
Matanya melotot menatap tajam ke arah Arnold melihat kimono yang mereka kenakan sama.
"Apa kimono ini cuople"pekiknya
"Apa kau tidak melihat dulu sebelum di kenakan"batinnya
"Caca Caca Lo ko bloon bangett si"ucapanya menepuk-nepuk jidatnya.
"Tentu saja kita adalah pasangan kekasih"ucap Arnold meyungikan bibirnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku"ucapanya datar mendekat.
Membuat Caca terpojok berjalan mundur kebelakang Arnold semangkin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh wanitanya Deng langkahnya terhenti sekarang ia sudah mentok dengan lemari es.
"A-apa yang kau inginkan"ucap terbata-bata.
"Kamu pikir saya mau apa?"ucapanya tersenyum kecil.
"Apa kita lakukan sekarang"bisiknya dengan wajah Nakal.
Kedua pupil mata Caca membesar langsung mendorong tubuh Arnold dengan kedua tangannya namun tenaga yang ia punya tidak sebanding dengan tubuh kekar Arnold seolah tidak terjadi apa-apa sama sekali tidak merasakan sesuatu.
Tiba-tiba suara yang menganggunya sampe membuatnya harus Bagun dari tempat tidurnya.
Kruyuk....
Rasanya Caca ingin menghilang dari hadapan Arnold ia tersenyum kecut merasa malu dengan bunyi perutnya.
Ia langsung memegang tangan Caca menariknya dan meyuruhnya untuk duduk di meja makan.
"Bik,,,,,,,,,Bibik"teriaknya dengan keras membuat Caca harus menutup telinganya menggunakan kedua tangannya.
"Apa mereka tidur menutup telinganya sehingga tidak mendegar"pekiknya marah.
"Sudahlah biarkan mereka tidur pasti mereka capek seharian bekerja mengurus rumah sebesar ini"ketusnya.
"Tidak bisa mereka harus masak!untukmu"
"Aku akan memasak aku bisa melakukannya sendiri"ucapanya berdiri dari tempat duduknya.
"Siapa yang meyuruhmu! melakukannya"Ucapnya dengan dingin.
"Aku sangat laper"rengeknya dengan wajah memelas tentu saja Arnold tidak dapat menolaknya.
"Baiklah aku akan membantumu"
"Emm, emangnya kau bisa memasak"ucapanya yang cegigisan.
"Bisanya cuman marah-marah mana mungkin bisa masak"Ketusnya.
Karena tidak mau membuat yang ribet+susah Caca memilih untuk membuat telur dadar itu tidak terlalu sulit matengnya juga ngak lama Caca memecahkan telur ke dalam mangkuk dia juga akan megiriskan daun bawang ke dalam mangkuk yang berisi telur.
Arnold muncul dari belakang memeluk caca sambil tersenyum melihat betapa cantiknya pujaan hatinya itu.
__ADS_1
"Kau sangat cantik ketika sedang memasak banteng kecilku"ucapanya berbisik di telinga Caca.
Hembusan nafas Arnold yang megenai telinga Caca membuat bulu kuduknya langsung merinding.
"Apa yang baru saja kau katakan"ucapanya tidak terima dengan sebutan banteng kecil.
"Apa!kau sangat cantik"ucapnya pura-pura tidak tahu yang di maksud wanitanya.
Merasa haus Ethan ingin megambil air minum ke dapur ia di temani oleh kom meskipun dia di kenal sosok yang kejam tidak punya perasaan, tidak di pungkiri pria itu takut dengan hantu.
"Ayolah kau seperti anak kecil"ucap Kom yang merasa risih dengan ethan terus saja berjalan dengan menggandeng tangannya.
"Anak kecil juga takut akan hantu"ucapanya sambil menarik tangan Kom supaya berjalan lebih cepat.
"Masalahnya kau bukan anak kecil, lihat tubuhmu besar begini masa takut dengan hantu"
"Ayokk aku sangat haus"rengek Ethan.
"Kenapa kau berhenti,ayokk"ucap ethan melihat Kom yang mematung pandangannya melihat ke depan merasa penasaran apa yang di lihat oleh kom Seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat ia melihat sepasang pasangan kekasih yang sedang memadu kasih Seperti di film-film.
