Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia
13.fosesif


__ADS_3

Caca menyuapi Rere secara telaten


"Apa mereka menyakitimu?"ucap Rere memastikan luka di kaki Caca itu perbuatan dari Arnold dan anak buahnya.


Caca mengelenkan kepalanya.


"Tidak!ini kesalahanku sendiri"


"Kau tidak berbohong"tanya Rere sekali lagi untuk memastikan.


"Iya kak"ucap Caca tersenyum.


Arnold tiba-tiba menarik tangan Caca yang membuat Caca kagett.


"Aku tidak meyuruhmu untuk menjadi dokter"ucap Arnold menatap tajam.


"Ta-----"


"Tidak ada tapi-tapian kau tidak perlu melakukannya"sela Arnold menarik tangan Caca pergi.


Arnold melihat wanitanya ingin mengobati luka di tubuh Rere dia tidak rela jika wanitanya itu melakukannya dia ingin wanitanya itu hanya menaruh perhatian pada dirinya saja.


"Pelayanku akan mengobatinya"


"Aakh"batinnya ia merasa sakit di kakinya, apalagi Arnold menarik tangannya kuat sekali membuat kakinya sakit Sulit untuk berjalan mengikuti langkah kaki Arnold yang berjalan cepat.


"Eeeeeee tuan mau ngavain"Caca yang kaget karena tiba-tiba saja Arnold mengendongnya.


"Kamu pikir saya mau ngapain"ucapnya menatap Caca.


"Wajarlah saya nanya"Arnold tidak peduli meskipun Caca menolak dia tetap mengedong.


"Aku bisa jalan sendiri"ketusnya yang kesal dengan sikap Arnold.


"Bisa ngak usah ngebantah ngak,mau jatoh"


Merasa bahwa Arnold akan melepaskan tubuhnya,ia langsung mengalungkan tangannya ke leher Arnold.


Melihat itu Arnold tersenyum kecil,menggelengkan kepalanya.


"Ternyata kau menyukainya"goda Arnold.


"Aku hanya takut jatoh" ketusnya.


Arnold naik ke atas membawa Caca ke dalam kamar.


Caca yang takut dan berfikir yang buruk tentang Arnold apalagi Arnold juga pernah mengatakan dia akan melakukannya lain kali.


"Apa jangan-jangan dia akan melakukannya"batinnya memejamkan matanya.


Entah kenapa pikiran buruk itu selalu saja menghantui Caca dia takut kalo Arnold akan melakukan sesuatu pada dirinya.


Lagi-lagi Arnold di buat tersenyum melihat tingkah Caca dia merasa ketika Caca sedang ketakutan dengan dirinya entah apa yang difikirkan oleh wanitanya itu akan bertingkah lucu rasanya dia ingin sekali mencubit pipinya dengan gemas.


Arnold menaruh tubuh Caca membaringkannya ke tempat tidur dengan pelan-pelan lalu menyelimuti seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Sebentar lagi dokter akan kemari untuk memeriksa kakimu"


"Apa!"pekiknya yang terkejut dengan perkataan pria di hadapannya.


Ethan langsung masuk ke dalam kamar terdapat Arnold dan juga Caca dan di susul dengan seorang pria yang nampaknya seorang dokter.


"Sungguh aku tidak kenapa-kenapa"ujarnya yang panik baru saja Arnold mengatakanya tiba-tiba saja ada seorang dokter.


Dokter Langsung menghampiri Caca


"Nona tenanglah biarkan aku memeriksanya dulu"ucap dokter.


"Tadi Kakimu sakit kan, biarkan dokter memeriksa kakimu"bujuknya.


"Aku tidak mau lagian lukanya tidak parah aku hanya tertancam kerikil yang tajam aku berjalan tidak mengunakan alas kaki "tolaknya ia berpikir ini terlalu berlebih-lebihan.


"Tolong degarkan aku kali ini biarkan dokter memeriksa kakimu"


Melihat wajah panik Arnold akhirnya Caca setuju untuk di periksa dokter.


Dia bangkit dari tempat tidur megambil posisi duduk kakinya ia letakkan di lantai memudahkan dokter untuk memeriksanya.


Dokter melepaskan perban yang membalut kaki Caca sebenarnya lukanya tidak terlalu besar ini hanya luka kecil, benar yag di katakan wanita ini hanya tertancam kerikil kecil yang tajam juga tidak terlalu dalam.


Dokter tersenyum tipis ke arah Arnold melihat pria itu hampir tidak bisa nafas karena wanitanya terluka.


"Dasar Kang bucin"batinnya


Setelah selesai mengobati dokter berbalik pergi ke arah Arnold.


