Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia
23.


__ADS_3

"Orang sepertiku tidak mudah untuk mati,jika itu terjadi hari itu bukan keberuntunganku"


ucapanya sambil mengancingkan pakaiannya.


"Mau pergi kemana"Ucapnya melihat Caca membawa bantal dengan gulingnya.


"Aku akan tidur di sofa"Ucapnya sembari menunjuk ke arah sofa.


"Kenapa tidak tidur di di tempat tidur"melihat ke arah tempat tidur rasanya tidak ada yang aneh Kenapa wanitanya malah mau tidur di sofa.


"Aku tidak mau tidur dengan pria asing,yang bukan muhrim"ketusnya berjalan pergi meninggalkan Arnold.


Arnold tersenyum kecil,menghampiri Caca ia mengangkat tubuh Caca membawanya ke tempat tidur.


"Turunkan aku"teriaknya berusaha memberontak.


Bukannya langsung menurunkanya Arnold malah tidak memperdulikannya ia meletakkan tubuh wanitanya di atas tempat tidur,menarik selimut ia menutupi seluruh tubuh Caca.


Cup..


Arnold megecup bibir ranum Caca,yang membuat kedua bola mata Caca membesar, Arnold sedikit tersenyum menyeringai.


"Tidurlah,aku yang akan tidur di sofa"ucapnya pergi ke sofa.


Melihat Arnold yang merebahkan tubuhnya di sofa ia tidak yakin pria itu mampu bertahan pasti besok pagi ia akan merasakan kesakitan di seluruh badannya.matanya yang megantuk membuat Caca terlelap tidur.


Arnold yang tidak biasa tidur di sofa ia tidak leluasa untuk bergerak ia juga tidak menemukan kenyamanan,ia telah beberapa kali mencoba memejamkan matanya namun tidak lama kemudian ia akan Bagun kembali, entah sudah beberapa kali Arnold mengubah posisi tidurnya tak kunjung menemukan kenyamanan di sofa itu.


Ia melihat jam di tangannya menunjukan pukul 01.25 wib.melihat banteng kecilnya sudah tertidur pulas,mungkin jika ada gempa ia juga tidak akan terbagun.arnold beranjak dari sofa pergi ke tempat tidur.


Arnold naik ke atas tempat tidur,menarik selimut,membenarkan selimut itu untuk tetap menutupi tubuh wanitanya.


"Jika seperti ini dia sedikit lebih tenang"ucapnya membelai wajah wanitanya dengan lembut takut membagukan wanitanya,ia juga takut akan pindah lagi tidur di sofa.


Caca yang bangun lebih dulu dari Arnold, saat Caca melihat wajah Arnold ada begitu banyak ketenagan dan juga ada keraguan yang selama ini ada didalam benaknya, tapi ketikan melihat wajah Arnold seketika keraguan yang selama ini dia pikirkan itu hilang.


Ia melihat wajah Arnold dari dekat munumpuhkan tangan kanannya menatap lekat ke arah Arnold sesekali ia tersenyum kecil.


"Jika seperti ini dia lebih mirip kucing,aku takut padamu!jika kau bangun kau akan menjadi singa"Ucapnya dengan wajah cemberut.


"Jika di lihat-lihat wajahmu!aku tidak menemukan bagian jeleknya"ucapnya sambil melihat wajah Arnold di setiap sudutnya.


"Apakah kamu sudah jatuh cinta kepada saya?"ucapnya dengan mata terpejam.


"Tidak!!kamu gila"ucapnya beranjak dari tempat tidur.

__ADS_1


Dengan sigap Arnold meraih tanga caca.


"Kita akan pulang hari ini,jika kamu mau tinggal lebih lama itu tidak masalah?"


"Aku ingin pulang"ketusnya.


"Bagus!! kalian semua bekerja dengan baik"ucap Evan mengapresiasi kerja bagus anak buahnya karena sudah melakukan pekerjaannya sesuai keinginannya.


"Aku ingin tahu impormasi megenai gadis yang bersama dengannya?"ucapmya tersenyum menyeringai.


Krit mulai menjelaskan impormasi yang di maksud bosnya itu ia menjelaskan sedetail mungkin.


Wanita itu bernama bellanca orang-orang memangilnya dengan sebutan Caca,ia tinggal di rumah paman dan juga bibiknya mereka tinggal di pinggiran kota Louis,kedua orang tuanya juga sudah lama meninggal dunia usianya juga baru sekitar 16 tahun,ia baru saja lulus SMA.


