Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 51. Once


__ADS_3

Gea melangkah menuju halte, ia melirik Brian yang tampak menunggunya.


“Apa kau tau sekarang ini sudah jam berapa?” Tanya Brian dengan wajah kesal.


“Aku tidak menyuruhmu untuk menungguku.” Jawab Gea lalu naik ke atas bus. Mereka berdua duduk di kursi belakang. Tak lama kemudian, Didi datang dan ikut duduk di samping mereka.


“Hey, apa kau melihat Ervan?” Tanya Didi pada Gea.


“Tidak, dia mungkiiin. Khikhikhikhikhik.” Jawab Gea lalu tertawa cekikikan dengan Didi.


“Dia kenapa?” Tanya Brian.


“Kemarikan telingamu.” Gea membisikkan kejadian semalam.


“Lalu apa?” Tanya Brian lagi.


“Sudah rahasia umum, jika Ervan memiliki hati berlapis baja. Aku rasa, dia sedang mengumpulkan nyalinya untuk menolak Kak Deni. Apa mungkin alasan besar Kak Deni 4 tahun yang lalu untuk menolak beasiswa kuliah di luar


negeri adalah Ervan?” Tanya Gea dengan wajah antusias pada Didi.


“Mungkin. Khakhakhakahkhakhakhak.” Tawa geli Didi sembari memukul bahu Gea dengan manja.


Gea dan Brian turun di halte depan sekolah mereka. Didi melambaikan tangannya dengan gaya sok ganteng.


“Memangnya siapa Kak Deni itu?” Tanya Brian pada Gea.


“Apa kau tidak ingat? Huuft, aku harus membuatmu untuk mengingat semua penghuni komplek.” Gea mengeluarkan ponselnya.


“Ini, adalah foto angkatan pertama komplek kita. Ini abangnya Ervan, namanya Bang Erwin. Bang Erwin memiliki mata yang tajam, kalau dilihat-lihat sih dia mirip sama Siwon. Ini abangnya Didi, kami memanggilnya bang Dodo. Bang Dodo memiliki kulit yang lebih gelap, eits dia seorang tentara, perawakan yang tegap digilai semua wanita. Dan ini, abangnya Oliv namanya Bang Noval, dia memiliki sifat yang sangat lembut, gaya dandy dan lebih flower boy. Dan ini, abangnya Bimo, namanya bang Gempal. Seperti dengan Bimo, Bang Gempal memiliki tubuh yang besar, aku paling suka jika bertemu dengan si Abang Gem ini, karena pasti selalu bawa makanan. Dan yang ini, Abangnya Kevin, namanya Dang Alvan, abang ganteng komplek kita. Lalu wajah yang paling menjengkelkan ini, dia bang Gio, yaitu abangku. Mmm, yang bantat ini, adalah abangmu, Bang Beni.” Terang Gea dengan lugas menjelaskan sebuah foto.


“ Nah ini, foto angkatan kedua komplek kita. Dia, kak Ervin kakaknya Ervan. Ya, wajahnya versi Ervan ceweklah, sudah jelaskan. Kalau yang ini, kakaknya Didi, namanya kak Deni. Sifat Kak Deni hampir sama dengan sifat Didi,


selalu menyebar gossip. Dan yang ini, kakak Aulia, kakaknya Oliv, sekarang aku memperingatkanmu, lihat wajah ini baik-baik. jika kau bertemu dengannya di jalan, kau harus berlari kencang.” Bisik Gea dengan wajah antusias.


“Kenapa aku harus berlari kencang? Lagi pula, aku hanya selalu melihatmu, dan hanya kau yang mengisi komplek itu.” Kerancuan Brian dengan memandang foto tersebut.


“Ya, ya ya, aku memang selalu berkeliaran di kompek sampai tengah malam. Tapikan, bukan aku saja. Ya sudah, aku tidak mau berdebat.Nah, angkatan ketiga adalah kita bertujuh yaitu aku, kau, Didi, Ervan, Bimo, Kevin dan Oliv.


Sebentar lagi tahun baru. Kau harus tau, komplek kita selalu mengadakaan acara tahunan. Dan ketua acara selalu kak Aulia. Dia pasti sudah merencanakan acara, dan yang pasti dia akan merekrut panitia. Heiih, sangat membosankan jika kita menjadi panitia. Mengancam yang tidak akan pernah merasa terancam. Kau mengertikan.”


“Tidak.” Tatap Brian.


