aku masih mencintaimu)
'Cause if one day you wake up (Karna jika suatu hari kau terbangun)
and find that you're missing me (dan merasa rindu padaku)
where on this earth I could be (dimanakah diriku)
I'm thinking maybe you'd come back here (Kupikir mungkin kau kan kembali ke sini)
to the place that we'd meet (ke tempat dulu biasa kita bertemu)
And you'd see me waiting for you (Dan kau kan melihatku menunggumu)
on the corner of the street (di sudut jalan ini)
So I'm not moving (Maka aku takkan pergi)
I'm not moving (Aku takkan pergi)
Policeman says, "Son you can't stay here" (Polisi berkata, "Nak kau tak boleh di sini")
I said, "There's someone I'm waiting for (Kujawab, "Aku sedang menunggu seseorang)
if it's a day, a month, a year! (entah sehari, sebulan, setahun!")
Gotta stand my ground even if it rains or snows (Takkan pergi meskipun hujan atau salju turun)
If she changes her mind (Jika dia berubah pikiran)
This is the first place she will go (Inilah tempat pertama yang kan dia datangi)
People talk about the guy who's waiting on a girl (Orang membicarakan lelaki yang sedang menunggu seorang gadis)
There are no holes in his shoes but a big hole in his world (Sepatunya tak robek, tapi hatinya terluka)
Maybe I'll get famous asthe man who can't be moved (Mungkin aku kan terkenal sebagai pria yang tak mau disuruh pergi)
__ADS_1
And maybe you won't mean to but you'll see me on the news (Dan mungkin tanpa sengaja engkau kau melihatku di berita)
And you'll come running to the corner (Dan kau kan datang ke sudut ini)
'cause you know it's just for you (karena kau tahu semua ini untukmu)
I'm the man who can't be moved (Akulah pria yang tak mau disuruh pergi)
I'm the man who can't be moved (Akulah pria yang tak mau disuruh pergi)
Going back to the corner (Kembali ke sudut (jalan) itu)
where I first saw you (Di mana aku pertama bertemu denganmu)
Gonna camp in my sleeping bag ((Aku) 'kan berkemah dalam kantong tidurku)
I'm not gonna move (Aku takkan pergi)
Gea terhanyut dalam nyanyian Brian.
“Lagu ini.”
“Prok, prok, prok.”Tepuk tangan yang meriah, membuatnya begitu terhipnotis.
“Kau, aku masih belum percaya.” Gea berjalan menuju meja piket.
“Sebaiknya aku beristirahat dirumah.” Gea mengisi permohonan izin pulang. Seorang siswa menyenggolnya.
“Ah maaf, ini.” Gea dengan mata kesal melirik siswa tersebut. Mata Gea tertuju pada nama yang tertera di bagian kanan baju seragamnya. Nesa Wahyuni. Gea melirik gayanya, dia mirip dengan seseorang yang tidak asing di
mata Gea.
“Sepertinya aku pernah melihatnya. Wajahnya itu, tidak asing di kepala ini.” Gea kembali menulis surat permohonan, dan memberikannya pada guru piket.
Di atas Bus, ia kembali memikirkan Brian. Kata-kata hinaan Brian menghiasi pikirannya.
“Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin.” Gea melangkah turun dari bus. Rasa tidak percayanya, membuat kakinya lemah untuk berjalan. Klakson mobil berbunyi. Seorang pria keluar.
“Gea, hey lama tak bertemu.” Sapanya membuat Gea langsung berdiri. Tatapan was-was ia lempar pada wajahnya. Wajahnya mirip dengan Brian namun lebih pendek dan agak berisi.
“Bang Beni. Apa kau lupa? Aaah, menyedihkan sekali aku ini.” Beni menunduk sedih.
“Aaaah, Bang Beni abangnya Dino.” Sahutnya dengan menunjuk Beni.
“Mmmm, sekarang kau ingat. Dia paling marah jika aku ingin bermain bersamamu. Jangan ganggu Geaku, itu yang selalu ia katakan.” Beni tersenyum.
“Aaah maaf soal tadi malam.” Gea menunduk malu ketika ingat kekacauan semalam.
“Tidak masalah, Dinomu telah membelamu habis-habisan di rumah. Dia tidak akan membiarkan satu orangpun menyalahkanmu.” Ungkap Beni membuat Gea menatapnya lama. Air mata Gea terlihat mambasahi pipinya.
“Apa benar Dinoku masih hidup?” Tanya Gea dengan air mata yang bersimbah ruah.
“Apa maksudmu Gea? Astaga, apa kau tidak mengetahui semuanya?” Tanya Beni balik sembari memeluk Gea.
“A-a-a-ku me-me-lihat pe-tinya. A-aku ba-bah-kan i-kut meng-ngu-burnya.”
“Pemakaman itu hanya sebuah kesalahpahaman.”
“I-i-yaa, sepertinya memang seperti itu.” Gea menghapus air matanya.
“Dinomu itu, terlibat skandal kecelakaan teman syutingnya, pada saat syuting salah satu produk di gunung. Sebenarnya, Dino yang harusnya jatuh ke dalam jurang. Tapi, karena keringanan hati seorang temannya, Dino selamat, dengan luka yang begitu mendalam. Dulu kita menyangka jika Dinolah yang meninggal dengan wajah hancur yang sulit dikenali, tapi ternyata itu adalah temannya. Semua itu terungkap ketika penduduk desa setempat menemukan Dino masih bernafas di ujung jurang. Mereka langsung menolong Dino. Skandal besar mulai terbentuk. Untuk menyelamatkannya, kami dan keluarga berinisiatif membawanya ke Amerika. Maafkan aku Gea, kau seharusnya tidak ikut terluka.” Beni menatap Gea dengan sepenuh hati.
“Tidak masalah, aku bisa menerimanya. Lagian sekarang dia telah hidup sebagai Brian. Bukan sebagai Dinoku.” Gea berusaha menahan air mata lalu melangkah meninggalkan Beni.
“Apa dia sudah mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya?” Tanya Beni menghentikan langkah Gea.
“Tidak, dan itu tidak akan pernah.” Jawab Gea.
“Apa seseorang sudah menceritakannya padamu?” Tanya Beni lagi.
“Iya, jika Brian tidak akan pernah mengingatku kembali. Karena itu adalah efek dari benturan kepalanya yang begitu keras.” Gea lalu melangkah memasuki gang komplek.
__ADS_1
“Jika Gea baru tau dengan dirinya, lalu apa saja yang telah dilakukan si bodoh ini di sini?” Tanya Beni rancu lalu masuk ke dalam mobilnya.