
"Baiklah jika dia berani meyakiti adikku yang cantik ini,aku tidak akan segan-segan menghabisi nyawanya"
"Aaa...iya iya aku tau kakakku kau akan melakukan apapun untukku"
"Baguslah kau megigatnya Dengan baik"
"Sudahlah jangan bicarakan ini lagi kak.aku lapar sekarang,apa Kakak ingin ikut?"
"Tidak!aku masih ada pekerjaan"
"Apa tentang lelang kasino?"tanyanya
"Ya benar! jika saja Arnold tak ikut campur,aku tidak perlu bekerja terlalu keras"
"Apa Kakak akan menawar di Lelang Kasino nanti?"
"Itu benar!ini proyek yang sangat menarik,tapi masalah utamanya adalah Arnold."
"Mereka memberi tahu saya, perusahaan Arnold juga ikut berpartisipasi dalam pelelangan ini?"
"Arnold juga mempunyai investor dari Korea, jika itu benar akan Sulit untuk memenangkannya"
"maafkan Aku tidak bisa membantu Kakak"ucapnya dengan rasa bersalah.
"Ayoklah adikku kenapa kau berfikir bahwa kakakmu ini tidak akan memenangkannya,aku akan menenangkannya dan mengalahkan Arnold"geramnya.
"Apa Kakak tidak terlalu berlebihan?"
"Arnold"geramnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Sudah katanya kau ingin makan, jangan lupa untuk membawa mereka bersamamu aku tak ingin kau kenapa-napa"ucapnya.
"Kakak aku bukan anak kecil lagi,aku bisa menjaga diriku sendiri"regeknya
"Lagian mereka tidak membantu apa-apa.justru mereka semua membuat kepalaku pusing"ucapnya megerecutkan bibirnya.
"Aku bilang tidak,ya tidak"jelasnya memperingatkan bahwa keputusan apapun yang di buatnya tidak dapat di ubah apalagi di tawar.
"Kakak"teriaknya memangil pria itu yang sudah pergi jauh.
"Maafkan aku Kak,aku benar-benar mencintainya"batinnya.
"Hallo"
"Ini aku Evan"pria itu tengah duduk di kursi kebesarannya, nampaknya ia sedang menelpon seseorang.
"Ya benar! Itu tentang kasino,saya harap investor Korea dapat memihak saya"ucapnya berbicara dengan orang di sebrang telponnyu.
"Saya yakin bahwa Arnold akan kalah di pelelangan nanti mungkin ia tidak akan berani menampakkan wajahnya lagi"ucapnya dengan meyakinkan investor dari Korea agar memihaknya.
"Ya,terimakasih pak"
"Arnold"ucapnya tersenyum menyeringai seolah dia yang akan memenangkannya dan mengalahkan Arnold.
Arnold yang baru saja tiba di Mension miliknya.ia langsung pergi ke kamar wanita
__ADS_1
itu ia tahu bahwa wanitanya pasti ada di sana.
Melihat Arnold yang tiba-tiba Saja masuk dengan mendorong pintu begitu keras ke kamar tanpa megetuk pintu membuat Caca kaget.
Mendapat tatapan tajam dari wanitanya Arnold jadi salah tingkah ia berpikir ada yang salah dengan dirinya.
"Baiklah Aku tidak segaja"ucapnya.
"Terserah ini kan rumahmu"ketusnya membuang muka.
Arnold berjalan mendekati ke arah mereka.
"Ethan akan mengantarmu pulang"ucapnya dingin.
"Apa aku boleh ikut?"Ucapnya tak segaja ia tak berfikir bahwa Arnold akan megizikannya.
Melihat Arnold hanya diam dan menatap dirinya ia tahu jawaban dari diamnya Arnold.
"Kau boleh ikut"ucapnya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Apa kau serius beruang kutub?"teriaknya.
"Beruang kutub?"
"Iya lihatlah dia mirip sekali dengannya benar-benar dingin"Ucapnya sambil tersenyum kecil.
"Apa kau tidak takut padanya?"tanyanya tidak percaya dari mana gadis kecil ini memiliki keberania magatai pria itu dengan sebutan beruang kutub.
"Biarakan saja dia juga memagilku Dengan sesuka hatinya"ucapnya melipatkan kedua tangannya di bawah dada.
"Dia menyebutku dengan sebutan Banteng kecil"Ucapnya dengan malas.
"Hahahaha"mendegar itu Rere tak henti-hentinya tertawa.
