
Arnold berjalan di tengah-tengah anak buahnya.
"Kom"pangilnya
"Ya!tuan"jawab kom
"Aku memerintahkanmu untuk mencari beberapa impormasi.apa kamu melakukan itu?"ucapanya dingin
"Ya,tuan"ucapanya dengan menundukkan kepala.
"Para investor masih memihak kami meskipun evan telah mencoba menawarkan penawaran yang lebih baik"Ucapnya dengan posisi siap.
"Haruskah kita mencoba menghubungi investor dari negara lain?ada seorang investor Australia yang baru saja menghubungi saya!saya pikir Evan hanya pokus pada investor korea apakah anda ingin melihat profil investor Australia ini?"ucap Ethan.
"Saya setuju dengan kamu"ucapanya dengan wajah datarnya.
Tapi nanti malam saya akan makan malam, Jika ada impormasi lebih lanjut tentang Evan!segera laporkan"
Caca yang begitu gelisah dan terus saja mondar-mandir di dalam kamar.
"Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan"gumamnya sembari mengigit bibir bawahnya.
"Aku tidak punya pakaian yang bagus"ucapanya sembari melihat-lihat pakaian di lemari dan membuangnya di tempat tidur.
sebenarnya pakaian itu bagus semua juga yang pastinya mahal dari brand ternama karena masih ada merek semua di sana tertera harga dari pakaian tersebut tapi ia tidak suka karena pakaian itu terlalu terbuka untuknya.
"Yang ini!terlalu ketat,dan yang ini!warnanya terlalu gelap,yang ini!terlalu pendek"ucapnya frustasi dengan pakaian tidak ada yang cocok untuknya.
"Kenapa aku jadi memikirkan ini seharusnya aku senang dong? karena tidak punya pakaian yang cocok karena itu tidak akan ada makan malam ini"ucapanya dengan senyuman.
Ia lebih memilih untuk bermalas-malasan di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel barunya yang baru saja Arnold berikan.
"Sial"pekiknya
"Aku bahkan tidak dapat mengingat Nomor ponsel paman"langsung menghempaskan ponselnya diatas kasur.
Ting...
Ia segera melihat ponselnya.
Suara notif dari ponselnya pesan WhatsApp
"Aku akan segera pulang"
"Aku akan menjemputmu kita akan makan malam bersama"
"Mau pulang lama mau pulang cepat itu tidak ada urusannya denganku tuan Arnold"
"Lagian siapa juga yang mau makan sama dia"
Disisi lain Arnold tampak kesal dengan sikap wanitanya.
"Kenapa dia tidak membalas pesanku"
"Apa jari tangannya itu akan patah jika membalasnya"ucapnya yang tak kunjung mendapat balasan dari wanitanya.
Ting..
__ADS_1
Suara notif dari ponselnya Arnold.
"Akhh"
"Sudah kuduga dia tidak akan bisa melakukannya"
Arnold terlihat sangat bahagia ketika mendapat notif dari ponselnya ia menduga bahwa wanitanya yang mengirimkan pesan kepadanya.
Ethan yang lagi menyetir melihat tuannya dari kaca terlihat dari wajah tuannya itu sangat bahagia.
"Apa tuan Arnold hari ini kopinya kebanyakan gulanya"batinya.
Arnold langsung menghempaskan ponselnya dengan kuat setelah tau siapa yang mengirimkan pesan ternyata bukan wanitanya melaikan anak buahnya.
"Beraninya dia"pekiknya.
"Ada apa tuan?"
"Tidak ada"ucapanya dingin.
"Kenapa kau melihatku seperti itu"ucapnya karena Ethan sedari tadi melihat dirinya dari kaca.
"Tidak tuan"Jawab Ethan yang langsung pokus dengan jalan.
Setelah tiba di Mension miliknya Arnold buru-buru turun dari mobil terlihat sangat jelas dari wajahnya Arnold sedang marah.
Ia buru-buru masuk ke dalam mencari di mana wanitanya apa yang membuat dia sibuk sekali sampai-sampai tidak bisa membalas pesan darinya.
"Dimana dia?"teriaknya karena tidak menemukan wanitanya itu di dalam kamar ia sudah mencarinya di mana-mana kecuali di dapur namun tidak ketemu.
Plakk...
Plakk...
