Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia
43.


__ADS_3

Brukk....


Pria itu ambruk seketika dengan Masih memegang pistol di tangannya lalu tewas dengan mata terbuka.


Tuan papur Wijaya dan Arnold dibuat kagett dengan apa yang dilihatnya Arnold yang tidak tahu dengan musuh dibelakang yang sedari tadi memperhatikan dirinya mencari kesempatan untuk membunuhnya.


Namun ia melihat Ethan beserta anak buahnya yang berhasil masuk yang tandanya mereka berhasil mengalahkan semua penjaga milik papur Wijaya, Arnold mulai menarik senyumnya yang mengerikan.


Papur Wijaya yang melihat itu kini wajahnya menjadi pucat.karena ia tidak memiliki lagi orang yang dapat melindungi dirinya.


"Ada apa tuan papur Wijaya?"


"Aku melihat ada kegelisahan di dalam dirimu"Arnold tak henti-hentinya tertawa melihat wajah papur Wijaya yang saat ini sedang ketakutan.


Papur yang saat itu ketakutan ia mencari cara untuk kabur saat papur melihat pas bunga yang ada di atas mejanya ia langsung meleparkanya ke arah Arnold.


Praank....


Pas bunga itu jatuh berkeping-keping.namun Arnold berhasil menghindarinya.


"Seseorang akan melukai orang lain ketika orang itu akan mencabut nyawanya"ucap Arnold menaikan alisnya.


Tidak berhenti disitu papur megambil pistol miliknya yang diletakkanya di atas meja


"Sudah cukup bermainnya mari kita akhiri"teriaknya yang siap menarik pelatuknya.


"Hahahah"bukanya takut Arnold Malah tertawa.


"Ada apa ini"umpatnya.


"Sialan"papur yang merasa aneh kenapa pistolnya tidak bisa digunakan saat situasi Genting begini,papur yang menyadari bahwa pistol miliknya tidak ada pelurunya.


Papur langsung meleparkan pistol itu dengan keras papur merasa marah karena telah dikhianati oleh anak buahnya sendiri.


"Kelamaan"pekik Arnold.


Dorrr....


Dorrr....


Timah panas itu tepat mengenai bagian dada papur Wijaya sebelah kanan dan juga kiri.


"AKhhh"ucap papur yang merasakan sakit yang amat teramat sakit sembari memegangi luka tembaknya sebelum akhirnya tewas.


Flashback:


Arnold meyuruh anak buahnya untuk memata-matai markas milik papur dengan bekerja dengannya sebagai pengawal.


Saat ia diterima bekerja dengan papur Wijaya mereka selalu tahu impormasi tentang papur sebelum malam ini tiba papur meyuruh anak buah Arnold yang bekerja dengannya untuk megisi peluru pistol miliknya.


Biasanya papur akan selalu mengeceknya sendiri dengan cara menebaknya ke dinding,tapi malam ini ia tak melakukannya karena ia berfikir pasti mereka melakukan tugasnya dengan baik.

__ADS_1


"Siapa namamu?"tanya pria itu.


"Saya Tio"jawabnya bohong ia menggunakan nama samaran supaya tidak ketahuan bahwa ia sedang meyamar.


"Kamu sepertinya baru"ucap pria itu yang asing dengan pria di hadapannya.


Namun Tio tak menjawab ia mengangguk kepalanya,


"Yasudah ambil ini"ucap pria itu memberikan pistol.


"Apa ini?"tanya Tio pura-pura tidak tahu karena sebenarnya dialah orang yang membuat pria dihadapannya mengalami sakit perut.


"Kau isi pelurunya.tapi ingat jangan sampai penuh"tegasnya merasa tidak tahan dengan perutnya ia buru-buru pergi ke toilet.


Tio yang sudah memikirkan rencananya akan berjalan dengan lancar ia menyiapkan dual pistol yang sama Jika tuan papur mengeteskan maka ia akan memberikan yang ada pelurunya.


Tokk...tok...


Suara ketukan pintu.


"Masuk"jawab papur Wijaya yang duduk di kursi kebesarannya.


Setelah diizinkan untuk masuk Tiopun masuk ke dalam.


"Ini tuan!"ucap tio meletakkan pistol itu ke atas meja.


"Sepertinya kau orang baru?"tanya papur yang saat itu hendak meletakan gelasnya yang berisi alkohol.


"Apa ada lagi yang bisa saya kerjakan?"tanya Tio.


