
“Berondong, apa ini masuk akal?” Gea berjalan memasuki kafe biru. Seorang pemuda dengan mata coklat melambaikan tangan padanya.
“Dia orangnya.” Gea melangkah seksi menuju meja pemuda itu.
“Kris?” Gea menunjuk wajah pemuda itu.
“Gea.” Jawabnya dengan tersenyum manis. Pemuda ini memiliki rambut yang senada dengan matanya. Kemeja dengan celana pendek membuatnya terlihat imut.
“Ayo, duduk.” Ajaknya lagi pada Gea sembari berdiri dan menarik kursi yang berada di hadapannya.
“Terima kasih.” Gea meletakkan tasnya pada kursi yang berada disebelahnya.
“Mau pesan apa?” Tanya Kris pada Gea.
“Es teh.” Jawab Gea dengan cuek tanpa menggeser menu yang diatas meja sedikitpun. Tingkah Gea, membuat Kris tesenyum malu. Kris mulai memanggil pelayan dan memesan es teh.
“Aku tidak menyangka kau mau datang menemuiku.” Tatap Kris dengan malu- malu memulai pembicaraan. Gea melirik Kris dan melihat password Wifi di dinding kafe lalu mulai mengeluarkan ponselnya.
“Iya, bukankah itu harapanmu. Setidaknya aku bisa mengabulkannya.” Gea mengeluarkan ponselnya, lalu membuka situs miliknya.
“Hahaha, oh iya, tadi aku melihatmu sedang membawa teman laki-lakimu ke UKS, dia kenapa?” Tanya Kris membuat Gea menatapnya.
“Dia terserang ayan. Kami hanya membantu.” Gea kembali mengingat kejadian tadi pagi di sekolah.
“Siang ini, di Kafe Biru. Temui dia.” Bisik Dina dengan mata kerlap-kerlip menatap Gea. Mendengar itu, jantung Brian terasa ingin berhenti dengan nafas yang sesak. “Ada apa ini? perasaan apa ini?” Tanyanya dalam hati. Gea memperhatikan tarikan nafas Brian yang terlihat sesak.
“Hey, gigi. Apa kau baik-baik saja?” Tanya Gea cemas sembari menyandarkan Brian di kursi.
“Dia kenapa?” Tanya Dina dengan lebih antusias. Brian tiba-tiba pingsan. Itu membuat seisi kelas heboh.
“Buuk, Brian pingsan!!” Teriak Lia.
“Ayo bawa dia ke Uks!” Teriak Buk Guru. Namun, para pejantan kelas hanya diam dan tak ada yang mau menolong. Dengan sigap, Gea dibantu Lia dan Dina mulai menggotong Brian ke Uks.
“Mana dokternya?” Tanya Gea dengan wajah cemas.
“Dokter hari ini libur.” Jawab salah satu siswa yang sedang bertugas piket di Uks.
“Apa kau sudah gila? Kenapa dokter itu pakai libur. Makan gaji buta!! Lihat, dia sekarat!!!” Teriak Gea sembari menarik kerah baju siswa tersebut.
“Ngak gitu juga kali.” Sindir santai Lia dan Dina secara serempak.
“Dia hanya pingsan biasa, cukup kasih minyak kayu putih dia akan langsung sadar.” Sahut petugas UKS lain dengan membawa minyak kayu putih di tangannya. Petugas itu langsung meneteskan beberapa tetes di hidung Brian.
“Bukankah itu keterlaluan, kau meneteskannya, bukan mengusapnya.” Teriak Gea dengan geram.
“Sebentar lagi dia sadar, dan itu bukan masalah besar.” Petugas itu berjalan keluar. Gea menatap wajah Brian yang
tampak pucat.
“Hanya karena dia berpenampilan seperti ini, kalian jijik padanya!! Lihat saja, akau akan membalasnya.” Kencam Gea dengan penuh amarah. Gea langsung mengusap tetesan minyak kayu putih yang masuk
perlahan ke dalam hidung Brian.
“Hey, sadarlah. Apa kau sudah mati?” Tanya Gea cemas.
“Dia akan sadar, jika kau tidak berteriak-teriak.” Jawab Lia dengan cuek.
“Baiklah aku akan diam.” Gea menunggu reaksi Brian, diikuti ancungan jempol Lia dan Dina.
“Sudahlah, aku sudah tidak sabar, jika dia tidak sadar juga, kita harus membawanya ke rumah sakit.” Gea membuka sepatunya, dan membuka kaus kakinya.
“Hey, apa kau sudah gila?” Tanya Dina dengan menahan tangan Gea. Gea hanya mengangguk, dan mendekatkan kaus kakinya pada hidung Brian. Hidung Brian mulai bereaksi. Dina, dan Lia mulai mengangguk setuju untuk mendekatkan kaus kaki Gea lebih dekat menuju hidung Brian.
__ADS_1
“Sudah, dia sudah sadar.” Lia menarik tangan Gea. Gea langsung menyembunyikan Kaus kakinya ke bawah tempat tidur Brian.