"Kalian semua tidak becus"pekiknya
anak buah Arnold yang mendapati perlakuan tuannya itu hanya bisa menahannya.tiba-tiba Ethan datang.
"Tuan nona sekarang lagi ada di dapur"Ucapnya.
Tanpa menjawab Arnold segera pergi menuju ke dapur benar apa yang di katakan oleh Ethan wanitanya ada di dapur Sepertinya ia sedang membuat sesuatu.
"Apa kau sangat sibuk sampai-sampai tidak membalas pesanku"ucapanya menghampiri.
Caca yang tengah membelakangi Arnold itu tidak peduli dengan ucapanya masih saja sibuk dengan masakannya.
Merasa di abaikan Arnold meraih pinggul wanitanya membuat tubuh mereka saling berhadapan mata mereka saling bertatapan.
"Apa yang kau lakukan?" Ucapnya berusaha melepaskan.
Namun Arnold semangkin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh wanitanya.
"Lepaskan aku,apa kau tidak malu ada bibik Ida di sana melihatnya?"pintanya.
"Bibik Apakah kau melihat sesuatu?"menatap tajam ke arah bik Ida
Dengan cepat bik Ida mengelenkan kepalanya.
__ADS_1
"Saya.... tidak melihat apa-apa tuan"ucapanya malu-malu.
"Bibik tidak melihat apa-apa"Ucapnya tanpa rasa malu.
"Tuan!non,saya lupa matiin air saya permisi"ucapnya yang gemetaran mencari alasan jantung bik Ida sedari tadi rasanya hampir saja mau copot.
Sejujurnya bik Ida senang kalo tuanya itu bersama dengan non Caca dia tidak mau kalo tuanya itu bersama dengan non finka yang jahat itu.
Finka memiliki sifat yang angkuh dan juga sombong untuk masalah kecil saja selalu di besar-besarkan untuk kesalahan yang ia buat ia selalu saja menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri.
"masak apa?"tanya Arnold
"Apa kau tidak melihatnya sendiri"ketusnya melepaskan tangan Arnold dari pinggulnya.
"Baunya sangat enak kau membuat kari untukku?"
"Tidak ak----aku"
"Kau tidak perlu malu untuk mengatakannya aku emang suka kari"timpalnya.
Sepertinya kau mulai jatuh cinta padaku"godanya.
"Sabar Caca kau harus tenang ini adalah sebagian dari rencanamu kau harus bisa mengambil hatinya setelah itu kau bisa pergi dari tempat ini selama-lamanya"batinnya
"Aku hanya ingin bersikap baik"Caca berusaha menepisnya sebenarnya ia senang dengan pujian dari Arnold.
Entah Kenapa Arnold yang ingin marah karena tidak di balas pesanya itu hilang seketika di wajahnya kini cuman ada senyuman.
Arnold yang ingin mencicipi masakan wanitanya harus terhenti.
"Cuci tanganmu dulu aku akan menyiapkannya di meja makan"pintanya
"Baiklah"ucap Arnold pergi ke wastafel cuci piring untuk mencuci tangannya.
"Aku lupa menaburi nya bawang goreng"ucapanya mencari-cari toples bawang goreng yang kata bibik Ida di dalam lemari.
Ternyata toples bawang gorengnya yang di cari ada di lemari yang letaknya lumayan tinggi.
Caca terpaksa harus menjinjit untuk megambilnya, tapi sayang masih kurang tinggi Sulit untuk di gapai.
Arnold tersenyum kecil melihat tingkah lucu wanitanya yang mengemaskan bagi dirinya.arnold segera menghampiri Caca dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi supaya bisa megambil benda yang di inginkan wanitanya.
"Apa yang kau lakukan"pekiknya kagett melihat ke bawah.
"Ambil benda yang kau inginkan tanganku tidak cukup kuat mengangkat tubuhmu yang berat itu"
"Menyebalkan"ucapnya
Jujur saja perkataan Arnold tadi begitu sensitif bagi wanita ketika tubuhnya di bilang gemuk wanita selalu saja menginginkan tubuh yang ideal dan terlihat seksi.
"Turunkan aku"Ketusnya memayukan bibirnya.
"Apa yang salah?"Arnold bertanya melihat wajah bete wanitanya.
"Tidak ada"ketusnya.
"Apa aku terlihat gendut"ucapnya Tanpa sadar Arnold mendegarnya.
__ADS_1