"Tidak perlu"jawab papur yang saat itu setengah sadar karena mabuk.


Tio menundukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan papur.


"Tunggu!"panggil papur yang membuat langkah kaki Tio terhenti.


Tio menoleh ke belakang melihat kearah papur Wijaya.


"Ada apa tuan?"tanyanya, yang mulai cemas ia takut kalo papur mengetahui identitasnya yang sebenarnya.


"Jangan lupa tutup pintunya"ucap papur lalu dia pingsan.


Mendegar itu Tio pun merasa lega karena identitasnya yang sebenarnya tidak ketahuan.


"Selamat"ucap Tio sembari mengusap dadanya ia pun buru-buru keluar tak lupa menutup pintu.


"Tuan! semua anak buah dari musuh sudah habis tidak ada yang tersisa"lapor Ethan Kepada Arnold.


"Jangan lupa untuk mengumpulkan semua senjata dan ambil semua senjata miliknya"ucap Arnold Dingin yang langsung di beri anggukan oleh semua anak buahnya.


Kini semua orang tengah berada diluar mereka semua memandang ke arah gedung itu nampaknya mereka tengah menunggu hitungan mundur setelah 00.00 detik suara ledakan terdengar begitu keras.

__ADS_1


Bommm....


Bangunan yang tadinya rapi dan kokoh kini tak tersisa lagi sudah menjadi rata dengan tanah hanya tertinggal puing-puingnya saja dari begunan tersebut.


Arnold beserta Semua orang tengah meyunggikan bibirnya setelah melihat kehancuran papur Wijaya.


Sebelum pulang ke mension miliknya Arnold beserta rombongannya pergi ke markas besar miliknya.


Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di markas Arnold langsung turun dari mobilnya beserta dengan anak buahnya yang lain mereka semua tidak ada yang mengalami luka yang serius.


Hanya luka lebam dan juga goresan sedikit dari sebetan pisau Milik musuh.arnold langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.ethan dan juga anak buah yang lain juga melakukan hal yang sama mereka memliki ruangan masing-masing.


Setelah mereka selesai mereka semua berkumpul di halaman belakang markas yang telah mengumpulkan semua pakaian mereka beserta barang-barang mereka yang ia pakai pada saat melakukan peyeragan untuk dibakar sampai habis sehingga tidak menimbulkan bukti-bukti.


Arnold dan juga Ethan beserta yang lainnya tengah bersiap-siap untuk kembali ke mension miliknya.


Jumlah orang orang dari mereka lengkap semua tidak ada satupun dari mereka yang kurang, harus diakui kempuan mereka sangat hebat.


Pagi ini Caca dan juga galine Tengah memasak di dapur juga ditemani dengan bik Ida yang ikut membantu mereka.


Nampak dari mereka tengah sibuk memasak dengan serius.


"Sayang apa kamu pernah memasak untuk Arnold"tanya galine.


Caca ragu untuk menjawabnya ia pernah memasak kari ayam untuk Arnold tapi sama sekali tidak dimakan olehnya.


"Pernah ma tapi Arnold tidak memakanya"jawab Caca cemberut.


"Lo... Kenapa bisa begitu?"tanya galine penasaran.


"Arnold malah ngajak Caca untuk makan malam diluar"masih dengan wajah kesalnya.


"Tidak nyoya"sela bik Ida.


"Maksud bibik apa?"tanya galine.


"Sebenarnya tuan memakan habis kari yang di buat non Caca"jawab bik Ida yang membuat Caca tidak percaya.


"Benar non bibik tidak bohong"jelas bik Ida berusaha meyakinkan.


"Bagaimana bibik bisa tau"Tanya Caca serius.


"Malam itu bibik hendak magambil air ke dapur karena air di kamar bibik habis tapi bibik tidak segaja melihat tuan Sedang makan dengan lahap di dapur"


"Kenapa tuan makan didapur?,biar saya siapakan untuk tuan bisa tunggu di meja makan"tuturnya.


"Tidak perlu bik"ucap Arnold Dingin tapi menakutkan.


"Tap____tapi tuan"ucap bik Ida ketakutan.


"Ingat ya bik jangan kasih tau Siapapun kalo saya yang memakan semua ini"pinta Arnold yang langsung pergi.

__ADS_1


"Ba___baik tuan"ucap bik ide menundukkan kepalanya memberi hormat.


__ADS_2