Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia
44.


__ADS_3

"Begitu non ceritanya"jelas bik Ida panjang lebar di kali tinggi.


Galine tersenyum lebar melihat kearah Caca, disertai juga bik Ida yang ikut tersenyum kearahnya.


"Aaa...mama,bik Ida juga kenapa senyum-senyum begitu"Caca yang malu karena di tatap begitu.


"Oh.dia malu bik"tutur galine sambil tertawa kecil.


"Sudah-sudah lebih baik kita meletakkan semuanya ke meja makan nanti Arnold pulang"


"Iya ma"jawab Caca.


Mereka sedang sibuk menata makanan di atas meja makan.saat semuanya selesai tiba-tiba Kom datang menghampiri mereka.


"Nyonya!,non"ucap Kom menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Ada apa?"tanya galine.


"Tuan Arnold sudah kembali, mereka ada di depan"lapor Kom.


Mendegar itu Caca tanpa sadar tersenyum.


"Bagaimana bisa dia menyembunyikannya dariku"gerutunya kesal.


"Ayok sayang?"ajak galine untuk melihat Arnold.


"Ayok mah"jawab Caca berjalan mengikuti galine dari belakang.


Arnold yang beserta rombongannya baru saja tiba di Mension miliknya, mereka semua turun dari mobil mereka masing-masing.


"Baru pulang!"singgung galine.


"Iya ma"jawab Arnold.


"Pekerjaan apa sampai-sampai baru pulang sepagi ini?"tanya galine melipatkan kedua tangannya di bawah dada.


"Ini sangat penting"jawab arnold.


"Baiklah aku tau itu penting tidak ada yang penting dari pekerjaannya"ucap galine yang langsung pergi masuk ke dalam.


"Apa yang kamu lakukan sampai membuat mama marah?"tanya Caca serius.


"Kenapa kalian masih disini"pekik Arnold memarahi anak buahnya.


Setelah Ethan dan yang lainya pergi Caca kembali bertanya.


"Lihatkan mama jadi marah"ketus Caca yang kini membuang wajahnya.


Arnold tak memperdulikan perkataan Caca ia malah mengangkat tubuh wanitanya lalu mengendongya.


"Aaaaa"teriak Caca kagett.


"Turunkan aku!"ucapnya sembari memukul dada bidang Arnold.


Anak buah Arnold yang kalah itu belum jauh mendegar teriakan Caca membuat mereka menoleh melihat ke arah mereka yang saat ini sedang bermesraan.


Cup....


Arnold megecup bibir ranum Caca yang terasa manis menurutnya,yang membuatnya candu.


"Memanfaatkan keadaan"ketusnya.


"Tapi kau menyukainya bukan?"goda Arnold yang membuat Caca bersemu malu.

__ADS_1


"Kau belum menjawab pertanyaanku" ucapnya cemberut.


"Tunggu jangan-jangan kau melakukan pembunuhan besar"ucap Caca asal habisnya ia tak segaja mendegar percakapan Bagus dengan Kom.


"Sembarangan"jawab Arnold mencubit hidung Caca gemas ia Segaja berbohong karena ia tahu Caca tak suka dengan pekerjaannya.


"Jadi itu tidak benar?"tanya Caca memastikan.


Arnold tak menjawab ia hanya mengangguk kepalanya lalu membawa Caca masuk.


"Eee, turunkan aku bagaimana kalo Mama liat?"pintanya


"Apa aku peduli?"jawab Arnold tanpa rasa bersalah.


"Arnold"pekiknya meronta-ronta.


"Aku tidak mau"balas Arnold.


"Aku mohon"ucapnya memelas.


"Baiklah ayo pangil aku"ucap Arnold berhenti.


"Apa?"ucap Caca binggung dengan perkataan Arnold.


"Bukankah sudah kukatakan aku suka menggunakan kata-kata itu untuk memanggil ku"jelasnya.


"Aku tidak tahu?"jawab Caca


"Panggil saya apapun yang kamu Inginkan"


"Tuan!tuan?"Ucapnya sambil tersenyum.


"Ayo panggil saya lagi?"ucapnya sembari berjalan.


"Kamu tahu apa yang ingin Aku Dengar?"goda arnold sembari menguatkan pegangannya.


"Chagiya?"ucap Caca tertawa.


"Hahah"Arnold pun tertawa ia salting.


Caca yang berhasil turun langsung berlari pergi masuk ke dalam meninggalkan Arnold yang menyadari tingkah gemass wanitanya tersenyum kecil.


"Baiklah hari ini mau bisa kabur tapi lihat saja nanti"batinnya.


