Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia
60.


__ADS_3

Butuh waktu satu jam untuk Harun sampai dimensionnya arnold,kali ini dia pergi sendiri berbeda dengan waktu itu.


Melihat mobil Harun penjaga gerbang langsung membukakan pintu gerbang dan dia juga di sambut baik.


Harun memarkirkan mobilnya di halaman depan mension Arnold.Penjaga gerbang juga membukakan pintu mobilnya.


"Silakan tuan"ucapnya mempersilakan.


Harun sedikit terkejut dengan perlakuan anak buah Arnold,rasanya ia tidak percaya diperlakukan dengan baik setelah kejadian waktu itu.


Ia menghela nafasnya merapikan pakaiannya


"Mari tuan saya antar"ucap bik ida berjalan lebih dulu.


Harun mengikut bik Ida yang berjalan lebih dulu.


"Silahkan duduk tuan"ucap bik Ida mempersilakan Harun duduk di ruang tamu.


Harun seketika terkesima dengan perabotan dan barang2 mewah lainnya tak heran dari luarannya saja sudah mewah apalagi dalamnya.


"Maaf menunggu lama"ucap arnold Dingin menghampiri Harun.


Harun tiba-tiba berdiri namun ditahan oleh Arnold.


"Tidak papa silahkan duduk"Harunpun Duduk kembali.


Seketika suasana menjadi hening


"Silahkan diminum tuan"ucap bik Ida meletakkan cangkir kopi di atas meja,lalu kembali pergi ke dapur.


"Saya permisi tuan"ucapnya membungkuk.


"Dimana putri ku sekarang?"tanyanya menatap tajam ke arah Arnold.


"Dia ad"belum sempat Arnold meyelesaikan Kalimatnya tiba-tiba saja Caca datang menghampiri mereka.


"Paman?"pangilnya dengan wajah yang sedikit lebam Karena terlalu lama Menagis.


Berlari memeluk harun.


Hikssss....


Hiksss.....


Caca kembali Menagis dipelukan Pamannya.


"Menangislah luapkan semuanya"mata harun pun berkaca-kaca ia tak tega melihat kondisi putrinya sekarang ini.


Hikssss.....


Hikssss.....


Caca kembali teringat dengan keberadaan Arnold ia berusaha menghapus air matanya, sebenarnya Caca tidak terlalu merasa sakit hati terlalu dalam namun ia Menagis karena ia tidak ingin mempermalukan paman dan juga bibiknya.


"Paman kok bisa ada disini?"tanyanya penasaran.


"Pria itu yang memberi tahu paman"ucapnya.


Melihat kearah Arnold.


"Terimakasih telah membawaku kemari"ucapnya.


"Bibikmu sangat menghawatirkan dirimu, Kenapa kau tidak bilang jika kau kemari?"menoel hidup Caca gemass.


Caca mulai megigat sesuatu.


"Kenapa aku ada disini? seharusnya aku sedang berada di makam ayah"gumamnya yang didegar oleh Harun.


"Kamu pergi ke makam?"tanya Harun.


Caca Hanya megangguk.


"Terus Caca tidak ingat lagi.tiba-tiba saja Caca berada disin"ucapnya heran.


Harun megerti kenapa Caca bisa ada disini sekarang,Tiba-tiba saja ponsel Harun berbunyi.


"Hallo sayang ada apa?"ucapnya dari sebrang telpon.


"Mas!"


"Iya sayang"


"Mas!ru__rumah ki__kita"ucapnya terbata-bata.


"Ada apa dengan rumah kita sayang"ucap Harun yang mulai khwatir.

__ADS_1


"Rumah kita keb___"


"Iya sayang aku tahu tapi rumah kita Kenapa?"


"kamu tenag ya jangan panik,cerita perlahan-lahan"


Berusaha untuk tidak panik.


"Mas rumah kita kebakaran"ucapnya panik


Hiksss...... Hikss......


Intan terduduk lemas menatap rumahnya kini api itu semangkin besar melahap habis rumahnya.


Semua orang Gontog royong membawa ember yang berisikan air membantu memadamkan api sebelum damkar datang.


"Hallo!"


"Sayang kamu masih disana kan?"


Tidak ada jawaban dari intan,Harun mulai panik.


"Apa yang terjadi paman dengan bibik"Caca mulai khwatir melihat perubahan wajah Harun.


"Rumah kita kebakaran"jawab Harun.


"Apa"Caca sedikit berteriak karena kagett.


"Kita pulang sekarang ya"berusaha menenangkan Caca.


"Aku ikut"ucap Arnold.


Mendegar itu langkah kaki Caca berhenti Harun menatap tajam Arnold.


"Paman"berusaha menenangkan.


Menghela nafasnya.


"Baiklah"


Skip.....


Sesampainya mereka melihat intan yang terduduk lemas sembari Menagis.


Intan menoleh ke sumber suara.


