
Hari ini Shanin dengan semangat mengerjakan pekerjaannya di kafe hari ini, alasannya tentu saja karena besok dia akan libur.
"Besok kamu libur ya? Mau kemana aja, Sha?" Tanya Kila saat keduanya kini tengah duduk di kursi yang ada di depan meja kasir.
"Kemarin sih temen aku ajak aku ke festival, tapi gak tau juga ya, aku belum tanya lagi ke dia." Balas Shanin sambil meminum air mineralnya.
"Temen apa temen?" Kila menggoda.
"Beneran temen kok, Gita namanya, dia temen kerja aku di tempat yang sebelumnya."
"Ohh, aku kira sama temen kamu yang tadi pagi."
"Gak lah!" Balas Shanin dengan cepat.
"Santai aja dong, Sha. Lagipula aku kan cuma tanya, tadi katanya mau pergi ke festival ya? Festival dimana?"
"Kemarin sih dia bilangnya kalo festival itu ada di kampusnya, tapi terbuka buat umum juga kok."
"Ohh temen kamu anak kuliahan ternyata, seumuran sama kamu?"
Shanin baru saja sekarang jika teman kerjanya ini memang serba ingin tau dan banyak bertanya.
"Lebih tua satu tahun dari aku, kayaknya seumuran sama kamu deh."
"Iya sih kalo cuma beda satu tahun dari kamu ya sama kayak aku."
Keduanya sama-sama kembali terdiam, Shanin menghabiskan sisa air mineral yang ada di botolnya dan kemudian beranjak dari duduknya saat melihat dua orang pelanggan baru saja masuk ke dalam kafe.
"Aku ke sana dulu ya, Kil." Pamit Shanin sebelum dirinya benar-benar meninggalkan tempat kasir.
Shanin pun kembali pada pekerjaannya yaitu melayani pelanggan yang datang, mulai dari menyerahkan menu, mencatat pesanan dan mengantarkannya ke meja si pelanggan, selalu seperti itu.
Saat dirinya tengah menunggu pesanan milik pelanggan selesai disajikan oleh juru masak, tiba-tiba ponsel miliknya yang ada di dalam saku celana bergetar.
Ponsel miliknya sengaja dia matikan suaranya agar tidak menggangu kegiatannya, perempuan itu hanya mengatur agar ponselnya bergetar saja.
Saat perempuan itu merogoh ponsel miliknya yang ada di dalam saku celana dan melihat siapa yang menelepon dirinya di jam kerja seperti ini, nama Gita tertera disana.
"Halo, Git? Ada apa?"
"Halo Sha, jadi gimana? Kamu bisa gak hari minggu ikut aku?" Ah ternyata perempuan itu ingin menanyakan tentang ajakan ke festival kemarin.
"Jadi, besok aku bisa libur, jadinya mau jam berapa?"
"Festivalnya mulai jam tiga sore, kita ke sananya pas setengah empat aja ya biar gak terlalu awal."
"Oke kalo gitu, aku yan-
Ting!!
Baru saja Shanin akan melanjutkan perkataannya, tiba-tiba lonceng dari arah juru masak berbunyi menandakan bahwa pesanan telah selesai dan siap diantarkan.
"Git, nanti aku chat aja ya. Aku masih di jam kerja soalnya, bye bye!"
"Ok-
Tanpa menunggu Gita yang ada di seberang sana menyelesaikan perkataannya, Shanin sudah terlebih dahulu memutuskan panggilan dan perempuan itu langsung kembali memasukan ponsel miliknya ke dalam saku celana.
Shanin kemudian langsung meraih sebuah nampan yang ada di depannya dan membawanya ke arah meja yang ditempati oleh pelanggan yang memesan tadi.
"Silahkan dinikmati." Ucap Shanin dengan ramah sambil tersenyum manis saat dirinya baru saja menaruh pesanan pelanggan tadi di atas meja.
Setelah selesai mengantarkan pesanan, Shanin kembali membawa nampan yang kini sudah kosong ke arah tempat juru masak agar dapat kembali digunakan.
Perempuan itu dapat bekerja lebih santai semenjak kedatangan Anna di kafe ini, mereka berdua berbagi tugas sehingga tidak terlalu melelahkan untuk keduanya.
__ADS_1
"Sha, kalo ada yang datang lagi, kamu layani dulu ya, aku mau ke kamar mandi." Ucap Anna saat perempuan itu baru saja sampai si hadapannya Shanin.
