
Dua orang pria dengan balutan pakaian serba hitam tengah menyeret seorang pria yang terlihat kacau dengan tubuh penuh luka.bahkan wajah pria itu hampir tak bisa di kenali lagi akibat puluhan pukulan yang di dapatkannya.mereka memasuki sebuah ruangan yang begitu luas.lantai bewarna kecoklatan seketika ternoda darah dari pria yang di seret.
Di ruangan itu terdapat puluhan pria lainnya yang berdiri melingkari di tengah-tengah ada sosok yang paling mencolok sedang berdiri dengan seseorang lainnya berdiri Gagah di belakangnya.
Pria yang diseret itu di lempar hingga tersungkur ke bawah kaki Arnold yang sedang berdiri.arnold menatap pria menggunakan mata elangnya yang tajam.
"Siapa yang mengirimmu kesini"ucap Arnold dengan kedua sorot mata tajamnya yang menakutkan.
"Hei"pekik Kom pria yang menyeretnya
"Bos baru saja mengajukan pertanyaan,jawab dia!"pekiknya Sambil menarik rambut pria itu membuatnya mendongak ke atas melihat wajah Arnold lalu di dorongnya ke depan yang membuat pria itu sedikit tersungkur.
"Jika kau tidak akan menjawab,kalo begitu"
Kom yang langsung megerti apa yang harus ia lakukan.
Dorr...
Suara tembakan yang membuat semua orang di sana tersenyum menyeringai.
"AKHhh"pria itu memegangi kakinya yang terkena timah panas.
"Bersihkan kekacauan ini"dan cari tau siapa yang mengirimkan bajingan ini.
Arnold langsung pergi meninggalkan tempat itu dan di susul oleh Ethan yang mengikuti bagai ekor.
"Tunggu!jangan sakiti aku!aku akan memberitahu Anda!"
"Sudah terlambat"ucapnya sambil tersenyum tipis.
Dorr...
Dorr...
Sementara di ruangan nampak pria sedang duduk di sebuah kursi kebesarannya sembari menyanga pipinya sedangkan tangan kirinya di letakan di atas meja dengan jari-jari yang bergerak mengetuk-ngetuk meja.
Nampaknya dia sedang menunggu kedatangan bawahannya untuk membawakan kabar.
"Maaf bos!anak buah yang kita suruh semuanya mati"Ucap pria itu sambil menundukkan kepalanya.
Sontak mendegar perkataan pria itu langsung berdiri memukul mejanya dengan keras.
Bungg...
"Mereka semuanya mati?!"bukankah Anda mengatakan hanya satu dari mereka yang tertangkap.
"Orang yang tertangkap mengakui segalanya"tapi gudang itu juga hancur.
"Saya tahu!tapi itu berarti dia tahu bahwa aku di balik semua ini"ucapnya dengan marah kepada bawahannya itu.
"Baik anda atau saya.salah satu dari kita harus pergi ke kuburan lebih dulu!"ucap nya dengan percaya diri sekali.
"Hei!"pekiknya yang begitu marah dia mengepalkan kedua tangannya sesekali menggeretakan Giginya.
"Beritahu semua orang Bahwa kita akan mengadakan pertemuan mendesak"menatap lekat ke Arah bawahannya.
__ADS_1
"Baik boss"jawab pria itu dan langsung pergi meninggalkan bosnya itu.
"Arnold!"pekiknya
Sedangkan di kediaman Arnold caca tengah ketakutan megamabil paperbeg itu dia melihat paperbeg itu ternyata isinya.
"Apa isinya non?"ucap bik Ida yang penasaran.
"Belum bik ini masih juga mau di ambil,bibik sebaiknya agak munduran sedikit"pinta Caca yang tengah berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Ayo Caca jangan takut itu pasti bukan bom atau Kepala manusia kamu jagan takut"batinnya
"Buruan non"pinta bik ida yang tidak sabaran
"Sabar bik sedikit lagi"ucap Caca yang tengah megambil paperbeg itu.
Caca megambil paperbeg itu dengan mata yang terpejam dia mengeluarkan isi dari paperbeg itu tanpa melihatnya.
"Walah ternyata cuman dress non"ucap bik Ida
"Apa!"pekiknya
"Tidak jadi mati dong"batinnya
"Dress"ucapnya merasa penasaran Caca langsung membuka kedua matanya dengan Pelan ternyata benar itu sebuah dress.
Dress itu bewarna navy lengkap dengan pernak-pernik biasa di sekitar kera baju.
Ternyata di dalam paperbeg itu bukan cuman dress tapi beserta satu set pakaian dalamnya.
