
Walaupun jarum jam sudah ke angka sembilan malam dan ini adalah waktunya Shanin pulang ke rumah, tapi perempuan itu memilih untuk mampir sebentar ke minimarket yang ada di depan kafe tempatnya bekerja.
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh perempuan itu semalam jika dirinya harus mencari cemilan atau makanan apapun itu untuk menemaninya bekerja atau menonton serial anime kesukaannya di kontrakan.
Tidak banyak makanan yang dia beli, hanya secukupnya saja mengingat bahwa dirinya belum gajian dan mungkin saja uangnya hanya akan cukup sampai akhir bulan nanti.
"Makasih Mba." Ucap Shanin setelah menerima uang kembalian dari sang kasir minimarket itu.
Karena sudah menemukan apa yang dia butuhkan, perempuan itu kemudian berjalan keluar dari dalam minimarket menuju ke arah sepeda motornya yang terparkir di depan minimarket tadi.
Shanin mengaitkan plastik kantong yang berisi belanjaannya tadi di depan motor, kemudian tidak lupa untuk memakai helm di kepalanya. Setelah semuanya siap, perempuan itu kemudian langsung melajukan sepeda motor miliknya, membelah jalanan kota yang masih dapat terbilang ramai walaupun sudah malam.
Sepertinya biasanya, hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk perempuan itu sampai di kontrakan miliknya, saat sampai di kontrakan, Shanin langsung masuk ke dalam kontrakan tersebut dengan menjinjing sebuah kantong plastik yang berisi belanjaan miliknya tadi.
Tring.. tring.. tring..
Ponsel milik Shanin yang tadi sempat dia kembalikan dari mode senyap berbunyi, menandakan ada seseorang yang menelpon ke nomornya.
Saat perempuan itu melihat siapa si penelpon, nama Samuel tertera disana dan Shanin pun langsung mengangkatnya.
"Halo Sam? Ada apa?" Tanya Shanin tanpa basa-basi lagi.
"Kamu sudah sampai rumah?"
"Ini aku baru aja sampe, ada apa emangnya?"
"Tidak apa-apa, saya hanya ingin tau apakah kamu sudah pulang kerja atau belum." Balas Samuel dari seberang sana.
"Udah kok, ada lagi yang mau kamu omongin?"
"Oh iya, dan satu lagi, saya tau kamu baru sampai ke kontrakan, jadi malam ini jangan kerjakan dulu pekerjaan kamu yang saya berikan, cukup istirahat saja." Jelas Samuel dengan panjang lebar dari seberang sana
__ADS_1
Shanin mengerutkan keningnya kebingungan, baru kali ini mendapati atasan yang menyuruhnya untuk menunda-nunda pekerjaan, tapi walaupun sedikit aneh, Shanin menerima itu dengan senang hati karena memang dirinya merasa lelah setelah seharian bekerja.
"Gapapa nih Sam? Aku masih sanggup kok buat kerjain itu malam ini." Shanin berucap dengan tidak enak, ini semua hanya akting dirinya semata.
"Tidak apa-apa, daripada nanti kamu sakit dan tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang saya berikan malah semakin runyam." Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Samuel.
Shanin menganggukan kepalanya setuju walaupun anggukan kepala itu tidak mungkin terlihat oleh Samuel.
"Ya udah deh, nanti besok aja aku lanjutin pekerjaannya, itu pun kalo sempet, soalnya besok aku pulang malem lagi." Ucap Shanin.
"Kamu yakin tidak ingin menerima tawaran saya untuk bekerja di perusahaan saya?"
"Kan aku udah kerja di perusahaan kamu Sam."
"Maksud saya kamu benar-benar kerja di kantor saya dan berhenti kerja di kafe."
"Aku gak bisa, aku udah terlanjur nyaman sama lingkungan kerja aku yang sekarang dan juga belum tentu nantinya aku bisa beradaptasi di lingkungan kerja yang baru, belum lagi pastinya nanti latar belakang aku bener-bener berbeda sama mereka yang kerja di kantoran." Jelas Shanin panjang lebar berharap Samuel mengerti dengan apa yang dia katakan.
