Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 33. Apa Ingatannya Sudah Kembali?


__ADS_3

Tiba-tiba, Jovi mengambil sebuah pisau bedah, dan hendak menodongkannya pada Brian. Mendengar keributan. Sem bergegas masuk ke dalam kamar gelapnya. Sem melihat Jovi yang ingin menyerang Brian.  Sem langsung menghentikan langkah Jovi.


“Eitss, kaki dan tangan kaku.” Tepuk pelan Sem pada bahu Jovi, seketika Jovi menjadi kaku.


“Ada apa ini? apa yang terjadi dengan tubuh ini?” Tanya Jovi sementara Gea dan Brian hanya tercengang.


“Kau ini, pisau ini tidak bisa membunuh Brian. Aku punya golok di dapur. Mau aku pinjamkan?” Tanya Sem sembari mengambil pisau bedah tersebut dari tangan Jovi.


“Dengan pisau itu, aku bisa mencongkel matanya.” Teriak Jovi dengan emosi. Gea melangkah pelan ke hadapan Jovi.


“Plak.” Gea menampar keras pipi Jovi.


“Bukankah tamparan seorang gadis lebih menyakitkan dibanding pukulan seorang pemuda. Jovi, apa kau sadar dengan semua yang kau lakukan ini? Kau menculik Brian dan ingin membunuhnya hanya karena dendam yang tidak memiliki bukti. Jovi, kau tau, jika saja aku berpikiran kacau sepertimu, aku sudah menyeretmu ke kantor polisi. Tapi aku, masih memikirkan bagaimana masa depanmu nantinya. Namun, tiba-tiba aku sadar, untuk masalah sebesar ini perasaanku, tidak boleh ikut campur. Apakah ini saatnya bagiku untuk menggunakan logikaku? Kantor polisi, adalah jalan penyelesaian yang sangat cepat.” Gea meraih ponselnya dari saku kirinya.


“Laporkan saja!! Kau pikir aku takuut!! Aku akan melaporkan balik pembunuh ini!!!” Teriak Jovi.


“Siapa yang kau katakan pembunuh? Mari berbicara dengan bukti. Apa kau mempunyai buktinya?” Tanya Gea balik.


“Aku akan mencarinya, ayo lepaskan aku dulu!!” Teriaknya.


“Akh.” Brian merasakan rasa sakit di perutnya. Gea menoleh pada Brian.


“Kau masih belum boleh banyak bergerak. Bukankah seperti itu Kak Sem.” Sem mengangguk.


“Kau duduk saja, aku akan mengambil sebuah berkas untukmu.”  Gea merangkul tangan Brian untuk duduk di


atas tempat tidurnya.


“Lalu kenapa? Kenapa kaki dan tangan ini tidak bisa bergerak?” Teriak Jovi dengan sangat keras. Sementara Gea keluar kamar, dan mengambil sebuah map berwarna coklat.


“Plak plak.” Gea menepuk kepala Jovi dengan berkas tersebut.


“Sekarang, kau bisa menggunakan tanganmu.”  Sem  tersenyum hambar melihat Jovi yang tampak sangat kacau.


“Ini adalah bukti, jika Brian tidak bersalah. Sebelum itu aku benar-benar meminta maaf, Brian tidak ingat apapun soal kejadian ini. Jovi, Jaka abangmu, memang terbunuh pada saat syuting bersama Brian. Sebenarnya, mereka


menginginkan nyawa Brian. Mereka membuat rencana, dimana hanya Brian yang lenyap. Tapi, Brian berhasil selamat berkat bantuan warga. Di sini, Brian juga korban. Sekali lagi, kami meminta maaf. Andai saja, aku menjadi peretas sejak dulu, keadilan akan Jaka akan di dapatkan. ” Gea menunduk hormat pada Jovi. Jovi langsung membuka berkas tersebut dan mulai menangis. Tangannya gemetar ketika membaca kata demi kata.


“Gea, apa maksudnya ini?” Tanya Brian yang jauh lebih tidak percaya.


“Kemarin, situsku kena blokir. Aku berusaha mengembalikannya. Tanpa sengaja aku meretas tentang skandal dulu. Dan tanpa sengaja, aku juga meretas perbincangan Jovi dengan orang suruhannya. Makanya, aku sampai di perternakan Madani.” Jawab Gea dengan jelas pada Brian. Brian langsung merebut berkas tersebut dari tangan Jovi.


“Jadi Jovi, Jaka dan Brian adalah korban. Apa kau juga ingin mengintimidasi korban lainnya? Memang ini tidak adil untukmu. Tapi Brian juga berusaha mengingatnya dan berusaha menyelesaikannya. Buktinya, saat ini dia sudah berada di Indonesia.” Gea berusaha menenangkan Jovi yang sedikit merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan.


