Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 32


__ADS_3

Setelah bekerja seharian akhirnya Shanin bisa pulang juga, perempuan itu harus segera pulang ke kontrakan karena takut jika Samuel sudah menunggu disana.


"Kila, Anna, aku pulang duluan ya."


"Iya Sha hati-hati." Balas Kila sedangkan Anna hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah mendengar jawaban dari keduanya teman kerjanya tadi, Shanin langsung membawa langkah kakinya keluar dari dalam kafe menuju ke arah parkiran khusus karyawan yang dimana motor miliknya terparkir disana.


Perempuan itu langsung memakai helm di kepalanya dan naik ke atas jok motor, menyalakan mesin motor tersebut dan melakukannya dengan kecepatan normal.


Walaupun Shanin sedang terburu-buru karena ingin segera sampai ke kontrakan, perempuan itu tidak berani untuk melajukan mesin motornya di atas rata-rata karena takut dirinya akan terjatuh lagi seperti beberapa minggu yang lalu.


Butuh waktu sekitar tiga puluh menit lebih untuk dirinya sampai ke gang kontrakannya karena jalan raya sore ini terbilang cukup ramai. Saat Shanin sudah dapat melihat keberadaan kontrakannya, matanya menangkap perawakan Samuel yang sedang duduk di kursi yang ada di teras kontrakannya.


Perempuan itu segera menghentikan motornya tepat di depan kontrakannya dan melepas helm miliknya, Shanin segera menghampiri Samuel yang masih duduk di kursi yang ada disana.


"Aduh maaf Sam bikin kamu nunggu, kamu udah lama sampe ke sini?" Tanya Shanin pada lelaki yang ada di depannya.


"Sekitar sepuluh menit yang lalu, tidak apa-apa, bukan masalah yang besar bagi saya. Ini laptop nya sesuai dengan permintaan kamu semalam."


Lelaki itu berucap sambil menyodorkan sebuah kantong belanjaan yang berisi sebuah laptop baru yang masih dibungkus dengan kotaknya.


Shanin kemudian menerima kantong belanjaan yang disodorkan oleh Samuel, perempuan itu sedikit mengintip isi dari kantong belanjaan tersebut dengan penasaran.


"Saya sudah belikan laptop dengan kualitas terbaik yang dapat menunjang pekerjaan kamu." Ucap Samuel.


"Wahh makasih banyak Sam!" Balas Shanin dengan girang.


"Sama-sama, lagipula sudah menjadi sebuah keharusan bagi saya memfasilitasi karyawan."


Mendengar ucapan Samuel barusan, Shanin hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, perempuan itu masih dengan keadaan senyum mengembang di wajahnya.


"Oh iya, kamu mau masuk dulu ke dalam? Biar aku bikinin teh atau kopi." Tawar Shanin pada Samuel.


"Tidak usah, saya akan langsung pulang ke rumah saja." Balas Samuel menolak tawaran dari Shanin barusan.


"Ohh gitu ya." Entah kenapa nada bicara Shanin terdengar seperti orang yang kecewa.


Samuel yang mendengar nada bicara yang keluar dari mulut perempuan yang ada di depannya ini pun menjadi tidak tega, tidak masalah seperti jika dia masuk sebentar dan menikmati teh hangat buatan Shanin.


"Ah tapi saya merasa haus, sepertinya masuk sebentar tidak masalah." Ucap Samuel.


Wajah Shanin yang tadi menunduk pun langsung terangkat dengan senyum mengembang diwajahnya setelah mendengar penuturan dari Samuel barusan.


"Nah gitu dong, ayo masuk dulu, biar aku bikinin minuman buat kamu." Ajak Shanin sambil berusaha untuk membuka pintu kontrakannya yang terkunci.


Samuel yang melihat Shanin kesulitan membuka pintu itu karena sedang membawa tas selempang dan kantong belanjaan yang dia berikan tadi berinisiatif untuk membantu perempuan itu.

__ADS_1


"Sini biar saya aja yang buka." Ucap Samuel.


