
Sepulang dari acara festival tadi dan mengantarkan Gita ke rumahnya, Shanin langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya, benar-benar hari yang melelahkan.
Ada sedikit rasa tidak ikhlas di hatinya karena besok harus kembali bekerja, kenapa waktu berjalan begitu cepat saat dirinya libur?
Saat matanya mencoba untuk terpejam, tiba-tiba Shanin teringat pada Samuel, lelaki yang beberapa kali menelponnya tadi. Perempuan itu dengan cepat mencari keberadaan tasnya yang dia lempar asal tadi, mengambil handphone nya yg ada disana.
Shanin kemudian langsung mencari nomor telepon milik Samuel di ponsel miliknya, semoga saja lelaki itu belum tertidur. Setelah menemukan nomor telepon Samuel yang dia cari, perempuan itu pun segera menekan tombol panggil.
"Halo?" Ucap Shanin saat panggilannya tersambung.
"Halo Sha, ada apa?"
"Aku yang harusnya tanya ada apa kamu tadi siang telepon aku sampai tiga panggilan gitu? Maaf ya gak aku angkat."
"Tidak apa-apa, saya hanya ingin memberi tau kamu kalo besok saya akan mengirimkan satu komputer ke kontrakan kamu, besok sore kamu ada di kontrakan kan?"
"Komputer buat apa? Besok aku kerjanya gak sampe malem kok, kemungkinan sore aku udah ada di rumah."
"Buat keperluan kamu bekerja."
"Jangan komputer deh Sam, meja belajar aku kecil, kalo laptop aja bisa nggak?"
Dalam beberapa detik Shanin tidak mendengar balasan dari seberang sana, sepertinya lelaki yang ada di seberang sana sedang berpikir terlebih dahulu.
"Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan, besok sore akan saya antar ke kontrakan."
"Ke kafe aku aja deh Sam, kantor kamu dekat kan sama kafe aku?".
"Biar saya antar ke kontrakan kamu saja, sekalian saya pulang ke rumah."
Ah Shanin ingat jika lelaki itu pernah mengatakan padanya kalau rumah nya memang searah dengan kontrakan Shanin, bahkan rumah lelaki itu masih cukup jauh melewati gang kontrakan Shanin.
"Oh ya udah deh kalo itu mau kamu, besok aku usahain pulang cepet." Ucap Shanin.
"Teleponnya saya tutup, selamat malam." Ucap Samuel yang ada di seberang sana.
Setelah itu panggilan keduanya pun terputus, Shanin memilih untuk meletakkan ponselnya di atas nakas yang dekat dengan kasur miliknya.
Niat awalnya yang ingin langsung tidur Shanin urungkan, perempuan itu memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu karena merasakan rasa lengket di tubuhnya dan berganti pakaiannya.
Diraihnya handuk milik Shanin yang tergantung di belakang pintu kamar, perempuan itu kemudian langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi karena sudah malam, dengan waktu singkat Shanin menyelesaikan kegiatan membersihkan tubuhnya dan kembali masuk ke kamar.
Berjalan ke arah dimana lemari pakaiannya berada, perempuan itu kemudian memilih baju yang akan dia kenakan, yang sekiranya nyaman untuk tidurnya malam ini.
Sebelum kembali ke atas kasur, Shanin menyempatkan diri untuk membersihkan wajahnya di depan kaca dengan cairan pembersih make up, mengingat bahwa tadi siang dia sempat menggunakan make up walaupun tipis.
***
Kembali pada aktivitas nya sehari-hari, pagi ini Shanin sudah disibukkan dengan kegiatan memasak untuk sarapan dan juga bekalnya untuk makan siang nanti.
__ADS_1
"Duh, kok telur aku udah abis aja sih." Ucap Shanin saat perempuan itu baru saja membuka kulkas.
"Untungnya aja masih ada bakso sama sosis, nasi gorengnya gak usah pake telur aja deh." Ucap Shanin yang lagi-lagi ucapan itu dilayangkan untuk dirinya sendiri.
Tidak memakan waktu sampai tiga puluh menit, nasi goreng sederhana yang Shanin buat sudah matang, perempuan itu kemudian langsung meletakkan nasi goreng yang sudah matang itu ke dalam piringnya dan juga ke dalam kotak makan untuk bekal makan siangnya di kantor.
Selesai dengan kegiatan sarapannya, Shanin kemudian segera meraih tas selempang yang tadi sudah dia isi dengan kotak bekal dan perempuan itu juga meraih kunci motornya miliknya.
Di depan teras kontrakan, perempuan itu segera memakai sepatu kerjanya, tidak lupa juga untuk mengunci pintu kontrakan sebelum dirinya pergi dari sana.
Setelah semuanya selesai, Shanin langsung naik ke atas motor miliknya dan melajukan motor tersebut dengan kecepatan normal menuju ke arah kafe tempatnya bekerja.
Seperti pagi-pagi yang sebelumnya, tidak butuh waktu sampai tiga puluh menit untuk dirinya sampai di kafe tempat kerjanya itu, Shanin dapat melihat beberapa kendaraan milik karyawan yang lain sudah terparkir di sana.
"Pagii." Sapa Shanin saat perempuan itu baru saja masuk ke dalam kafe tersebut.
"Pagi Sha, semangat banget nih yang abis liburan." Balas Anna.
"Liburan dari mananya coba, cuma sehari doang."