Seketika mata mereka saling bertatapan yang mereka tahu bahwa tuannya itu paling anti dengan wanita apalagi seromantis itu tuannya memeluk dari belakang wanitanya terlihat sangat manja sekali tuannya itu. yang mereka tahu tuannya tidak pernah seperti itu bahkan finka saja yang megejar Arnold sampai kewalahan menghadapi sikap dingin Arnold, tapi kenapa tuanya itu bisa seromantis itu pada wanita yang baru ia kenal.apa wanita itu punya daya tarik tersendiri sehingga Arnold jatuh cinta dengan dirinya.mereka megangukan kepalanya dan Pergi tidak berani untuk mengaggu tuannya itu yang sedang bermesraan yang ada mereka akan di kuliti hidup-hidup oleh Arnold.
"Bukan yang itu"ucapanya kesal.
"Sepertinya aku lupa!"ucap tersenyum kecil.
"Aku tidak akan membaginya denganmu Jika kau tidak mengatakan yang sejujurnya"ancam Caca
"Baiklah! Kau sangat cantik sekali Banteng kecil ku"ucapnya mempererat pelukannya.
"Apa!yang kau lakukan aku sulit bernafas"ucapanya memberontak.
"Dengar namaku bellanca ayahku menamaiku dengan nama yang bagus"ketusnya.
"Tapi kau lebih cocok di sebut Banteng kecil itu kelihatan lebih serasi"
"Terserah kau saja"ucapanya dengan marah.
"Apa kau marah?"
"Jika kau begini kau semangkin mirip dengannya"godanya.
"Baiklah aku minta maaf"ucapanya Sambil memegang kedua telinganya.
Melihat Arnold melakukan itu ia tidak percaya bisa-bisanya pria seperti dia bisa melakukan hal itu.
"Apa dia benar-benar menyukaiku"batinnya
"Tidak-tidak dia hanya pria kejam yang hanya terobsesi itu wajar jika dia sudah bosan dia akan membuangku atau bahkan membunuhku"
"Heii!aku tahu kau pasti sedang melihat wajahku yang Tampan ini"ucapanya menatap tajam ke arah Caca yang sedari tadi tidak berhenti memandangi wajahnya.
"Sial,apa dia melihatnya"batinnya
__ADS_1
"Kalo di lihat-lihat kau lebih mirip dengan beruang kutub"ketusnya berjalan pergi meninggalkan Arnold.
"Heii!kau juga mirip dengan banteng kecil"teriaknya.
Seolah Caca tidak mendegar perkataan Arnold dia pergi ke meja makan untuk mencicipi masakannya sendiri.
"Emmm"
"Apa kau tidak ingin membagikan makananmu itu pada orang yang telah baik membantumu"ucapanya memelas mintak di kasihani.
"Emangnya kau membantuku?"ucapnya dengan melanjutkan makannya tanpa mempedulikan pria di hadapannya.
Arnold hanya bisa meneguk air liurnya memperhatikan wanitanya yang tengah makan dengan lahap tanpa memedulikan dirinya.
"Sepertinya itu enak"batinnya.
Merasa puas melihat wajah pria di hadapannya itu.
"Ini, Ambil"ucapanya menatap malas.
"AKHhh"
"Ada apa?"ucapanya
"Sepertinya tanganku kesemutan"ucapnya berpura-pura agar wanitanya mau menyuapinya.
"AKHhh"kurasa aku tidak bisa makan sendiri kau harus membantuku"ucapannya dengan memegang tangannya berpura-pura seperti kesemutan.
"Makanlah sendiri jika tidak bisa tidak usah kau makan"pekiknya
"Aku tidak bisa.serius kamu harus menyuapinya"ucapnya.
"AKHhh, kau seperti bayi saja"
"Yauhdah buka mulutmu"ucapannya menyuapkan makanan.
Arnold membuka mulutnya dengan selembar yang ia bisa sambil tersenyum.
"Brengsek!"pekiknya
"Katamu kau tidak bisa makan sendiri! bagaimana kalau kau makan sendiri"ucapanya yang kesal karena sudah di bohongi ternyata cuman akal-akalannya Saja.
"Ngak in___ini aku kesemutan"ucapanya berusaha meyakinkan.
"Brengsek!"
"aku merasa dibodohi olehnya"batinnya
"Ini yang terakhir"ucapannya. Langsung pergi ke dapur untuk mencuci piring bekas makanannya karena tidak enak bibik Ida sudah mencuci semua piring jadi tidak ada yang kotor hanya ada piringnya ia memutuskan untuk mencucinya.
"Kau tidak memberikanku minum"teriaknya
"Apa tanganmu itu tidak bisa megambil sendiri"balasanya.
__ADS_1