
"mana coba aku lihat"ucap yang ingin mengobati luka Arnold.
"Aku tidak kenapa-napa" tolak arnold.
"Mana bisa begitu,kau terluka karena aku Aku ingin mengobatinya lagian jika dibiarkan ini akan infeksi"ujar caca.
"Baiklah aku akan menurut padamu"godanya
"Kenapa?" Tanya arnold melihat wanitanya yang hanya diam saja katanya ingin mengobati lukanya.
"Akk___aku"ucap Caca gemetaran jujur saja iya tidak berani untuk melepaskan pakaian pria ia juga tidak pernah melakukannya sebelumnya.
"Baiklah"Arnold yang paham yang dimaksud wanitanya tanpa caca memberitahunya ia melepaskan pakaiannya sendiri, jujur caca terhipnotis dengan tubuh kekar Arnold.
"Apa kamu menyukaimu?"goda arnold yang membuyarkan pikiran Caca.
"Siapa?aku tidak!"bohongnya.
"Jika kau menyukainya kau boleh memegangnya aku akan dengan senang hati membiarkannya"
"Menyebarkan Siapa yang mau memegangnya"gerutunya.
Arnold merasa gemas dengan tingkah wanitanya ketika wanitanya mengoceh entah kenapa dia terlihat begitu gemas ingin sekali Arnold mencubit pipinya.
"Lagian Kenapa juga mau sok jadi superhero,jadi begini kan? ucapnya sembari mengobati luka arnold yang terakhir ia memberinya plaster.
"Udah deh"ucapnya yang selesai mengobati luka Arnold iya kembali menyusun dan memasukkan obat-obat yang ia keluarkan dari kotak P3K.
"Terima kasih"ucap Arnold dingin.
"Jangan katakan itu,aku takut pada ucapan terima kasih orang lain.terutama jenis ucapan terima kasih formalmu memberi saya benjolan"
Arnold tersenyum kecil mendengar ucapan dari wanitanya.
"Apa dia menyakitimu?" tanya arnold dengan tatapan mengintimidasi.
"Kau kembali menatapku seperti itu"ucapnya tidak terima dengan tatapan yang diberikan arnold.
"Ini normal"ujar Arnold.
"Normal macam apa itu?"ketusnya.
Arnold menurunkan tatapannya menjadi biasa saja.
"Iya! apa kau tidak lihat dia mendorongku ke tembok?dia juga yang mulai duluan Menjabak rambutku aku membalasnya dengan kedua tanganku apa kau lihat dia mendongak ke atas akibat jambakan ku" ujarnya yang kesal sambil kedua tangannya memperagakan gerakan menjabak rambutnya seperti yang dilakukannya tadi.
"Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan pinka menganggumu lagi"
"Apa dia hanya teman?" tanya Caca menatap lekat ke arah arnold.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat dia di dalam masalah,sejak saat itu kami berteman"jelas arnold.
"apa kau yakin menganggapnya sebatas teman?kelihatannya ia menginginkan lebih"
__ADS_1
Ketus caca.
"Apa kau cemburu?"
"Siapa yang cemburu, lagian siapa aku?
yang cemburu" Caca terus mengingatkan dirinya bahwa ia tidak berhak untuk cemburu.
"Sebaiknya kamu memikirkan ucapanku tadi?"
"Yang mana?"Caca sama sekali tidak mengerti.
"Aku ingin kau menjadi kekasihku?"Ucapnya penuh dengan penekanan.
"Apa pria ini tidak romantis seperti di film-film ternyata kisah cintaku tak seindah di Drakor-drakor buktinya ia tidak romantis sama sekali padahal yang iya bayangkan akan ada kegiatan pan yang mengajaknya makan malam di restoran bintang 5 dengan banyak lilin yang menyala disertai dengan alunan musik yang merdu mereka berdansa lalu pria itu akan menyematkan cincin di jari manisnya"batinya.
"tidak perlu menjawabnya sekarang,aku akan selalu menunggu jawabanmu untuk benar-benar siap menerimanya"Ucap Arnold yang langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terasa lengket.
