
"Tapi apa pa?"tanyanya melihat suaminya Hanya diam galine berfikir bahwa suaminya tidak akan mengatakannya galine pergi begitu saja meninggalkan suaminya.
Barra yang melihat punggung istrinya yang mulai menjauh darinya Hanya bisa menghela nafasnya, menyesali kesalahanya lima tahun yang lalu Megapa ia tidak menolong wanita itu begitu tega dirinya meninggalkan korban begitu saja.
Sedangkan Arnold yang berada di dalam ruang kerjanya itu nampak gusar terlihat sangat jelas dari wajahnya yang memerah karena marah.
"Aku ingin kau menjaganya,jika terjadi sesuatu padanya kau harus melaporkanya"pintanya kepada seseorang yang sedang berbicara dengannya lewat telpon.
"Kasian sekali nyonya"tutur bik Ida yang melihat galine tengah bersedih.
"Bagaimana keadaan non Caca setelah mengetahui bahwa,orang yang menabrak ibunya adalah tuan besar"
Sedangkan Caca yang bersama pamannya sedari tadi hanya diam tanpa berkata apapun Harun yang melihat kesedihan diwajah keponkanya rasanya sakit, meskipun ia tidak memiliki seseorang anak namun ia sudah mengangap Caca sebagai putrinya sendiri.
Adit sedari tadi memperhatikan mereka berdua dari kaca mobilnya,Adit juga tak tega melihat kondisi Caca saat ini sebelumnya ia belum pernah melihat wajah wanita ini,ia selalu melihat senyum manis yang keluar dari bibirnya.
"Apa kau marah dengan paman?"tanyanya menatap keponakanya.
"Tidak"jawab singkat Caca yang memainkan kukunya seolah ia meluapkan amarahnya dengan *******-***** jarinya.
"Kau tidak bisa berbohong dengan baik"tuturnya sambil menghela nafasnya terlihat sedih dari wajah Harun.
"Paman!?"
Hikkss...
Hiksss....
Caca Menagis Sambil memeluk erat tubuh Pamannya.
"Menangislah"ucap Pamannya yang membalas pelukan keponakanya sembari mengelus-elus rambut Caca.
Hiksss....
"Kenapa mereka tega melakukannya?,da___dan Kenapa aku tinggal bersama mereka?"Ucapnya tersedu-sedu ia tidak bisa menahan tangisnya.
"Bisa-bisanya aku tidak tahu kalo keluarga mereka telah menyebabkan ibuku meninggal.orang yang sangat-sangat dibenci olah ayah"tuturnya yang merasa dirinya bodoh tidak mengetahuinya.
"Tenangkan dirimu ini semua bukan salahnya kamu"tuturnya menenangkan Caca sedari tadi menyalahkan dirinya terus-menerus.
"Kenapa dari dulu aku tidak pernah diberi tahu bahwa om barralah yang menabrak ibu"tanyanya serius.
"Ini semua salahnya paman karena tidak memberi tahumu"ucap Harun yang merasa bersalah karena sudah merasiakanya dari keponakanya.
"Tapi!kenapa Paman?"ucapnya yang sedikit menjauh dari Pamannya.
"Ayahmu meminta paman agar merahasiakan ini darimu,karena kakak tidak ingin dirimu dendam dengan orang yang telah membuat menabrak ibumu"
"Sama seperti yang dilakukan oleh ayahmu,ia terus-menerus mencari keberadaan orang itu sampai-sampai dialupa untuk melanjutkan hidupnya yang membuat dirinya sakit-sakitan"
__ADS_1
"Ayahmu tidak mau kau dendam dengan orang itu dan akan melakukan hal yang sama dengannya"jelasnya.
Ayahnya caca sangat mencintai istrinya,jika ditanya ia akan memilih anak atau istrinya ia pasti akan memilih istrinya.
Harun menghapus air mata dari pipi chubby Caca.
"Maafkan paman"tuturnya.
"Caca juga mintak maaf karena telah salah sangka dengan paman"Pamannya.
Adit yang melihat semuanya sudah mulai normal,ia mulai memberanikan dirinya.
"Aku janji akan selalu melindungimu"tuturnya yang membuat Caca kaget dengan perkataan Adit.
"Iya!paman yakin bahwa anak muda ini akan menjaga keponakanku dengan baik"tutur Harun yang membuat semua orang tersenyum.