“Apa kau sudah sadar?” Tanya Gea dengan tersenyum manis mencurigakan. Brian duduk, dan mengusap hidungnya.
“Bau acem apa itu?” Tanya Brian sembari melirik tangan kiri Gea yang disembunyikannya, lalu melirik kaki kanan Gea yan tidak memakai sepatu.
“Jangan bilang,”
“Mmmm.” Angguk Lia dan Dina dengan wajah prihatin.
“Aaah, apa kau sudah gila. Hooekk.” Brian langsung berdiri dan berlari keluar Uks.
“Waah, ternyata kaus kaki ini berguna juga. Yang pingsan langsung bisa berlari. Hehehehe, kali ini aku bangga padamu.” Kagum Gea memberikan ancungan jempol pada kaus kakinya yang sangat bau.
“Senyummu manis.”Kris membuyarkan lamunan Gea.
“Oh iya, bukankah kau adalah juniorku. Pangil aku kakak.” Gea menyambut teh es yang dibawakan pelayan.
“Berapa umurmu?”
“17 tahun.”
“Aku juga.” Gea meliriknya.
“Jadi, aku tidak perlu memanggilmu kakak. Salam kenal Gea Semenip. Semoga kita bisa memiliki hubungan yang lebih.” Gea menatap Kris dengan tatapan rancu. Hubungan yang lebih? pikir Gea dalam hati.
“Piwwit.” Suara siulan memecah kemanisan Kris.
“Hoi, sejak tadi aku mengkodemu dari sana.” Didi yang tiba-tiba muncul di depan Gea dan Kris.
“Kode apa?” Tanya Gea dengan cuek. Didi langsung duduk di sebelah Kris dan menyeruput minuman Gea.
“Kode cinta.” Jawab Didi membuat Gea jijik.
“Hahaha.” Tawa sinis Kris membuat Didi menanyakan Kris pada Gea dengan jari telunjukknya.
“Juniorku. Kris. Kris kenalkan dia temanku Didi.” Gea yang kembali fokus pada ponselnya.
“Bukan hanya sekedar junior. Tapi nanti, akan lebih dari itu.” Sahut Kris dengan percaya diri membuat Gea kembali menatapnya.
“Lebih dari itu? lalu aku ini apa?” Tanya Didisembari meniup teh es dengan keras.
“Didi, apa kau sadar ini dimana? Jaga imej.” Bisik Gea dengan menendang pelan kaki Didi.
“Iya, aku ini apa?” Tanya Didi dengan nada
keras.
“Kau, kolor melarku.” Jawab Gea dengan lancang membuat Kris menatap Gea dengan wajah tidak percaya.
“Khikkhikkhik.” Tawa Didi dengan geli karena itulah kata-kata yang dirindukannya.
“Hummhaaah. Aku tidak menyangka.”Kris melepas nafas kesal.
“Iya, Gea memang seperti itu. Masalah?” Tanya Didi pada Kris dengan wajah jengkel.
“Bukan itu maksudku. Aku tidak menyangka jika Gea semenarik ini.” Jawab Kris sembari menatap Gea lebih dekat.
“Huft. Benar, aku ini memang sangat menarik.” Jawab Gea dengan mata kerlap-kerlip manja berusaha membuat Kris jijik padanya.
“Hap! Ada nyamuk di matamu.” Didi menempelkan sendok teh es di mata Gea. Sendok yang sudah di jilat oleh Didi.
“Kenapa kau tidak bilang saja jika ada gajah di mulutku?” Sahut kesal Gea pada Didi, membuat Kris tersipu malu. Menurut Kris, di bandingkan dia dengan Didi, ia jauh lebih menarik. Itulah yang membuat Kris ingin tetap melihat permainan Didi hingga Gea mengusir Didi dari hadapan mereka.
__ADS_1
“Eh, ternyata kalian berdua ada di sini.” Sapa Ervan dengan wajah rancu lalu duduk di sebelah Gea.
“Ada apa ini? Kenapa perasaanku mulai tidak enak? Tumben sekali mereka berdua muncul di tempat janjianku dengan Kris.” Umpat Gea dalam hati.
“Hey Bro, nikmati dulu teh es ini.” Didi memberikan teh es yang sudah di campur aduknya dengan nafas jengkolnya pada Ervan. Ervan meminum Teh es tersebut sampai habis. Melihat Ervan, wajah cemas Kris mulai terpampang jelas. Sepertinya Kriss tau jika Ervan adalah ketua geng badar yang terkenal akan keganasannya.
“Siapa dia?” Tanya Ervan dengan menyenggol bahu Gea.
“Junior Gea.” Jawab Didi dengan riang sembari menghembus rambut Kris dengan nafasnya.
“Junior? Siapa namamu?” Tanya Ervan dengan wajah jantan.
“Kris.” Jawabnya dengan cuek sembari mengemasi barang-barangnya.
“Hey, kau mau kemana? Tidak sopan berkemas ketika seseorang baru datang.” Tahan Didi dengan wajah imut. Kris menepis tangan Didi.
