
Brian membawa Gea pulang. Rumah Gea terlihat tertutup rapat. Brian mulai berpikir, tidak mungkin jika dia mengantar Gea pulang dengan kondisi seperti ini. Brian mulai membawa Gea pulang ke rumahnya, dan membaringkannya di kamar tamu.
“Gadis nakal.” Bisik Brian dengan menyelimuti Gea. Karena begitu haus, Brian melangkah ke dapur untuk minum. Brian melirik Gea yang setengah sadar, berjalan menuju kamarnya.
“Ini, kamarmu.”
“Dinoku, hidup kembali. Dinoku, Ahahahaha. Aku tidak tau harus bagaimana? Apa aku harus bahagia? Atau aku harus sedih. Mereka adalah dua orang yang berbeda. Dino selalu bertindak kasar pada semua orang kecuali pada diriku. Tapi Brian sebaliknya. Huaaaa, aku sangat merindukan Dinokuuu.” Gea menangis tersedu-sedu duduk di samping ranjang Brian. Brian melangkah kearah Gea, dan mengambil sebuah peti kecil di bawah ranjangnya.
“Aku baru datang ke rumah ini. Dan aku menemukan foto ini, apa itu kau?” Tanya Brian dengan menatap Gea begitu dalam.
“Iya, ini aku. Peti ini adalah milik Dino. Sendari kecil, aku dan Dino kami telah berteman. Kau tau, Abangkulah yang membuat kami selalu bersama. Tapi, karena dia seorang artis terkenal, itulah yang membuat kami selalu main
di dalam rumah, dan hanya sesekali keluar rumah untuk pergi minum teh es. Jika aku bersamanya, aku merasa nyaman. Aku percaya, tidak akan ada yang akan mengangguku, karena dia adalah tempat teramanku. Walau dia masih kecil, dia mampu memenuhi segala keinginanku.” Gea menatap foto-foto masa kecil mereka.
“Apa kau ingin Dinomu kembali?” Tanya Brian dengan menyentuh rambut Gea dengan lembut.
“Tentu, aku selalu menunggunya. Aku selalu menunggunya. Menunggunya, dan menunggunya sampai kapanpun. Aku percaya, jika dia masih hidup. Aku percaya, jika dia sangat merindukanku. Aku percaya, dia pasti akan mencariku. Aku percaya, jika suatu hari kami akan bersama, hingga maut memisahkan kami.” Gea menatap Brian
sepenuh hati. Brian menghapus air mata Gea, yang tampak mengeluarkan seluruh isi hatinya yang telah terpendam lama.
“Ya, aku sangat merindukanmu. Ya, aku teramat sangat merindukanmu. Ya, aku selalu mencari dirimu, walau itu sampai ke seluruh penjuru dunia.” Brian menatap Gea dengan air mata yang berlinang dimatanya. Dia sangat bahagia mendengar semua pernyataan Gea akan dirinya. Brian berhasil menemukan hal yang selama ini hilang dari hidupnya.
“Jangan menangis, Jimin-Oppa kau tidak diizinkan untuk menangis.” Bisik Gea dengan menyeka air mata Brian. Brian menepis tangan Gea.
“Aku ini Dinomu, bukan Jimin-Oppa. Sadarlah, setidaknya dalam satu tatapanmu itu, jika aku ini Dinomu.” Brian menggoyangkan kedua bahu Gea, berusaha menyadarkan Gea. Gea mulai menggusap matanya.
“Jimin-oppa.” Merasa sedikit kesal, Brian kembali meraih leher Gea dengan lembut dan mengkecup Gea lebih dalam, spontan Gea memejamkan matanya.
“Sekarang, kau tau aku ini siapa?” Bisik Brian dengan pelan pada Gea. Gea mulai membuka matanya. Gea menatap mata Brian dengan sepenuh hati.
“Mata abu-abu. Dino.” Bisik Gea dengan berurai air mata, lalu memeluk Brian dengan sangat erat.
“Kau kemana saja. Aku benar-benar takut, kenapa kau meninggalkanku?” Rintih Gea di dalam pelukan Gea.
“Jangan menangis Gea, aku sudah kembali. Dan aku sudah menemukanmu, oleh sebab itu kau tak perlu takut aku akan selalu menemanimu. Jadi, mari kita mulai semuanya dari awal.” Brian memeluk Gea lebih erat. Seketika, ia sadar jika Gea kembali terlelap di pangkuannya.