"Iya udah sana, nanti aku yang layani kalo ada pelanggan datang."
Mendengar persetujuan dari Shanin, Anna pun langsung melenggang pergi dari hadapan perempuan itu menuju ke arah belakang tempat dimana kamar mandi berada.
Tidak lama setelah kepergian Anna dari hadapan Shanin yang izin pergi ke kamar mandi, ada pelanggan baru yang masuk ke dalam kafe.
Shanin kemudian segera kembali meraih buku menu yang sempat dia taruh di atas meja tadi dan langsung berjalan ke arah pelanggan yang baru masuk barusan dengan buku menu yang ada di tangannya.
"Selamat siang, ini buku menunya." Sapa Shanin ramah sambil menyerahkan buku menu kepada pelanggan tadi.
Perempuan itu pun dengan setia berdiri di samping meja tempat dimana pelanggan tadi duduk, menunggu pelanggan itu memberitahu pesanan apa yang dia inginkan dan langsung dicatat oleh Shanin.
Setelah si pelanggan selesai menyebutkan pesanan apa saya yang dia ingin dan Shanin pun sudah selesai dengan kegiatan mencatat pesanannya di buku catatan kecilnya.
"Baiklah, kalau begitu pesanannya bisa ditunggu sebentar."
Ucap Shanin sambil sedikit membungkukkan badannya dan kemudian melenggang pergi dari meja pelanggan itu menuju ke arah juru masak berada.
***
Sedangkan di lain tempat, seorang lelaki yang sedang duduk di kursi kerjanya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sambil memejamkan matanya.
Dia adalah Samuel, lelaki itu merasa kantuk karena jujur saja semalam dia tidak dapat tertidur dengan nyenyak karena hatinya yang tidak karuan akibat tidur di kasur yang sama dengan Shanin.
Padahal sebelumnya saat beberapa hari dia tinggal bersama dengan perempuan itu tidak pernah merasakan debaran seperti ini.
Saat dirinya yang sedang memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu ruangan miliknya dari luar dan tidak lama dari itu pintu tersebut terbuka.
Tampak perawakan tinggi ramping milik Freya, sekretaris pribadi Samuel sedang berdiri di ambang pintu sana dengan tangan yang membawa beberapa map yang berisi berkas-berkas.
"Permisi, pak."
Mendengar suara itu membuat Samuel membuka matanya dan menatap ke arah sumber suara sambil mengangkat salah satu alisnya bertanya.
"Ada lagi?"
"Eumm.. saya juga ingin membicarakan soal rencana rancangan kita untuk musim depan."
Mendengar perkataan itu, Samuel seakan memberi isyarat pada sekretaris pribadinya itu untuk melanjutkan perkataannya.
"Sampai saat ini belum ada perkembangan yang menonjol dari bagian desain untuk rancangan itu, mereka sama sekali merasa terbantu dengan kedatangan pegawai baru yang kita rekrut beberapa hari yang lalu." Jelas sang sekretaris pada sang atasan.
Samuel menghela nafasnya kasar setelah mendengar penjelasan dari sekretarisnya, kepalanya serasa ingin pecah sekarang ini, harus kemana lagi dirinya mencari seorang desainer baru yang dapat menggebrak rancangan perusahaannya untuk musim yang akan datang?
"Baiklah, terimakasih atas penjelasannya. Nanti saya akan mencoba untuk mencari orang baru yang benar-benar bisa berpartisipasi dalam rancangan musim depan, kamu bisa keluar sekarang." Ucap Samuel.
Mendengar perintah dari atasannya yang menyuruh dirinya keluar, sang sekretaris pun langsung melenggang pergi dari sana tidak lupa untuk mengucapkan kata permisi.
Entah mendapatkan bisikan dari mana, Samuel langsung meraih ponsel pintar miliknya yang sedari tadi tergeletak di atas meja dan langsung mencari nama Shanin di kontaknya.
"Aku kan udah bilang Git kalo ak-
"Saya Samuel." Ucap lelaki itu sebelum perempuan yang ada di seberangnya bicara lebih banyak.
"O-oh Samuel, aku kira tadi Gita. Ada apa telepon aku? Aku masih ada di jam kerja, jadi gak bisa lama-lama pegang handphone."
"Bisa kita ketemuan sore ini?" Tanya Samuel tanpa basa-basi lagi.
"Ketemuan? Mau ngapain? Kita kan baru ketemu tadi pagi, aku gak bisa, hari ini aku kerja sampe malem." Balas Shanin di seberang sana.