Saat mereka sedang berada di meja makan untuk sarapan pagi,Caca memberi kode kepada Arnol.


"Shift"pangil Caca.


Arnold yang tidak tahu apa maksud dari wanitanya megankatkan alisnya.


"Apa?"Ucapnya tanpa suara.


Caca memberikan kode kepada Arnold melihat ke arah galine yang saat ini sedang sedih sedari tadi galine tidak bersuara sama sekali.


Awalnya Arnold tidak ingin melakukannya karena Arnold bosan harus menjelaskan kepada mamanya berulangkali, galine selalu saja memberikan respon yang sama.


Galine ingin Arnold berhenti dari pekerjaannya yang menurut galine itu sangat berbahaya, galine ingin putra semata wayangnya menjalani kehidupan yang baik.


Untuk megelolah perusahaan property milik ayahnya Barra Irvan Adibrata.


Galine hanya memiliki putra satu-satunya yaitu Arnold Rafeyfa Adibrata.dia tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi dengannya hati ibu mana yang tega melihat anaknya terluka, meskipun galine tahu anaknya sangat hebat namun kekhawatiran seorang ibu tidak luput dari anaknya.


"Ma?"pangil Arnold pelan.

__ADS_1


Galine yang mendegar itu pura-pura tidak mendengar.


"Mama?"pangil Caca memegang tangan galine yang membuat hati galine tersentuh.


"Ada apa sayang apa kamu membutuhkan sesuatu"ucap galine berusaha mengalihkan perhatian.


Caca memegang tangan galine berusaha meyakinkan galine.


"Mah?"pangil Arnold sekali lagi.


"Jika mama ingin Arnold megelolah bisnisnya papa!arnold akan turuti tapi Arnold tidak mau jadi CEO di perusahaannya papa"


"Kenapa"bantah galine yang tidak setuju dengan pemikiran anaknya.


"Arnold hanya bekerja dan membantu bisnis di perusahaan papa tidak lebih"tegasnya.


Setidaknya galine masih ada harapan Jika Arnold mau bekerja di perusahaan papanya,cepat atau lambat Arnold pasti akan memimpin di perusahaan property Barra Irvan Adibrata milik keluarga Adibrata.


Arnold langsung meninggalkan meja makan itu dengan wajah Dinginnya.


"Sebentar yah mah?"ucap Caca yang ikut pergi menyusul Arnold.


"Kemana pria durhaka itu pergi?"ucapnya tanpa sadar Arnold mendegarnya.


Arnold menutup pintu kamar itu lalu menguncinya.


"Chagiya?"pangil Arnold yang langsung memeluk tubuh Caca dengan erat.


Uhukk....uhukk.....


Caca terbatuk-batuk karena Arnold memeluk tubuhnya terlalu erat.


"Apa kau ingin membunuhku"pekiknya.


Arnold melepaskan pelukannya dari tubuh Caca.


"Jangan katakan itu"ucapnya senduh.


Caca yang melihat Arnold seperti itu ada rasa bersalah di dalam dirinya.


"Baiklah aku hanya bercanda"ucap Caca tersenyum.


"Jangan bercanda seperti itu aku tidak suka"ucapnya.


"Siap boss"ucap Caca sembari memberi hormat yang membuat Arnold tersenyum kecil.


"Hahah lucu ya?"tanya Caca yang membuat Arnold gemass ingin sekali ia memberi pelajaran padanya.


"Mau kemana?"tanya Arnold yang melihat Caca ingin membuka pintu kamarnya.


"Keluar jenguk mama"jawab Caca.


"Tidak boleh"ucap Arnold yang langsung menarik tangan wanitanya untuk duduk di atas tempat tidur.


"Biarkan aku mengistirahatkan mataku sebentar"ucapnya yang berbaring meletakan kepalanya di pangkuan caca.


"Keenakan kamu dong"ketus Caca yang tek terima.


"kenapa tidak tidur dengan posisi benar"sambungnya.


Arnold tak menjawab ia hanya tersenyum kecil dengan mata terpejam.caca yang memperhatikan wajah tampan terlihat tenang pria yang saat ini tidur di pangkuannya.


Caca Tanpa sadar ia membelai rambut arnold dengan lembut.

__ADS_1


"Kenapa ada begitu ketenangan di wajahnya.disaat orang lain ingin meyakitiku kenapa kamu membelaku dan disaat orang lain jahat denganku kenapa kau sangat baik menolongku bahkan kau memperlakukanku dengan baik"tuturnya arnold yang sedari tadi pura-pura tidur ia mendengar semuanya dan akhirnya Arnold pun terlelep tidur.


__ADS_2