Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia
61.


__ADS_3

Namun Arnold berhasil menahannya.


"Tidak ada yang salah"Ucapnya langsung memeluk tubuh Caca dari belakang.


"Ada apa dengan jantungku?"batinya karena Caca merasa detak jantungnya derdetak begitu cepat rasanya seperti JJ.


Bahkan Caca dapat merasakan Deru nafas Arnold,ia memejamkan matanya.arnold mencolek lembut hidung Caca yang membuatnya tersadar dan membuka matanya.


"Yakkk!!Caca kenapa kamu begitu bodoh"gumamnya yang dapat didegar Arnold sembari berjalan pergi.


"Pastikan kau membeli semua rumah yang dijual"perintahnya.


"Baik tuan"


"Apakah saya boleh tau untuk apa tuan membeli semua rumah yang dijual? bukankah tuan telah memiliki mension ini dan juga beberapa vila dan mension lainnya"tanyanya penasaran.


"Aku tidak ingin wanitaku meningalkan ku lagi"ucapnya tersenyum kecut.


"Kalau dipikir-pikir tuan Arnold kasihan juga,dia memiliki semuanya tapi satu yang tidak bisa didapatkannya yaitu hati non Caca"batinya.


"Apa kau merasa kasihan padaku?"


"Darimana tuan tahu kalau aku merasa kasihan padanya,apa dia bisa membaca pikiran?"batinya.


"Tidak tuan"ucap Ethan.


"Kau lakukan saja apa yang aku suruh ingat jangan sampai ada yang terlewat"ucapnya menekan kata-katanya.


Di meja makan semua orang tengah berkumpul Mereka makan malam bersama, suasana menjadi hening namun pandangan Harun tertuju kepada pria yang saat ini berada didepannya.


Caca selalu memperhatikan pamanya yang bersikap dingin dengan Arnold Caca takut pamanya akan melakukan sesuatu terhadap Arnold.


Sampai makan malam mereka selesai tidak ada perbincangan dari mereka suasana makan malam itu menjadi mencekam Harun dan istrinya kembali kemar untuk istirahat karena disuruh oleh bik Ida.


"Bik biar saya bantu membawa semua piring ini kedapur?"ucapnya tersenyum.


Bik Ida langsung melihat kearah Arnold setelah mendapat Jawaban dari Arnold menggunakan bahasa isyarat bik Idapun setuju.


Caca membantu bik Ida membawa semua piring kotor itu kedapur untuk dicuci, sesekali Caca melihat kearah Arnold yang masih setia duduk dimeja makan sembari menatap ke layar ponselnya.


Terlihat Arnold sangat serius dengan ponselnya,sampai akhirnya Caca telah selesai mencuci piring kotor itu.


"Sebaiknya non istirahat sekarang?"ucap bik Ida.


"Ah iya bik"


"Kalau boleh tahu Tante galine dan om barra kemana Kenapa dari tadi ngak kelihatan?"


"Nyonya per__"ucapan bik Ida terpotong seketika.

__ADS_1


"Maaf non bibik tidak berhak untuk ikut campur"ucap bik Ida yang langsung pergi.


"Tapi bik?"Caca melihat kedatangan Arnold ia menembak pasti Arnold melarang bik Ida untuk mengatakan yang sebenarnya.


Caca yang hendak pergi namun tangannya dipegang oleh Arnold.


"Lepaskan tanganku"berusaha memberontak.


Menarik tangan Caca untuk ikut bersamanya, sepanjang perjalanan Caca terus meminta untuk dilepaskan tangannya namun tidak dihiraukan oleh Arnold sampai akhirnya mereka sampai disebuah pohon besar yang dekat dengan kolam ikan.


Melapaskan tangan Caca,Caca mengelus tangannya yang terasa sakit karena Arnold memegangnya terlalu kuat.


"Kenapa kau megajakku kesini"celetuknya Dengan wajah cemberut.


"Apa kau ingat tempat ini?"


"Ingat memangya kenapa"ucapnya membuang muka.


"Semenjak kau meninggalkan mereka berdua tidak mau makan sama sekali"ucap arnold sembari memberi makan mereka.


"Apa hubungannya denganku"


"Apa kau sangat membenciku, sampai-sampai kau melupakannya"batinya.


Flashback;


"Ayo cepat dasar lambat"panggilnya jarak mereka lumayan jauh.


"Tidak bisakah jalan pelan saja"magatur napasnya.


"Kau ini kita harus cepat jalanmu saja yang lambat,lagian kau ini seperti kakek-kakek saja"


"Memangnya apa yang akan kita beli dipasar ini"ucapnya langsung menutup hidung karena bau.


"Dengar aku ingin membeli ikan,tadi pagi aku megigikannya tapi ibuku tidak membelikannya"


"Kenapa kau tidak bicara tadi dirumahku bibik tengah masak ikan kalau kau pengen makan ikan ayok kita pulang"


"Haishh Bocil ini"menepuk jidatnya.


"Aku tidak ingin Makan ikan"


"Terus"menatap aneh.


"Aku ingin memeliharanya,mereka sangat lucu"menarik tangan temenya.


"Pak apa ikanya masih ada?"


"Adek yang tadi pagi ya?"tanya penjual ikan.

__ADS_1


"Ya pak,saya ingin beli ikan dua satu laki satunya lagi perempuan"


"Ini"ucap penjual memberikan kantung plastik yang berisi ikan beserta airnya.


"Aku tidak punya uang"ingin megambilnya.


"Anak kecil jika kau tidak punya uang tidak usah kemari ngerepotin aja,Sono main"usirnya.


"Tap__tapi"


"Main sana jauh-jauh jangan datang kemari"


"Heiii...."teriaknya tidak terima.


"Apa tidak terima dengan temanmu diperlakukan seperti itu"ucap penjual ikan.


"Aku yang akan membayar ikanya kemarikan"


"Heii!! anak kecil jangan sok mau jadi pahlawan kamu"


"Ini ambilah"melemparkan uang dan mengambil ikanya.


"Jangan nagis ini"memberikan ikanya.


"Waw terimakasih banyak"berjalan lebih dulu.


"Kamu kecil-kecil ternyata uangmu banyak ya"tersenyum.


"Asalkan kau tahu dia bukan hanya teman tapi teman hidupku iya dia calon istriku"ucapnya dingin.


"Heii anak kecil,jangan bahas soal cinta kau itu masih kecil"


"Kau Belum lama merasakan kerasnya kehidupan karena kau masih kecil ketika kau sudah dewasa kau akan merasakan patah hati"menghitung uang.


"Dan temanmu itu akan pergi meninggalkanmu dan menemukan teman barunya,mungkin juga teman hidup yang kau maksud"memberikan kembalianya.


"Tidak usah ambil saja,asal paman tahu aku Arnold Rafeyfa Adibrata tidak akan membiarkan sesuatu yang menjadi milikku menjadi milik orang lain"menekankan kata-katanya.


Penjual ikan itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendegar perkataan Arnold.


"Anak kecil tahu apa tentang cinta,apa orang tuanya tidak mengajarinya"ucap penjul ikan.


"Maafkan aku sudah membuatmu malu karena aku megigikan ikan ini,tapi aku tidak punya uang"menuduk.


Mengangkat dagu Caca agar menatapnya.


"Tidak apa-apa,aku akan memberikan apapun untuk membuatmu bahagia"ucapnya.


"Apapun?"ucapnya antusias.

__ADS_1


"iya...... sedih lagi ya"


__ADS_2