
"Aku harus segera pergi dari tempat ini"gumamnya yang ketakutan berjalan lebih cepat.
Caca yang tengah mengendap-endap ia bersembunyi dibalik tembok yang menutupi tubuhnya,dari balik tembok tersebut ia dapat melihat kondisi saat ini tengah sepi.
Sudah tidak ada pelayan yang berkeliaran di sekitar sana.
Setelah memastikan sudah tidak ada orang disana,Caca pun buru-buru keluar dengan langkah kaki yang begitu cepat.
Dia langsung lari ke depan pintu menoleh ke kanan kiri untuk memastikan apa ada orang yang melihatnya.
Caca membuka pintu itu dengan mudah.
Tapi Saat dia sudah keluar jantungnya berdebar begitu cepat.karena dia tahu di luar pasti banyak anak buah Arnold sedang berjaga di depan gerbang.
Tapi ternyata tidak ada anak buah Arnold sedang berjaga yang mengelilingi rumah mewah itu.
Caca berlari pergi ke halaman depan tanpa menggunakan alas kaki dengan cepat ia sampai di gerbang namun sayangnya pintu gerbang itu terkunci terdapat Rantai yang terlilit dan juga gembok yang begitu besar.
"Sial"umpatnya
"Apakah aku akan seumur hidup berada di sini"batinnya
Caca memandang ke luar dari sela sela ia merasakan kebebasan untuk sejenak Caca menghirup udara segar.
Eemm.....
"Apakah suatu hari nanti aku bisa menjalani hidupku dengan normal"batinnya
Tiba-tiba seorang pengawal menahan kedua tangan Caca dengan cengkeraman kuat di belakang punggungnya lalu mendorong tubuh Caca ke pagar besi menekannya Dengan kuat.
"Sakit lepasin"berusaha menedang berteriak,meronta-ronta namun tubuh mungil nya dan Tenaga yang ia miliki tak sebanding dengan pegawal itu.
"Maaf kan saya nona tapi saya tidak akan membiarkanmu Pergi dari tempat ini"ucap pengawal.
"Lepaskan aku biarkan aku pergi dari tempat ini"teriaknya sesekali meronta-ronta.
Pegawal itu membawa Caca untuk kembali lagi ke dalam rumah.
"Ku mohon lepaskan aku dan izikan aku untuk pulang"dengan wajah yang memelas.
Pegawal itu sama sekali Tidak mendegar perkataan Caca dia terus mendorong tubuh Caca berjalan dengan kedua tangan di belakang punggungnya.
"Tolong dengarkan aku kakiku rasanya sakit, mungkin aku tidak segaja menginjak sesuatu"ucapnya memohon karena kakinya benar-benar terluka.
"Jangan berpura-pura nona cepat jalan saja,atau aku tidak akan segan-segan meyakitimu"ujarnya memaksa Caca untuk kembali ke kamarnya.
"Aku tidak berbohong"ucapnya
Mereka menaiki tangga menuju lantai atas pegawal itu mendorong tubuh Caca dengan kuat memasukanya ke dalam kamar tidak lupa ia mengunci pintu kamar nya.
Pegawal yang bekerja di rumah Arnold memang sudah terlatih, mereka memang tidak punya perasaan dan juga memiliki sifat kejam yang di miliki oleh arnold dan tidak segan-segan untuk meyakiti,tapi mereka tidak akan menghabisi siapapun sebelum mendapatkan perintah dari tuanya dia akan melumpuhkan musuhnya.
"Kenapa kaki ku sakit sekali"ucapnya sambil memeriksa apa yang menyebabkan kakinya itu terasa sakit.
Di ruang tahanan terdapat Arnold tengah berdiri.
__ADS_1
"Seharusnya aku tidak buru-buru untuk mengirimmu ke neraka"Arnold mendekati pria itu ia menginjak dada pria itu dengan kuat".
"Berani sekali kau ingin menyentuh wanitaku dengan tangan kotormu itu"ucapnya sambil menginjak dada pria itu dengan kuat.
"Bereskan semuanya Jangan sampai polisi tau dan menyelidiki kasus ini"
"Bawa dia ke rumah sakit pastikan dia mendapat perawatan khusus dan ingat jangan sampai orang curigan"pintanya berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Arnold yang berjalan ke lantai atas menuju kamar Caca menaiki tangga melihat bercak-bercak darah Arnold yang curiga langsung buru-buru membuka pintu kamar namun pintu itu terkunci.
"Siapa yang mengurungnya"batinnya
Arnold mengeluarkan kunci kamar caca dari kantong celananya dengan cepat membuka kamar itu.
