Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 13


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Shanin sudah bangun dari tidurnya, perempuan itu tengah bersiap untuk berangkat ke tempat yang dikirimkan oleh Ajeng semalam, tempat dimana dirinya akan melamar pekerjaan.


Dengan setelan kemeja putih dan juga celana bahan panjang beserta sepatu flat miliknya, tidak lupa perempuan itu menggerai rambut panjangnya, memberikan tampilan sempurna pada tubuhnya hari ini, Shanin sudah siap untuk melamar kerja di kafe milik sepupu Ajeng.


"Ayo Shanin, kamu bisa!" Perempuan itu mencoba untuk memotivasi dirinya sendiri.


Perempuan itu kemudian meraih tas nya yang ada di atas kasur dan langsung keluar dari dalam kamar, tidak lupa untuk menutupnya kembali.


Berjalan ke arah meja belajarnya untuk mencari berkas-berkas yang nantinya akan dia butuhkan sebagai syarat sebuah surat lamaran kerjanya nanti.


Berhasil mendapatkan apa yang dia cari, perempuan itu langsung memasukkan berkas pentingnya tadi ke dalam tas dan keluar dari dalam kontrakan.


"Pagi, Sha. Udah rapih aja nih? Mau berangkat buat ngelamar kerja sekarang?"


Saat Shanin baru saja selesai mengunci pintu kontrakannya, pertanyaan dari pak agung tetangga sebelahnya menyapa ke dalam indera pendengarannya.


"Pagi pak, iya nih aku mau berangkat buat ngelamar kerja sekarang." Balasnya.


"Ya udah semangat kalo gitu, bapak juga mau berangkat kerja sekarang."


"Iya, bapak juga semangat kerjanya."


Setelah acara saling bercengkrama itu, Shanin langsung naik ke atas Vespa matic miliknya dan mengendarai motor tersebut dengan kecepatan normal meninggalkan kontrakannya menuju ke tempat yang dikirimkan oleh Ajeng semalam.


Butuh waktu beberapa menit untuk perempuan itu sampai di tempat tujuan, kafe itu masih tampak sepi karena memang ini masih terlalu pagi untuk para pelanggan datang kesini.


Saat Shanin baru saja menyimpan helm miliknya, tiba-tiba saja terdengar suara dering dari ponselnya yang ada di dalam tas miliknya.


Dengan gerakan cepat perempuan itu langsung membuka tasnya guna mengambil ponsel miliknya yang berbunyi itu, disana tertera nama temannya, Ajeng.


"Halo?"


"Halo Sha, kamu lagi ada dimana?"


"Aku udah sampe di kafe sepupu kamu nih Jeng."


"Bagus deh kalo kamu udah datang, kamu langsung masuk aja ya ke dalem, sepupu aku udah ada di dalem kok."


"Gitu ya, aku juga baru sampe sih, ya udah kalo gitu aku masuk dulu ke dalem."


"Iya, semoga lancar ya Sha, aku bantu doa disini walaupun aku yakin kamu pasti diterima kerja disana."


"Aamiin, sekali lagi makasih ya Jeng."


Setelah itu panggilan keduanya terputus, Shanin kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas dan mencoba untuk menarik nafas panjang kemudian mengeluarkannya dengan perlahan guna menghilangkan rasa gugupnya.


Dirasa sudah cukup santai dan tidak gugup lagi, langkah kaki milik perempuan itu langsung membawa Shanin masuk ke dalam kafe yang benar-benar menggambarkan kafe masa kini.


Furniture yang ada di dalamnya benar-benar terlihat sangat indah karena penempatannya yang pas dan juga tidak terkesan berlebihan, sangat cocok untuk bersantai.


Sorot matanya langsung tertuju ke meja kasir yang ada di dalam kafe, perempuan itu melangkahkan kaki nya untuk mendekat ke arah meja kasir itu.


"Pagi, ada yang bisa saya bantu?"


Kasir yang ada di depan Shanin itu menyapa Shanin dengan senyum ramah yang terbit di wajahnya.


"Eumm.. ini saya mau masukin lamaran kerja disini, kata teman saya disini sedang ada lowongan pekerjaan." Shanin menjelaskan tujuannya datang ke tempat ini.


"Ohh, kamu Shanin ya?" Tebak sang kasir.


"Eh?" Shanin cukup terkejut karena hal itu.


"Tidak usah terkejut, sebelumnya pak bos sudah berpesan kepada saya jika ada pelamar yang bernama Shanin datang agar segera menyuruhnya masuk ke ruang kerjanya."


Mendengar penjelasan dari kasir tersebut membuat Shanin tersenyum kikuk, dia tidak tau harus melakukan apa sekarang ini.


"Mari ikut saya."


Shanin membalas ajakan tersebut dengan sebuah anggukan yang kemudian perempuan itu mengikuti kasir tadi dari belakang menuju ke ruang kerjanya calon atasannya itu.


