Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 62


__ADS_3

Keesokan harinya Shanin sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kafe seperti biasanya, tapi kali ini ada yang berbeda, seperti yang dikatakan oleh Samuel semalam bahwa hari ini lelaki itu akan menjemput Shanin agar bisa berangkat bersama ke tempat kerja masing-masing yang memang jaraknya berdekatan.


Saat tengah menghabiskan sarapannya yang tersisa sedikit lagi, Shanin dapat mendengar bunyi mesin mobil milik Samuel yang terdengar sampai ke dalam kontrakannya karena memang ini masih pagi sehingga masih cukup sepi yang membuat bunyi mesin mobil itu bisa terdengar sampai ke dalam kontrakan si perempuan.


Shanin yang mendengar itu segera menyelesaikan acara sarapannya karena tidak ingin membuat Samuel menunggu lebih lama lagi, sampai akhirnya sarapan milik perempuan itu sudah habis, baru saja Shanin beranjak dari tempat duduknya untuk membawa piring kotor bekas dirinya ke belakang, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang sudah bisa dipastikan jika orang yang mengetuk pintu itu adalah Samuel.


"Sebentar Sam!!" Seru Shanin sedikit berteriak sambil berlari kecil untuk menyimpan piring kotor bekas sarapannya tadi.


Setelah meletakkan piring kotor tadi di tempat yang seharusnya dan mencuci tangan, Shanin kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas selempang miliknya yang biasa dibawa oleh perempuan itu ke tempatnya dia bekerja.


Setelah semuanya selesai, Shanin segera membuka pintu kontrakannya dan benar saja Samuel yang hari ini memakai setelan jas dan kemeja warna biru tua kini tengah berdiri di depan pintu kontrakan si perempuan.


"Maaf ya aku baru selesai sarapan, lama gak nunggunya?" Tanya Shanin sambil memakai sepatu miliknya di hadapan Samuel.


"Tidak apa-apa. Lagipula ini masih pagi, jangan terburu-buru. Lihat, kamu sampai keringetan gini Sha." Ucap Samuel sambil mengelus dahi Shanin yang sedikit berkeringat.


"Takutnya kamu nunggu lama, mangkanya aku cepet-cepet. Udah ayo, aku udah siap." Balas Shanin yang baru saja selesai memakai sepatu miliknya.


Samuel hanya menganggukkan kepalanya menanggapi balasan Shanin barusan, keduanya pun berjalan beriringan menuju ke tempat biasanya mobil milik Samuel terparkir.


Niat awal Shanin yang akan membuka pintu mobil sendiri dikagetkan oleh Samuel yang dengan cepat membukakan pintu mobil miliknya untuk Shanin di kursi penumpang yang ada di sebelah kursi pengemudi.


"M-makasih." Cicit Shanin karena merasa gugup Samuel dengan gerakan cepatnya membukakan pintu untuk dirinya.


Mobil hitam milik Samuel pun langsung melaju meninggalkan kontrakan milik Shanin. Keduanya terlihat sama-sama canggung saat berada di dalam mobil. Sesekali Shanin melirik ke arah Samuel yang tengah fokus menyetir.


"Sam." Panggil Shanin pada Samuel, sehingga lelaki itu sontak saja menolehkan kepalanya pada si perempuan.


"Ada apa hm?" Jawab Samuel.


"Kamu nanti siang makan di kafe kan?" Tanya Shanin yang berusaha untuk membuka obrolan, padahal dirinya sendiri tidak tahu untuk apa dia bertanya seperti itu.


"Kalo di kantor saya tidak banyak kerjaan, saya akan makan siang di sana." Jawab Samuel yang kembali memfokuskan dirinya ke jalanan. "Ada apa memangnya?" Lanjutnya.


"O-oh nggak, aku cuma nanya aja. Mau makan siang di mana aja gak kenapa-kenapa sih, asal kamu jangan lewatin makan siang kamu." Jelas Shanin.


"Iya Sha, makasih udah perhatian sama saya. Saya senang kamu seperti ini." Balas Samuel sambil mengusap helai rambut milik Shanin menggunakan salah satu tangannya.


