Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia
49.


__ADS_3

"Pa!?"pangil galine ingin memastikan apakah yang dikatakan oleh pria dihadapannya itu benar atau bohong.


"Omong kosong macam apa ini?"ucap arnold Dingin sedikit tidak percaya.


"Kau diamalah"pekik Caca yang mulai terbawa suasana.


"Benar.ma"jawab barra dengan rasa bersalah.


"Kenapa papa ngak bilang!?"ucapnya sedikit Menaikan suaranya.


"Kejadian itu begitu cepat"tutur Barra merasa bersalah.


"Apa om tahu?seorang anak kecil perempuan dirumahnya yang sederhana,sedang menunggu kepulangan ibunya berharap ibunya pulang kerumah"memekik.


"Dengan harapan ibunya akan menidurkan dirinya karena anak perempuan itu tidak bisa tidur tanpa nyayian dari ibunya, pelukan seorang ibu yang hangat yang membuatnya tidur dengan nyaman ibunya yang menjaganya Sepenjang malam"


"Tapi om tidak melihat keluarga dari korban yang om tabrak om Hanya memikirkan keluarga om saja"teriaknya tidak terima.


Caca mengeluarkan semua dendam yang disimpan selama ini yang selalu ia simpan dalam dirinya, tidak ingin memberitahu semua orang tentang kesedihan,dan juga kekecewaannya Selama ini namun hari ini ia megelurakan kebenciannya itu.


"Saya benar-benar mintak maaf,dan saya janji akan bertanggung jawab atas seluruh biaya keperluanmu"ucapnya.


"Ohh... Aku lupa orang kaya seperti kalian akan meyelesaikan masalah hanya dengan uang"


"Maka semua masalah kalian akan selesai termasuk membunuh orang sekalipun"ucapnya seperti menyindir Arnold ia juga menatap kearah Arnold.


"Turunkan nada bicaramu kau tidak tahu sedang berbicara dengan siapa?"timpal Finka.


"Memangnya kau Siapa?!"pekiknya bertanya kepada Finka yang membuat finka naik pitam.


"Kau..."Ucapnya kesal dengan pertanyaan Caca yang membuatnya tidak bisa menjawab karena kalo dia mengatakannya Arnold tidak akan menyukainya.


"Aku setuju denganmu. mereka tidak tahu penderitaan orang lain,sebelum mereka sendiri yang merasakannya"timpal Adit yang beralih megarahkan senjatanya kearah Arnold.


Anak buah Arnold yang melihat Tuannya dalam bahaya mencoba untuk melindunginya mereka semua langsung megarahkan senjatanya kearah Adit,sontak membuat Adit sedikit takut tapi ia berusaha menepis rasa takut itu.


Arnold tersenyum memberi kode kepada anak buahnya supaya tidak ikut campur dalam urusannya,meskipun mereka sempat menolak namun akhirnya mereka setuju.


"Apa kau tidak takut mati hah...?!"ucap Adit sedikit menantang Arnold.


Arnold kembali tersenyum menyeringai ia menghargai keberanian bocah igusan yang ada dihadapannya itu,Arnold tidak takut sama sekali jika Arnold mau dia pasti sudah mengirimnya ke dunia lain namun Arnold tidak melakukannya.

__ADS_1


Arnold berjalan Tanpa rasa takut ia menarik tangan Caca dan ingin membawanya masuk kedalam mension miliknya tidak membiarkan wanitanya dibawa pergi.


Caca yang ditarik tangannya oleh Arnold,ia menghempaskan tangan arnold dari tangannya.


"Aku tidak akan tinggal dengan orang yang sudah membunuh ibuku"pekiknya.


"Arnold Kenapa sih biarin aja dia pergi"batinya tidak terima dengan perlakuan Arnold dengan Caca.


"Kau..."ucap Harun seperti mengenal pria dihadapannya itu meskipun tidak ingat jelas Harun kembali megigatnya.


"Sudah kuduga kau rupanya"Ucapnya yang membuat semua bertanya-tanya apa yang dikatakan oleh Harun.


"Ada apa peman?"tanya Caca penasaran.


"Apa kau ingat pria ini adalah teman kecilmu dulu.anak mereka berdua yang telah menghabisi nyawa ibumu"tuturnya sambil memainkan senjatanya kearah Arnold menarik turunkan pistolnya.


