
"Pria ini memang tidak di ragukan lagi kalo soal sedikit berbicara,dia benar-benar pelit"gerutunya.
Arnold mendegar semua celotehan wanitanya,ia tidak memperdulikannya.
Caca yang memperhatikan kemana Arnold membawanya,rasanya ia tidak pernah kesana apalagi melihat ruangan itu, lorong jalan itu begitu gelap tidak ada cahaya yang masuk sama sekali rasanya begitu menakutkan.
"Kita mau kemana, kenapa begitu gelap aku tidak bisa melihat dengan jelas?"
Caca beberapa kali menarik napasnya rasanya ia tidak bisa bernapas, ruangan itu membuatnya pengap.
Arnold yang menyadari wanitanya itu terdiam merasa khawatir dengan wanitanya.
"Apa kamu baik-baik saja?"Ucapnya dengan wajah khwatir terlihat jelas di wajahnya.
"Ak___aku tidak apa-apa"jawabnya
Arnold melihat wanitanya tengah menyembunyikan sesuatu darinya, sepertinya wanitanya takut dengan kegelapan.
"Ayok!aku tidak kenapa-napa kau sudah berjanji padaku kan?"ia kembali mengingatkannya.
Arnold membuka pintu ruangan itu terlihat begitu gelap tidak ada ruang cahaya yang masuk kesana Caca yang tidak dapat melihat dengan jelas ia menyalakan senter ponselnya, matanya terbelalak melihat seseorang wanita.dengan kedua tangan di rantai seluruh tubuhnya penuh dengan luka-luka kecil dan memar nampak tidak berdaya.
"Kakak!"pangilnya berlari menghampirinya ia berjongkok melihat-lihat kondisi tubuh wanita itu.rasanya ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat, selama ini ia tidak tahu apa-apa tentang kondisi kakaknya.
"Maafkan aku kak aku tidak tahu bahwa kakak tersiksa di ruangan ini, ruangan yang begitu gelap tanpa adanya cahaya yang masuk! sedangkan aku"ucapnya sambil Menagis.
"Hikkss....... hikkss"ia tidak henti-hentinya Menagis.
"Kenapa dia begitu menyayangi wanita ****** itu"umpatnya kesal Arnold melihat reaksi wanitanya yang berlebihan.
"Ak___aku tidak apa-apa"Ucapnya tak berdaya sembari menghapus air mata Caca yang sudah dia anggap sebagai adiknya.
"Tidak apa-apa bagaimana?Lihat kondisi Kakak seperti ini,aku bukan anak kecil yang mudah untuk di tipu"protesnya.
Seketika senter ponsel Caca tiba-tiba mati karena batrei ponselnya habis,Caca lupa untuk mengisi baterai ponselnya, membuat ruangan itu kembali gelap.
Rere yang tidak lagi mendegar suara Caca mulai panik.
"Ca?"kamu masih disana kan.jawab aku ca jangan bercanda"teriaknya.
__ADS_1
"Ca" pangilnya sekali lagi sambil meraba-raba mencari-cari keberadaan Caca.
Arnold yang mulai panik karena wanitanya tidak tidak menjawab.
"Kenapa kalian tidak menyalakan senter ponsel kalian"teriaknya marah.
Caca yang merasakan tidak bisa bernapas karena gelap,ia kesulitan untuk mengatur napasnya ia beberapa kali mencoba untuk mengatur napasnya.seketika ruangan itu menjadi terang karena cahaya dari senter Arnold dan anak buahnya.
Melihat wanitanya yang tengah mencoba megatur napasnya arnold khwatir langsung berjongkok mengangkat tubuh wanitanya membawanya pergi dari sana.
"Tunggu!! turunkan aku"
"Kak Rere"
"Caca jangan pedulikan aku! bawa dia pergi sekarang,sepertinya ia takut kegelapan ia kesulitan untuk bernafas dengan baik"pintanya.
"Kak!!"
"Lepaskan wanita itu,suruh dia untuk menunggu saya"tegasnya.
"Lepaskan aku"teriaknya memberontak
"Kau pria kejam!apa kau tidak punya perasaan sedikitpun,kau menindas orang yang lemah,kau memanfaatkan kekuasaanmu itu meyuruh anak buahmu melakukan apa yang kau inginkan."