Shanin yang mendengar itupun tidak bisa menahan senyuman di wajahnya, sebenarnya dia masih belum terbiasa dengan perlakuan manis Samuel yang seperti ini kepada dirinya.


"Aku kan sekarang udah jadi pacar kamu, wajar dong kalo sekarang aku perhatian sama kamu." Ucap Shanin saat tangan milik Samuel sudah berhenti mengusap rambut miliknya.


Samuel yang mendengar itupun juga tidak bisa menahan rasa senang yang membuncah di dalam hatinya, lelaki itu tersenyum tipis menanggapi hal itu.


Setelah sekitar tiga puluh menitan keduanya dalam perjalanan menuju ke kafe tempat Shanin berkerja, akhirnya mobil hitam milik Samuel sampai juga di tempat parkir yang ada di depan kafe.


"Kamu gak perlu turun Sam, langsung berangkat aja abis ini." Ucap Shanin ditengah kegiatannya melepaskan sabuk pengaman.


"Iya Sha, saya langsung berangkat ke kantor.


Kamu baik-baik kerjanya, kalo capek istirahat aja." Balas lelaki itu pada Shanin.


"Iya iya, aku inget kata-kata kamu ini. Kamu juga semangat kerjanya, kalo gak banyak kerjaan, makan siang di kafe ya?"


"Iya sayang, nanti saya usahakan." Jawab Samuel.


Kemudian Shanin langsung keluar dalam mobil sang kekasih, perempuan itu tidak langsung masuk ke dalam kafe, tetapi menunggu mobil milik Samuel kembali berjalan meninggalkan parkiran kafe menuju ke kantor tempat lelaki itu bekerja.


Setelah mobil milik Samuel sudah pergi meninggalkan parkiran kafe, Shanin langsung membawa langkah kakinya untuk masuk ke dalam cafe, sebelumnya perempuan itu sudah melihat motor milik Anna terparkir di parkiran motor tadi, pasti temannya itu sudah datang lebih awal.


Dan benar saja dugaan Shanin, Anna sudah ada di dalam kafe tengah menyapu lantai sambil bernyanyi kecil mengikuti alunan musik yang sudah dinyalakan di dalam kafe.


"Pagi banget kamu Ann, jam segini udah sapu-sapu aja." Ucap Shanin saat tiba di belakang tubuh milik Anna. Karena memang posisi Anna saat menyapu tadi memunggungi dirinya.


Sontak saja Anna langsung menolehkan kepalanya ke arah Shanin karena terkejut tiba-tiba ada yang berbicara padanya. "Ya ampun Sha, bikin kaget aja dateng tiba-tiba."


"Tiba-tiba apanya? Kamu gak denger apa aku buka pintu terus jalan kesini? Mangkanya jangan keasikan dengerin musik pagi-pagi gini." Ucap Shanin panjang lebar.


Sedangkan Anna yang mendengar ucapan Shanin hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil meringis tidak berdosa. "Lagian sepi banget tadi, jadi deh aku nyalain aja musiknya." Balas Anna.


"Oh gitu, yaudah aku ke belakang dulu. Kamu nyapu aja, biar nanti aku yang lap-lap." Ucap Shanin sambil membawa langkah kakinya ke arah belakang tempat biasa dirinya dan juga teman-temannya menyimpan barang-barang bawaan.

__ADS_1


Tidak lama setelah Shanin pergi ke belakang, pintu kafe kembali terbuka dan kali ini Anna menyadari hal itu, ternyata yang barusan membuka pintu adalah juru masak, Pak Dimas namanya. "Pagi Pak." Sapa Anna saat lelaki yang lebih tua darinya itu masuk ke dalam kafe dan berjalan ke arahnya.


"Pagi juga Ann, baru kamu doang yang dateng?" Tanya Pak Dimas setelah menjawab sapaan selamat pagi dari Anna.


"Di belakang udah ada Shanin barusan dateng." Jawab Anna.


"Gitu toh, yaudah saya juga mau ke belakang, mau beres-beres." Balas lelaki itu yang dibalas dengan anggukan oleh Anna.


