Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 8


__ADS_3

Malam hari pun telah tiba, Shanin dan juga Samuel baru saja selesai makan malam, mereka memilih untuk duduk lesehan di atas karpet sambil mata yang tertuju pada tayangan yang ada di layar televisi.


Mata milik Shanin melirik ke arah jam dinding berada, sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dia harus segera tidur karena besok harus berangkat pagi untuk bekerja.


"Sam, aku tidur duluan ya." Shanin mengatakan hal itu sambil beranjak dari duduknya.


"Saya ikut."


Balas Samuel yang kemudian mematikan televisi di depannya dan mengikuti Shanin dari belakang untuk masuk ke dalam kamar.


Mereka memang tidur dalam satu kamar dan juga satu kasur, karena memang di kontrakan kecil ini tidak ada kamar lain yang dapat ditempati.


Tapi walaupun mereka tidur di atas kasur yang sama, mereka tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh, karena ditengah-tengah mereka dibatasi oleh satu bantal guling.


Meskipun sudah ada bantal guling yang membatasi, terkadang saat pagi-pagi terbangun, entah itu tangan milik Samuel atau Shanin pernah sesekali menyentuh bagian tubuh masing-masing dibawah alam sadarnya.


Seperti kemarin pagi, kebetulan saat itu Shanin yang bangun duluan sebelum Samuel karena merasa tidak nyaman dan juga gerah, saat membuka mata, perempuan itu tau apa yang menjadi penyebab dirinya terusik dari tidurnya, itu karena tangan Samuel yang dengan lancangnya bertengger di perut Shanin, layaknya sedang memeluk guling.


Entah lelaki itu sengaja melakukan hal itu atau memang karena tidak sadar dengan apa yang dia lakukan saat sedang di alam bawah sadar nya, Shanin dapat memaklumi itu.


Lagipula hanya sebatas bersentuhan saja sepertinya tidak masalah, dia tau Samuel merupakan laki-laki baik, ya walaupun sikapnya memang menyebalkan.


"Jangan peluk-peluk lagi."


Shanin mengingatkan kepada Samuel yang ada di sampingnya sebelum matanya benar-benar terpejam dan Samuel hanya membalas perkataan Shanin dengan berdeham sebelum pada akhirnya memejamkan mata berusaha untuk masuk ke dalam mimpi.


***


Pagi sudah tiba, seperti biasanya Shanin sudah siap dengan seragam yang melekat di tubuh rampingnya dan siap untuk berangkat ke toko tempatnya bekerja.


Untuk sarapan pagi ini, perempuan itu hanya membuat nasi goreng karena memang tidak ada banyak waktu jika harus memasak makanan lainnya, lagipula Samuel tidak pernah protes terhadap makanan apapun yang perempuan itu siapkan.


"Hari ini di kontrakan aja, jangan kemana-mana." Ucap Shanin disela sarapannya.


Samuel hanya merespon dengan sebuah anggukan dan kembali fokus pada sarapan yang ada di depannya. Sampai beberapa menit kemudian, keduanya sudah selesai menghabiskan sarapan milik masing-masing.


"Aku berangkat dulu, hati-hati disini."


Pamit Shanin kepada Samuel yang sedetik kemudian melangkahkan kakinya keluar dari dalam kontrakan dan memakai sepatu yang kemarin-kemarin dia beli di depan teras kontrakan, setelahnya dia menyalakan mesin motor dan mengendarainya menuju ke tempat kerjanya.


Sepeninggalan Shanin ke tempat kerjanya, tidak lama dari itu, Samuel juga ikut keluar dari kontrak. Semalam sekretaris pribadi menelpon Samuel tanpa diketahui oleh Shanin, sekretaris nya itu memberitahu jika jabatannya di kantor benar-benar akan digantikan oleh Regard, sang kakak.


Itu semua terjadi karena Samuel yang menghilang sudah lebih dari seminggu dan perusahaan tentu tidak akan diam saja ketika tidak mempunyai pemimpin.


Bahkan berita di stasiun televisi saja sudah menyatakan bahwa dirinya meninggal, bukan menghilang. Maka dari itu hari ini Samuel sudah membuat janji untuk bertemu dengan sekretaris nya di hotel di sekitar sini.


Entah nantinya dia akan langsung ke kantor atau menyuruh sekretaris pribadi untuk mengurus masalah ini terlebih dahulu.