Arnold langsung menghampiri Caca yang duduk di tepi tempat tidur dengan kaki yang terluka dan terdapat bercak-bercak darah ia langsung berjongkok melihat luka di kaki nya.
"Siapa yang meyakitimu katakan padaku"ucap nya dengan dingin dengan wajah marahnya.
"Aku akan membunuh mereka"
"Apa pria ini tidak waras Kenapa dia begitu khwatir jika ada yang meyakitiku, padahal dia juga meyakitiku apa dia lupa"
"Apa aku harus megigakatnya"batinnya
"Kenapa kau begitu menghawatirkan ku, bukanya kau seharusnya senang dengan luka yang ku dapat"ucapnya menatap tajam ke arah Arnold.
"Apa itu meyakitkan?"tanya serius Arnold
"Aku tidak apa-apa luka ini tidak akan membuat ku mati menjauhlah dari hadapanku"ucapnya menjauhkan tubuhnya dari Arnold.
Arnold langsung menutup mulut Caca menggunakan jarinya.
"Kenapa!bukannya kau sendiri yang akan membunuhku?"teriaknya.
"Berhenti bicara omong kosong"teriaknya.
Arnold langsung megambil kotak p3k untuk mengobati kaki Caca yang terluka.
"Apa yang akan kau lakukan"
"Aku akan mengobatinya"
"Tidak perlu aku bisa mengobatimya sendiri"tolaknya
"Kalo di biarkan itu akan menjadi infeksi"
"Tahan sedikit ini akan sakit"
Aww.....
"Apa ini sakit?"
Caca mengelenkan kepalanya
Caca menatap mata Arnold masih tidak percaya dengan perubahan sikapnya selain dia bisa berbicara lembut sekarang dia menjadi perhatian.
__ADS_1
"Dia benar-benar tidak bisa di tebak"gumamnya.
"Ada apa?" Arnold yang tidak seganja mendegar perkataan Caca.
"Tidak aku tidak berkata apa-apa"tatapan sinisnya.
Setelah memperban kaki Caca Arnold langsung pergi meninggalkan Caca yang melihat Arnold pergi meninggalkannya dengan raut wajah yang begitu marah.
"Ada apa dengan pria ini tadi dia bersikap sangat manis sekarang dia pergi begitu marah"
Akhirnya Caca memutuskan untuk mengikuti kemana Arnold akan pergi.
Terlihat semua pelayan dan juga anak buah Arnold tengah berkumpul.
"Siapa yang berani melukai wanitaku"teriaknya marah
Nampak Mereka semua ketakutan dengan kemarahan Arnold, mereka semua tidak berani menjawab hanya menundukkan kepalanya.
"Siapa diantara kalian yang berani megurungnya di dalam kamar"pekik Arnold yang menaikan suaranya.
Nampak semua orang tengah melihat satu sama lainnya.
Namun saru dari mereka mulai memberanikan dirinya.
"Maafkan saya tuan"ucap seorang pegawal.
"Kamu ternyata"
Bungg....
Biram langsung terpental setelah Arnold memberikan sebuah tendangan.biram memegangi perutnya yang sakit akibat tendangan Arnold.
Pria yang membawa caca kembali ke kamarnya dan menguncinya itu adalah Biram pegawal Arnold.
"Siapa yang meyuruhmu untuk meyakitinya"Arnold terlihat marah sekali terlihat jelas dari gambar wajahnya.
"Ma--afkan aku tu--tuan aku tidak seganja"ucapanya terbata-bata.
"Tidak segaja kau bilang"Tanpa mendegar penjelasan dari Biram Arnold mendekati Biram ia menginjak dada pria itu dengan keras berani sekali kau meyakitinya.
"Hentikan"teriak caca
Seketika Arnold langsung menarik kakinya dari dada Biram.
"Apa kau sudah gila! kau ingin membunuhnya?"teriaknya
"Aku akan membunuhnya karena berani melukai wanitaku"ucap Arnold dengan wajah datarnya.
"Siapa yang kau maksud?"tanya serius Caca
"Kau adalah wanitaku sekarang"jelasnya dengan tatapan tajam.
"Aku bukan wanitamu"pekiknya
"Apa kau sudah gila ingin membunuh anak buahmu sendiri apa kau tidak punya perasaan"
__ADS_1
"Aku akan membunuhnya karena sudah berani melukai wanitaku"
"Aku tidak mau menjadi wanitamu pria kejam "teriaknya meloti Arnold.