Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 63


__ADS_3

Akhirnya setelah seharian bekerja, Shanin dapat menghela nafas lega karena jam kerjanya telah berakhir, hari ini perempuan itu hanya bekerja sampai sore saja. Shanin membenahi diri di belakang seperti biasanya, membereskan barang bawaannya untuk dia bawa pulang.


Perempuan itu melupakan sesuatu jika hari ini dia berangkat ke cafe tidak membawa motor sendiri, tetapi diantar oleh Samuel. "Kenapa aku bisa lupa kalo hari ini aku gak bawa motor, ini pulangnya pake apa dong." Ucap Shanin kepada dirinya sendiri.


Tangannya merogoh kembali ponsel miliknya yang tadi sudah sempat dia masukkan ke dalam tas, perempuan itu mencari kontak atas nama Samuel di sana. Setelah menemukannya, tanpa basa-basi lagi Shanin langsung menelpon lelaki tersebut.


"Aduhh mana sih Samuel gak diangkat-angkat telponnya." Perempuan itu mengoceh sebal karena panggilannya tidak kunjung diangkat oleh sang kekasih.


Perempuan itu kembali mencoba untuk menelpon Samuel, akhirnya di panggilan kedua telponnya diangkat oleh lelaki yang ada di seberang sana. "Halo sayang? Maaf tadi saya habis dari kamar mandi. Ada apa?" Belum sempat Shanin menyapa terlebih dahulu, lelaki diseberang sana sudah menyapanya duluan.


"Oh gitu, ini aku mau pulang dari cafe, tapi aku bingung pulangnya naik apa, halte bus kan lumayan jauh dari ini." Walaupun sebenernya Shanin merasa kesal karena telponnya baru diangkat, perempuan itu berusaha untuk berbicara seperti biasanya.


"Ya Tuhan saya lupa soal itu. Kerjaan saya di kantor masih banyak, kamu bisa pulang ke kantor saya saja? Kemungkinan sehabis magrib kerjaan saya selesai, setelah itu saya langsung antar kamu pulang ke kontrakan." Ucap Samuel panjang lebar.


"Jadi ini aku ke kantor kamu dulu nih?" Tanya Shanin memastikan.


"Iya sayang, kamu mau kan? Dari cafe kamu naik ojek online aja kesini." Balas Samuel.


"Tapi aku malu Sam, masa tiba-tiba aku datang ke sana?" Sebenernya Shanin bukan tidak ingin pergi ke kantor kekasihnya itu, tapi dirinya lagi-lagi merasa takut dengan pandangan orang-orang yang ada di kantor Samuel. Apalagi melihat penampilannya yang kusut seperti ini, bahkan dia masih menggunakan seragam kerjanya.


"Malu kenapa Sha? Gak ada yang bakalan berani ngantain kamu ini." Jawab lelaki itu dengan santainya.


"Kamu mana paham coba sama apa yang aku rasain, udahlah aku pulang sendiri aja, nanti naik ojek online ke halte." Ucap Shanin pada akhirnya.


"Jangan, saya minta maaf karena perkataan saya barusan. Kamu tunggu disitu sebentar, saya ke sana, setelah itu kita ke kantor saya bersama."


"Nggak usah deh Sam, kerjaan kamu kan masih banyak, mending kamu lanjut kerjain aja, aku masih bisa pulang sendiri kok, beneran."


"Nurut apa kata saya, kamu tunggu di sana, ini saya sudah akan berangkat."


"Tapi Sam-" Belum sempat Shanin melanjutkan perkataannya, panggilan keduanya sudah terputus secara sepihak.


Shanin kemudian mencoba untuk menelpon kembali kekasihnya itu tapi ponsel milik sang kekasih malah tidak dapat dihubungi, pasti lelaki itu sengaja menonaktifkan ponsel miliknya. Dengan raut wajah yang kesal Shanin berjalan ke arah parkiran cafe untuk menunggu Samuel di sana.


