
Daniel yang tadi sempat datang ke kafe tempat Shanin bekerja kini sudah pergi dari sana, Shanin sempat mengobrol dengan lelaki itu sebentar saat dirinya mengantarkan pesanan milik lelaki itu karena Anna yang seharusnya mengantarkan pesanan tersebut malah pergi ke kamar mandi.
Hari ini Shanin hanya bekerja sampai jam lima sore, tinggal menunggu satu setengah jam lagi untuk dirinya dapat pulang ke kontrakan, itupun jika tidak ada kendala, mengingat akhir-akhir ini dirinya telat pulang ke kontrakan karena ulah Samuel.
"Pengen pulang." Sedari tadi Anna tidak berhenti mengoceh ingin pulang, padahal perempuan itu kerja sampai malam hari.
"Sabar aja sih Ann, nanti juga pas waktunya kamu pulang ya bakalan pulang juga." Benar sih apa yang dikatakan oleh Kila.
"Ya lagian siapa juga yang mau nginep disini, masalahnya kan waktu pulang aku masih lama." Teman kerjanya Shanin yang satu ini terus saja mengeluh.
Mendengar keluhan dari Anna yang tiada henti, Shanin berusaha untuk mengabaikannya dan fokus kepada ponsel pintar miliknya yang sedari tadi terus dia mainkan.
"Berisikan tau Ann, nanti pasti bakalan pulang kok." Ucap Kila yang sepertinya sudah muak dengan Anna.
Ucapan Kila barusan membuat Anna cemberut, sedangkan Shanin hanya diam saja memperhatikan keduanya dan mulai kembali fokus pada ponsel pintar miliknya lagi.
Semalam Samuel mengirimkan pekerjaan pada emailnya yang harus segera diselesaikan secepatnya tapi pekerjaan itu belum sempat Shanin lihat karena semalam dirinya benar-benar mengantuk dan tidak sempat untuk mengecek hal tersebut.
Dibukalah akun email pribadi miliknya dan berniat melihat file yang dikirim oleh Samuel semalam, awalnya Shanin ingin mempelajari dan memahami terlebih dahulu pekerjaan yang dikirim oleh atasannya itu, namun dahi nya mengerut ketika melihat apa isi dari file yang dikirim oleh Samuel.
Sebuah puisi tertera di sana, Shanin dibuat tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Samuel untuk dirinya, perempuan itu kira lelaki itu benar-benar mengirimkan pekerjaan kepadanya tapi nyatanya tidak.
Tangannya menggulir layar ponsel dan memilih menu telepon, mencari nama Samuel di sana, Shanin berniat untuk menelpon lelaki itu namun dirinya mengurungkan niatnya karena sekarang masih jam kerja orang-orang termasuk dirinya dan mungkin Samuel juga masih bekerja.
"Eh muka kamu kenapa keliatan kesel gitu, Sha?" Rupanya Anna menyadari perubahan ekspresi wajah Shanin.
"Gak kenapa-kenapa kok." Jawab Shanin seadanya.
Anna dan Kila yang mendengar itupun mengerti jika Shanin tidak ingin menceritakannya kepada mereka, mungkin perempuan itu akan bercerita nanti bukan sekarang karena masih merasa kesal.
__ADS_1
Shanin kemudian beranjak dari tempat duduknya berniat untuk ke belakang mengambil air minum karena perempuan itu merasa tenggorokannya cukup kering dan membutuhkan setidaknya segelas air.
"Mau kemana?" Tanya Kila saat melihat Shanin beranjak dari tempat duduknya.
"Mau ngambil air minum di belakang, aku haus." Setelah menjawab pertanyaan dari Kila, Shanin langsung melangkahkan kakinya ke belakang untuk mencari air minum yang dia butuhkan.
Saat sudah berada di depan dispenser, perempuan itu langsung meriah gelas bersih yang ada di rak dan kemudian mengisinya dengan air yang ada di dispenser, saat sedang menunggu air yang ada di dalam gelas penuh, ponsel milik Shanin tiba-tiba bergetar menandakan jika ada panggilan telepon dari seseorang.
