Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Bar Kesayangan Tuan Mafia
37.


__ADS_3

Tapi ternyata Finka masih bisa merasa kurang.


Evan hanya bisa menahan tangisnya ia tidak ingin terlihat lemah di depan adiknya jika ia lemah siapa yang harus berjuang untuk meneruskan hidup demi membuat adiknya bahagia dan ia tidak sendiri masih ada kakak nya yang selalu sayang dengannya.


"Kakak maafin aku ya selama ini ngak nurut dengan perkataan kakak"Evan langsung memeluk Finka.


"Kita harus bahagia.aku tidak ingin membuat ayah dan ibu bersedih di sana"ucap Evan mengelus punggung adiknya dengan penuh kasih sayang.


"Caca kamu pergi ke mana?"terlihat raut wajah pria paruh baya itu sudah lelah keringat bercucuran di wajahnya ia mengusapnya dengan tangan kirinya sembari memandang ke langit di mana cuaca saat itu cukup panas.


"Minum dulu paman"ucap pria sembari memberikan air minum yang baru ia beli dari minimarket.


"Apa kau sudah menyebarkan semuanya?"tanyanya dengan penuh harapan.


"Aku sudah menyebarkan semuanya.bahkan sudah menanyakan kepada orang-orang tapi tidak ada yang pernah melihatnya"


"Ini semua salahku tidak becus menjaga kepokanku sendiri.bagaimana aku bisa mengatakan pada kakakku"


"Aku tidak becus"sambungnya mengusap wajahnya dengan gusar.


"Bagaimana kalo terjadi sesuatu dengan keponakanku"sambungnya.


"Aku yakin Caca pasti baik-baik saja sekarang"


"Paman jangan menyalakan diri paman sendiri,aku juga mintak maaf karena tidak bisa menjaga Caca dengan baik"ucap Adit yang ikut merasa bersalah ia tidak tahu kalo waktu itu pertemuannya dengan Caca saat itu Caca sedang di culik.


"Paman juga berharap begitu"


"Kamu tidak usah mintak maaf seperti itu"sambungnya.


"Sebaiknya kita cari Caca lagi paman"ajak Adit.


"Hallo"jawab arnold menerima telpon.


"Tuan sepertinya wanita yang ada di rumah tuan,sedang di cari seseorang kami menemukan brosur orang hilang dari wajahnya mirip dengan nona"jelasnya.


"Apa kau yakin?"


"Iya tuan.aku akan mengirimkan fotonya Sekarang"


"Sial"pekik Arnold kesal.melihat gambar yang di kirim anak buahnya itu benar-benar Poto Caca.


"Ada apa?"tanya Caca yang melihat wajah Arnold sepertinya ada masalah.


"Tidak ada"jawab arnold dengan cepat memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Sepertinya pria ini sedang menyembunyikan sesuatu"batinya.


"Kita turun sekarang bik Ida sudah masak untuk kita"


"Baiklah"Ucap Caca berjalan mengikuti Arnold.


"Ehh non Caca"sapa bik Ida.


"Iyah bik"jawab Caca dengan senyum.


"Mari non bibik sudah mempersiapkan semuanya"Ucap bik Ida sembari menuangkan air putih ke dalam gelas.


"Makasih bik"ucap Caca

__ADS_1


"Sama-sama non"jawab bik Ida


"Pinggirkan mobilnya"pintanya.


"Tapi paman"


"Pinggirkan sekarang"tegasnya.


"Baiklah"Adit terpaksa menuruti kemauan paman Harun karena ia tak tega melihat kondisinya saat ini Adit juga berfikir bahwa paman Harun harus menenangkan dirinya sendiri.


Adit menepikan mobilnya dari jalan untuk berhenti menuruti kemauan paman Harun memberinya waktu untuk sendiri.harun turun dari mobil ia menghirup udara membuangnya dengan pelan.


Adit yang berada di dalam mobil hanya bisa memperhatikan paman Harun.


"Kenapa Adit kau sangat bodoh.jika pria pria itu adalah orang yang menculik Caca" pekiknya kesal memukul-mukul stir mobil ia menyalakan dirinya sendiri karena merasa bodoh tidak tahu apa-apa.


"Maafkan aku kak!aku tidak bisa menjaga putrimu dengan baik seperti yang kakak ipar dan kakak mintak kepadaku"


"Kakak benar aku menjadi bodoh tidak berdaya di depan intan istriku sendiri, istriku terlalu mencintaiku sehingga ia tidak ingin aku mencintai orang lain selain dirinya"


"Tapi mulai sekarang aku harus tegas kepadanya.aku tidak ingin istri ku melakukan kesalahan-kesalahan lainnya yang dapat merugikan dirinya"batinya berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Harun masuk ke dalam mobil yang membuat Adit merasa aneh dengan sikapnya.wajah paman Harun berbeda dari yang ia lihat tadi sekarang ia melihat pria itu semagat untuk hidup.