“Aku akan menemuimu lagi di sekolah. Sampai nanti.” Kris tersenyum pada Gea, tanpa mengacuhkan perkataan Didi.
“Hoooo, menemuimu lagi di sekolah. Apa kau tidak ingin tau, jika aku ini siapanya Gea?” Tanya Ervan pada Kris sembari memeluk Gea dan menatap Gea dengan lebih dekat.
“Apa kau ingin membunuhnya?” Tanya Gea dengan wajah mencekam.
“Hmmm. Jika pemuda seperti ini berani menemuimu lagi.” Jawab Ervan membuat Kris menatapnya.
“Apa maksudmu?” Tanya Kris dengan ekspresi jantan. Didi mengeluarkan sebuah batu es dari mulutnya dan menjatuhkannya pada gelas bekas minuman Kris. Gea memahami kondisi ini. Ini pertanda buruk untuk Kris. Gea mendorong Ervan, lalu berdiri.
“Kris pergilah. Besok aku akan membawa soal-soal yang kau minta.”Jawab Gea sembari mendorong Kris pergi. Didi, ikut berdiri.
“Jadi dia menemuimu untuk soal, aku juga punya banyak soal di rumahku. Aku akan memberikannya padamu, jika kau mau bermain denganku.” Didi merangkul bahu Kris. Gea melihat tangan Didi yang mencengkram erat bahu Kris.
“Bagaimana mungkin kau memiliki banyak?” Tanya Gea dengan kesal.
“Aku memiliki sisa kiloan kemarin. Dua lembar mungkin.” Jawab Didi dengan suara cempreng, lalu melepas rangkulannya. Gea mendekat kearah Kris.
“Mereka berdua master tinju kelas berat. Kau bisa habis, pergilah.” Bisik Gea membuat Kris ciut dan bergegas pergi.
“Hey Geaku sayang, apa kau sedang berusaha menyelamatkan si kunyuk itu? Berhentilah untuk menjadi gadis yang sok baik.” Ervan menyantaikan tubuhnya di kursi kafe.
“Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menganggu orang yang lemah.” Gea kembali duduk dan fokus pada ponselnya.
“Ya, kami tidak punya pekerjaan lain.” Sahut Didi dan Ervan secara serempak. Didi melirik kesal pada Gea lalu pergi meninggalkannya.
“Kau bisa berbuat semaumu asalkan tidak di hadapanku dan tanpa sepengetahuanku. Bukankah itu perjajian kita.” Ervan ikut berdiri dan berjalan pelan meninggalkan Gea. Ucapan Ervan menyadarkan Gea jika Ervan dan Didi memang sudah menjadikan Kris sebagai target buruan mereka.
“Sudahlah Ervan, apa sebuah kemampuan selalu kau ukur dengan otot dan isi kolormu?” Tanya Gea membuat Ervan menghentikan langkahnya, berbalik badan. Sepertinya Ervan berubah fikiran.
“Aku tidak akan mengejarnya. Ayo pulang.” Jawab Ervan menatap Gea.
“Kau pikir aku ini bodoh. Didi dan pasukannya sudah pergi mengejar Kris. Dengar, aku akan menyelamatkan Kris dan akan berkencan dengannya. Tak akan ada yang bisa menghentikanku.” Kencam Gea pada Ervan mengemasi tasnya dan mulai melangkah menuju pintu kafe.
“Kau melempar kami, hanya demi sebuah timun.” Teriak Ervan. Timun adalah sebuah isyarat untuk seorang pemuda yang tidak benar.
“Apa maksudmu?” langkah Gea terhenti, dan menoleh Ervan. Ervan berjalan ke hadapan Gea. Ervan merunduk dan menatap wajah Gea yang sudah sangat emosi.
“Tidak ada hal yang lebih berharga dari pada temanku. Teman gadisku yang cantik, kau selalu berpikir menggunakan perasaanmu, sesekali coba gunakan logikamu. Jika dia baik, kami berdua tidak mungkin sampai
di sini.” Ervan mengusap kepala Gea dengan lembut. Gea hanya terdiam.
“Bimo akan segera sampai.” Ervan melempar ponselnya pada Gea lalu berlari keluar kafe dan naik ke atas motor salah satu anggota gengnya.
“Hey, apa kalian sudah gila? Ervaan!!” Teriak histeris Gea. Namun, mata Gea mulai menatap chat yang bertubi-tubi masuk dalam ponsel Ervan. Ia membaca chat demi chat. Chat mengenai dirinya.
“Siapa yang lancang sekali membicarakan tentang diriku ini?” Gea melihat informasi kontak. Dan itu adalah Kris. Chat itu berisi tentang hal-hal negatif mengenai Gea. Mulai dari payudaranya, pantatnya, dan anggota tubuh yang seharusnya tidak di bahas, menjadi pembahasan dalam chat tersebut. Gea mencari kontak Didi yang ada di dalam ponsel Ervan, dan mulai membuat panggilan.
__ADS_1
“Bunuh timun pecudang itu!” Gea mengakhiri panggilan dan berjalan menuju halte bus.