Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia
63.


__ADS_3

"Mama percaya aja apa yang diomongkan oleh papa dan kami pun berangkat ke bandara sebelum itu aku mencarimu kerumahmu tapi aku melihat tidak ada orang sama sekali dirumah"


"Kau mencariku?"


"Sebelum aku berangkat ke bandara aku pergi kerumahmu terlebih dahulu, sayangnya aku tidak menemukanmu sama sekali"raut wajah datar namun senduh.


Caca melihat pria itu Tampak tidak ada kebohongan sama sekali dimatanya


Ia menyesal karena selama ini ia berfikir bahwa sahabat kecilnya itu meninggalkannya begitu saja tanpa memikirkan dirinya, nyatanya sebelum pergi sahabatnya datang kerumahnya yang saat itu dia sedang berada dirumah sakit.


Sebenarnya ini bukanlah salah mereka berdua hanya saja keadaan yang memaksa mereka dan waktu yang tidak tepat namun masa dapat mempertemukan mereka lagi.


"Satu tahun berlalu begitu lambat aku memutuskan untuk pulang kerumah dan mencarimu kerumahmu namun hal itu sia-sia seseorang mengatakan bahkan sudah satu tahun ini pemilik rumah itu pergi yang mereka sendiri tidak tahu pemilik rumah itu pergi kemana"


"Selama enam bulan terakhir aku terus berusaha mencari keberadaanmu aku ingin memastikan apa gadis kecil itu baik-baik saja,atau terjadi sesuatu padanya"sebelum menceritakan semuanya seseorang telah menangis mengeluarkan air mata yang selalu saja meyakiti hatinya.


"Maafkan aku"ucapnya lirih


"Aku selalu saja memikirkan hal tidak-tidak padamu,nyatanya selama ini aku salah"


Hikss.......


Hikssss.....


"Ak__aku yang sa_"ucapnya sesegukan.


Karena tak tahan lagi Arnold mendekap erat tubuh Caca,Caca bersembunyi dibalik dada bidang arnold.


"Jangan pergi lagi"ucapnya


Cup......


Mengecup pucuk kening wanita yang selama ini ia cari-cari sampai membuatnya hampir gila.


Tanpa Arnold sadari wanita itu tengah larut dalam tidurnya karena terlalu lelah Menagis dan menemukan kenyamanannya.


"Apakah boleh aku memanggilmu chagia?,sesuai dengan nama panggilan yang kamu inginkan seperti oppa-oppa Korea ucapkan memagil kekasihnya"

__ADS_1


Emmm......


Caca megeliat di tubuh Arnold dari tidurnya karena ingin mencari posisi ternyamannya.


Arnold baru menyadari sedari tadi ia berbicara sendiri.


"Kau mulai nakal"mencubit gemas pipi Caca Tanpa membuat Caca terbagun.


Arnold megendong Caca ala bridal style membawanya kekamar,suasana menjadi sunyi karena semua orang tengah tidur.


Arnold meletakkan tubuh Caca keatas kasur king size tak lupa juga ia menyelimuti seluruh tubuh wanita mungil itu hingga meyisakahkanya kepalanya agar tidurnya nyaman dan tidak merasakan kediginan sama sekali.


"Apa kau telah menyelidiki kebakaran itu murni dari ketidak segajaan atau ada campur tangannya"ucapnya datar.


"Kami menemukan beberapa jerigen bensin yang dibuang tidak jauh dari tempat kejadian"


"Dari impormasi yang kami dapat seseorang segaja membakar rumah itu"


"Apa mereka mempunyai musuh?"


"Kami juga sudah menyelidiki itu keluarga mereka tidak mempunyai musuh sama sekali, keluarga itu begitu tertutup"


"Apa tuan masih ada yang ingin ditanyakan?"


"Apa Ethan sudah kembali?"


"Belum tuan,dia pergi terburu-buru sekali"Ucapnya.


Jelas dia pergi terburu-buru sekali orang Arnold yang memintanya untuk membeli semua rumah yang dijual termasuk kontrakan.


Bagaimana bisa seseorang memperlambat pekerjaannya jika ini menyangkut nyawanya sendiri.


Dipagi hari yang cerah mataharipun mulai menampakan wujudnya,tak kala juga dengan orang-orang yang melakukan rutinitasnya setelah mengistirahatkan tubuhnya.


Emmm......


Caca megeliat kesana kemari sebelum bangun dari tidurnya lalu perlahan ia mulai membukakan matanya meskipun masih setengah sadar.

__ADS_1


"Jam berapa sekarang?"ucapnya bangun mengucek-ngucek matanya Caca dibuat kaget pasalnya ini sudah hampir jam 9pagi tapi tidak ada yang membangunkan dirinya.


Ia beranjak dari tempat tidurnya dan langsung masuk kamar mandi setelah 15menit dengan terburu-buru Caca sudah meyelesaikan mandinya.


Caca yang masih mengenakan kimono itu memegang handuk kecil untuk mengelap rambutnya supaya cepat kering.


Tapi tak kalah kagetnya Caca melihat dua orang pria bertubuh kekar kini sudah berjemur di halaman depan yang dapat dilihat dengan jelas dari jendelanya kamar Caca.


Matanya mengamati kedua orang pria itu.


"Apa yang akan mereka lakukan?"gumamnya.


Arnold mendegarkan dengan baik semua perkataan Harun bahkan dia harus menahan rasa kantuknya dan juga menguapnya karena semalaman Arnold tidak tidur.


"Apa yang bisa diandalkan darimu jika putriku bersamamu selain kekayaanmu itu"ujarnya seperti taksuka.


Takada jawaban dari Arnold namun dari sorot matanya menjadi tajam, tangannya mengepal erat ia sedang menahan dirinya.


"Apa kebahagiaan putriku bisa terjamin?jika dia bersamamu"


"Sebaiknya kau jauhi putriku,karena jika dia terus bersamamu hidupnya akan selalu dalam bahaya"


"Aku sudah tau bisnis apa yang kau jalankan, melihat pekerjaanmu yang teduh dan juga berbahaya yang selalu mengintai kapan saja,aku tau akan sulit bagi musuhmu untuk melukaimu"


"Tapi bagaimana dengan Caca?"


"Apa kau meragukan kemampuanku?" ucapnya dengan tatapan tajam.


"Menurutmu!!"


"Aku memahami kekhwatiran orang tua terhadap anaknya"


"Tapi aku tidak akan berbicara seperti orang mabuk,aku akan membuktikannya"


"Kita lihat saja nanti seberapa besar cintamu itu,dan seberapa besar pengorbananmu demi cintamu itu"ujar Harun dengan menekan kata-katanya.


"Paman"teriaknya dari balik jendela kaca kamar lantai atas.

__ADS_1


Harun dan juga Arnold menoleh kearah sumber suara melihat Caca yang tersenyum sembari melambaikan tangannya setelah melihat perbincangan hangat Antara Arnold dan juga pamannya.


__ADS_2