Setelah Shanin dan juga Pak Dimas meninggalkan dirinya ke belakang, Anna kembali melanjutkan kegiatan menyapunya yang tadi sempat tertunda.


Satu persatu karyawan kafe mulai berdatangan, karena memang sebentar lagi kafe akan segera buka. Setelah Shanin selesai membenahi diri di belakang, Shanin kembali ke depan untuk mengelap setiap sudut kafe yang terlihat berdebu.


"Ini Kila belum ada dateng Ann?" Tanya Shanin kepada Anna sambil membawa kain lap yang sudah basah di tangannya.


"Belum Sha, paling dia kesiangan." Jawab Anna seadanya.


"Dasar anak itu, paling gara-gara bergadang nonton drama Korea kesukaannya semaleman." Ucap Shanin yang sudah hafal tabiat teman kerjanya yang satu itu.


Setelah mengatakan itu, Shanin membawa langsung kakinya menuju ke arah jendela kafe, tentu saja untuk mengelapnya agar terlihat lebih bersih. Tetapi tidak lama dari itu, terdengar pintu kafe yang dibuka oleh seseorang, Kila lah yang membuka pintu itu.


Kila masuk dengan tergesa-gesa ke dalam kafe, wajahnya masih terlihat masih kusut, sangat tertebak jika perempuan itu berdagang semalam seperti dugaan Shanin tadi.


"Loh tumben kamu Kil datang sepagi ini?" Tanya Shanin kepada Kila, lebih tepatnya menyindir teman kerjanya yang baru saja datang.


"Hehehe aku kesiangan Sha, baru bisa tidur jam 4 tadi." Jawab Kila dengan cengengesan.


"Mangkanya jangan berdagang terus, kesiangan kan." Anna ikut menyambar di tengah percakapan Shanin dan juga Kila.


"Tuh dengerin tuh apa kata Anna." Ucap Shanin yang kemudian kembali melanjutkan kegiatannya mengelap kaca jendela.


Waktu terus berlalu, kegiatan di kafe berjalan seperti biasanya, pengunjung yang datang ke kafe pun cukup ramai hari ini, sampai-sampai para karyawan belum sempat beristirahat saking tidak ada henti-hentinya pengunjung yang datang.


Di tengah kesibukan Shanin yang tengah mengantarkan makanan dan juga minuman kepada pelanggan, perempuan itu merasakan ponsel yang ada di sakunya bergetar menandakan bahwa ada seseorang yang tengah meneleponnya.


Tetapi karena perempuan itu tengah sibuk dengan pekerjaannya, Shanin tidak langsung mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya itu. Shanin memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya dulu, agar nanti bisa lebih leluasa.


Akhirnya setelah beberapa saat kemudian pengunjung kafe mulai berpergian satu persatu karena memang jam makan siang sudah hampir habis, Shanin melirik ke arah jam di tangannya untuk melihat jam berapa sekarang ini.


"Ah iya, tadi yang telpon aku siapa ya." Perempuan itu teringat panggilan dari ponselnya yang sengaja dirinya tidak angkat saat bekerja tadi.


Shanin merogoh saku seragam kerjanya untuk mengambil ponsel miliknya, saat ponselnya menyala, nama Samuel dengan tanda 'love' di akhirnya langsung terlihat. Perempuan itu sedikit tersenyum malu menyadari nama Samuel pada ponselnya, pasti lelaki itu yang menggantinya sendiri.


Dengan segera Shanin menelpon balik pada Samuel sebelum jam makan siang selesai, karena pasti lelaki itu akan kembali berkutat dengan berkas-berkasnya jika sudah kembali ke jam kerja.


"Halo Sam?" Ucap Shanin saat panggilan itu terhubung.


"Iya sayang? Ada apa?" Jawab Samuel diseberang sana. "Oh iya, saya hari ini belum bisa makan siang di cafe, banyak sekali pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini." Lanjut lelaki itu seakan tau apa yang ingin Shanin tanyakan.