Mereka berdua bersahabat sejak kecil saat itu umur Caca Lima tahun.sedangkan Arnold berumur sebelas tahun.


"Rafey?"ucap Caca ragu.


Jujur Caca bahagia karena bisa bertemu dengan teman kecilnya,namun ia tidak bisa melupakan bahwa papanya Arnold telah meleyapkan nyawa ibunya yang membuat ayahnya menjadi sakit-sakitan karena tidak terima kenyataan bahwa istrinya meninggal lebih dulu dari dirinya.


Caca tidak pernah tahu kedua orang tua arnold ia selalu bermain ditaman dekat sekolahnya, sekalipun kerumah Arnold orang tua arnold tidak ada dirumah mereka berada diluar kota arnold dari kecil tingal sendiri dirumah ditemani para pelayan yang bekerja dirumahnya.


"Dengar ayahku memberikan nama yang bagus untukku Kenapa kau memagil sembarangan"


"Aku tidak suka nama itu"ucapnya cemberut.


"Kenapa?"tanyanya bingung.


"Kau ingin aku memanggilmu dengan nama yang kau suka, kenapa kau memanggilku dengan nama yang tidak Kusuka"gerutunya.


"Nama itu cocok untukmu"ucapnya tersenyum.


"Aku tidak mau"bantahnya.


"Harusnya kau bersyukur aku memagilmu seperti itu disekolahku,para wanita mereka ingin sekali mendapatkan pujian dariku"tuturnya.


"Kenapa?"tanyanya serius.


"Mereka ingin mendapatkan pujian dari pria tampan sepertiku,aku tidak memuji mereka sama sekali"ucapnya percaya diri.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak melakukannya?"Caca kembali bertanya.


"Karena aku menyukaimu,kau sangat manis dan lucu"jawab arnold Jujur.


"Kau berbohong"ucapnya tidak percaya.


"Aku tidak bohong"ucapnya.


"Baiklah aku percaya"ucapnya.


"Berjanjilah kau akan menikah denganku"sambungnya sambil mengangkat jari kelingkingnya.


"Tidak bisa"ucap arnold sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pernikahan... hanya untuk orang dewasa yang saling mencintai satu sama lainnya"jelasnya,yang membuat Caca sedih menundukan kepalanya kebawah.


"Kalo begitu jika kita tumbuh dewasa nanti dan saling mencintai"ucapnya mengangkat kepalanya ke atas.


"Apa kita akan menikah?"ucapnya penuh harapan.


"Baiklah mari kita lakukan"ucapnya dengan berjanji satu sama lainnya menggunakan jari kelingking mereka masing-masing.


"Berjanjilah"ucap Mereka serentak tertawa.


"Paman bawa aku pulang"ucap Caca kepada paman Harun.


Yang disetujui oleh Harun mereka semua pergi masuk kedalam mobil mereka yang mereka kendarai beserta pasukan yang dibawanya.


"Sayang?"pangil galine mencegah langkah kaki Caca tidak menghiraukan sama sekali.


Galine yang merasakan kehilangan anak perempuannya meskipun belum lama mereka mengenal namun galine yakin Caca adalah anak yang baik.arnold sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari mobil yang membawa wanitanya pergi sampai akhirnya mobil itu pergi jauh tidak terlihat lagi.


Arnold pergi begitu saja Tanpa berkata apapun dan diikuti oleh Ethan.


"Kenapa pa?"ucap galine mengutarakan kekecewaannya Kepada suaminya selama ini tidak pernah mengatakan apa-apa pada dirinya.


"Mama papa benar-benar mintak maaf"Ucapnya sayu melihat mata istrinya yang berkaca-kaca.


Galine berusaha menahan tangisnya kenapa suaminya tidak pernah mengatakannya padahal suaminya sendiri yang mengatakan bahwa tidak akan ada rahasia diatara mereka apapun masalahnya mereka harus megatakan satu sama lainnya.


"Bukankah selama ini kamu sendiri pa yang bilang bahwa diatara kita tidak akan menyimpan rahasia apapun masalahnya kita harus megatakan pada pasangan kita"ucap galine kembali megigatkan perkataan suaminya.

__ADS_1


"Papa tahu tapi.."


"Tapi apa pa?"tanyanya melihat suaminya Hanya diam galine berfikir bahwa suaminya tidak akan mengatakannya galine pergi begitu saja meninggalkan suaminya.


__ADS_2