Ucapan Shanin barusan ditanggapi dengan tawa kecil milik Anna.
"Eh, ini si Kila belum datang Ann?" Tanya Shanin saat perempuan itu tidak menemukan sosok Kila yang biasanya sudah berada di tempat kasir.
"Belum datang dia, kesiangan kayaknya, gak biasanya dia kayak gini." Jawab Anna.
"Hayoo, kalian ngomongin aku ya?" Ah sudah bisa ditebak ini suara milik siapa, tentu saja suara milik Kila.
Perempuan yang satu itu baru saja masuk ke dalam kafe sambil membawa tas jinjingan di tangannya.
"Kepedean banget, ngapain juga kita ngomongin kamu? Gak ada manfaatnya tau Kil." Balas Anna.
"Halah, sok-sokan gak ngaku, suara kalian kedengaran sampe luar tau."
"Ya bener aja deh Kil kalo mau bohong." Shanin membalas ucapan Kila barusan.
"Coba deh kamu keluar dulu Sha, biar aku yang ngomong sama Anna."
"Gak mau lah, ngapain juga."
Setelah mengatakan hal itu, Shanin melenggang pergi ke arah belakang untuk menyimpan tas selempang bawaannya di tempat biasa.
Ternyata Kila pun melakukan hal yang sama, teman kerja Shanin itu mengikuti Shanin dari belakang dan ikut menyimpan tas jinjingannya di sebelah tas selempang Shanin.
Setelah selesai meletakkan tas milik masing-masing, keduanya kemudian berjalan keluar dari area belakang, sebelum benar-benar keluar dari area belakang, Shanin menyempatkan dirinya untuk meraih lap yang biasanya dia gunakan untuk mengelap meja dan kaca dari tempatnya.
"Gimana Sha festival yang kamu datangin kemarin? Seru gak?" Tanya Kila dari arah meja kasir pada Shanin yang kini tengah mengelap meja.
"Seru, seru banget malah, aku juga ketemu sama teman aku yang lain." Jawab Shanin.
__ADS_1
"Ah jadi pengen ke festival juga deh, biasanya banyak cowok-cowok cakep tuh, bener kan Sha?"
"Eumm.. bener gak yah??" Shanin tidak langsung menjawab pertanyaan dari Kila barusan.
"Ya elah, tinggal bilang bener doang Sha."
"Bener sih Kil, tapi kemarin cowok-cowok gantengnya pada bawa gandengan semua." Ucap Shanin.
Ucapan yang dilayangkan oleh Shanin barusan membuat wajah Kila yang awalnya sumringah kini menjadi lesu setelah mengetahui jika lelaki-lelaki tampan itu dipastikan sudah memiliki pacar.
Melihat ekspresi wajah Kila saat ini membuat Shanin tidak tahan untuk tidak tertawa, memang sangat menyenangkan melihat Kila yang sedih seperti ini.
"Kenapa tuh anak?" Pertanyaan itu datang dari Anna yang baru selesai mengelap kaca jendela.
"Biasalah masalah cowok." Jawab Shanin.
"Sok-sokan sedih masalah cowok, kayak punya pacar aja kamu Kil." Bukannya memberi semangat, Anna justru semakin membuat Kila sedih.
"Kalian berdua liat aja nih ya, aku pasti bakalan dapet pacar yang gantengnya mirip Lee Minho." Ucap Kila dengan percaya dirinya.
Sedangkan kedua teman kerjanya yang mendengar hal itu hanya bisa mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh perempuan itu.
"Iya deh iya percaya." Ucap Anna sebelum perempuan itu melenggang pergi ke arah belakang.
"Tuh anak ngeselin banget sih Sha." Ucap Kila saat Anna sudah tidak terlihat lagi dari sana.
"Iya, kayak kamu." Balas Shanin dengan cepat.
"Kalian sama-sama ngeselin, bikin aku kesel terus tiap hari."
"Mending kamu ngaca dulu deh Kil sebelum bilang kayak gitu." Usul Shanin.
"Ngapain harus ngaca? Aku bosen liat wajah aku yang cantik paripurna ini." Balas Kila yang lagi-lagi mengeluarkan wajah percaya dirinya.
Sedangkan Shanin yang mendengar perkataan Kila barusan memasang wajah seakan-akan ingin muntah, perempuan itu memilih untuk tidak membalas perkataan Kila lagi, biarkan saja teman kerjanya itu merasa senang.
"Katanya cantik, tapi kok beluk punya pacar sih Kil?"
Itu bukan pertanyaan dari Shanin, melainkan dari Anna yang berjalan dari arah belakang, sepertinya perempuan itu mendengar apa yang dibicarakan oleh Shanin dan Kila barusan.
"Emangnya cewek cantik harus punya pacar? Aku nih lagi menjauh dari yang namanya dosa, nggak minat buat pacaran."
"Halah, bilang aja gak ada yang mau sama kamu." Balas Anna pedas.
Kila yang mendengar perkataan dari Anna barusan hanya memberikan tatapan mengancam pada teman kerjanya yang baru itu, sedangkan Shanin hanya melihat kelakuan kedua teman kerjanya saat ini, tidak berniat untuk bergabung.
Shanin memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi yaitu mengelap meja yang tampak berdebu agar cepat selesai dan dirinya dapat mengerjakan pekerjaan yang lainnya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1