Caca mengangguk dengan wajah juteknya.


Karena dia sudah memeriksa kakinya Caca dokter pun pergi.


"Kalo begitu saya pamit dulu"Arnold mengantar keluar dokter Arnold berbalik belakang ingin melihat Caca sebelum ia keluar.


Setelah selesai mengantar dokter Arnold kembali ke kamar Caca yang masih saja duduk di tempat tidur melihat ke arah kakinya.


awww...


Caca yang masih merasakan sakit karena di obati tidak seganja di dengar oleh Arnold.


"Apa itu masih sakit"ucap Arnold berjalan mendekati Caca dan duduk di sebelah Caca.


Caca yang kaget melihat Arnold cepat sekali kembali setelah mengantar dokter.


"Aku pasti akan membunuhnya"ucapnya datar dengan aura kekejamannya terpancar dari wajahnya dan sorot mata yang menakutkan.


Caca yang melihat itu dengan susah payah meneguk Salivanya.


"Kenapa! kau selalu saja menyalakan orang lain atas kesalahanku sendiri itu murni kesalahan ku"


"Aku akan membunuhnya jika dia meyakitimu"


"Memangnya kenapa kalau mereka meyakitiku,toh kamu juga sama dengan mereka"teriaknya marah.

__ADS_1


"Aku berbeda dengan mereka"pekiknya


"Apa yang beda kau sama saja"ketusnya


"Aku menyukaimu pada saat pertama kali kita bertemu,dan aku tidak ingin mereka mayakitimu"


"Mana ada orang jatuh cinta pandangan pertama, apalagi malam itu kau cuman menolongku dari pria brengsek itu"


"Aku meyesal sekali bahwa yang menolong ku lebih brengsek dari pada pria itu lebih baik aku di lecehkannya dari pada harus tinggal denganmu"


Seketika hati Arnold sakit Mendegar ucapan wanitanya itu lebih memilih untuk di lecehkan dari pada tinggal bersamanya.


"Kenapa kau menculikku tidakkah kau kasihan kepada ku bibik ku pasti Sekarang mencariku"


"Bibikmu!"tersenyum menyeringai


"Kenapa kau tersenyum begitu tidak ada yang lucu"pekiknya kesal


Eemm...


"Kau yakin dengan ucapanmu?ucap Arnold menatap tajam ke arah Caca sambil menaikkan satu alisnya.


"Memangnya kenapa dengan bibikku pasti dia sekarang tengah khwatir dengan keadaanku"ucapanya percaya diri sekali.


"Kau percaya diri sekali"


"Tunggu apa yang kau lakukan dengan bibikku"pekiknya menarik kera baju Arnold.


"Aku tidak melakukan apa-apa! aku hanya melihat bibikmu itu tengah bahagia dengan semua uang yang dia miliki"Ucapnya memegang tangan Caca melepaskannya dari kera bajunya.


"Apa kau memberikan uang kepada bibikku?"ucapanya yang tidak percaya ternyata bibiknya sama sekali tidak peduli dengan dirinya dia memilih untuk megambil uang yang di berikan Arnold daripada dirinya.


"Kau tidak percaya?"ucapnya


Arnold langsung megambil ponselnya dari saku balik jasnya melihatkan sebuah video Arnold memutar video itu tepat dilihat oleh caca.


Terlihat di ruang tamu ada seorang wanita yang umurnya 37 tengah duduk di sofa dengan pistol yang megarah ke kepalanya terlihat banyak pria yang tengah mengelilinginya.


"Apa hubunganmu dengan wanita ini"ucap Ethan memperlihatkan sebuah foto Caca yang tengah megenakan seragam SMA-nya dia terlihat sangat cantik di foto itu wajar saja tuanya itu tergila-gila dengannya.


Intan yang menyadari bahwa gambar itu adalah.


"Bellanca"gumamnya


"Rupanya kau kenal juga"


"Dengar apa yang anak nakal itu lakukan,itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku"pekiknya


"Apa kau tau sekarang dia ada di mana"ucap ethan menatap tajam yang membuat intan ketakutan.


"Aku tidak tahu dia sekarang di mana,dia sama sekali tidak pulang, sebaiknya kalian pergi dari rumahku"pekiknya marah.


"Sebaiknya kamu tidak perlu untuk mencarinya"


"Tidak perlu meyuruhku!aku juga tidak mau mencarinya tapi pamanya itu sangat sayang kepadanya"ucapnya kesal.

__ADS_1


Ethan megambil koper yang di pegang oleh kom lalu membukanya terlihat banyak sekali tumpukan uang yang tersusun dengan rapi di dalam koper.


__ADS_2