“Maafkan aku, ternyata kau adalah teman baik abangku. Di sana tertulis, kaulah yang menyelamatkan abangku, hingga kau ikut hanyut ke dalam sungai dan hilang selama beberapa hari. Aku meminta maaf akan teror selama ini.


Aku rasa, akan sulit bagimu untuk memaafkanku. Terlebih kejadian kemarin.”  Jovi menangis terisak-isak. Brian hanya terdiam dan mulai berpikir. Jadi sendari dulu, ia sudah tidak menyukai dunia keartisan. Makanya, ia lebih memilih mundur. Tapi, pemilik agensinya yang licik, membalikkan semuanya.


“Pak tua itu.” Kencam Brian dengan sangat emosi.


“Semua sudah jelas. Lalu apa rencanamu Brian? Apa kau ingin memenjarakan si kunyuk ini? Aku bisa memerintahkannya untuk berjalan cepat ke kantor polisi sana, dan membuatnya menceritakan perbuatannya dengan sangat jujur.” Sem mulai menghasud Brian.


“Aku seperti pernah mendengar irama hasutan ini. Tapi entah dimana.” Umpat Gea sembari melirik Sem.


“Apa kau punya paspor?” Tanya Brian pada Jovi, yang gemetar ketakutan mendengar ucapan Sem.


“I-iya, aku baru mengurusnya beberapa hari yang lalu.” Jawab Jovi dengan terbata-bata.


“Mari ke Amerika, kita selesaikan di sana.” Ajak Brian membuat Gea dan Jovi tercengang.

__ADS_1


“Apa? Amerika?” Tanya Gea dengan berjalan mendekat kearah Brian.


“Lepaskan hipnotisnya. Aku tidak ingat siapa Jaka, tapi sepertinya dia memang dekat denganku. Aku akan memberikan keadilan padanya. Mari kita penjarakan pak tua itu.” Kencam Brian dengan semangat.


“Jangan bilang jika mereka berdua akan berduet.” Bisik Sem pada Gea.


“Sepertinya.” Gea melirik Sem yang kecewa akan kegagalan hasutannya.


**


Brian dan Gea menunggu Jovi di depan teras rumah Sem. Jovi pulang untuk mengemas pakaiannya.


“Apa kau juga tidak pulang?” Tanya Gea pada Brian.


“Tidak perlu, aku punya rumah di sana.”


“Apa kau yakin ingin pergi ke Amerika dengan luka yang masih basah ini.” Tanya Gea lagi dengan wajah prihatin sembari menyentuh perut Brian.


“Apa kau akan merindukanku?” Tanya Brian dengan menoleh pada Gea. Tatapan Brian, membuatnya melepas cepat sentuhannya.


“Untuk apa aku merindukanmu?” Tanya balik Gea dengan wajah jijik.


“Aku berharap seperti itu.”


“Cih.” Gea berdecih.


“Jangan pulang dulu, tunggu aku menjemputmu. Kau mengerti.”


“Kenapa aku harus menunggumu?”


“Kau masih bertanya kenapa?” Tanya balik Brian.


“Yaa, aku melihatnya. Kakak itu sangat baik. apa kau tidak berniat sedikitpun?” Tanya Brian lagi.


“Berniat apa? merindukanmu? Tidak!!” Jawab lantang Gea.


“Bukan itu, Tes DNA. Sekilas kalian mirip, namun dari gaya dia lebih seksi. Mungkin kalian memiliki ikatan darah.” Gea terdiam.


“Kau tau, di dunia ini ada 7 orang yang mirip dengan diri kita ini. Dan aku, menemukan satu kembaranku.”  Gea tersenyum manis mematahkan pikiran Brian.


“Kau ini bodoh, atau polos sih? Aiish sudahlah, ketika aku sampai aku akan menelponmu.”Brian melangkah menuruni tangga.


“Kemarin dia mengatakan aku menjijikkan, sekarang dia mengatakan aku ini bodoh. Lalu kenapa dia mau menelponku? Untuk apa coba? Untuk menertawaiku. Cih.” Umpat Gea sembari berbalik badan dengan kesal menuju pintu. Tiba-tiba seseorang memegang tangannya. Gea menoleh.


“Brian, apa lagi?” Tanya Gea dengan wajah kesal. Brian langsung mendekap tubuh Gea.


“Ini yang aku tunggu dari tadi. Aku sangat merindukanmu. Kita baru bertemu, dan aku harus pergi. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Apa kau juga seperti itu?”  Brian  mendekap Gea dengan lebih erat, hingga debaran jantung Brian begitu jelas di telinga Gea.