"Ada yang ingin saya bicarakan."
"Di telepon aja gak bisa?"
__ADS_1
"Tidak akan nyaman jika di ceritakan lewat telepon, biar saya yang ke kafe tempat kamu kerja aja."
"Eh? Gak usah lah, nanti kita ketemu malem aja."
"Malam kamu harus segera pulang, biar saya yang kesana sekarang."
"Kalo gitu ke sini nya jangan sekarang, aku masih banyak kerjaan yang harus diurus, nanti sore aja."
"Ya sudah kalau begitu nanti sore saya kesana." Ucap Samuel final.
"Oke, aku tunggu, teleponnya aku tutup ya, ada pelanggan yang harus aku layani."
Belum sempat Samuel membalas perkataan perempuan itu, sambungan keduanya sudah terputus dari sebelah pihak, Shanin lah yang memutuskannya.
Setelah panggilan kedua terputus, Samuel langsung meraih bolpoin miliknya dan mulai mengeluarkan satu persatu berkas-berkas yang diberikan sekretaris pribadinya tadi dan mulai menandatanganinya satu persatu.
Lain halnya dengan Shanin yang berada di kafe, perempuan itu sedari tadi sibuk berbolak-balik bersama dengan Anna yang sama juga sibuknya melayani beberapa pelanggan siang ini.
"Baiklah, pesanannya bisa ditunggu sebentar mas." Ucap Shanin sebelum dirinya melenggang pergi dari hadapan pelanggan itu menuju ke arah juru masak.
Dirinya kemudian menyerahkan selembar kertas yang berisi catatan pesanan pelanggan seperti biasanya.
"Pelanggan hari ini rame banget ya, Sha." Ucap Anna saat keduanya kini sedang menunggu pesanan siap untuk diantarkan.
"Iya, selama aku kerja disini kayaknya gak pernah se rame ini." Balas Shanin sambil mengibas-kibaskan tangannya pada wajahnya karena kegerahan.
"Sama, pas di tempat kerja aku sebelumnya juga gak pernah se rame ini."
"Kalo tiap hari kayak gini, remuk semua tulang aku." Ucap Shanin.
Ucapan Shanin itu dibalas dengan tawa kecil oleh Anna dan tidak lama dari ini pesanan yang harus Anna antar sudah siap, maka dari itu perempuan itu langsung membawa nampan yang berisi pesanan pelanggan tadi ke arah meja si pelanggan.
Namun, tidak lama dari itu juga pesanan yang harus diantar oleh Shanin harus diantar juga kepada si pelanggan, maka dari itu perempuan itu pun langsung mengambil pesanan tersebut.
Setelah selesai mengantarkan pesanan tersebut, Shanin kembali lagi ke tempat yang dekat dengan juru masak, disana terdapat sebuah kursi untuknya duduk.
Baru saja dirinya duduk di atas kursi tersebut tiba-tiba ponsel yang ada di dalam saku celananya kembali berbunyi tanda ada seseorang di seberang sana yang memanggilnya.
"Halo?"
"Halo Sha, kamu masih kerja?"
"Masih Git, tapi sekarang lumayan lagi senggang." Ternyata yang menelponnya adalah Gita, teman kerjanya dulu.
"Ohh gitu, tadi aku belum selesai ngomong, kamu udah tutup aja teleponnya." Ucap Gita di seberang sana.
"Ya maaf tadi kan aku lagi sibuk-sibuknya, Git."
"Santai aja kali Sha, aku cuma becanda."
"Iya-iya, aku masih harus kerja nih, tadi kamu mau bilang apa?"
"Tadi kan kamu yang mau bilang sesuatu sama aku."
"Mau bilang apa yang aku tadi? Bentar aku coba ingat-ingat dulu."
Shanin mencoba untuk mengingat kembali apa yang akan dia katakan pada Gita ketika sedang telponan beberapa waktu yang lalu.
"Ohh itu, aku mau tanya siapa yang mau bawa motor? Aku atau kamu?"
"Eumm.. kamu aja deh, jemput ke rumah aku ya?"
"Oke-oke, nanti aku yang jemput ke rumah kamu. Teleponnya aku tutup ya? Aku masih kerja soalnya."
"Iya udah, bye bye! Semangat kerjanya Sha."
__ADS_1
Setelah itu panggilan keduanya terputus dan Shanin langsung beranjak dari tempat duduknya saat melihat seorang pelanggan yang baru saja masuk ke dalam kafe.
BERSAMBUNG.