"Ada apa?"tanya Harun yang melihat Adit memperhatikan dirinya dari kaca mobil.


"Ti____tidak ada paman"ucapnya langsung menyalakan mobil.


"Kita mau kemana sekarang paman?"


"Kita pulang sekarang"jawabnya.


"Kenapa tuan disini?"tanya Caca menghampiri arnold megambil posisi duduk di sebelahnya.


"Aku hanya melihat mereka"ucap arnold yang membuat Caca tidak mengerti.


"Apa ada sesuatu di dalam pohon ini?"tanyanya serius.


Arnold tersenyum kecil mendengar perkataan wanitanya ia menggelengkan kepalanya.


"Kenapa apa ada yang aneh dengan diriku?"tanyanya kesal kenapa arnold tertawa.


"Apa wanitaku tidak melihat ikan yang ada di dalam kolam itu?"ucapnya sambil menunjuk ke arah kolam ikan.


"Heiii.. mana aku tahu lagian kenapa juga kolamnya di sana aku kan tidak bisa melihatnya"Ketusnya memajukan bibirnya.


"Banteng kecil kolamnya memang ada di sana"


"Terus aku yang salah gitu?lagian tuan memagilku Dengan sesuka hati tuan"ucapnya


"Aku menyukainya"jawabnya singkat


Caca memayukan bibirnya


"Jangan memagilku tuan kau bukan bekerja denganku kau adalah wanitaku"jelasnya.


"Kenapa?"


"Aku tidak suka dipanggil Tuan"tegasnya.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa memagilmu sembarangan itu tidak sopan,itu juga sangat cocok untukmu"


Arnold menarik napasnya mencoba untuk menahan dirinya.


"Baiklah-baiklah aku hanya bercanda"ucapnya tersenyum sembari memikirkan panggilan yang cocok untuknya.


"Bagaimana kalo oppa?"


"Ahh tidak tidak itu terlalu bagus tidak cocok denganmu"


"Bagaimana kalo ahjussi?"


"Apa aku setua itu?"ucap arnold tak terima.


"Hahahah...apa kau juga tahu bahasa Korea?"


"Bagaimana kalo Chagiya?"ucap Arnold meletakkan kedua tangannya di pipi.


"Chagiya?"pekik Caca Arnold megangukan kepalanya yang berarti ia dia menyukainya.


"tidak-tidak aku tidak mau"tolaknya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?memangnya artinya apa?"tanya arnold pura-pura tidak tahu.


"Tapi panggilan itu hanya untuk pasangan kekasih"


"Lihat saja kita akan menjadi sepasang kekasih nanti"


"Sudahlah berhenti membual begitu"


"Heii kau mau kemana?"tanya Arnold yang melihat Caca pergi.


"Aku ingin melihat ikan Yang ada dikolammu"


Caca yang sedari tadi sibuk memperhatikan ikan di dalam kolam karena mereka terlihat sangat lucu.


Arnold memeluk caca dari belakang.caca tentunya terkejut lelaki itu berani bertindak begitu jauh.


"Apa yang tuan lakukan?"


"Shitt.Diamlah aku melakukan apa yang membuatku nyaman"


Arnold mempererat pelukannya,pria itu mencoba memejamkan matanya sambil menempelkan Kepalanya di pundak Caca.arnold merasa nyaman dengan posisi seperti ini.


"Kenapa ikannya hanya ada dua?"tanyanya yang aneh kolam sebesar itu kenapa hanya ada dua ikan.


"Mereka berdua sepasang kekasih sama seperti kita"godanya.


"Kau pandai berbicara"ucapnya melepaskan pelukan arnold.


"Ngomong-ngomong kau mendapatkannya dari mana?"tanya Caca sepertinya ia mengenal ikan-ikan itu tapi ia lupa.


"Aku mendapatkannya dari gadis kecil waktu itu umurnya baru 5 tahun"


"Apa dia teman kecilmu?"tanya serius sedikit mendekatkan tubuhnya.


Arnold mengambil posisi duduk di pinggir kolam sembari melemparkan kerikil ke dalam kolam itu tidak terlalu dalam sehingga orang-orang dapat melihat ikan di dalamnya airnya juga jernih karena 1 Minggu sekali airnya di ganti.


"Kenapa kau melemparkan kerikil ke dalam kolam? bagaimana kalo mengenai ikannya bisa mati"tuturnya pergi ke arah kolam untuk mencari kerikil yang di lempar arnold.

__ADS_1


__ADS_2