Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia
47.


__ADS_3

"Jemput dia sekarang juga mas,aku takut terjadi apa-apa dengannya"sambungnya.


"Iya bik aku yakin Caca akan baik-baik saja,dia akan pulang dengan selamat"jawab Adit meyakinkan.


"Yhaa tuhan semoga tidak terjadi sesuatu dengannya"ucapnya namun di balik ucapanya ada maksud yang berbeda.


"Haaahw"Harun menghela nafasnya ia tak habis pikir dengan istrinya yang tak pernah kehabisan akal untuk berbohong.


Harun yang sudah tahu dengan sipat istrinya Hanya bisa menghela nafas panjang sampai kapan ia harus terus bersabar dan menunggu suatu saat nanti istrinya akan sadar dengan apa yang dirinya lakukan.


"Aku ikut ya mas"ucap intan mengandeng tangan suaminya.


Harun tak menjawabnya sama sekali ia bersikap dingin dengan istrinya melepaskan tangannya dari tangan istrinya.


Mendapat sikap dingin dari suaminya intan megerecutkan bibirnya.


"Kita berangkat sekarang"ucap Harun dingin,yang diaguki oleh adit.


"iya!! mah"jawab Caca menghampiri mereka.


Finka Sedari tadi sama sekali tidak membantu ia hanya melihat-lihat jari-jarinya dan membayangkan bagaimana bentuk kukunya yang sekarang akan berubah menjadi kotor gara-gara mengorek-gorek tanah.


"Sebentar ya sayang! mama mau ambil selang dulu buat nyirem tanaman"ucap galine.


"Ya mah"jawab Caca


Melihat Finka sedari tadi sepertinya sedang gelisah menunggu seseorang Caca yang melihat Finka terus saja melihat ke arah pintu gerbang sambil menepuk-nepukan ponsel miliknya ke tangannya.


"Ada apa?"tanya Caca.


"Buka apa-apa"ketus Finka.


"Dia sama sekali tidak berubah"batinya.


"Lihat saja bagaimana senyummu itu akan hilang dari wajahnya"batinnya melihat ke arah Caca.


"Akhirnya datang juga"ucapnya yang didegar oleh Caca.


"Siapa yang datang"batinya melihat ke arah pintu gerbang.


Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di pintu gerbang ia menurunkan kaca mobilnya, tidak lama kemudian penjaga membukakan pintu gerbangnya membiarkannya masuk.


"Sial kenapa harus om barra! Sih yang datang"batinya kesal.


Mobil hitam itu berhenti di mension Arnold seorang supir keluar dari mobil membukakan pintu mobil untuk bosnya, seseorang pria turun dari mobil meskipun sudah tua namun pria itu terlihat sangat gagah.


"Om barra?"pangil Finka menghampiri.


"Apa kabar om?"ucapnya.


"Baik"jawab bara.


"Kamu bagaimana?"tanyanya.


"Finka baik om"jawabnya.

__ADS_1


"Papa?"ucap galine menghampiri.


"Papa kok ngak bilang mama kalo mau pulang"sambungnya.


"Papa Segaja ngak bilang sama mama,papa tau kalo Mama tidak ada di rumah pasti mama dimension anak kesayangan mama"tutur barra.


"Oh iya mama sampai lupa,kenalin pa ini putri kesayangan mama juga"


"Siapa?"ucap barra melihat ke arah Finka.


"Sini sayang"panggil galine.


Caca yang dipanggil galine begitu gugup,ia ragu.


"Ayok sayang!?"panggil galine lagi, akhirnya Caca memberanikan dirinya.


"Sabar Finka"batinya.


"Ini Tante galine ngak bisa lihat apa mana yang cocok untuk putranya masa orang ngak jelas asal usulnya mau dijadiin menantu"


"Baiklah jika tante tidak bisa biar Aku yang akan megigatkan kembali derajatnya" sambungnya.


"Hallo!! om nama saya Caca"ucap Caca memperkenalkan diri.


"Manis"puji barra.


"Ternyata mama pandai sekali memilih"goda barra.