“Intinya, jika kau mau keluar rumah kau harus melihat situasi. Mengendap-endaplah seperti kecoa.”


“Huuft, kenapa aku harus seperti itu?” Tanya Brian lagi.


“Jika kau ingin menjadi panitia, langsung saja mendaftar kerumah Oliv.” Jawab Gea dengan wajah datar lalu melangkah meninggalkan Brian.


Mereka berdua sampai di dalam kelas. Dengan sigap, Brian menepis tangan Gea ang hendak meletakkan tasnya di atas meja Haris.


“Kenapa?” Tanya Gea lagi.


“Aku ingin menjadi panitia. Jadi, duduklah di tempatku, dan aku akan duduk di sini.” Jawab Brian membuat Lia, Dina, dan Gisel sedikit tercengang. Gea memutar langkahnya menuju tempat duduk Brian.


“Apa terjadi sesuatu antara kau dan si tampan itu?” Bisik Dina dengan melirik Brian.


“Tidak.” Jawab Gea dengan mengeluarkan sebuah cermin dari dalam tasnya dan mulai merapikan poninya.


“Apa kalian berdua sudah berkencan?” Tanya Gisel dengan menatap Gea lebih dekat.


“Menurutmu?” Tanya Gea balik.


“Aaaaaaaaaaa.” Teriak Dina dengan membaca pesan di ponselnya.


“Kenapa? Kenapa?” Tanya Gea,Gisel, dan Lia.


“Siang ini, siang ini kelas kita dance!” Teriak Dina dengan sangat cemas.


“Apa?”Tanya Gisel, Gea dan Lia secara serempak.


“Kita tidak punya persiapan apapun. Bagaimana ini?” Tanya Gisel dengan sedikit cemas.


“Tenang, semua akan baik-baik saja.” Jawab Gea dengan kembali fokus pada cerminnya.

__ADS_1


“Kau masih bisa mengatakan tenang. Bisa-bisa, kita dipermalukan.” Gisel  menjadi sangat berlebihan.


“Hey, artis terkenal. Dance apa yang sangat kau kuasai?” Tanya Lia dengan mengeluarkan ponselnya.


“Aku, seorang once. Aku menguasai seluruh dancenya.” Jawab Gisel dengan bangga.


“Once? Apa itu Twice?” Tanya Dina balik, dengan membuka mbah google


“BDZ.” Gea meletakkan cerminnya.


“Setuju.” Sorak Dina dan Lia secara serempak.


“Tunggu, apa kalian menyuruhku untuk menari sendirian?” Tanya Gisel lagi.


“Menurutmu?” Tanya Gea balik.


“Hey, kalian tidak bisa seperti itu.” Jawab Gisel dengan wajah geram.


“Hey, sayangku. Lihat ini.” Lia dengan menunjukkan sebuah cover dance, membuat Gisel sedikit terdiam. Penarinya adalah Gea, Lia dan Dina.


“Jika ada perlombaan dance dengan hadiah yang menarik, kami bertiga selalu ikut berpartisipasi. Sekarang, kami ingin melihat kemampuanmu.”  Lia menantang gGsel


“Mari kita coba.” Dina berjalan ke belakang kelas dan mulai memutar music.


Setelah mencoba membagi-bagian dalam dance, mereka berempat mulai mencari kostum.


Jam menunjukkan pukul 13.00 siang. Itu berarti, penampilan dance dari kelas Gea akan dimulai. Para penonton sudah meramaikan lapangan. Tak lupa, Didi, Ervan, dan Bimo membawa rombongannya untuk menjadi supporter.


“Hey, kenapa dari sekolah lain juga datang?” Bisik Dina dengan wajah heran.


“Apa kau tidak melihat kaptennya ada disini?” Bisik Lia lagi.


“Itu pasukanku, anggap saja mereka semua tidak ada. Ingat, tetap tersenyum dengan manis dan semanis mungkin. ayo, kita mulai.” Ajak Gea dengan melangkah menuju tengah lapangan.


“Bukankah ini terlalu ramai.” Gisel  melepas maskernya.


“Sorakan mereka, membuatku benar-benar ingin mencoba panggung.” Gea melambaikan tangannya.


“Selamat siang semuanya, kami dari 12 IPA 3. Ini adalah penampilan terakhir dari kelas kami. yaaak, penontonnya lumayan juga yaa. Mana suaranya!!” Teriak Gea dengan lantang, semua penonton membalas dengan teriakan yang lebih meriah.