"Bibik"Ucapnya Caca memeriksa seluruh tubuh intan.


"Apa bibik terluka apa ada yang sakit tunjukan kepadaku"ucapnya khawatir.


"Sayang tenangkan dirimu,tanyanya satu persatu"ucap Harun.


"Aku tidak papa tapi lihat rumah kita"


Hikssss.......


Hikssss......


Disana terlihat anak buah Arnold tengah sibuk memadamkan api yang berkobar.


Harun menatap rumahnya yang kini sudah hangus tidak ada lagi yang tersisa.


Caca berusaha memberikan kekuatan kepada paman dan bibiknya ia memeluk tubuh mereka.


"Kita akan tinggal dimana?"


"Apakah setelah ini kita akan menjadi gelandangan?"


"Harun tak mampu menjawab pertanyaan istrinya"


Bisnis barnyapun sekarang sedang diambang kebangkrutan.


"Bibik tenang dulu kita akan mencari kontrakan untuk sementara waktu lagian Caca juga punya uang"ucapnya.


"Apakah kita sekarang sudah jatuh miskin?"


Hikssss......


Hikss......


Intan benar-benar tidak terima Jika dia benar-benar jatuh miskin rasanya ia tidak percayalah dengan ini semua.


"Apa aku hanya mimpi?"


"Iya aku hanya bermimpi"menepuk2 pipinya

__ADS_1


Aww....


"Rasanya sakit,ternyata bukan mimpi"


Setelah apinya padam Arnold menghampiri Caca.


"Kalian mau pergi kemana?"tak ada yang menjawab.


"Apa kau tidak lihat rumah kami"ketusnya.


Arnold menahan amarahnya karena dia salah satu keluarga Caca.


"Maksudku jika kalian tidak memiliki tempat tinggal aku bisa memesankan kamar hotel untuk kalian"ucapnya.


"Tidak usah terimakasih"ucap Caca.


Mereka ingin pergi namun kembali dihentikan oleh Arnold.


"Tinggalah dirumahku setidaknya sampai kalian mendapatkan tempat tinggal"ucapnya


"Benar juga aku tidak mau menjadi gelandangan"batinya.


"Aku setuju kita akan tinggal setidaknya sampai kita menemukan tempat tinggal"


"Tap_tapi bik"


"Tidak usah tapi tapi kau juga maukan ayok"ucap intan.


Skip......


Mereka sudah sampai dimensionnya arnold mata intan terbelalak melihat gedung besar dihadapannya.


"Inilah bukan rumah tapi istana"celetuknya tersenyum lebar.


"Aku tidak bisa membayangkan rasanya tingal di istana yang megah dan beberapa para pelayan"


"Yang melayaniku kita tingal bilang dan semua langsung megambilkannya tidak perlu mengambil sendiri"intan sedari tadi tidak henti-hentinya berhayal


"Udah bik jangan bikin malu"ucap Caca yang melihat ekspresi inta tarlalu berlebihan.


"Bahkan aku lebih senang rumah kita kebakaran"celetuknya.


Harun Hanya bisa menghela nafasnya selama ini dia belum bisa memberikan kebahagiaan untuk istrinya, kehidupan mewah barang-barang mewah seperti istri orang lainnya.


Bik Ida menunjukkan kamar tidur untuk harun dan istrinya.


"Ini benaran?"rasanya intan tidak percaya kamar yang begitu luas tidak seperti dirumahnya.


"Silahkan untuk istirahat"ucap bik Ida


Intan langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur king size intan bisa mengistirahatkan tubuhnya setelah lelah Menagis.


Bik Ida menunjukkan kamar untuk Caca


"Silahkan non Caca"ucap bik Ida penuh bahagia.


"Terimakasih bik"ucap Caca tak kala tersenyum.


"Setelah sekian lama akhirnya non Caca kembali"


"Iya bik mungkin Caca juga ngak lama sampai kita menemukan tempat tinggal"uajr Caca.


"Semoga cepat ketemu ya non"bibik Ida sudah mendegar kabar dari anak buahnya Arnold mangkanya dia tahu.


"Silahkan non bibik kedapur dulu ada pekerjaan yang harus bibik lakukan"


"Iya bik sekali lagi terimakasih"ujarnya.


"Sama non"ucap bik Ida berlalu pergi.


Caca memilih untuk masuk kedalam kamarnya seketika kedua pupil mata itu membesar.


"Kau"ucapnya kaget dengan keberadaan Arnold didalam kamarnya.


Arnold tidak menjawab dia hanya tersenyum melihat tingkah cute kekasihnya.


"Kenapa kau ada disini?"


"Ini kamarku"jawabnya Tanpa dosa.


"Sepertinya bik ida salah menunjukkan kamar"ucapnya yang hendak pergi.


Namun Arnold berhasil menahannya.


"Tidak ada yang salah"Ucapnya langsung memeluk tubuh Caca dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2