Tidak sampai sepuluh menit perempuan itu menunggu kedatangan sang kekasih, mata milik Shanin sudah menangkap kedatangan mobil hitam milik Samuel itu melaju ke area parkir cafe miliknya bekerja. Setelah mobil hitam itu berhenti, Shanin segera menghampirinya, di saat perempuan itu mendekat ke arah mobil, si pemilik mobil keluar dari dalam mobil itu, berniat untuk menghampiri si perempuan.


"Kenapa sihh Sam telpon aku langsung kamu matiin, aku belum selesai ngomong juga." Oceh Shanin saat kekasihnya baru saja sampai di hadapannya.


"Udah dulu marah-marahnya, saya minta maaf. Kalau panggilan tadi tidak saya matikan, pasti kamu akan terus melarang saya untuk datang kesini." Jelas lelaki itu.


"Emang iya sih, tapi tetep aja aku kesel sama kamu."


"Keselnya disimpan buat nanti-nanti, sekarang ayo naik ke mobil, kita ke kantor saya dulu, masih ada yang mesti dikerjakan di sana." Ajak Samuel kepada Shanin untuk berjalan dan masuk ke dalam mobil miliknya.


Dengan penuh perhatian Samuel membukakan pintu penumpang untuk kekasihnya yang tengah dilanda rasa kesal, setelah Shanin berhasil masuk ke dalam mobil, lelaki itu berlari kecil ke sisi lain untuk masuk ke dalam mobil di kursi pengemudi.


"Udah tau di kantor kamu masih ada kerjaan, kenapa nggak kamu kerjain aja? Aku kan udah bilang kalo aku bisa buat pulang sendiri." Shanin lanjut mengoceh sambil memasang sabuk pengaman ke tubuhnya.


"Kalo kamu pulang naik bus jam segini, pasti busnya sumpek banget sayang sama orang-orang yang baru pulang kerja juga." Samuel berusaha untuk menjelaskan kepada Shanin.


"Lagipula saya senang melakukan ini, saya ingin pulang bersama dengan kamu." Lanjut lelaki itu yang mulai melajukan mobil miliknya meninggalkan kawasan cafe tempat Shanin bekerja.


"Tapi aku malu Sam datang ke kantor kamu dengan tampilan yang kayak gini." Ucap Shanin sambil kembali memperhatikan penampilan dirinya.


"Di jok belakang ada jas milik saya, kamu bisa pakai itu jika kamu masih malu." Balas Samuel.


"Nanti yang ada jas kamu malah kotor aku pake."


"Tinggal dicuci sayang, lagipula kamu gak ada kotor-kotornya sama sekali kok menurut saya."


"Iya deh terserah kamu aja, di kantor kamu banyak orang nggak?" Tanya Shanin penasaran.


"Namanya juga kantor, ya pasti banyak orang Sha." Jawab Samuel seadanya.


"Emang bener sih, tapi maksud aku tuh, karyawan kamu masih banyak yang di kantor?"


"Tidak sebanyak saat siang, sudah ada sebagian yang pulang."

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Samuel membuat Shanin dapat sedikit bernafas lega, setidaknya kantor Samuel tidak seramai biasanya karena beberapa karyawan sudah ada yang pulang.


Mobil hitam milik Samuel mulai memasuki area perkantoran lelaki itu, mobil hitam itu kemudian masuk ke dalam parkiran bawah tanah tempat biasanya mobil itu terparkir.


Sebelum sepasang kekasih itu turun dari mobil, Samuel menyempatkan diri untuk meraih jas miliknya yang ada di jok belakang seperti yang dia katakan tadi dan kemudian langsung memberikannya kepada Shanin.


"Ini pake, katanya tadi malu." Ucap Samuel sambil menyerahkan jas warna hitam yang barusan dia ambil dari jok belakang mobilnya.


"Iya-iya ini aku pake." Balas Shanin sambil meraih jas hitam yang tadi diserahkan oleh kekasihnya itu.