Shanin yang mendengar perkataan lelaki itu pun sedikit memundurkan tubuhnya untuk memberi ruang kepada lelaki itu agar lebih leluasa.


Setelah sedikit usaha yang dikeluarkan oleh Samuel, akhirnya pintu kontrakan Shanin pun terbuka. Lelaki itu menepikan dirinya agar Shanin bisa masuk terlebih dahulu, Shanin yang paham akan apa yang dilakukan oleh Samuel pun masuk terlebih dahulu ke dalam kontrakan miliknya.


"Maaf ya acak-acakan, kemarin sama tadi pagi aku gak sempet beresin." Ucap Shanin dengan raut tidak enaknya.


"Tidak masalah, lagipula masih terlihat rapih." Balas Samuel.


"Oh iya, duduk dulu Sam." Shanin mempersilahkan Samuel untuk duduk.


Samuel yang dipersilahkan itu pun segera duduk di kursi yang biasanya ada disana, entah kenapa meskipun hanya kursi yang biasanya ada di depan konter itu terasa sangat nyaman ketika di duduki.


"Kamu minumnya mau teh atau kopi?" Tanya Shanin pada Samuel.


"Teh hangat saja, jangan terlalu manis." Jawab lelaki itu.


"Oke, tunggu disini sebentar ya."


Setelah mengatakan itu, Shanin meletakkan tas selempang dan juga kantong belanjaan yang diberikan oleh Samuel tadi di atas lantai, perempuan itu kemudian berjalan ke arah belakang dimana dapur berada.


Tidak sampai lima menit, Shanin sudah kembali lagi ke hadapan Samuel dengan membawa secangkir teh hangat di dalamnya dan meletakkan teh hangat tersebut di atas meja.


"Di minum Sam." Ucap Shanin pada Samuel.


Samuel hanya membalas dengan sebuah anggukan dan kemudian meraih cangkir tersebut, meminum dengan perlahan teh hangat yang ada di dalamnya.


"Tentang apa saja yang perlu kamu kerjakan, nanti akan saya kirim melalui email." Samuel berbicara setelah dirinya baru saja meletakkan kembali cangkir yang berisi teh hangat tadi di atas meja.


"Bentar aku ambil handphone aku dulu buat liat email-nya, aku gak hapal soalnya."


Setelah mengatakan itu Shanin langsung beranjak dari duduknya dan meraih tas selempang yang dia letakkan dengan asal tadi, mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam sana.


Ketika ponsel miliknya sudah berada di tangannya, perempuan itu langsung membuka ponsel tersebut dan membuka aplikasi Gmail di ponselnya.


"Ini Sam email aku, nanti di kirim ke sini aja ya." Ucap Shanin sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Samuel agar lelaki itu melihatnya.


"Sebentar saya catat dulu." Balas Samuel yang sedang merogoh ponsel di saku celananya.


Lelaki itu kemudian mengetikkan sesuatu di dalam ponselnya, tentu saja mengetik nama email Shanin. Walaupun lelaki itu sebenarnya sudah tau nama email Shanin, tapi Samuel harus pura-pura tidak tau soal itu.


Kalian tentu saja ingat tentang Shanin yang dipecat dari tempat kerjanya di toko bunga dan ketika dia sampai di kontrakan, ada sebuah email masuk yang memberitahu jika ada lowongan kerja dari sebuah perusahaan.


Itu semua ulah Samuel, mulai dari dirinya yang menyuruh atasan Shanin memecat perempuan itu dari tempat kerjanya agar Shanin tertarik untuk melamar di perusahaannya.


Tapi sayangnya rencana Samuel itu tidak berjalan dengan mulus, Shanin malah lebih memilih untuk bekerja di kafe yang dekat dengan perusahaan milik Samuel dan Shanin belum mengetahui tentang rencana Samuel itu.

__ADS_1


Samuel pun tidak berniat untuk memberitahu tentang hal itu pada Shanin sekarang ini, takut perempuan itu malah membenci dirinya, bisa dikatakan jika Samuel ini memang benar-benar pengecut.