 “Maafkan aku, tolong maafkan aku, aku sekarang sudah tau jika kau adalah gadis kecil itu. Tunggu aku pulang.


Aku pasti kembali.” Brian melepas pelukannya dan mengkecup dahi Gea, itu membuat Gea mematung.


“ Aku pergi dulu, sayangku.” Brian mundur dan tersenyum hangat pada Gea, lalu berbalik dan berlalu sembari melambaikan tangannya pada Gea.


“Ada apa ini? apa ingatannya sudah kembali? Sayangku.”  Gea menjadi kikuk tak karuan.


“Kenapa dia bertingkah seperti itu? Dia, berkarisma.”


“Oooh Jimin-oppa maafkan kekhilafan jiwa yang rapuh ini. jantungnya benar-benar berdegup kencang.”

__ADS_1


“Kau kenapa?” Tanya Sem yang sudah berdiri di belakang Gea.


“Aaah, Im Fine.” Jawab Gea dengan bergegas masuk ke dalam rumah.


“Im Fine? Wajah merah seperti itu.” Lirik Sem heran. Gea langsung masuk ke dalam kamar.


“Malam itu, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Gea tiba-tiba ingatannya tentang pertanyaan Brian mulai terputar.


“Aaaaah, dimana letak menyenangkannya? Fokus Gea, ayo ingat.”


“Aaah, aku benar-benar lupaa.” Gea melirik ponselnya.


“Bos Besar, 200 panggilan tak terjawab.” Gea langsung menelpon balik.


“Apa aku harus membeli bangunan ini?” Tanya Gio.


“Bang Gio, abang ada dimana?”


“Turunlah, aku akan membunuhmu.” Gea langsung melesat turun. Gea melihat Gio yang berdiri menunggunya.


“Bang Gio.” Teriak Gea dengan semangat lalu berlari dan memeluk Gio.


“Gadis nakal. Bukankah sudah abang katakan, supaya kau ikut bersama abang ke Singapura.”


“Iyaa, maafkan aku. Bagaimana bisa abang menemukanku?”


“Aku pasti akan menemukanmu, walau kau bersembunyi sampai ke dalam perut bumi.”


“Hahaha, bagaimana mungkin aku bersembunyi sampai ke dalam sana.” Tawa riang Gea dengan melepas pelukan Gio.


“Jadi, kau menyewa disini. Berapa sewanya selama sebulan?” Tanya Gio sembari melirik sekeliling gedung.


“Aku tidak menyewa.”


“Lalu, bagaimana bisa kau tinggal di sini. Aku melihat data pemilik gedung ini beserta penyewanya. Tidak ada data siswa SMA. Kau turun dari atas sana. Berarti kau tinggal di lantai atas, dengan penyewa seorang dokter


muda.” Gea hanya terdiam mendengar hasil retasan maut Gio.


“Bagaimana bisa kau menginap dirumahnya?” Tanya Gio dengan sorot mata curiga pada Gea.


“Ceritanya panjang.” Tatapan Gio menjadi-jadi. Gea langsung menceritakan awal bagaimana dia bisa bertemu dengan Sem.


“Dari ceritamu, dia terdengar baik. Sebelum kita pergi, abang harus mengucapkan terima kasih padanya.” Senyum licik Gio membuat Gea terdiam.


“Aku betah tinggal di sini. Jangan bawa aku.”


“Gea, jangan mulai lagi. Abang tidak ingin kau mengalami hal yang lebih buruk lagi.”Gio melangkah naik keatas gedung.


“Abaang, aku benar-benar betah tinggal disini.”Gea memohon sembari mengikuti Gio sampai keatas. Setiba diatas, Gio mematung dengan memandang pemandangan yang indah dari depan rumah Sem.


“Memang sudah kuduga, aku memang harus membeli gedung ini.” Gio  terkesima.


“Benar, buat semua orang di gedung ini membayar uang sewa padaku.” Sahut Gea dengan sangat semangat. Gio langsung meliriknya dengan wajah kesal.


“Apa kau pikir dengan pemandangan ini, abang akan berubah pikiran?  Hmmm, tidak sama sekali. Setelah aku bertemu dengan gadis itu, aku akan menganggap lunas utangnya, dan membawamu dari Negara ini.” Bisik Gio dengan melangkah masuk ke dalam rumah Sem. Gio kembali mematung ketika memasuki rumah Sem. Gio menatap penuh foto Sem yang sengaja di pasang Gea di ruang tamu.


“Ada apa Bang?” Tanya Gea.


“Aku tau, dan aku sudah menemukanmu.” Gio menatap penuh foto tersebut.

__ADS_1


__ADS_2