"Kegedean tau Sam." Ucap Shanin saat dirinya sudah berhasil memakai jas tadi.


"Tidak apa-apa, masih terlihat bagus di kamu. Nanti kalo sudah di ruangan saya lepas saja jika tidak nyaman." Balas Samuel sebelum keduanya keluar dari dalam mobil.


Shanin melirik ke sekitar saat keduanya sudah keluar dari dalam mobil, parkiran bawah tanah benar-benar sepi, mungkin hanya mereka berdua yang berada disini.


"Ayo." Ajak Samuel yang langsung menggenggam tangan milik sang kekasih agar mengikuti langkahnya menuju ke arah lift.


Jujur saja Shanin masih merasa gugup saat lelaki itu menggenggam tangannya, mungkin karena belum terbiasa dengan hal itu. Sepasang kekasih itupun masuk ke dalam lift dan Samuel langsung menekan tombol menuju ke lantai tujuh karena memang ruangan miliknya ada di lantai itu.


"Ruangan kamu di lantai tujuh Sam?" Tanya Shanin memastikan.


"Iya sayang, memangnya kenapa?"


"Nggak ada apa-apa, aku cuma nanya aja. Emangnya kamu gak takut apa kalo nanti tiba-tiba ada gempa?" Shanin kembali bertanya karena rasa penasarannya.


"Memangnya siapa yang tidak takut dengan bencana alam? Pasti takut Sha, mangkanya banyak-banyak doa saja." Jawab lelaki itu sambil kembali mengeratkan genggaman tangannya pada tangan sang kekasih.


Shanin hanya menganggukkan kepalanya setuju, benar juga apa yang dikatakan oleh lelaki itu. Tidak lama setelahnya lift berhenti di lantai tiga, ternyata ada dua orang karyawan yang masuk ke dalam lift, hal itu tentu saja membuat Shanin menjadi gugup, perempuan itu semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Samuel, Samuel yang mengerti keadaan Shanin saat ini pun berusaha memberikan ketenangan pada perempuan itu dengan cara mengelus punggung tangan milik Shanin.


"Selamat sore Pak." Sapa salah satu karyawan tadi dengan senyuman pada Samuel.


"Sore." Balas Samuel seadanya disertai dengan senyum tipis.


Lift kembali tertutup dan kembali bergerak membawa keempat orang yang ada di dalamnya untuk naik ke lantai atas, Shanin merasakan bahwa dua orang karyawan tadi sesekali mencuri pandang kepadanya, yang membuat perempuan itu semakin gugup.


"Kami berdua duluan Pak Samuel." Pamit salah satu karyawan Samuel, sambil melirik ke arah Shanin dengan senyum ramah yang terukir di wajah karyawan itu.


Samuel pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, kemudian lelaki itu melirik ke arah Shanin yang sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya.


"Sudah tidak apa-apa, kamu lihat sendiri kan mereka bersikap baik sama kamu." Ucap Samuel kepada Shanin yang ada di sampingnya.


"Tetep aja Sam, pasti mereka bingung aku ini siapa, kok bisa-bisanya gandengan sama bosnya." Balas Shanin.


"Tidak perlu dipikirkan, mereka tidak seperti itu."


Setelahnya lift itu berhenti di lantai tujuh, lantai yang keduanya tuju, yaitu lantai dimana ruangan milik Samuel berada. Sepasang kekasih itu berjalan beriringan keluar dari dalam lift sambil berpegangan tangan.


"Ruangan kamu yang mana Sam?" Tanya Shanin sambil menolehkan kepalanya kepada sang kekasih.


"Itu di pojok sana." Balas Samuel sambil menunjukan ruangannya yang memang berada di ujung lantai ini.


Samuel pun berjalan selangkah di depan perempuan itu dengan tangan keduanya yang masih bertautan dan kemudian berhenti di salah satu ruangan yang tadi ditunjukkan olehnya.