Sampai di jalan raya, untungnya tidak lama dari itu langsung ada taksi yang melintas dan Samuel langsung menghentikannya.


"Pak, ke hotel Blumenbild."

__ADS_1


Samuel mengatakan hal itu kepada supir taksi saat baru saja mendudukkan dirinya di kursi penumpang.


"Baik pak."


Butuh waktu beberapa menit dalam perjalanan menuju ke hotel tersebut, satu notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel yang digenggam oleh Samuel, ternyata itu adalah pesan dari sekretaris pribadinya yang memberitahu kalau dirinya sudah sampai di sana.


Tidak lama dari itu, taksi yang membawa Samuel sudah sampai di hotel yang dituju, mata milik Samuel dapat langsung menangkap sosok sekretaris pribadinya yang sedang menunggu di lobby.


Setelah membayar ongkos taksi, lelaki itu langsung keluar dari dalam taksi dan menghampiri tempat dimana sekretaris nya berada.


"Sudah lama?" Samuel membuka pembicaraan saat baru saja sampai di hadapan sekretaris pribadinya.


"Tidak begitu lama, mari pak, saya sudah menyiapkan kamarnya."


Sedikit ambigu bukan? Tapi itu merupakan hal yang biasa saja bagi Samuel, lelaki itu mulai mengikuti sekretaris pribadinya dari belakang menuju ke kamar hotel yang sudah dipesan oleh sekretaris pribadinya sebelum dia datang kesini.


***


Sedangkan di tempat yang sama tanpa Samuel ketahui, Shanin melihat berjalan bersama seorang perempuan yang wajahnya tidak terlihat oleh Shanin, memasuki sebuah kamar hotel.


Saat sampai di toko tempatnya bekerja tadi, Shanin langsung disuruh mengirimkan sebuah buket bunga ke hotel ini oleh Ajeng, mau tidak mau Shanin harus melakukannya.


Maka dari itu sekarang dia sedang berada di salah satu hotel yang dekat dengan kontrakannya, setelah menghantarkan buket bunga tersebut ke salah satu kamar yang ada di hotel ini, Shanin berniat untuk langsung kembali ke toko.


Namun, saat dia baru saja keluar dari lift, matanya menangkap sosok yang benar-benar dia kenali, dia Samuel, lelaki yang beberapa hari ini tinggal di kontrakannya.


Bukan itu poin utamanya, mata Shanin juga menangkap sosok lain yang berjalan di depan Samuel yang diikuti oleh lelaki itu, kemudian masuk ke dalam salah satu kamar yang ada disana.


Dengan pikiran yang berkecamuk Shanin melanjutkan langkah kakinya keluar dari dalam hotel, dia harus kembali ke toko tempatnya bekerja lagi.


***


"Jadi bagaimana keadaan kantor sekarang?"


"Jauh dari kata baik-baik saja pak, semenjak pak Regard diperintahkan untuk menggantikan posisi pak Samuel sementara, dia sering berperilaku semaunya, bahkan banyak karyawan lain yang tidak suka dengan sikap semaunya yang dimiliki oleh pak Regard. Tapi kemarin entah bagaimana pak Regard merayu bos besar agar segera memberikan posisi pak Samuel kepadanya secara resmi, siang ini akan ada rapat penting para pemimpin perusahaan dan juga acara penyerahan jabatan kepada pak Regard." Jelas sekretaris pribadi Samuel dengan panjang lebar.


Mendengar hal itu membuat Samuel memijat pelipisnya dengan pelan, tidak ada cara lain untuk mempertahankan posisinya di perusahaan, siang ini dia harus hadir di tengah-tengah rapat.


"Tolong kamu siapkan jas untuk saya, siang ini saya akan kembali ke perusahaan dan menghadiri rapat."


"Baik pak, akan ada orang yang menghantarkan jasnya kesini."


Balas sekretaris pribadinya sambil membuka ponsel miliknya yang kemudian memanggil orang untuk menghantarkan jas yang diminta oleh bosnya ke kamar hotel.


Tidak lama setelah itu, terdengar suara bel yang berbunyi, dapat dipastikan jika itu adalah orang suruhan sekretarisnya tadi.


"Sebentar ya pak, saya ambil jas untuk bapak dulu di depan."


