Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia
64.


__ADS_3

"Paman"teriaknya dari balik jendela kaca kamar lantai atas.


Harun dan juga Arnold menoleh kearah sumber suara melihat Caca yang tersenyum sembari melambaikan tangannya setelah melihat perbincangan hangat Antara Arnold dan juga pamannya.


"kalian membicarakan tentang apa?"ucapnya sembari menata makanan diatas meja makan di bantu oleh bibik dan juga intan.


Tampak kedua pria itu tengah melihat satu sama lainnya.


"Aku melihatnya jangan berbohong" celetuknya.


"tidak ada betul kan nak Arnold"bohongnya menatap tajam Arnold.


"Ya,aku melihat paman sedang berada diluar dan aku menghampiri"arnold terpaksa berbohong karena mengikuti permainan Harun.


"aku berjanji akan melindungimu,tidak ada satupun yang berani meyakitimu"batinnya.


"Hemm....apa anak ini tidak memikirkan perut semua orang"ucap intan.


"iya,maafkan aku"ucap Caca mempersilakan semuanya untuk duduk.


"tidak apa"jawab Arnold yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari calon mertuanya itu.


"Kenapa pria ini terang-terangan menunjukkan sikap tidak sukanya"batinya.


"Eem...."Harun berdehem seolah megerti apa yang sedang Arnold pikirkan tentangnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Mereka telah menyelesaikan sarapannya.


Dikamarnya Caca Arnold tengah berusaha memasangkan dasinya,namun sepertinya Arnold kesusahan.


Caca yang melihat itu mulai geram ia memasangkan dasi Arnold dengan benar.


"Apa selama ini kau tidak bisa memasang dasi dengan benar?"ucapnya cemberut.


Bagaimana tidak semua orang akan Pergi kecuali dirinya dirumah yang sebesar ini pasti ia akan bosan.


Arnold terkekeh melihat wajah Caca yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu"ucapnya tak suka.


"Memangnya kenapa tidak boleh?aku hanya sedang memandang wajah yang selalu mengganggu pikiranku"godanya.


Jujur saja Caca saat ini sedang menahan dirinya untuk tidak salting tapi pipinya sudah Semerah tomat.


"gombal"


"Iya aku akan pergi kekantor,sebelum itu" arnold menjeda Ucapnya.


Cup....


Arnold megecup bibir ranum Caca,lalu buru-buru pergi sebelum diamuk oleh wanitanya.


Caca yang mendapatkan kecupan dari Arnold hanya mematung beberapa kali megerjapkan matanya.


"yakkk!!!"teriaknya kala melihat Arnold yang sudah lumayan jauh.


"Apa kalian menemukan impormasi tentang keberadaan adikku?"ucap pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya tapi membelakangi Lawan bicaranya.


Nampak raut wajah pria itu ketakutan ia sangat hati-hati berbicara dengan lawan bicaranya.

__ADS_1


"kami berhasil menemukan rekaman cctv 16tahun yang lalu"pria itu menceritakan semuanya dari awal hingga akhir impormasi yang didapatkannya.


"Kurang ajar"pekiknya refleks menggebrak meja dengan keras.


"Jadi bayi itu segaja ditukar"ucapnya dengan penuh amarah.


"Cari wanita itu Sampai dapat,dan bawa dia kehadapanku"pintanya.


"bawa dia kehadapanku dalam kondisi bernyawa"


"Baik tuan"ucapnya membungkuk lalu pergi.


"Aku akan segera menemukanmu"ucap pria itu sembari menatap Poto yang ada di tangannya.


Ceklek.......


Suara pintu terbuka.


"Kakak?"panggil seorang wanita dengan pakaian seksi.


karena kesal tidak mendapat respon dari kakaknya wanita itu akhirnya berteriak meneriakan nama kakaknya.


"Kak EVAN!!!!!"teriaknya.


Evan langsung menoleh ke arah finka dan buru-buru menyembunyikan Poto yang dipegangnya.


"Ada apa?"ucapnya dingin.


"iihh...Kakak mah nyebelin tau"cemberut sembari melipatkan kedua tangannya di bawah dada.


Evan terpaksa harus mengalah jika situasinya sudah begini.


"Kamu kenapa tiba-tiba ada dikantornya kakak?mana teriak-teriak lagi"ucapnya pelan.


"Mana ada aku teriak tadi aku manggilnya baik-baik aja kakaknya aja yang ngak denger jadi aku teriak"jelasnya.

__ADS_1


"Oke maafin kakak ya"bujuknya.


"aku mau jalan-jalan, mintak uang cash dong"


__ADS_2