Jujur saja caca tidak yakin dengan perasaannya yang sekarang ini.di satu sisi ia saja baru mengenal pria itu, di sisi lain pria itu telah dua kali menolongnya.
pinka yang di jalan sendirian merasa kesal tega-teganya Arnold mengusirnya membiarkannya pulang sendirian di tengah malam.
"Ke mana lagi taksi? Kenapa tidak ada yang lewat"gumamnya.
tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya pinka yang silau akibat lampu sein mobil susah untuk melihat Siapa laki-laki yang turun dari mobil menghampirinya. ia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutupi cahaya lampu itu mengenai matanya.
"Pinka?"panggil seorang pria.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"tanya Evan menatap tajam ke arah adiknya.
"Tolong bawa aku pulang" rengkek pinka.
"Baiklah kita pulang sekarang" ajak Evan mengambil tangan adiknya membawanya masuk ke dalam mobil.
"Apa yang kamu lakukan di sana?"Tanya Evan yang merasa ada yang disembunyikan adiknya darinya.
Evan juga curiga dengan laki-laki yang dibicarakan adiknya jangan-jangan itu Arnold jalan yang dilewati pinka juga jalan menuju mansion milik Arnold.
"Kakak"Tangis pinka pecah.
Hikss....
Hiksss.....
Tingkat tidak bisa menahannya lagi ia menangis dengan histeris.
"Ada apa?"tanya Evan yang tidak tahu kenapa adiknya itu menangis.
"Siapa yang membuatmu begini Siapa yang berani menyakiti adik kesayanganku"geramnya marah.
"Apa aku tidak cantik?sontak pertanyaan dari pinka membuat Evan kaget ia dapat menduga bahwa ini semua gara-gara laki-laki itu.
"Kau sangat cantik bahkan tidak ada wanita yang cantik selain dirimu"
__ADS_1
"Kakak bohong jika aku cantik Kenapa dia tidak memiliku?"
Hikss....
Hiksss...
"Kakak berkata seperti itu agar aku tidak sedihkan?"
"Apa ini semua oleh laki-laki itu?"hati Evan sakit Melihat adik kesayangannya menangis karena laki-laki, tanyanya dengan wajah marah nampak wajah dari Evan memerah akibat marah.
"Jika laki-laki ini berani menunjukkan dirinya di hadapanku aku bersumpah akan langsung mengulitinya hidup-hidup" geramnya memukul setir dengan keras.
Mendengar bahwa kakaknya akan menguliti Arnold hidup-hidup pinka menghapus air matanya bukan ini yang dimaksud pinka dia ingin bersama Arnold bagaimanapun caranya karena dia benar-benar menyukainya.
Sesampainya dimension milik Epen pinka langsung turun dari mobilnya tanpa mempedulikan kakaknya.
"Mau ke mana?" tanya Evan.
"Aku capek Kak mau istirahat"ujarnya dengan malas.
"Kita bicarakan ini dulu" ucapnya membujuk adiknya.
"Jika kakak ingin membunuhnya aku juga akan mati bersamanya"ketusnya yang langsung pergi menaiki anak tangga ke atas.
"Anak ini!mungkin aku terlalu memanjakannya"geramnya bagaimana bisa ia berbicara seperti itu sedangkan ia tak punya siapa-siapa lagi kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan beruntun.
Evan yang duduk di kursi ruang kerjanya sambil memijit-mijit kepalanya yang terasa pusing.
"Aku harus mencari tahu sendiri, siapa laki-laki itu yang membuat adikku begitu terobsesi dengannya" gumamnya berbicara sendiri.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
Tokk...
Tokk...
Suara ketukan pintu.
"Masuk"sahut Evan dari dalam.
"Maaf!boss"
"Tidak apa, bicaralah sekarang" ujar Evan.
"Para tamu undangan clieen dan para investor lainnya menolak untuk bekerja sama dengan kita mereka juga bilang tidak akan membantu perusahaan kita lagi"ujarnya menjelaskan kejadian di pesta.
"Apa karena aku yang pergi tiba-tiba karena mencari adikku?"
"Sepertinya begitu bos mereka kecewa karena sikap egois bos meninggalkan pesta sebelum acaranya selesai, kali ini kita kalah bos dari Arnold"
"Arnold"geram Evan yang tak suka mendegar nama arnold memukul meja dengan keras.
Bunghh...
__ADS_1