"Wanita ini bisa kita jadikan umpan, sekaligus dia adalah kelemahan Arnold"


"dia akan membantu kita Untuk mendapatkan konsesi casino, dengan ini kita akan lebih mudah memenangkannya"ucapnya percaya diri sekali.


"Aku sudah memperingatkannya untuk tidak ikut masuk dalam konsensi casino ini,kita lihat saja Arnold siapa yang akan memenangkannya aku atau kamu"


Mobil Arnold telah tiba di Mension miliknya Caca tidak sabar lagi untuk masuk,ia buru-buru sekali turun dari mobil berlari masuk kedalam.arnold yang melihat tingkah wanitanya yang sangat mengemaskan baginya tersenyum kecil.ethan yang melihat tuannya itu juga ikut tersenyum,dan di ikuti dengan anak buahnya yang lain.


Arnold yang melihat anak buahnya semua tersenyum melihat dirinya merasa canggung.


Anak buah Arnold yang melihat tingkah tuannya itu tidak habis pikir mereka melihat satu sama lainnya sambil tersenyum puas.


Ethan yang melihat itu langsung megambil ahli.


"Apa yang kalian tertawakan"ucapnya dingin


Seketika mereka semua menjadi diam tidak ada yang berani menjawab mereka semua menundukkan kepalanya melihat ke bawah,melihat itu Ethan pun pergi mengikuti Arnold dari belakang.


Caca yang masuk ke dalam sambil berteriak-teriak dengan keras sambil memanggil bik Ida.


"Bik?"


"Bik?"


"Bik!Ida?"


Bik Ida yang mendegar suara yang sangat familiar yang memagil namanya segera menghampiri Caca.


"Non sudah pulang?"tanya bik Ida basa basi


"Bik,ngak usah basa basi deh"ucap caca

__ADS_1


"Habisnya non teriak-teriak ngak jelas"jawab bik Ida yang tidak tahu kenapa nonnya itu memanggil namanya.


"Bibik tahu tidak?"ucap Caca meraih kedua tangan bik Ida.


"Bibik mah mana tahu non kan non belum kasih tau bibik,gimana sih non"jelas bik Ida yang tidak tahu apa-apa.


"Aaaa!! Bibik mah merusak suasana hati Caca saja,tapi gpp hari ini Caca Seneng pasalnya kak Rere akan di bebaskan"


"Yang bener non?"ucap bik Ida tidak percaya dengan Ucapanya Caca.


"Beneran bik"ucapnya berusaha meyakinkan.


"Apa! tuan yang magatakanya?"bik Ida tidak percaya jika tuannya itu akan membebaskan orang begitu saja,jika ia megigikan orang itu untuk mati di tangannya maka itu akan terjadi,yang membuat bik Ida bingung kenapa tuannya itu mau membebaskannya begitu saja.


"Iya bik bahkan dia suda berjanji padaku"ucapnya tidak berhenti-hentinya tersenyum sambil meloncat-locat memegang kedua tangan bik Ida.


Bik Ida yang melihat kebahagiaan dari Caca juga ikut senang akhirnya dia bisa melihat senyum manis dari gadis itu,ia sama sekali belum melihat kebahagiaan dari gadis itu ketika ia di bawa ke rumah ini,bik Ida Tanpa sadar juga ikut-ikutan meloncat-loncat.


"Apa yang kalian lakukan?"ucap Arnold dengan Dingin.


Seketika mereka berdua berhenti melakukannya bik Ida langsung menarik tangannya dari tangan Caca menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya permisi tuan,non"ucapnya dengan gemetaran.


"Bik"ucap Caca sedikit berbisik tega-teganya bik Ida meninggalkannya sendirian dalam situasi yang mencekam dirinya.


Bik Ida memberi isyarat bahwa dirinya kuat seolah Caca dapat mengatasinya,


"Disini dilarang meloncat-loncat?"memasang wajah datarnya.


"Wajahmu itu menakutkanku"mendengus pelan.


"Jangan megalihkan pembicaraan"


"Kenapa tidak sekalian mengusirku?"teriaknya.


"Aku tidak akan pernah melakukannya"tegasnya.


"Kau sudah berjanji padaku akan membebaskan kak Rere?"


Tanpa menjawab Arnold meraih tangan Caca membawanya ikut bersamanya.


"Lepaskan,kita mau kemana?"tanyanya


"Diam! ikuti saja"tegasnya.

__ADS_1


__ADS_2