Tanpa menunggu balasan apapun dari Samuel, sekertaris pribadinya itu langsung melenggang pergi ke pintu hotel untuk mengambil jas yang diantarkan oleh orang suruhannya.


Tidak memerlukan waktu yang lama, sekretarisnya kembali lagi ke hadapan Samuel dengan membawa satu kantong belanjaan di tangannya yang kemudian diserahkan kepada Samuel.

__ADS_1


Menerima sodoran sebuah kantong belanjaan dari sekretaris nya, Samuel langsung beranjak dari duduknya menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


Selesai berganti pakaian, Samuel langsung keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah sekretaris pribadinya kembali, tidak menunda-nunda waktu, mereka berdua langsung pergi meninggalkan kamar hotel menuju ke kantor.


Memerlukan waktu beberapa menit untuk keduanya sampai di lobby kantor dan langsung keluar dari dalam mobil, seluruh mata langsung tertuju kepada Samuel.


Bahkan beberapa orang dibuat ternganga melihatnya, karena mereka semua tau bahwa selama ini pimpinannya itu menghilang dan bahkan sudah dianggap meninggal dunia.


Melihat sosok pemimpinnya baru saja turun dari sebuah mobil bersama dengan sekretaris pribadinya tentu saja membuat orang-orang yang berada di sana terkejut.


Samuel tidak menghiraukan tatapan mata yang tertuju padanya itu, dia berjalan masuk ke dalam gedung tinggi itu diikuti oleh sekretaris pribadinya yang ada dibelakang.


Masuk ke dalam lift, untuk menuju ke lantai dimana ruang rapat berada. Lift sudah sampai di lantai yang dituju, Samuel dan juga sekretaris nya langsung melangkahkan kaki menuju ke ruang rapat dengan beberapa pasang mata yang masih menatap ke arah Samuel.


"Itu pak Samuel?"


"Kemana saja dia? Aku benar-benar sudah lelah dengan kelakuan pak Regard."


"Itu beneran pak Samuel?"


"Bagaimana bisa dia tiba-tiba disini?"


Dan masih banyak lagi bisik-bisik para karyawan yang dapat di dengar oleh telinga Samuel selama perjalanan ke ruang rapat.


Di hadapan Samuel kini sudah terpampang pintu ruang rapat yang tertutup, lelaki itu memberi kode kepada sekretaris pribadinya untuk membukakan pintu tersebut yang langsung dilaksanakan oleh sekretarisnya.


Saat pintu berhasil dibuka, semua mata milik orang-orang yang ada di dalam ruang rapat langsung tertuju pada pintu yang terbuka.


Mereka dibuat terkejut berkali-kali lipat saat melihat siapa yang membuka pintu tersebut, pemimpin perusahaan yang selama ini dinyatakan menghilang.


"Sam?" Itu suara ayah Samuel yang berada di kursi pemimpin rapat.


Lelaki tua itu menatap tidak percaya ke arah Samuel yang ada di hadapannya, sedetik kemudian ayah nya langsung beranjak dari duduknya dan berjalan ke arahnya yang kemudian memeluk tubuh Samuel.


"Ini benar kamu?"


Sang ayah memastikan bahwa yang ada di hadapannya kali ini benar-benar anaknya, dia memegang kedua bahu milik Samuel ketika mengatakan itu.


"Iya, ini saya."


Hanya itu jawaban yang diberikan oleh Samuel, menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh sang ayah yang ada di hadapannya.


Sedangkan disisi lain Regard menatap Samuel dengan tatapan tajamnya, bisa dilihat jika di dalam tatapan itu tersirat rasa ketidaksukaannya disana.


Samuel menanggapi tatapan tajam yang dilayangkan oleh kakak kandungnya itu dengan tatapan mengejek.


Tidak semudah itu untuk mendapatkan posisi saya, Regard. Kira-kira itulah perkataan yang akan Samuel katakan kepada kakak kandungnya itu.


Sang ayah kemudian mempersilahkan Samuel untuk duduk di salah satu kursi yang ada di ruang rapat itu, keadaan kemudian menjadi canggung setelahnya.


Tapi hal itu terjadi hanya sesaat, sekretaris pribadi Samuel yang menyadari kecanggungan itu langsung mencairkan suasana dengan mempersilahkan para atasannya untuk melanjutkan rapat kali ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2