Jam menunjukan pukul 3 pagi. Gea mulai membuka matanya. Dia melirik sebuah tangan yang memeluk
tubuhnya dari belakang.
“Tangan siapa ini?” Tanyanya dengan melirik ke belakang.
“Aaah, Brian. Kenapa dia tidur di kamarku?” Gea melirik ke sekeliling kamar. Gea menggeser tangan Brian dari tubuhnya dan duduk dengan pelan.
“Aaah, kepalaku pusing sekali. Ini bukan kamarku. Apa aku salah kamar lagi? Kenapa si Ervan bodoh itu malah mengantarku ke sini? Mungkin itu hasutan si Didi idiot, dia sedang balas dendam karena game kemarin. Bimo kau
dimana? Antar aku pulang Bimo. Bimo tidak mau menantarku, sebaiknya aku pulang sendiri.” Gea berdiri dan keluar dari rumah Brian lalu berjalan menuju rumahnya.
**
Setelah menyambung ingatannya, dan berhasil mengingat semuanya, Gea kembali melirik Brian yang menatapnya dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
“Kenapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu?”
“Mungkin aku harus membantumu sedikit, ayo akan aku tunjukkan sesuatu yang membuatmu ingat dengan sesuatu yang teramat berharga. Kau bermesraan denganku, tapi kau menyebut nama pria lain.” Bisik Brian dengan tersenyum licik lalu menarik tangan Gea. Gea langsung melepas tangan Brian.
“Lagi-lagi kau melepas tanganku dari tanganmu.”
“Aku harus ganti baju dulu. Nanti kita bisa bertemu lagi.” Gea bergegas berbalik badan dan melangkah masuk ke
dalam rumahnya. Brian sedikit terdiam ketika melihat wajah Gea yang berwarna merah menahan malu, yang bergegas masuk ke dalam rumahnya.
“Aku tau, kau sudah ingat semuanya. Bimo yang tidak mau mengantarmu pulang? Aku yang tidak mau mengantarmu pulang dan membawamu bermalam denganku.” Brian tersenyum malu, lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya. Langkahnya terhenti ketika mengingat sesuatu yang lebih berharga.
“Poster itu, seharusnya aku mengambilnya dan langsung membakarnya tepat dihadapannya. Aiiash,” Guman Brian lalu memikirkan sebuah cara licik untuk poster tersebut.
“Ya, ya, yaa, akan aku lakukan.” Brian memikirkan sebuah cara dengan tersenyum licik.
**
Gea masuk ke dalam kamarnya.
“Aaah, dia benar-benar berbahaya, aku juga tidak bisa menolaknya.” Umpat Gea dengan menutup rapat pintu kamarnya.
“Kenapa aku bisa melakukan hal seceroboh itu? Kenapa? Kenapa? Kenapa aku baru ingat sekarang? Kenapa aku baru ingat jika aku sudah bermalam dengan Brian? Apa yang telah aku lakukan dengannya?” Tanya Gea histeris dengan mengacak-acak rambutnya.
“Aku hanya ingat, aku bangun dari tempat tidurnya dan pulang. Aaahhh aku tidak bisa mengingat pada bagian ituuuuu! Apa dia sudah melihat dada ini? Aaaaaaa, tidaaakkk!!!” Teriak Gea dengan duduk lalu menghentak-hentakkan kakinya.
“Aaaha, atau sebaiknya aku bertanya saja padanya. Dia pasti akan menjawab dengan jujur.” Gea dengan kembali berdiri.
“Aaaaah, semua sudah berlalukan, Jimin-Oppaaaa. Kenapa harus dirisaukan. Lagian aku juga akan bersamanya. Cepat atau lambat, aku akan ingat kejadian malam itu. I’m so fine wherever I go. (Aku sangat nyaman kemanapun aku pergi) Gakkeum meolli doragado. (Bahkan jika terkadang butuh waktu.) It’s okay, I’m in love with my-my myself
(Takapa, aku jatuh cinta dengan diriku sendiri.) It’s okay, nan i sungan haengbokhae. (Tak apa, aku senang sekarang.) (BTS-IDOL)” Gea bernyanyi dengan mengganti poster lamanya dengan poster baru. Sebuah pesan
masuk ke dalam ponselnya. Ternyata, itu Brian.“Apa kau sudah selesai mengganti bajumu?”“Aaah, dia benar-benar tidak memberiku waktu untuk bernafas.” Gea melempar ponselnya ke atas meja belajarnya.