Sudah satu jam mereka akhirnya tiba dikediaman Harun diikuti dengan pasukannya,mereka semuanya turun dari mobil mereka masing-masing.caca yang akhirnya bisa kembali pulang merasa bahagia,namun ada yang mengganjal di hatinya namun ia sendiri juga tidak tahu apa itu.
Bukankah dulu dia meginginkan hal ini namun Kenapa sepertinya ia tidak bahagia sama sekali.
"Terimakasih atas bantuannya"ucap Harun yang berjabat tangan dengan semua pasukan yang dibawa oleh Adit.
"Kami sudah biasa melakukannya"tutur ketua dari mereka.
"Kalo begitu saya pamit pulang"ucap Adit.
"Terimakasih nak Adit"ucap Harun
"Paman apa bibik baik-baik saja?"tanya Caca.
"Kau anak yang baik saat bibikmu sendiri membencimu kau malah ingin tahu kabarnya"batinnya.
"Bibikmu ada di dalam"jawab harun dengan malas.
Caca yang bisa membaca pikiran Pamannya melihat wajah Pamannya sudah menjelaskan mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Apa paman bertengkar dengan bibik?"Tanyanya serius.
Namun Harun tidak menjawabnya ia hanya tersenyum.
"Mari kita masuk"tuturnya.
Sedangkan intan yang telah lama menuggu kedatangan mereka sedari tadi ia telah melihat mobil suaminya pulang melihatnya dari balik jendela rumahnya.
"Mas!?"panggil intan.
"Eeh...Caca ayok sayang masuk Tante udah siapin semua makanan kesukaannya Caca"tuturnya.
Caca yang melihat tingkah aneh bibiknya tidak biasanya bibiknya itu sangat manis dengannya.
__ADS_1
"Kenapa cuman bengong ayok sayang"ajak intan mendorong tubuh caca membawanya ke dapur.
Tidak cuman Caca Harun juga heran dengan tingkah istrinya,tidak biasanya ia bersikap seperti itu.
"Apa wanita ini kerasukan jin baik"gumamnya.
"Ahh.. sepertinya tidak wanita ini hanya takut akan diceraikan oleh paman"batinya meyakinkan dirinya bahwa tebakannya benar.
"Duduklah sayang"tuturnya mempersilakan Caca duduk lebih dulu.
"Mas ayok duduk"ucapnya.
Harun benar-benar tidak percaya perubahan sikap istrinya ia bahkan telah mempersiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan keponakanya.
"Hmmm"Harun hanya berdehem
Mendapat jawaban dari suaminya meskipun cuman berdehem setidaknya ia berhasil membuat suaminya bicara kepadanya.ia tidak patah semangat untuk membuat suaminya mau bicara dengannya.
Intan yang biasanya tidak pernah megambilkan Caca makanan kali ini ia megisi piring Caca dengan banyak makanan.
"Makan yang banyak sayang,semua ini Tante yang masak sendiri"bohongnya.
"Waw hebat Tante bisa masak"pujinya Caca terpaksa melakukannya kerena ia ingin membokar kebusukan bibiknya.
"Iyah dong"ucapnya tersenyum tak lupa ia juga mengambilkan makanan untuk suaminya.
Mereka telah menghabiskan makanan mereka saat Caca ingin membereskan semuanya dan membawanya ke dapur namun intan menghentikannya.
"Kamu mau ngavain"Ucapnya menigikan suaranya yang membuat semua orang menatap curiga kearahnya.
"Ak...."ucap Caca.
"Udah biar bibik yang bersihkan kau pasti capek sekarang istirahat saja"ucapnya lembut.
"Tapi bik?"ucap Caca ragu.
"Udah kamu harus istirahat yang banyak"tuturnya.
"Mas?"pangil intan yang melihat suaminya mau pergi.
Namun Harun tak menjawabnya ia hanya melihat ke arah intan dengan tatapan dinginnya.
"Aku hanya ingin menanyakan"ucapnya ragu.
"Apa?"ucapnya dingin.
"Tidak jadi"ucapnya menundukan kepalanya.
Yang membuat Caca dan juga Harun bertanya-tanya apa benar istrinya sudah berubah atau hanya berpura-pura agar Harun tidak lagi marah dengannya.
__ADS_1
"Caca sebaiknya kau istirahat sekarang.dikamarmu"tutur Harun yang segera diiyakan oleh Caca.