
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Samuel pagi tadi, kini di jam makan siang lelaki itu sedang dalam perjalanan menuju ke kafe tempat Shanin bekerja.
Hanya memerlukan waktu berapa menit untuk lelaki itu sampai ke tempat tujuan, selain datang untuk makan siang, tentu saja lelaki itu juga datang untuk melihat pujaan hatinya.
Tidak apa-apa kan jika Samuel menyebut Shanin sebagai pujaan hatinya? Walaupun perempuan itu menolak pernyataan cintanya secara terang-terangan.
Sampai di kawasan kafe, Samuel langsung memarkirkan mobil miliknya di tempat parkiran yang ada di kafe itu, setelahnya lelaki itu langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe yang cukup ramai.
Saat baru saja masuk ke dalam kafe, sorot matanya langsung mengedar ke seluruh sudut kafe itu untuk menemukan dimana Shanin berada, akhirnya mata Samuel menangkap sosok Shanin yang sedang membawa nampan berisi pesanan pelanggan ke salah satu meja pelanggan yang ada disana.
Lelaki itu kemudian memilih untuk duduk di salah satu kursi yang masih kosong disana, tidak lama setelah dia mendudukkan dirinya di kursi yang ada disana, Shanin datang menghampiri dirinya dengan membawa buku menu, perempuan itu nampak kesal dengan kehadirannya.
"Selamat siang, ini buku menunya."
Shanin menyerahkan buku menu seperti biasanya saat dirinya melayani pelanggan lain, tapi kali ini dengan sebuah senyum yang dipaksakan di wajahnya.
"Siang, kamu terlihat tidak senang melihat saya disini." Ucap Samuel sambil membolak-balikkan buku menu di hadapannya.
"Emangnya ada penjual yang gak seneng kalo ada pembeli datang?"
"Tapi raut wajah kamu menunjukan demikian."
"Terserah kamu deh, udah cepet mau pesen apa?"
Wow, bukankah Shanin bersikap tidak sopan terhadap pelanggan? Perempuan itu sudah terlanjur kesal karena Samuel yang terus mengajaknya berbicara disaat suasana hatinya yang tidak bagus.
Tapi apakah Shanin tidak pernah berpikir jika suasana hati Samuel juga sedang tidak baik-baik saja? Mengingat pernyataan cinta lelaki itu baru saja ditolak oleh pujaan hatinya dan pujaan hati yang dimaksud adalah dirinya sendiri.
"Sebentar." Ucap Samuel sambil kembali melihat-lihat list menu yang ada di hadapannya.
"Saya pesan ini dan ini, untuk minumannya saya pesan yang ini."
Lelaki itu menunjuk beberapa menu yang ada di buku menu dan Shanin yang mulai menulis satu persatu pesanan lelaki itu di buku catatan kecil miliknya.
"Udah? Nggak ada lagi?" Tanya Shanin memastikan.
"Tidak ada." Ucap Samuel sambil kembali menyerahkan buku menu itu kepada Shanin dan diterima oleh perempuan itu.
"Oke kalo gitu tunggu sebentar, pesanannya bakalan selesai kurang dari tiga puluh menit."
Setelah mengatakan itu Shanin langsung meninggalkan meja Samuel menuju ke arah juru masak untuk memberi selembar kertas yang berisi catatan menu apa saja yang dipesan Samuel.
Benar apa yang dikatakan oleh Shanin tadi, pesanannya sudah selesai kurang dari tiga puluh menit dan perempuan itu kini tengah membawa pesanan Samuel itu ke meja dimana Samuel berada.
"Silahkan dinikmati." Ucap Shanin saat selesai menaruh pesanan Samuel tadi di atas meja.
"Terimakasih." Balas Samuel.
Lelaki itu tidak berharap Shanin akan menemaninya makan siang kali ini, dia tahu jika perempuan itu hari ini hanya bekerja sendiri dan juga ada banyak pelanggan yang perlu Shanin layani.
"Tunggu." Ucap Samuel sebelum Shanin meninggalkan meja nya.
"Aku gak bisa nemenin kamu disini." Jawab Shanin seakan dirinya sudah tau Samuel ingin mengatakan apa.
"Bukan itu, saya hanya ingin bertanya kamu pulang jam berapa?"
Tentu saja ucapan dari Samuel barusan membuat Shanin terdiam, perempuan itu merasa malu karena sudah salah tebak tentang apa yang akan dikatakan oleh Samuel.
"O-oh itu, aku pulang jam sembilan malam, kenapa emangnya?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, hanya bertanya saja." Jawab Samuel.
Shanin yang mendengar itu hanya menghela nafasnya kasar, lelaki itu hanya menghabiskan waktunya saja. Perempuan itu kemudian mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Samuel yang ada di mejanya, Shanin memilih untuk melayani pelanggan lain yang pastinya membutuhkan dirinya.