"Iya gapapa, maaf ya aku tadi gak sempet angkat telpon kamu, tadi banyak banget yang datang ke kafe." Jelas Shanin pada Samuel.


"Saya mengerti, kamu udah makan siang kan?"


Mendengar pertanyaan itu, Shanin reflek menggelengkan kepalanya walaupun dia tahu Samuel tidak dapat melihatnya. "Aku baru aja ada waktu buat istirahat, ini sebentar lagi aku makan. Meskipun gak makan siang ke cafe, kamu gak lewatin makan siang kamu kan Sam?"


"Saya sudah makan siang tadi, kamu kalo mau makan jangan ditunda-tunda terus, ini demi kesehatan kamu Sha."


"Iya iya Samuel sayang tadi kan aku gak sempet karena banyak banget yang datang ke cafe, ternyata kamu bawel juga ya." Ucap Shanin yang baru saja tau jika Samuel termasuk ke dalam lelaki yang banyak omong, padahal sebelumnya lelaki itu terkesan lebih dingin.


"Bukan bawel, ini bentuk perhatian saya sama kamu." Lelaki di seberang sana berusaha memberi pembelaan.


Shanin sontak saja terkekeh mendengar pembelaan yang diberikan oleh kekasihnya di seberang sana. "Udah dulu ya sayang, bentar lagi jam makan siang kamu abis kan? Aku juga mau makan siang sama temen-temen aku."


"Iya Sha, kamu makan yang banyak biar energinya keisi lagi. Kamu tutup duluan aja telponnya."


"Siap! Nanti aku makan yang banyak, kamu semangat kerjanya, jangan terlalu diforsir ya, perhatiin juga kesehatan kamu. Telponnya aku tutup, bye Sam!" Ucap Shanin sebelum panggilan keduanya terputus.


Entah kenapa hari ini Shanin merasa sangat senang, senyuman itu tidak pernah luntur dari wajahnya sejak pagi tadi, apa mungkin ini karena hubungannya dengan Samuel? Shanin baru sadar kalo ternyata jatuh cinta dapat memberikan dirinya efek sebesar ini.


"Sha!! Sini buruan ambil bekal kamu, kita makan mumpung kafe lagi sepi." Itu adalah suara milik Kila yang memanggil Shanin agar ikut bergabung dengannya dan Anna yang sudah duduk di salah satu meja di cafe tersebut.


"Iya Kil, kamu duluan aja sama Anna. Aku mau ambil bekal aku dulu di belakang." Balas Shanin sambil memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam saku dan berlalu ke arah belakang seperti yang dia katakan tadi.

__ADS_1


Tidak lama itu Shanin sudah kembali dari arah belakang dengan membawa bekal makan siang miliknya yang ada di tempat makan dan ikut bergabung bersama dengan kedua teman kerjanya.


"Menurut kalian kalo aku berhenti kerja sekarang, terlalu cepet gak ya? Aku baru ada satu bukan kerja disini." Ucap Shanin di tengah acara makan siang, yang membuat kedua temannya itu dengan cepet menolehkan kepala kepadanya.


"Kamu mau resign Sha?" Tanya Anna.


"Ini baru rencana aku aja, sebenernya Samuel sih yang nyuruh." Jawab Shanin.


"Dan kamu mau-mau aja nurutin apa kata dia? Nyari kerja tuh susah loh Sha." Ucap Kila, mencoba untuk meyakinkan temannya.


"Iya aku tau, tapi sebenernya aku ada kerja sampingan selain di kafe ini. Aku beberapa kali bantuin urusan kantornya Samuel." Jelas Shanin kepada Kila dan juga Anna.


"Kerjaan itu Samuel yang nawarin? Bukannya di kantor dia itu rata-rata background pendidikannya minimal S1 ya?" Kali ini Kila lah yang bertanya.


Shanin menganggukkan kepalanya mendengar hal itu. "Iya aku tau, aku gak bilang kerja di sana kan tadi, aku cuma bantu-bantu aja. Itu pun aku ngerjainnya di kontrakan, ya walaupun sebenernya Samuel sering nyuruh aku buat ke kantornya tapi aku ngga mau, aku ngerasa kurang pantes kalo masuk sana." Jelas Shanin panjang lebar.