Lelaki itu membuka pintu tinggi tersebut dan mempersilahkan Shanin untuk masuk terlebih dahulu. Saat kakinya menginjak lantai ruangan kerja milik Samuel, Shanin dibuat terkagum-kagum dengan interior yang ada di dalam ruangan. Benar-benar terlihat mewah, didominasi oleh warna abu-abu dan juga putih, sangat cocok dengan Samuel.


"Duduk dulu Sha, gak capek apa kamu abis kerja seharian?" Samuel bertanya sambil mempersilahkan kekasihnya itu untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.


Shanin pun menuruti perintah Samuel untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. "Ruangan kerja kamu bagus banget Sam, enak dipandangnya, rapih." Ucap Shanin jujur tentang tampilan ruangan kerja milik sang kekasih sambil menatap ke sekeliling ruangan tersebut.


Samuel yang mendengar itupun hanya terkekeh, lelaki itu memilih untuk berjalan ke arah meja kerjanya dan meraih telpon kantor yang ada di sana. "Kamu mau minum apa Sha? Biar saya suruh OB bikinin minuman buat kamu." Tanya Samuel pada Shanin.


"Nggak usah deh Sam, aku gak begitu haus juga." Jawab Shanin dengan tidak enak.


"Jangan bohong kayak gitu, bilang aja mau minum apa, jangan sungkan-sungkan Sha." Ucap lelaki itu.


"Eum teh anget aja deh, jangan yang manis ya. Soalnya aku ngerasa tenggorokan aku agak sakit." Balas Shanin kepada sang kekasih.

__ADS_1


Balasan Shanin itu ditanggapi dengan beberapa kali anggukan oleh Samuel dan kemudian lelaki itu menelpon OB yang ada di kantornya untuk membuatkan minuman untuk Shanin.


"Tenggorokan kamu sakit dari kapan?" Tanya lelaki itu sambil berjalan mendekat ke arah Shanin dan ikut duduk di sofa di samping perempuan itu setelah dirinya baru saja menelpon OB.


"Baru hari ini aja, nggak kenapa-kenapa kok, mungkin aku kurang minum air aja." Shanin menjelaskan keadaannya kepada Samuel.


"Nanti kamu istirahat disini saja ya, saya akan mengerjakan sesuatu di meja kerja saya." Ucap Samuel sambil mengusap lembut punggung sang kekasih.


"Iya Sam, udah kamu sana ke meja kamu, biar cepet selesai kerjaannya, aku nggak kenapa-kenapa kok." Balas Shanin.


Samuel kemudian mengangguk dan mulai berjalan ke arah meja kerjanya, duduk di kursi yang ada di sana, mulai mengerjakan sesuatu yang ada di laptopnya. Tidak lama dari itu pintu ruang kerjanya ada yang mengetuk, pasti OB yang akan mengantarkan minuman untuk Shanin.


"Masuk." Ucap Samuel menanggapi suara ketukan pintu itu.


Pintu ruangan kerja Samuel terbuka dan nampaknya seorang lelaki yang membawa nampan berisi secangkir teh yang kemudian berjalan masuk, hendak mendekat ke arah meja Samuel, tetapi lelaki itu menahannya.


"Tehnya letakkan saja di meja yang ada di dekat sofa, itu bukan untuk saya." Ucap Samuel menahan OB itu yang hendak menaruh secangkir teh di mejanya.


"Baik Pak." Jawab OB tersebut kemudian berjalan ke arah sofa tempat Shanin duduk di sana.


OB itu meletakkan secangkir teh ke atas meja yang ada di dekat sofa sambil tersenyum ramah ke arah Shanin yang sedang duduk di sofa sana, Shanin pun membalas senyuman itu dengan senyuman canggung karena dirinya lagi-lagi kembali menjadi gugup.


"Ada lagi yang bisa saya bantu Pak?" Tanya sang OB kepada Samuel setelah dirinya selesai meletakkan secangkir teh tadi di atas meja.


