
“Makan sudah selesai, kita mulai pembahasan kita pada pertemuan hari ini. Kepada saudari Gea, dipersihlakan untuk memberikan penjelasan tentang bagaimana tentang hubungan kita kedepannya.”Didi berbicara dengan suara ala pembawa acara.
“Didi kenapa?” Gea melirik Ervan.
“Plak.” Ervan langsung menepuk kening Didi dengan sangat keras.
“Auu, apa kau sudah gila?” Tanya Didi dengan wajah emosi pada Ervan. Ervan dengan cuek langsung bertanya pada Gea.
“Kami mendengar ceritanya secara ringkas dari Bang Gio, tapi aku ingin mendengar ceritanya secara detail. Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Ervan dengan santai. Gea mulai menceritakan kisahnya dari awal sampai Nesi tertembak mati.
“Miris sekali, lalu sekarang kakak Gina yang asli sudah berada di rumahmu. Apa kasus ini ditutup begitu saja?” Tanya Bimo dengan antusias.
“Hmmm, aku dengar sebelum Mama tiriku itu menembak Kak Nesi, dia terlebih dahulu membunuh Nesa adik kandung Kak Nesi. Semua sudah tergambar jelas, jika ini hanya dendam, dan Papa memilih untuk mengakhiri kasus ini.” Gea tersenyum kecut.
“Bagaimanapun juga, berkat dia kau masih bisa duduk bersama kami. kau tau, kami bertiga pergi menyusulmu, tapi kau sudah menghilang dari gedung itu.” Lirik Ervan dengan kesal.
“Aku tau itu, kalian juga melacak keberadaanku. Terima kasih.” Gea menunduk hormat.
“Hey, aku juga punya pertanyaan padamu. Kenapa situs kita tidak bisa dibuka? Apa kau memblokirnya?” Tanya Didi dengan geram.
“Itulah masalahnya, situs kita kena blokir. Aku akan membuat situs baru secepatnya. Jangan cemas.” Jawab Gea dengan santai.
“Memulai semuanya dari awal, itu mustahil.” Sindir Bimo pada Gea. “Tenang, Bang Gio sudah mengganti uangnya. Kita bisa membangun perusahaan baru, dan berkeliling dunia bersama.” Teriak Gea dengan bangga.
“Aku kurang percaya.” Bisik Ervan pada Bimo.
“Kau berbisik tapi aku bisa mendengarnya. Kalian harus tau, aku mengundur rasa lelahku untuk menemui kalian bertiga.” Bentak Gea dengan geram.
“Aku ingin berkenalan dengan kakakmu itu, apa besok aku bisa datang ke rumahmu?” Tanya Didi dengan sopan.
“Sejak kapan kau berbicara seperti ini? Biasanya kau masuk sembarangan dan berlalu lalang dirumahku, bahkan membuka kulkas dan memasak mie rebusku.” Jawab Gea dengan wajah curiga.
__ADS_1
“Yaa, setidaknya aku meminta izin dulu.” Didi meminum minumannya.
“Eh, aku lupa jika aku punya sesuatu yang bisa menjawab siapa Nesi yang sebenarnya.”Gea mengeluarkan buku harian tersebut dari dalam tasnya.
“Buku apa itu?” Tanya Didi dengan merapatkan kursinya ke dekat Gea.
“Sepertinya, buku catatan harian Nesi.” Jawab Gea, dengan cepat Bimo dan Ervan ikut merapat. Mereka mulai membaca buku harian tersebut.
**
Buku Catatan Harian Nesi.
Aku tidak tau kapan ini akan berakhir. Tapi yang aku tau, kebohongan ini akan segera berakhir. Aku bahkan
tidak tau ini hari apa, bulan apa, dan tahun berapa. Yang aku tau, ini adalah detik-detik kehancuranku. Tulisan ini, aku buat dengan tujuan supaya kalian tau, siapa aku, dari mana aku, dan apa tujuanku.
Aku terbangun disebuah panti asuhan. Aku tidak ingat dengan siapa namaku? Dan kenapa aku bisa berada di
panti ini. Seorang pria berkisarang umur 40-an datang dan memelukku. Dia menangis dan menyebut sebuah nama, yang sepertinya adalah namaku. Nama tersebut adalah Gina, Ya, Gina Semenip. Dia mengatakan: “Akhirnya Papa menemukanmu, Nak. Ayo, kita pulang.” Bisiknya lalu memelukku. Dekapannya yang hangat, membuatku
Papa membawaku pulang, aku sampai di sebuah rumah yang terbilang sederhana, namun terkesan sangat mewah.
Papa mengajakku masuk dan memanggil seorang anak perempuan.
“Gea, panggil dia Kakakmu. Kakak Gina.” Papa menyuruh gadis kecil itu memelukku. Seketika, seorang anak laki-laki datang.
“Papa, siapa dia?” Tanyanya dengan wajah kesal.
“Gio, dia adikmu Gina.” Tanpa sopan santun dia langsung mendorongku.
“Kau bukan adikku, aku tau betul bagaimana adikku. Pergi!! pergi!!” Teriaknya padaku. namun dengan sigap,
__ADS_1
Papa menamparnya.
“Plak!” Tamparan Papa membekas di pipinya.