***
Setelah seharian penuh Shanin bekerja, akhirnya jam sembilan malam pun tiba, bertanda jika dirinya sudah boleh pulang dan kini Shanin sedang berada di area belakang untuk mengambil tas selempang miliknya yang seperti biasanya selalu tersimpan disana.
Shanin kemudian berjalan keluar dari area belakang dengan membawa sebuah tas selempang miliknya sambil merogoh tas selempang itu untuk mencari keberadaan kunci motor miliknya.
"Udah selesai Sha? Ayo keluar bareng." Ajak Kila yang kini sudah berdiri di hadapan Shanin dengan menjinjing sebuah tas di tangannya.
"Udah, ayo."
Keduanya pun berjalan keluar dari dalam kafe, hanya mereka berdua lah karyawan yang tersisa yang belum pulang, kebetulan hari ini adalah bagiannya Kila yang memegang kunci kafe, jadi perempuan itu harus rela pulang paling terakhir untuk mengunci kafe.
Saat keduanya sudah berada di luar kafe, Kila langsung mengunci pintu kafe tersebut dan setelah itu kembali memasukkan kunci kafe ke dalam tasnya.
Saat sedang berjalan ke arah parkiran, Shanin menghela nafasnya pasrah saat melihat Samuel yang berjalan ke arahnya dengan kemeja yang lengannya digulung sebatas siku, lelaki itu tidak mengenakan jas seperti biasanya saat ini.
"Tuh Sha pacar kamu, aku duluan kalo gitu." Ucap Kila yang berjalan begitu saja meninggalkan Shanin.
Lelaki itu semakin mendekat ke arahnya, entah apalagi yang akan lalaki itu lakukan kepada Shanin.
"Kamu sudah pulang? Ingin makan malam bersama saya sebentar? Kamu belum makan malam kan?"
Pertanyaan bertubi-tubi itu datang dari Samuel, Shanin bingung harus menjawab pertanyaan lelaki itu yang mana dulu.
"Aku pengen cepet-cepet pulang Sam, nanti aku makan malam di kontrakan aja." Jawab Shanin.
"Kalau begitu kita pesan makanannya saja, nanti makannya di kontrakan kamu."
"Tapi saya ingin makan malam bersama kamu Shanin."
Shanin menghela nafasnya kasar mendengar perkataan Samuel yang terkesan memaksa itu, meskipun sudah Shanin tolak mentah-mentah ajakannya, lelaki itu tetap saja memaksanya.
"Ya udah iya, makannya di kontrakan aku aja. Gak usah beli makanan, biar nanti aku masak aja soalnya aku baru beli bahan-bahan masakan kemaren." Final Shanin.
Samuel mengembangkan senyumannya setelah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Shanin, padahal dirinya hanya minta untuk makan berdua dengan perempuan itu diluar. Tapi Samuel dibuat lebih senang lagi ketika mendengar bahwa Shanin akan memasak makanan untuk keduanya makan malam.
"Udah sana ke mobil kamu, aku mau pake motor aku sendiri."
Ah, Samuel lupa jika Shanin menggunakan motornya sendiri, padahal lelaki itu sudah terpikirkan bagaimana dirinya dan juga Shanin bisa berada di dalam mobil yang sama.
"Baiklah, saya akan mengikuti kamu dari belakang." Ucap Samuel walaupun di hatinya terdapat sedikit rasa tidak ikhlas.
"Nggak usah deh Sam, kamu jalan duluan aja."
"Tidak apa-apa, biar saya yang mengikuti kamu dari belakang, malam-malam begini cukup bahaya untuk kamu."
Perkataan Samuel barusan seakan tidak bisa dibantah lagi oleh Shanin, perempuan itu mau tidak mau harus mengiyakan apa yang Samuel katakan. Shanin tidak ingin semuanya menjadi lebih panjang dan semakin mengulur waktunya untuk segera sampai ke kontrakan.
"Ya udah terserah kamu aja deh Sam."
Setelah mengatakan itu Shanin langsung melenggang pergi ke arah parkiran khusus karyawan dimana motor miliknya terparkir disana. Sedangkan Samuel, lelaki itu berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
Saat Samuel sudah berada di dalam mobil, lelaki itu dapat melihat jika Shanin sudah mengenakan helm di kepalanya dan juga siap untuk melajukan motor miliknya.
Disaat motor milik Shanin mulai meninggalkan tempat parkiran, Samuel langsung mengikutinya dari belakang, keduanya masuk ke jalan raya yang masih tergolong cukup ramai ini.
__ADS_1
Samuel tetap berada di belakang motor perempuan itu untuk mengawasi Shanin dari belakang sampai keduanya masuk ke dalam gang terakhir menuju ke kontrakan Shanin.