"Nih, email kamu sudah saya catat." Ucap Samuel sambil menyodorkan kembali ponsel milik Shanin.


"Oke, nanti aku bakalan rajin-rajin cek email, kalo email nya belum aku baca juga, kamu telepon aja ya Sam, aku jarang buka email soalnya." Jelas perempuan itu.


"Hm, baiklah. Tapi kamu harus lebih sering-sering melihat email karena khawatir ada pekerjaan yang harus segera kamu kerjakan." Saran Samuel.


"Iya, nanti aku usahain buat sering-sering buka email. Lagipula aku jarang buka email juga karena emang gak ada keperluan apa-apa disana."


"Mulai sekarang akan ada."


"Iya juga sih."


Mendengar perkataan perempuan yang ada di depannya barusan, Samuel menghela nafasnya dan memilih untuk kembali meraih cangkir yang ada di meja di depannya kemudian menghabiskan sisa teh hangat yang ada disana.


Keduanya sama-sama dipenuhi keheningan setelahnya, Shanin tidak tau lagi ingin berbicara apa, begitupun dengan Samuel, lelaki itu juga sama bingungnya.


"Oh ya satu lagi, jika kamu kesulitan untuk mengakses internet, segera beritahu ke saya agar saya urus." Ucap Samuel.


"Iya nanti aku langsung laporan ke kamu, tapi sejauh ini handphone aku internetnya aman-aman aja sih."


"Bukan itu, laptop benar-benar menguras banyak kuota internet, jika kamu membutuhkan itu, langsung beritahu saya."


"Ohh gitu, oke nanti aku langsung hubungi kamu."


Samuel pun mengangguk menanggapinya, lelaki itu kemudian kembali menyesap teh hangat yang sudah dingin itu sampai habis.


"Kalau begitu saya pulang sekarang." Ucap Samuel sambil beranjak dari duduknya.


Melihat apa yang dilakukan oleh lelaki itu, Shanin pun ikut beranjak dari duduknya, kini mereka berdua sama-sama sedang berdiri.


"Iya udah mau malem juga, ayo aku anter sampe depan." Ucap Shanin sambil melangkah terlebih dulu di depan Samuel.


Lelaki itu pun mengikuti langkah Shanin dari belakang untuk keluar dari dalam kontrakan perempuan itu.


"Hati-hati di jalan Sam." Ucap Shanin saat Samuel mulai melangkahkan kakinya menjauh dari kontrakan itu menuju ke arah mobil milik lelaki itu yang sedang terparkir.


Samuel pun langsung masuk ke dalam mobil miliknya, di dalam mobil Samuel masih dapat melihat Shanin yang melambaikan tangan ke arahnya, lelaki itu sedikit menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya melihat apa yang dilakukan oleh Shanin.


Mesin mobil milih Samuel sudah menyala dan menjalankan mobil itu dengan perlahan mengingat jika yang sedang dia lewat saat ini adalah sebuah gang yang hanya bisa dilewati oleh sebuah mobil.


Sedangkan Shanin yang melihat mobil Samuel semakin menjauh dari pandangannya memilih untuk masuk kembali ke dalam kontrakannya.


Senyum di wajah perempuan itu memang sedari tadi tidak luntur-luntur bahkan sekarang senyum di wajahnya malah semakin mengembang saat dirinya menatap ke arah kantong belanjaan yang diberikan oleh Samuel tadi.


Perempuan itu tidak dapat menahan rasa senang di hatinya ketika melihat sebuah kotak di dalam kantong belanjaan itu berisi sebuah laptop mewah yang tentu saja memiliki harga yang tidak main-main.

__ADS_1


Meskipun Samuel memberikan laptop tersebut kepadanya untuk bekerja tapi tetap saja laptop itu masih bisa digunakan untuk bermain game oleh Shanin, perempuan itu pikir sepertinya tidak apa bermain game di laptop itu asal tidak terlalu sering.


BERSAMBUNG.


__ADS_2