“Gio dia adikmu. Karena sudah 5 tahun berpisah denganmu, wajahnya sedikit berubah.” Papa meyakinkan
anak laki-laki itu yang ternyata bernama Gio. Ya, dia Gio semenip. Dia adalah abangku. Dia bahkan melarangku masuk ke dalam kamarku, dan menyuruhku tidur di kamar tamu. Dan mulai saat itu, aku tidur di kamar tamu. Hari demi hari, Bang Gio selalu bersikap dingin dan bahkan sangat kasar padaku. ia bahkan berusaha menjauhi Gea dariku. Dia lebih memilih menitipkan Gea pada anak laki-laki sebelah rumah ketimbang padaku. Hingga suatu hari, di sekolah baruku, beberapa teman kelas yang dibayar oleh Bang Gio selalu membuliku dengan tujuan untuk membuatku mengaku akan diriku yang menurutnya pembohong dan aksi mereka sangat keterlaluan, mereka mendorongku dari tangga sekolah. Aku terguling hingga kepala ini luka parah. Di sanalah, aku ingat, siapa aku sebenarnya. Dan dugaan Bang Gio tentang diriku memang benar, jika aku bukanlah Gina semenip.
Ketika aku tau siapa diriku yang sebenarnya, Aku mulai hidup sebagai seorang pecundang. Karena Namaku yang
sebenarnya adalah Nesi Wahyuni. Aku adalah seornag anak petani di pingggir kota. Ibuku meninggal ketika melahirkan adikku yang seumuran dengan Gea.Namanya: Nesa Wahyuni. Dan aku ingat, selang 2 tahun, Ayahku menikah lagi dengan seorang janda tanpa anak. Ibu tiri yang kejam mulai aku rasakan. Ayah mulai sakit-sakitan dan meninggal. Mulai saat itu, dialah tempat bertumpu bagi diriku dan juga adikku. Dia adalah Mama Linda.
Aku mulai mencari keberadaannya untuk menjemput adikku Nesa. Tapi apa? dia datang dan mulai mengancamku. Jika aku harus hidup sebagai Gina anaknya Papa Sem. Aku tidak mau, tapi dia mengancam untuk membunuh adikku Nesa. Apalah daya, aku harus mengikuti kehendaknya. Sejak hari itu, aku mulai memeras uang Papa Sem dan Mama luni. Bahkan, aku juga memanipulasi uang jajan Gea untuk keperluan hidup Nesa. Dan tanpa aku sadari, Nesa menjadi berlebihan. Gaya hidupnya jauh lebih tinggi di banding pemasukan yang aku berikan. Dia bahkan melaporkan barang-barang baru yang dipakai Gea, dan menginginkan itu semua. Kadang, tanpa sepengetahuan Gea, aku juga mencuri beberapa barang berharganya. Seperti Atm, dan kartu kreditnya.Tak lupa, membuat Gea sengsara, adalah bagian dari permainanku. Membuatnya tersiksa, adalah tawa bagi Mama linda. Itulah sebabnya, kenapa aku selalu membuatnya menangis. Gadis yang malang, Gea juga keluar dari rumah karena diriku, dan karena kesalahanku. Akulah yang mencuri perhiasan Mama Luni, untuk memenuhi permintaan Mama Linda. Kekesalan Mama Luni membuat Gea keluar dari rumah. Ini sebuah keberuntungan bagiku, karena sebelumnya Mama Linda mengatakan jika aku harus membunuh satu diantara mereka, atau dia akan membunuh Nesa. Dan dia mengatakan, jika dia sangat menginginkan nyawa Gea.
Beberapa hari berlalu, Mama linda mulai melacak keberadaan Gea. Aku mendapat kabar jika Gea bertemu dan
menginap di rumah Gina asli. Jantung ini serasa berdegup kencang, dan nafas ini serasa ingin berhenti. Teror mulai datang padaku. mulai dari tikus mati, sampai boneka dengan darah segar.
Aku merasa sangat gelisah, dan langsung menemui Papa untuk meminta pengampunan dengan menceritakan
kejadian sebenarnya. Tapi apa, dengan lembutnya, Papa langsung menjawab. “Papa sudah mengetahui semuanya, bagaimanapun juga, kau tetap anak Papa.” UcapanPapa membuatku menangis dan meminta maaf. Aku mulai menemui Mama Linda. Mama Linda kembali menagih janji, jika ia menginginkan nyawa Gea. Hati terenyuh ketika
mendengar kalimat itu. bagaimanapun juga, aku harus melindungi Gea. Aku mulai mengikuti rencana Mama Linda. Besok malam tepat jam 8, dia akan menembak Gea dari luar rumah Gina. Karena, kehancuran Papa adalah ketika melihat jasad Gea. Aku harus menyelamatkanmu, Gea. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membayar
semua kesalahanku padamu.
Tapi hari ini, aku menemukan jasad Nesa di dalam kamanya. Nesa seperti mati tercekik dengan luka memar di
lehernya. Hati ini hancur, hidup ini terasa seperti mati. Aku kembali berpikir, aku tidak ingin hal serupa terjadi pada Gea. Kami bertiga, akan mati secara bersama. Maafkan aku Ma, Maafkan aku Pa, Maafkan aku Gea, aku mohon maafkan aku Geaa. Semua ini bermula dari masa lalu Papa, yang tidak terselesaikan. Dan semua akan selesai setelah aku mati.
Gea langsung menutup buku tersebut, dan melemparnya pada tong sampah besi di sudt ruangan.
__ADS_1
“Pematik.” Ervan mengeluarkan pematik dari saku bajunya.
“Brusssh.” Gea membakar buku tersebut.