“Tapi, jika aku lengah sedikit, dia bisa pergi berduaan dengan Oliv. Tidak akan aku biarkan.” Gea bergegas mengganti baju, lalu keluar dari rumahnya.
“Dimana dia? Aaah, mungkin masih di rumah.” Gea melirik kearah jalan. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Gea. Seseorang turun dengan menggunakan kemeja biru senada dengan topinya.
“Brian.” Gea sedikit tercengang. “Kali ini aku membenarkan ucapan Kak Gina mengenai Brian. Dia jauh lebih tampan dari pada Jimin-oppa.”Bisik Gea dalam hati.
“Ayo.” Ajaknya dengan mempersilakan Gea naik keatas mobilnya.
“Memangnya kita mau kemana?”
“Naik saja, ini kencan pertama kita.” Bisik Brian dengan menarik tangan Gea masuk ke dalam mobilnya. Brian tersenyum licik, itu membuat Gea sedikit curiga.
Mereka berdua sampai di sebuah butik terkenal di pusat kota.
“Ayo turun.” Ajak Brian dengan mempersihlakan Gea turun.
“Kenapa kita kesini?” Tanya Gea lagi.
__ADS_1
“Ikut saja, ayo.” Jawab Brian dengan menggenggam tangan Gea dengan tersenyum manis. Mereka berdua mulai masuk ke dalam butik. Seseorang mulai menyambut mereka berdua.
“Hey, Brian. Apa kabar?” Tanya seorang wanita seksi pada Brian dan langsung mencium kedua pipi Brian dengan ramah.
“Hey, Hana. Kabar baik.” Brian melirik Gea yang terlihat kesal dengan wanita tersebut.
“Ooooh, apa ini yang baru? Yang kemarin bagaimana?” Tanyanya lagi dengan mata genit.
“Apa kau bercanda, hanya dia, tidak ada yang lain selain dia.” Jawab Brian dengan mendorong Gea ke hadapan Hana.
“Gea, ayo sapa Hana. Dia adalah Manager butik ini.”
“Hai, Gea.” Sapa Gea dengan tersenyum manis.
“Hana. Aku tau itu bukan senyuman yang tulus.” Hana tersenyum lebih manis, membuat Gea melemparnya
dengan wajah datar.
“Hahaha, dia memang sedikit kaku dengan itu. Aku mohon, tolong bantu dia.” Brian merangkul Hana, dan memandang Gea.
“Membantu apa?” Tanya Gea rancu.
“Ayo ikut aku, nona seksi.” Jawab Hana dengan menarik pelan tangan Gea. Hana mulai memilih beberapa baju untuk Gea, dan meminta Gea untuk memakainya.
“Bukankah baju ini terlalu terbuka.” Gea yang risih, berusaha menutup belahan dadanya.
“Tidak, baju ini sangat cocok untukmu. Kau tau, kau memiliki asset berharga yang membuat semua gadis iri.” Bisik Hana dengan melirik dada Gea.
“Itulah sebabnya, aku lebih memilih pakaian yang tertutup ketimbang yang terbuka. Aku hanya akan memperlihatkan ini pada orang tertentu, dan bukan untuk konsumsi umum.” Kencam Gea dengan kesal.
“Tunggu, apakah kau pacar setingan Brian?” Tanya Hana dengan wajah rancu.
“Menurutmu?” Jawab Gea dengan lebih kesal.
“Apa kau? Aaaah, kau tau. Dia benar-benar menemukanmu. Astagaaaa, apakah kau benar-benar masa lalu yang telah ia lupakan? Kau tau, dia hidup tapi tak bernyawa karena ia lupa akan dirimu. Baiklah, aku akan mengeluarkan baju khususku untukmu.”Bisiknya dengan tersenyum manis dengan membawa sebuah mini dress
dengan bagian atas tertutup. Baju yang sangat indah, dan sangat elegan dengan warna biru muda.
“Ayo pakai ini.” Hana memberikan Dress tersebut pada Gea. Gea mulai memakainya.
“Emmm, tolong ambilkan hills yang ada di mejaku.” Bisik Hana pada pegawainya.
“Pakai ini, kau akan tampak luar biasa.” Hana memakaikan Gea hills tersebut.
“Terima kasih.”
“Semoga kalian berbahagia.” Bisik Hana membuat Gea menatapnya.
“Tentu.” Bisik Gea lagi.
“Aku akan keluar, bersiap-siaplah tirai ini akan aku buka.” Hana keluar dari kamar ganti.
__ADS_1