"Nah disini, kamu masuk aja ke dalam."


"Ini tidak kenapa-kenapa jika saya masuk begitu saja?"


"Gapapa, silahkan. Saya harus kembali ke tempat kasir."


Selepas kepergian sang kasir tadi, tangan kanan Shanin terulur meraih kenop pintu dan membukanya, saat pintu itu berhasil dibukanya olehnya, matanya langsung menangkap sosok perawakan tinggi yang sepertinya itu adalah sepupu dari temannya.

__ADS_1


"Permisi."


Mendengar suara milik Shanin membuat lelaki yang merupakan sepupu dari Ajeng itu membalikkan badannya, karena memang posisinya tadi itu membelakangi Shanin.


"Silahkan, Shanin? Temannya Ajeng kan?"


"I-iya."


"Tidak usah gugup, silahkan duduk."


"Baik, terimakasih."


"Saya sudah tau maksud kedatangan kamu kesini dari Ajeng, boleh saya melihat surat lamaran punya kamu?"


"Boleh, tentu saja boleh, sebentar."


Dengan cepat Shanin membuka tas miliknya untuk mengambil surat lamaran yang sudah dia siapkan dari semalam dan juga berkas-berkas miliknya yang dia siapkan tadi pagi.


"Ini, ini surat lamaran milik saya."


Tangan milik Shanin terjulur untuk menyerahkan surat lamaran pekerjaan miliknya sesuai dengan permintaan sepupu Ajeng tadi.


Shanin dengan gugup melihat ke arah depan, dimana sepupu Ajeng itu sedang membaca surat lamaran kerja miliknya.


"Saya kira kamu seumuran dengan Ajeng, ternyata kamu lebih muda dari dia."


"O-oh itu, iya memang saya lebih muda darinya."


"Sudah saya bilang tidak usah gugup, saya tidak akan macam-macam."


"Maaf." Gumam Shanin.


Perempuan itu menundukkan kepalanya dan memainkannya jari tangannya dibawah sana guna menghilangkan rasa gugup yang hinggap di hatinya.


"Baiklah, kamu saya terima."


Perkataan dari lelaki yang akan di hadapannya itu sontak saja membuat Shanin dengan cepat mendongakkan kepalanya.


"Saya di terima pak?" Tanya Shanin untuk memastikan.


"Iya, kamu saya terima sebagai karyawan disini."


"Terimakasih pak, apa saya perlu menjalankan training terlebih dahulu?"


"Tidak usah, Ajeng melarang saya untuk memberikanmu hal seperti itu."


"Eh? Saya siap untuk menjalani training kok, jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh Ajeng."


Shanin mengatakan itu dengan raut wajah yang tidak enak, perkataan Shanin hanya dibalas dengan tawa kecil dari lelaki yang ada di seberangnya, hal itu tentu saja membuat Shanin kebingungan.


"Kamu tenang saja, lagipula dari awal kafe ini tidak mengadakan sistem training, kamu bisa mulai bekerja sekarang juga." Lelaki yang kini sudah resmi menjadi atasan Shanin itu mencoba untuk menjelaskan.


Penjelasan dari lelaki itu membuat Shanin kembali menampilkan senyum kikuknya, suasana saat ini benar-benar canggung untuk.


"Sebentar saya ambilkan seragam untukmu terlebih dahulu."


Setelah mengatakan itu, lelaki yang kini berstatus sebagai atasannya itu bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah lemari yang ada di dalam ruangan ini.


Dan tidak lama dari itu lelaki itu kembali lagi ke meja kerjanya dengan satu tangan yang memegang dua buah seragam.


"Ini seragamnya, kamu bisa berganti di toilet nanti. Untuk bawahannya saya memberikan kebebasan untuk menggunakan apa saja selagi masih terlihat sopan."


Lelaki itu mengucapkan hal tersebut sambil menyodorkan dua buah seragam itu kepada Shanin, yang diterima dengan senang hati oleh perempuan itu.


"Ah ya dan satu lagi, nama saya Beni jika kamu belum tau."


"Baik pak, kalau begitu saya permisi untuk keluar, sekali lagi terimakasih."


"Sama-sama, kamu bisa meminta bantuan kepada Kila jika ada yang kamu butuhkan."


"Kila?"


"Saya lupa, kalian kan belum saling mengenal. Kasir yang ada di depan tadi namanya Kila."


"Ohh dia namanya Kila, baik pak."


Setelah mengatakan itu Shanin langsung keluar dari ruang kerja atasannya itu, mencari keberadaan kamar mandi tapi sepertinya perempuan itu tidak dapat menemukan tempat itu.

__ADS_1


Dengan langkah kaki yang ragu, Shanin mendekat ke arah kasir dimana Kila berada untuk menanyakan dimana letak keberadaan kamar mandi.