Sontak mata Caca menjadi melotot memegang kedua pakaian itu tidak percaya satu set pakaian dalam.
"Tidak ada bik"ucapnya dengan buru-buru memasukan kembali pakai itu ke dalam paperbeg.
Caca buru-buru masuk ke kamar lalu menguncinya meninggalkan bik Ida yang sedang barada di luar.
"Apa ada yang salah dengan dres itu"bik Ida mempertanyakan pada dirinya sendiri,lalu pergi turun ke bawah.
"Apa pria ini tidak merasa malu ketika membelinya!"ucapanya terkejut melepaskan pakaian itu ke atas tempat tidur.
"Apa dia melihatnya waktu itu pada saat aku sedang pingsan"pekiknya.
"Jika ia aku tidak akan segan-segan membuat matanya Merasakan kegelapan malam yang panjang Tanpa adanya cahaya"gerutunya yang sangat marah.
Setelah menggati pakaiannya Caca turun ke bawah untuk sarapan meskipun dia tidak mau,tapi cacing di dalam perutnya terus saja menganggu dirinya dia selalu saja berteriak keras mintak di isi dengan makanan.
Caca yang sudah selesai sarapannya ingin membatu bik Ida untuk mencuci piring tapi bik Ida melarangnya dia bilang kalo sampai non melakukan itu maka tuan Arnold akan marah padanya dan langsung memegal kepala bik ida.
Caca yang merasa bosan karena sama sekali tidak melakukan apa-apa.
"Bik Apakah di ruang tahanan itu ada penjaganya"ucapnya dengan nada Pelan dia takut para anak buah Arnold akan mendegarnya.
"Sebaiknya non Jangan pergi kesana"ucap bik Ida.
Caca yang penasaran kenapa tidak boleh pergi ke ruang tahanan bawah tanah.
__ADS_1
"Kenapa bik!"
"Jangan pergi kesana non di sana sangat berbahaya banyak tahanan yang dikurung dan langsung di bunuh"tutur bik ida.
"Bik bisakah kau isi piring ini dengan makanan"ucapanya sambil menyodorkan piring.
"Emangnya non masih mau makan membawanya ke kamar?"
"Iya bik isi yang banyak soalnya aku masih laperr"
"Ini non apa mau bibik yang bawakan sampai ke kamar"tawar bik Ida
"Tidak usah bik!aku bisa sendiri".
Melihat bik Ida yang sudah pergi ke dapur Caca pun pergi.
Dia berjalan mengendap-endap memperhatikan apa ada anak buah Arnold yang sedang berjaga.
Yang benar saja dugaannya banyak sekali anak buah Arnold yang sedang berjaga di ruang tahanan itu dengan pelan Caca terus berjalan agar suara kakinya tidak kedengaran oleh anak buah Arnold.
"Hei"pangil seseorang
"Mati dia pasti melihatku"batinnya Perlahan Caca menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang melihatnya.
"Dia"pekiknya
Arnold berjalan kearah Caca tidak lupa dengan wajah datarnya dan tatapan mata tajamnya.
"Apa yang kamu lakukan disini"Ucapnya dengan nada suara tinggi yang tengah mengintimidasi Caca.
Caca yang terkejut memejamkan matanya rasanya dia ingin sekali menghilang dari tempat ini pergi jauh sejauh yang dia bisa, tubuhnya terasa gemetar rasanya kakinya tidak sanggup lagi untuk berdiri.
"Tolong jangan bunuh aku, aku cuman ingin megasihkan makanan ini pada kak Rere yang berada di dalam sana,aku berniat baik aku tidak sedang berusaha kabur"ucapnya dengan jujur dia tidak sedang berbohong.
Hiksss....
Hikksss,,,,,,hikssss
Seketika hati Arnold luluh dia merasa sakit ketika wanitanya menangis karenanya.
"Hei! kamu kenapa nagis"ucap Arnold sambil menghapus air mata Caca.
"Ak----aku ti---dak ma-----mau ka----kabur"hikss, hikss Caca terus saja menagis.
"Lalu?"
"Ak----aku mau mega--sihkan mak--anan ini"ucapnya yang gemetar terbata-bata.
"Wanita itu!"sambil menunjuk ke arah ruang tahanan.
Caca mengangguk kepalanya.
"Yasudah aku akan membawamu memberikannya"ucap Arnold dengan nada Santainya.
Mendegar itu Caca langsung menghapus air matanya.
__ADS_1
"Benarkah?"Caca bertanya sekali lagi untuk memastikan.
"Baiklah ayok"ajak Arnold yang berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh Caca.