"Kakak menertawai ku?"ketusnya dia tidak suka.
"Apa yang dikatakannya memang benar,jika saja kau mempunyai tanduk kau pasti sudah menyeruduknya"
"Iyah ya kenapa aku tidak kepikiran"
"Sudahlah Kak berhenti tertawa aku akan bersiap-siap untuk mengantarmu pulang"
Disisi lain Rere senang bisa bebas dari tahanan Arnold,tapi di sisi lain ia tak tega meninggalkan Caca yang ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Ca apa kau juga memikirkan hal yang sama denganku?"
"Iya kak,tapi percayalah aku akan baik-baik saja di sini"
"Meskipun aku belum mengenal pria itu namun aku dapat merasakan bahwa dia mencintaimu aku tidak akan membiarkan bibikmu memaksamu lagi untuk bekerja di bar milik pamanmu"
"Makasih kak untuk semuanya"
"Aku yang harus berterimakasih kepadamu"
Mobil Arnold melaju dengan cepat di tengah kota Caca melihat ke jendela mobil akhirnya dia dapat menghirup udara di luar setelah sekian lama terkurung di mansion arnold
__ADS_1
Ia merasakan kebebasan.anging yang berhembus membuatnya dapat merasakan kebebasan seperti dulu ia senang dengan kehidupannya yang dulu bukan yang sekarang.
Rere yang melihat itu merasa sedih dia akan pulang dan meninggalkan Caca sendirian.
"Apa kau baik-baik saja?"tanyanya
Dengan cepat Caca menjawab
"Aku baik-baik saja"
Arnold yang sedari tadi memperhatikan wanitanya melihat dari kaca depan mobil Rere tak segaja melihatnya.mendapat tatapan tajam dari Arnold Rere memutuskan tidak bertanya lagi pada Caca ia tiba-tiba langsung diam.
Mobil Arnold berhenti tepat di depan bangunan yang terlihat sederhana dan juga bersih terdapat pagar yang tak terlalu tinggi.
Ethan yang turun duluan ia membukakan pintu mobil untuk tuanya setelah tuanya ia kembali membukakan pintu untuk Caca.
Mereka tepat berdiri di depan rumah sederhana itu.
"Silakan masuk"ucapnya sambil mempersilakan.
Arnold tak menanggapi perkataan wanita itu ia malah jijik melihatnya.
"Kita harus pergi"ucapnya dengan dingin.
Ethan buru-buru membukakan pintu mobil untuk tuanya setelah tuanya ia kembali membukakan pintu untuk Caca.
Melihat wanitanya tidak langsung masuk tapi malah mematung.
"Masuk"ucapnya
Caca masih melihat ke arah Rere mata mereka saling bertatapan seolah tidak mau berpisah.
"Masuk sekarang"ucapnya dengan nada tinggi.
Spontan membuat Caca kaget ia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil.ethan kembali menutup pintu mobil dan segera masuk.
Mobil Arnold melaju meninggalkan tempat itu Rere Hanya bisa melihat mobil itu yang nampaknya sudah menjauh,ia hanya bisa berdoa untuk keselamatan Caca semoga dia tidak disiksa oleh arnold seperti yang di lakukannya terhadap dirinya.
Arnold yang memperhatikan wanitanya sedari tadi hanya diam tidak berkata apapun memasang wajah sedihnya.
"Ada apa?"tanyanya seperti mengintimidasi.
"Aku hanya berpikir jalan ini tidak jauh dari rumah pamanku jika saja aku dapat melihat Paman"Ucapnya.
"Apa pamanmu orang yang baik?"tanyanya dengan serius.
"Pamanku orangnya sangat baik bahkan sifatnya hampir sama dengan ayahku,dia menyayangiku Dengan tulus layaknya putrinya sendiri"tuturnya dengan jujur.
Setelah ayah dan ibuku meninggal aku tidak punya siapa-siapa lagi kecuali paman dan juga bibik mereka merawatku dengan baik meskipun bibik tidak begitu menyukaiku tapi aku percaya sebenarnya ia juga sangat syang padaku meskipun ia tak menunjukkannya.
"Cih"batinya Arnold berdecih mendegar perkataan itu jika bibiknya sayang dengan Caca.
Arnold jadi tahu bahwa pamannya Caca menyayanginya Dengan tulus.berbeda dengan bibiknya yang rela menukar nyawa seseorang demi uang.
"Kenapa kau bertanya?"
__ADS_1