“Aku juga melihat yang disana, kenapa kalian semua bisa masuk ke sini?” Tanya Gea lagi. Didi dan rombongan hanya bertepuk tangan.


“Oke, apa kalian siap? Mulai!” Teriak Buk ros, lalu music mulai berlantun.( Twice-BDZ)


[Gea]


Like a bulldozer, like a tank, like a soldier (Seperti buldoser, seperti tank, seperti seorang prajurit)


Kowasu yo kimi no kokoro no gaado (Aku akan membobol penjaga hatimu)


Hitotsu nokorazu ubau yo haato (Aku akan mencuri segalanya dari hatimu)


[Gisel]


Konna kimochi wa hajimete (Aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya)


Daijiken da yo (Ini masalah besar)


Kimi ni deatta totan ni dokidoki tomaranai (Segera setelah aku bertemu kamu, hatiku jadi dag-dig-dug dan tak mau berhenti)


Kodou wa 4 beat supiidoappu 8 beat (Detak jantungku empat ketukan, tambah cepat, delapan ketukan)


Tachimachi hayaku naru (Jadi lebih cepat dengan tiba-tiba)


[Lia]


Dokidoki tte dokidoki tte (Hatiku jadi dag-dig-dug jadi dag-dig-dug)


Arere, kore wa hajimete tte (Ah, ini pertama kalinya)


Doushiyou My love? (Apa yang harus kulakukan, cintaku?)


[Gea]

__ADS_1


 Like a bulldozer, like a tank, like a soldier (Seperti buldoser, seperti tank, seperti seorang prajurit)


Kowasu yo kimi no kokoro no gaado (Aku akan membobol penjaga hatimu)


Hitotsu nokorazu ubau yo haato (Aku akan mencuri segalanya dari hatimu)


Kimi ga suki yo (Aku menyukaimu)


Zettai honmei yo (Aku takkan melewatkannya)


Hachikiresou na omoi subete (Dengan segenap luapan hatiku)


Uchiaketai no negai komete (Dengan harapanku bahwa aku ingin menyatakan cinta padamu)


[Dina]


Dou yatte tsutaeyou meiru ya tegami ja No no (Bagaimana caranya? dengan email atau surat? tidak tidak)


Face to face mukiatte kotoba to egao de Alright (Muka ke muka saling tatap dan kata-kata dengan senyuman, baiklah)


Ano ne, watashi, daiji na hanashi…(Hei, aku punya sesuatu yang penting untuk dikatakan padamu…)


Soko made ieta kedo (Hanya itu yang bisa kukatakan)


Dokidoki tte dokidoki tte (Hatiku jadi dag-dig-dug jadi dag-dig-dug)


Yababa! nani mo ienakute (Ya Tuhan! aku tak bisa mengatakan apa-apa)


Kakugo kimete (Persiapkan diriku)


[ Gisel]


 Like a bulldozer, like a tank, like a soldier (Seperti buldoser, seperti tank, seperti seorang prajurit)


Kowasu yo kimi no kokoro no gaado (Aku akan membobol penjaga hatimu)


Hitotsu nokorazu ubau yo haato (Aku akan mencuri segalanya dari hatimu)


Kimi ga suki yo (Aku menyukaimu)


Zettai honmei yo (Aku takkan melewatkannya)


Hachikiresou na omoi subete (Dengan segenap luapan hatiku)


Uchiaketai no negai komete (Dengan harapanku bahwa aku ingin menyatakan cinta padamu)


[ Lia]


Norikome Boom~boom~boom  (Naiklah, boom~boom~boom)


Kimi no kokoro e to Zoom~zoom~zoom (Ke hatimu, zoom~zoom~zoom)


Gaado wa gachigachi no It’s like a steel (Penjagaannya sulit seperti baja)


Gouin ni Going straight, make it real (Maju terus pantang mundur, buat jadi nyata)


[ Gea]


Like a bulldozer, like a tank, like a soldier (Seperti buldoser, seperti tank, seperti seorang prajurit)


Ichikabachika de sentou moodo (Mode pertempuran tanpa kehilangan apa pun)


Futari kiri de haritsumeta muudo (Suasana tegang antara kamu dan aku)


[Gisel]


Yatto aeta yo (Pada akhirnya kita bertemu juga)


Kitto ne unmei yo (Aku yakin ini adalah takdir)


Koukai saki ni tatanai nara (Karena aku tak ingin menyesal nantinya)


Ima koso honki butsukerukara (Aku benar-benar akan menubrukmu sekarang)

__ADS_1


__ADS_2