"K-kila?"


Perempuan yang dipanggil Kila itupun menolehkan kepalanya ke arah si pemanggil.


"Iya, ada apa?"


"Eumm.. ini aku harus ganti baju, kamar mandinya dimana ya?"


"Ohh itu, kamu jalan aja tuh ke sana, nanti di paling pojok ada kamar mandi nya." Kila mengatakan itu sambil tangannya yang menunjuk ke sebuah lorong yang ada di kafe ini.


"Disitu ternyata, makasih ya."


"Iya sama-sama."


Setelah mengatakan itu Shanin langsung berjalan ke lorong yang sempat ditunjukkan oleh Kila tadi, perempuan itu harus dengan cepat berganti pakaian di kamar mandi agar bisa cepat-cepat melakukan pekerjaannya.


***


Sedangkan di tempat lain Samuel dibuat kebingungan karena belum mendapatkan informasi dari orang suruhan tentang Shanin.


Dalam perkiraannya, seharusnya sekarang ini Shanin sudah datang ke kantornya untuk melamar pekerjaan, tapi nyatanya sampai sekarang perempuan itu tidak juga menunjukkan batang hidungnya.


Dengan kasar lelaki itu meraih ponsel miliknya yang tadi tergeletak begitu saja di atas mejanya, lelaki itu langsung mencari nomor milik suruhannya.


"Bagaimana dengan apa yang saya perintahkan kepada anda?"


"Sepertinya rencana anda tidak berjalan semudah itu tuan."


"Apa maksudnya?"


"Perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di perusahaan, perempuan itu sepertinya tidak tertarik dengan lamaran kerja yang saya kirim kemarin."


Mendengar penjelasan itu membuat tangan sebelah kirinya terkepal erat menahan rasa kesal, tanpa mengucapkan sepatah katapun Samuel langsung memutuskan panggilan itu dengan sepihak.


"Arghh!"


Lelaki itu menjambak rambutnya untuk menghilangkan rasa kesal di dalam dirinya, rencananya benar-benar tidak berjalan dengan mulus.


Samuel semakin dibuat pusing karena lelaki itu harus dengan cepat menemukan sosok desainer baru sebagai pengganti Devina.


Tangan milik lelaki itu kemudian kembali meraih ponsel miliknya tadi dan kembali memanggil ke nomor orang suruhannya tadi.


"Ha-


"Beritahukan pengumuman lowongan itu sekarang juga."


Samuel dengan cepat memotong perkataan orang yang ada di seberang sana dan langsung memutuskan panggilan itu tanpa menunggu balasan lawan bicaranya.


Memang informasi lowongan pekerjaan kemarin itu baru dikirim ke email pribadi Shanin saja, tidak ada orang luar yang mengetahuinya tentang itu.


Dan karena sekarang dia benar-benar sedang membutuhkan seorang desainer baru di perusahaannya.


Terdengar helaan nafas kasar dari Samuel, kemudian lelaki itu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi, untuk membasuh wajahnya dan semoga saja dapat membuat rasa kesal di kepalanya sedikit berkurang.


***


Kembali lagi ke sisi Shanin, perempuan itu kini tengah melayani pelanggan yang baru saja datang ke kafe tersebut.


"Tidak ada tambahan lainnya yang ingin dipesan?" Tanya Shanin ramah.


"Tidak ada."


"Baiklah, bisa ditunggu pesanannya."


Setelah mengatakan itu Shanin melangkahkan kakinya ke arah juru masak untuk memberikan satu lembar kertas yang tadi dia sobek dari buku catatan.


Satu lembar kertas itu berisi pesanan dari pelanggan tadi yang harus segera dibuatkan oleh juru masak yang ada disana.


Usai menyerahkan kertas pesanan itu, Shanin kembali lagi ke depan untuk melayani pelanggan lainnya, benar-benar melelahkan terus bergerak seperti ini, tapi Shanin dengan senang hati menerimanya.


Sebelumnya perempuan itu sudah bertanya-tanya terlebih dahulu kepada Kila tentang apa yang harus dia lakukan disini, Kila pun dengan senang hati memberitahunya dan memberikan arahan kepadanya.


Pegawai di kafe ini jika menurut perhitungan Shanin ada lima belas orang, sembilan juru masak sekaligus minuman, dua orang kasir, empat orang pelayan yang bekerja seperti Shanin tapi semuanya itu tentu saja berbeda jam kerja, tidak semuanya bekerja dalam waktu yang sama.


Kafe ini memang tergolong besar dan juga ramai, tidak heran jika memiliki karyawan yang banyak juga. Dari sekian banyak karyawan itu, Shanin masih merasakan kecanggungan untuk berinteraksi, tapi perempuan itu sudah mulai bisa bersikap santai dengan Kila, karena dari awal memang Kila lah yang berinteraksi dengannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2