"Tidak ada, kamu sudah bisa keluar." Balas Samuel.


"Kalo gitu saya permisi Pak, Bu." Pamit OB tersebut kepada Samuel dan juga Shanin.


Setelah OB itu keluar, ruang kerja milik Samuel menjadi hening karena memang Samuel sedang fokus dengan pekerjaannya, sedangkan Shanin sedang membuka aplikasi media sosial di ponsel miliknya.


Bosen dengan posisi duduk, Shanin berpikir untuk rebahan di atas sofa itu, tapi dia sedikit ragu, takut-takut Samuel tidak memperbolehkannya melakukan itu, padahal tubuhnya merasa sangat pegal ingin rebahan.


"Sam?" Shanin memanggil Samuel untuk meminta izin.


"Hm? Kenapa sayang?" Samuel menanggapi panggilan dari Shanin dengan mata yang masih terfokus pada laptop yang ada di hadapannya.


"Eumm aku boleh gak rebahan di sofa kamu ini?" Tanya Shanin dengan ragu-ragu.


Samuel yang mendengar pertanyaan dari sang kekasih pun langsung menolehkan kepalanya dengan kening berkerut heran. "Kenapa mesti tanya dulu? Kamu mau tiduran atau gimana pun disitu gak bakalan ada yang ngelarang sayang."


"Ya aku izin dulu aja ke kamu, siapa tau kamu gak ngebolehin."


"Boleh Sha, udah kamu tiduran aja disitu. Ini bentar lagi kerjaan saya selesai, setelah itu kita pulang." Ucap Samuel.


"Oh iya, sebelum pulang ke kontrakan kamu, kita mampir ke restoran dulu ya buat makan malem." Lanjutnya.


"Iya, aku ikut apa kata kamu aja." Balas Shanin yang kini mulai merebahkan dirinya di atas sofa setelah mendapatkan izin dari Samuel untuk melakukan hal itu.


Benar apa kata Samuel sebelumnya, tidak lama dari itu pekerjaannya sudah selesai, lelaki itu langsung membereskan meja kerjanya dan melirik ke arah sofa tempat Shanin berbaring, perempuan itu ternyata sudah tertidur, Samuel hanya tersenyum melihatnya.


Kemudian lelaki itu membawa langsung kakinya menuju ke arah sofa, terlihat Shanin yang tengah tertidur dengan tenang di sana.


"Sayang, ayo bangun. Kita pulang." Ucap Samuel dengan lembut sambil berusaha membangunkan sang kekasih dari tidurnya.


Shanin yang merasa tidurnya terganggu pun mulai menggeliatkan tubuhnya, matanya terbuka menyesuaikan cahaya dari lampu ruangan yang masuk. "Eumm Sam, jam berapa sekarang?" Tanya Shanin sambil berusaha untuk bangun dari tidurnya.


"Baru jam enam lewat, ayo kita pulang. Kamu mau cuci muka dulu?" Tanya Samuel.


Perempuan itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Nggak, tapi nanti di jalan mampir ke masjid ya? Aku mau sholat magrib dulu." Pinta Shanin kepada Samuel.


"Iya Sha, nanti kita cari tempat makan yang deket sama masjid aja ya." Balas Samuel.


Shanin pun beranjak dari duduknya, meraih tangan Samuel untuk dirinya genggaman yang kemudian keduanya berjalan keluar dari dalam ruangan itu. Sepertinya di lantai tujuh hanya tersisa mereka berdua saja, karena Shanin tidak merasakan ada kehidupan lain di sana.


Keduanya masuk ke dalam lift untuk turun ke parkiran bawah tanah, dimana mobil hitam milik Samuel terparkir di sana. Di dalam lift tautan tangan kedua manusia yang baru sehari menyandang status sebagai sepasang kekasih itu tidak terlepas sedikitpun, malah keduanya semakin mengeratkan genggaman tersebut sampai lift itu berhenti.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2