"Papa bisa aja"ucap galine malu.


"Oh ya,arnold dimana ma papa kok ngak liat"tanyanya.


"Biar Caca aja yang panggil ma"ucap Caca.


"Baiklah sayang"ucap galine.


"Caca?"teriaknya keras.


"Pak buka pintunya sekarang"ucap Adit.


"Maaf kalian tidak bisa masuk"ucap penjaga gerbang.


"Tapi kami kesini untuk menjeput keponakanku yang ada didalam"tuturnya.


"Namanya bellanca"ucap Adit.


"Gawatt bagaimana kalo tuan Arnold tau seseorang telah membocorkan keberadaan wanitanya, sekarang keluarganya ingin membawanya pulang"batinya Arnold akan marah besar.


"Tidak ada yang namanya bellanca disini"bohongnya.


"Bapak jangan berbohong ya saya tahu keponakan saya ada di dalam"pekiknya marah.


"Caca?"teriaknya keras.


Finka yang mendegar suara seseorang memanggil nama Caca,ia mulai menarik senyumnya untuk memastikannya ia melihat ke arah pintu gerbang meskipun jarak mereka lumayan agak jauh namun masih terlihat meskipun tidak terlalu jelas.

__ADS_1


"Tunggu"ucap Finka yang membuat semua orang melihat ke arahnya.


"Sepertinya aku mendegar seseorang memanggil namamu"ucapnya.


"Caca?"teriak seseorang.


"Apa kau mendegarnya?"tanyanya.


"Paman!?"ucap Caca yang mengenali suara pamannya.


"Mendegar itu"finka tersenyum puas.


"Paman?"ucap galine yang tidak tahu apa-apa.


"Caca!?"teriaknya lagi.


"Benar itu suara paman"ucapnya langsung berlari menuju gerbang.


Melihat tingkah Caca mereka segera menyusulnya.


"Paman?"pangil Caca yang melihat Harun berada di depannya,Caca ingin sekali memeluk Pamannya yang sudah lama tidak bertemu namun terhalang.


"Caca"pangil Harun yang bahagia melihat keponakanya yang selama ini hilang ia sama sekali tidak tahu keberadaan keponakanya, setelah pergi keluar kota Harun meninggalkan keponakanya di rumah setelah pulang Harun tak melihatnya lagi.


"Paman"pangil Caca berkaca-kaca meskipun pamannya ada di hadapannya tetap saja ia tak bisa memeluk pamannya.


Hikkss........... hiksss.......huaaaa


Caca tak bisa lagi menahan tangisnya pecah.


"Hei kenapa Menagis paman akan segera membawamu pulang dari sini"ucap Harun sembari menghapus air mata dari wajah Caca dari sela-sela gerbang.


"Kamu siapa?"tanya galine.


"Saya harun Pamannya"ucap Harun sepertinya ia tidak suka dengan galine.


"Tante sebaiknya gerbangnya dibuka Kasiankan pamannya caca di luar"ujar finka.


"Tapi?"ucap galine ragu Arnold tidak akan membiarkan orang sembarangan masuk Tanpa seizin dirinya,disatu sisi galine kasihan dengan putrinya.


"Pak buka aja gerbangnya"pintah galine.


"Ta____tapi buk"ucap penjaga gerbang yang takut akan dimarahi oleh Tuannya kerena telah membiarkan orang lain masuk Tanpa seizin dirinya.


"Arnold tidak akan marah"ucap galine meyakinkan.medegar itu penjaga gerbang setuju untuk membukakan pintu gerbangnya.


Caca langsung memeluk erat pamannya.


"Paman maafkan Caca, karena sudah membuat paman khwatir"ucapnya.


"Hikkss"


"Hikss"


Caca tidak henti-hentinya Menagis.

__ADS_1


"Sudah-sudah paman yang seharusnya mintak maaf karena meninggalkanmu"ucap Harun merasa bersalah.


Galine semangkin tidak mengerti dengan perkataan mereka sebenarnya apa yang terjadi galine tidak tahu sama sekali.


__ADS_2