"Apa kau akan puas melihat orang lain menderita di tanganmu"
"Aku yakin Hatimu itu terbuat dari batu! Haaaa.."
"Oh...ya aku lupa kau memang seperti ini kan? ternyata pemikiranku selama ini salah tentang dirimu,aku pikir kau orang yang baik"ucapnya sambil menunjuk Wajah Arnold kali ini Caca memberanikan dirinya untuk untuk melawan Arnold ia megelurakan semua unek-uneknya yang selama ini dia pendam kali ini dia tidak peduli jika yang di katakannya dapat membuat Arnold marah meyakitinya atau bahkan akan membunuhnya.
"Kau membahas tentang perasaan! menyebutku tidak punya perasaan dan hatiku terbuat dari batu?"ucapnya memegang tangan Caca menekannya dengan kuat.
"Kau salah paham tentang itu"tegasnya
"Lepaskan tanganku baku tidak sudi di pegang oleh pria sepertimu"teriaknya memberontak sesekali mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arnold.
"Sakit"rintih Caca sepertinya Arnold terlalu kuat memegang tangannya sehingga menimbulkan bekas merah di tangannya.
Arnold melepaskan tangan wanitanya dan pergi begitu saja meninggalkan wanitanya.
__ADS_1
Bik Ida yang melihat Arnold pergi menghampiri Caca yang sendirian.
"Apa itu menyakitkan?"tanyanya bik Ida melihat tangan Caca memerah akibat cengkraman tangan Arnold terlalu kuat mencengkramnya.
"Itu tidak menyakitkan bik, mungkin besok akan segera sembuh"bohongnya.
"Kamu berbohong,saya tahu itu sakit! sebenarnya tuan adalah orang yang baik."
"Orang yang baik?"Cacaasih tidak megerti yang di maksud bik Ida jelas-jelas adalah orang yang jahat tidak berperasaan.
"Iya! sebenarnya tuan orang yang baik ia membantu saya Dengan menerima saya bekerja di rumahnya tuan juga membayar biaya sekolah anak saya meskipun i terlihat kejam tapi hatinya sangat lembut."
"Soal wanita itu sebenarnya tuan tidak ingin mengurungnya di ruangan itu."
Flashback:
Waktu itu tuan memerintahkan Ethan untuk membebaskannya pada saat itu wanita itu meraih ponselnya dan ingin menghubungi polisi, wanita itu juga membuat kekacauan membuat anak buah tuan beberapa dari mereka terluka,anak buah tuan tidak berani meyakitinya karena tuan berpesan tidak boleh melukai wanita itu karena ia teman dekatnya nona.
"Yang bener bik?"ucapnya memastikan bahwa bik Ida tidak berbohong padanya,bisa saja dia di suruh Arnold untuk Megarang cerita.
"Wanita itu juga penggoda para pria kaya,dia juga siap melayani para pria yang siap membayar tubuhnya dengan bayaran mahal.malam itu di bar Bramble tuan sedang melakukan pertemuan dengan salah-satu rekan kerjanya, wanita itu berusaha menggodanya dengan memamerkan keindahan tubuhnya."
"Tapi sayangnya tuan tidak tergoda dengan itu karena merasa kesal wanita itu tidak segaja menumpahkan minuman ke jasnya tuan marah lalu membawanya untuk memberinya pelajaran namun sayangnya wanita itu adalah teman dekatnya nona, jadi tuan tidak berani untuk meyakitinya tuan takut nona akan marah,dan membencinya"bik Ida memberi tahu semuanya agar Caca tidak salah paham dan membeci tuannya.
"Bramble? bukankah itu bar Paman"
"Non!tuan sangat mencintai non bibik berharap non dapat membuka hati non buat tuan"ucap bik Ida.
Caca yang sedari tadi mondar-mandir di kamar ia memainkan ponselnya dengan cara menepuk-nepuk ponselnya ke Tagannya merasa bosan,ia menyalakan tv namun ia kembali bosan.
"Telpon ngak ya?"
"Telpon,nggak,telpon,enggak"
"Tapi kalo di telpon entar nanti dia ke gran lagi aku yang suka duluan"ucapnya bebicara dengan dirinya sendiri.
"Aaaa.....ngak mau kan gengsi masa bodoh deh"
Setelah menunggu lama Arnold tidak pulang-pulang akhirnya Caca terlelap tidur.
__ADS_1