Terlihat nama Samuel yang tertera di sana, rupanya tanpa harus Shanin hubungi terlebih dahulu, lelaki itu sudah menghubungi dirinya duluan, langsung saja perempuan itu mengangkatnya tapi sebelum itu dirinya menyempatkan diri untuk mematikan dispenser karena air di gelasnya sudah penuh.
"Sam, kamu gak salah kirim file nya ke aku kan?" Shanin tanpa basa-basi lagi langsung melayangkan pertanyaan itu pada Samuel yang ada di seberang.
"Tidak, file nya memang untuk kamu." Jawab Samuel dari seberang sana.
"Tapi isi file nya bukan tugas yang harus aku kerjakan." Ucap Shanin yang kemudian meneguk air minum yang ada di gelas tadi.
"Memang bukan pekerjaan, saya hanya ingin mengirimnya saja, asal kamu tau kalau puisi itu saya sendiri yang membuatnya." Jelas lelaki itu.
"Saya tidak merasa direpotkan, lagipula itu keinginan saya sendiri."
"Iya iya terserah kamu, sekarang kerjaan aku yang sebenernya mana? Aku gak mau makan gaji buta ya."
"Nanti akan saya kirimkan ke email kamu."
"Yang bener ya, jangan kayak yang ini lagi." Ancam perempuan itu.
"Iya Shanin, teleponnya saya tutup dulu, sekretaris saya barusan memberitahu jika ada meeting mendadak."
"Iya, aku juga masih ada jam kerja." Balas Shanin.
__ADS_1
Setelah itu panggilan keduanya pun terputus, Shanin meletakkan kembali gelas yang kini sudah kosong dan mematikan ponsel miliknya kemudian berjalan keluar dari area belakang, kembali menghampiri kedua teman kerjanya yang masih duduk di tempat sebelumnya.
Waktu terus berjalan, kini saatnya untuk Shanin pulang ke kontrakannya karena jam kerjanya yang sudah habis, perempuan itu berjalan ke arah belakang untuk mengambil tas selempang nya yang tersimpan di loker miliknya.
Setelah berhasil meraih tas selempang miliknya, Shanin kemudian kembali lagi berjalan keluar dari area belakang, berniat untuk berpamitan terlebih dahulu kepada kedua teman kerjanya, Anna dan Kila.
"Ann, aku duluan ya." Ucap Shanin saat Anna yang sedang membawa pesanan pelanggan berjalan di depannya.
"Iya Sha hati-hati." Anna masih menyempatkan dirinya untuk membalas ucapan Shanin.
Mendengar hal itu Shanin pun menganggukkan kepalanya kepada Anna, perempuan itu kemudian berjalan ke arah tempat kasir dimana Kila sedang sibuk di sana.
"Kil, aku duluan ya." Ucap Shanin kepada Kila.
Terlihat Kila yang menganggukkan kepalanya menganggap Shanin ditengah kesibukannya. "Iya Sha, hati-hati dijalan nya."
Setelah berpamitan kepada kedua teman kerjanya, Shanin langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam kafe menuju ke tempat parkiran khusus karyawan dimana motornya terparkir di sana.
Tetapi rencananya tidak semulus itu ternyata, saat Shanin baru saja keluar dari dalam kafe, perempuan itu sudah dihadang oleh tubuh tegap milik Samuel yang entah dari mana datangnya.
"Ck, ngagetin aja deh Sam." Decak Shanin pada lelaki yang ada di depannya.
"Maaf, saya hanya ingin mengajak kamu jalan-jalan sebentar sekalian makan malam juga." Ucap lelaki itu.
"Aku mau pulang ke kontrakan aja, aku tiba-tiba pengen masak sendiri." Balas Shanin pada Samuel.
"Kalau begitu saya boleh ikut ke kontrakan kamu?"
"Emang biasanya kamu izin dulu kalo mau ke kontrakan aku?" Perempuan itu balik bertanya.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh Shanin membuat Samuel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, memang sebelumnya lelaki itu tidak pernah izin terlebih dahulu jika pergi ke kontrakan Shanin.
BERSAMBUNG.