Dikarenakan jalannya yang cukup sempit membuat mobil Samuel tidak dapat masuk lebih dekat dengan kontrakan Shanin, lelaki itu kemudian memarkirkan mobil miliknya di tempat biasanya.
Samuel pikir Shanin akan meninggalkannya begitu saja disana, tapi saat lelaki itu keluar dari dalam mobil, sorot matanya menangkap sosok Shanin yang menghentikan motornya di depan mobil lelaki itu.
"Buruan sini naik, udah malem." Titah Shanin kepada Samuel yang menatapnya.
Mendengar apa yang diperintahkan oleh sang pujaan hati, Samuel dengan sedikit berlari langsung mendekat ke arah motor perempuan itu, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Shanin tadi.
"Sini biar saya saja yang bawa motornya."
"Nggak usah, bentar lagi doang ini. Udah cepetan naik, aku juga gak mungkin bikin kamu celaka." Ucap Shanin.
Lelaki itu kemudian langsung naik ke jok belakang motor milik Shanin itu dan Shanin pun langsung melajukan motornya menuju ke kontrakannya yang berjarak beberapa meter lagi.
Dan sekarang keduanya sudah sampai di depan kontrakan si perempuan, Shanin langsung memarkirkan motornya dan setelah itu dia langsung membuka pintu kontrakannya yang terkunci.
Tanpa perlu mendapatkan perintah dari si pemilik kontrakan, Samuel langsung masuk begitu saja saat pintu kontrakan itu berhasil dibuka.
Shanin yang melihat itu pun tidak dapat bereaksi apa-apa, perempuan itu sudah terbiasa karena memang Samuel sudah terbiasa mampir kesana dan juga sempat tinggal selama beberapa hari di kontrakan itu.
Setelah meletakkan tas selempang miliknya di atas meja belajar, Shanin langsung melangkahkan kakinya ke arah kulkas yang ada di dalam sana.
"Kamu gak punya pantangan apapun kan?" Tanya Shanin memastikan.
"Iya, tidak ada." Jawab Samuel.
Shanin hanya mengangguk-anggukan kepalanya menanggapi perkataan Samuel barusan, perempuan itu kemudian mulai mengeluarkan satu persatu bahan makanan yang ada di dalam kulkas.
" Sini biar saya bantu." Ucap Samuel sambil berusaha untuk meraih kantong plastik yang ada di tangan Shanin.
"Nggak usah, kamu mending duduk aja deh Sam di depan. Nanti kalo udah selesai, makanannya langsung aku bawa kesana."
Padahal Samuel sangat ingin membuat perempuan itu memasak, tapi tolakan yang diberikan oleh Shanin langsung membuat Samuel menurut.
Lagipula jika lelaki itu membantu Shanin memasak sekarang, hal itu justru akan memperlambat kegiatan memasaknya karena lelaki itu pasti hanya akan merecoki perempuan yang sedang memasak itu.
Samuel memilih untuk mengangguk patuh dan kemudian berjalan meninggalkan Shanin yang kini sibuk dengan berbagai macam bahan masakan.
Setelah lebih dari tiga puluh menit, Shanin akhirnya selesai memasak beberapa menu masakan yang akan keduanya makan malam ini, perempuan itu mulai membawa satu persatu makanan yang sudah jadi ke ruang tengah dimana Samuel berada.
Samuel, lelaki itu tidak tinggal diam ketika melihat Shanin sibuk membawa satu persatu piring ke dalam ruang tengah, dengan rasa inisiatifnya, Samuel beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah dapur untuk membantu Shanin membawa piring-piring itu ke ruang tengah.
"Gak ada lagi Sam di belakang?" Tanya Shanin saat melihat Samuel yang hanya membawa sebuah piring di tangannya.
"Tidak ada, ini yang terakhir." Balas Samuel sambil meletakkan piring yang dia bawa tadi dengan hati-hati di atas lantai.
"Jangan lupa buat cuci tangan di kamar mandi Sam." Ucap Shanin kepada Samuel.
Samuel yang mendengar ucapan Shanin pun langsung mengangguk dan berjalan ke arah kamar mandi berada, sedangkan Shanin di ruang tengah sedang menyendokkan nasi ke atas piring miliknya dan juga milik Samuel.
Tidak lama dari itu Samuel sudah kembali dari kamar mandi dan langsung ikut mendudukkan dirinya di samping Shanin.
"Lauknya kamu ambil sendiri aja ya." Ucap Shanin.
Lelaki itu lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan langsung mengambil lauk yang akan menemaninya makan malam ini.
Kegiatan makan malam keduanya dipenuhi dengan keheningan, mereka berdua sibuk dengan makanannya masing-masing, tidak ada tanda-tanda di antara keduanya yang akan memulai sebuah pembicaraan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.