"Kamu jangan minder gitu dong Sha, Samuel pilih kamu juga pasti karena ada alasannya." Ucap Anna.


Shanin mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar hal itu, walaupun rasa insecure masih ada tetapi rasa percaya dirinya kian bertambah ketika mendengar perkataan Anna.


"Kita bakalan tetep dukung apapun keputusan kamu kok Sha, selagi itu hal yang baik." Ucap Kila yang kini tengah menghabiskan bekal makan siang miliknya.


"Makasih ya. Oh iya, ada satu lagi yang mau aku kasih tau ke kalian." Lanjut Shanin.


Keduanya teman Shanin kembali memfokuskan perhatiannya kepada si perempuan, penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh perempuan itu.


"Eumm itu sebenernya kemaren Samuel ngungkapin perasaannya ke aku." Ucap Shanin.


"Terus gimana-gimana? Kamu terima dia?" Tanya Kila penasaran.


Mendengar pertanyaan dari Kila membuat Shanin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Iya, aku terima dia. Ini juga udah pengakuan dia yang kedua kalinya, tapi yang pertama aku tolak karena masih ragu." Jelas Shanin.


"Yang sekarang ini kamu udah gak ragu gitu?" Kali ini Anna yang melontarkan pertanyaan kepada Shanin.


"Iya, aku udah yakin kalo emang Samuel gak main-main kali ini." Ucap Shanin.


"Emangnya kamu ngerasain hal yang sama kayak yang Samuel rasain ke kamu? Maksud aku tuh, kalian saling suka?" Tanya Kila.


"Ya iyalah Kil, kalo gak suka kenapa aku terima dia." Jawab Shanin dengan cepat mendengar pertanyaan dari Kila barusan.


"Ya siapa tau aja ya kan kamu cuma kasian aja sama dia karena udah nembak dua kali tapi malah kamu tolak." Ucap Kila.


"Aku nggak sejahat itu kali." Balas Shanin.


"Tau nih kamu Kil." Ucap Anna menambahkan.


"Ya aku kan bilang siapa tau, udahlah lanjutin lagi makannya, ngobrol terus." Ucapan Kila itu hanya dibalas dengan anggukan oleh Shanin dan juga Anna.


Ketiganya kembali melanjutkan kegiatan makan siang mereka sebelum cafe kembali kedatangan pengunjung.


"Oh berarti kalian udah pacaran dong?" Tanya Kila tiba-tiba padahal tadi dirinya lah yang menyuruh untuk berhenti mengobrol.


"Ya iyalah Kil, kamu pake nanya segala macem." Jawaban ini bukan dilayangkan oleh Shanin, tapi oleh Anna yang duduk di sebelahnya.


"Biasa aja kali Ann, aku kan cuma pastiin aja." Balas Kila.


Sedangkan Shanin hanya menggelengkan kepala jengah melihat kelakuan dua teman kerjanya itu, dia lebih memilih untuk kembali melanjutkan kegiatan makan siangnya yang masih banyak ketimbang kedua temannya karena memang dia makan paling akhir.


"Pantesan aja Samuel pengen kamu berhenti kerja di kafe, dia khawatir kamu kecapekan kali Sha." Lanjut Kila yang tidak terlihat ingin berhenti berbicara.


"Tapi aku gak ngerasa secapek itu kok kerja di cafe." Jawab Shanin apa adanya, karena memang itulah yang dia rasakan.


"Masa sih gak capek? Aku aja capek banget, udah kamu terima aja ajakan Samuel buat kerja di kantornya." Ucap Kila.


"Bener tuh Sha, lupain aja rasa gak percaya diri kamu itu." Tambah Anna.


"Nanti aku coba dipikir-pikir lagi deh, udah ngobrolnya, makanan aku masih banyak nih." Ucap Shanin sambil menunjukkan tempat makannya yang masih penuh.


Setelah Shanin mengatakan hal itu, kedua temannya langsung terdiam sambil melanjutkan kembali kegiatan makan siang mereka masing-masing.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2