"Saya yakin kamu juga dapat beradaptasi dengan baik di perusahaan saya, banyak juga karyawan yang seumuran dengan kamu atau teman-teman kamu sebelumnya." Ah rupanya Samuel masih berusaha untuk terus merujuk Shanin.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"
"Aku tau kalo kerja di tempat kayak gitu tuh seenggaknya minimal lulusan S1, sedangkan aku cuma lulusan SMA, yang ada karyawan yang lainnya bakalan aneh liat aku disana." Jelas Shanin.
"Jadi kamu khawatir tentang hal itu? Saya sanggup buat biayain kuliah kamu dan saya juga tau kalo kuliah itu keinginan kamu dari dulu, asalkan sambil kuliah kamu bekerja di perusahaan saya."
Tunggu, kenapa Samuel tau tentang harapan Shanin yang satu ini? Seingat perempuan itu dia tidak pernah cerita pada siapapun tentang ini.
"Kamu gak perlu repot-repot kayak gitu Sam, lagipula kita gak punya hubungan apapun, cuma sebatas saling kenal."
"Yang kamu bilang memang benar, tapi kalau saya seperti ini sebagai tanda balas budi sama kamu gimana?"
__ADS_1
"Balas budi buat apa? Yang aku nolong kamu pas itu? Lupain aja soal itu, aku udah ikhlas kok bantu kamu dan gak berharap dapet imbalan apapun."
"Saya tau kamu ikhlas soal itu, tapi izinkan saya untuk membalas semua kebaikan kamu terhadap saya dengan cara apapun itu."
"Nggak Sam, aku udah bilang kalo aku ikhlas nolong kamu pas itu dan gak berharap buat dapat imbalan."
"Shanin, saya tau kuliah adalah harapan kamu dari dulu, dan saya berniat untuk mewujudkan harapan kamu itu."
"Kenapa kamu bertindak sampe segininya sih Sam?" Akhirnya pertanyaan yang sedari tadi ada di kepala Shanin dikeluarkan oleh perempuan itu.
Setelah Shanin mengatakan hal itu, Samuel yang ada di seberang sana tidak menjawabnya tapi panggilan itu belum terputus membuat Shanin bingung.
"Karena saya suka sama kamu."
Tentu saja lima kata yang Shanin dengar barusan, yang di ucapkan oleh Samuel dari seberang sana mampu membuat Shanin terdiam seketika.
Samuel menyukainya? Bagaimana bisa? Kira-kira itulah pertanyaan yang kini ada di dalam kepala Shanin, perempuan itu masih belum mengeluarkan suara apapun untuk merespon apa yang dikatakan oleh Samuel.
"Mungkin lebih tepatnya saya jatuh cinta sama kamu." Sambung Samuel dari seberang sana.
"Sam ini udah malem, kayaknya juga kamu udah ngantuk mangkanya ngelantur kayak gini. Teleponnya aku tutup ya." Ucap Shanin.
"Saya serius Shanin, saya sepenuhnya sadar dengan apa yang saya ucapkan tadi. Besok saya akan ke kafe dan mengatakannya langsung sama kamu."
"Kamu kayaknya mabuk deh Sam, udah ya teleponnya aku tutup."
Tanpa menunggu balasan dari seberang sana, Shanin langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak. Perempuan itu tidak tau lagi harus bereaksi seperti apa, Samuel baru saja menyatakan perasaan lelaki itu pada dirinya?
Shanin menghela nafas gusar, entah kenapa jantungnya berpacu dengan lebih cepat dari yang sebelumnya, seumur hidupnya baru kali ini dirinya menerima pernyataan cinta dari seseorang.
Dan orang itu adalah Samuel, benar-benar diluar ekspektasi Shanin, bahkan dirinya tidak pernah terpikir sekalipun tentang hal ini. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering dan membutuhkan minuman, untungnya saja di minimarket tadi Shanin sempat membeli dua botol minuman dingin.
__ADS_1
Shanin kemudian langsung mencari minuman tersebut yang tadi dia simpan di dalam kantong plastik belanjaan, setelah menemukan apa yang dia cari, perempuan itu langsung meminum minuman tersebut untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
BERSAMBUNG.