
Seperti yang dikatakan oleh Samuel tadi siang di dalam sambungan panggilannya bersama Shanin, lelaki itu kini sedang ada di dalam mobil pribadi miliknya yang sedang melaju ke arah kafe tempat Shanin bekerja.
Karena jarak gedung perusahaan dan kafe tempat kerja Shanin yang cukup dekat, lelaki itu hanya menghabiskan waktu kurang lebih selama lima menit di perjalanan.
Sampai di tempat yang dituju, Samuel langsung memarkirkan mobilnya di parkiran yang ada di depan kafe tersebut dan setelah mobilnya berhasil terparkir, lelaki itu langsung keluar dari dalam mobil tersebut dan berjalan masuk ke dalam bangunan kafe.
Saat dirinya baru saja masuk ke dalam kafe itu, matanya langsung menangkap sosok Shanin yang sedang duduk di kursi dekat meja kasir sedang berbincang dengan temannya.
Lelaki itu memilih untuk duduk dibalas satu kursi yang ada di dekat jendela tanpa berniat mengganggu Shanin yang sedang berbincang dengan temannya itu, Samuel memilih untuk diam dan Shanin dengan sendirinya menyadari kehadirannya.
Tidak lama setelah dirinya duduk, seorang perempuan dengan seragam yang sama dengan Shanin datang menghampirinya.
"Selamat siang, ini buku menunya." Ucap perempuan yang tidak dikenali oleh Samuel itu.
Tanpa berbicara apapun, lelaki itu langsung meraih buku pesanan yang diserahkan oleh perempuan yang ada di depannya. Samuel hanya memesan minuman saja karena dirinya masih merasa kenyang jika harus membeli makanan.
Setelah kepergian perempuan tadi dari hadapannya, Samuel memfokuskan tatapan pada Shanin yang ada di meja kasir sana, perempuan itu sepertinya belum menyadari keberadaannya.
Asik dengan kegiatannya yang sedang memperhatikan gerak gerik yang dilakukan oleh Shanin, tiba-tiba saja perempuan itu menolehkan kepalanya ke arah dia sehingga tatapan keduanya bertemu.
Dapat Samuel lihat perempuan itu sepertinya cukup terkejut melihat kehadirannya disana dan Samuel juga dapat melihat jika perempuan itu langsung beranjak dari duduknya, kemudian berjalan menghampiri ke arahnya.
"Kok kamu udah ada disini? Sejak kapan?" Shanin langsung bertanya pada lelaki yang ada di hadapannya saat dirinya baru saja tiba di depan Samuel.
"Barusan." Jawab Samuel singkat.
"Ohh gitu, udah pesan makanan?" Tanya Shanin sambil duduk di kursi yang ada di hadapan lelaki itu.
"Udah."
"Berarti udah datang dari tadi kesini, kenapa gak panggil aku aja coba?"
"Tadi kamu sedang mengobrol dengan teman kamu itu."
"Ya tapi kan bisa langsung panggil aku aja."
"Saya tidak ingin mengganggu kamu."
"Terserah deh, kamu mau apa ajak aku ketemuan?" Tanya Shanin tanpa basa-basi lagi.
Baru saja Samuel akan membuka suara, tiba-tiba saja perempuan yang tadi melayani pesanan Samuel datang dengan membawa nampan yang berisi segelas minuman dan langsung meletakkan segelas minuman itu di atas meja.
"Silahka- loh?! Shanin?" Perempuan tadi tidak jadi mengucapkan ucapan yang awalnya ingin dia ucapkan setelah melihat keberadaan Shanin yang kini tengah duduk di depan lelaki itu.
"Kamu liat aku kayak liat hantu tau, Ann." Ucap Shanin.
"Aduh maaf-maaf, aku kaget liat kamu ada di situ."
"Gak apa-apa. Oh iya dia temen aku, biar kamu gak perlu tanya-tanya lagi ke aku." Ucap Shanin sambil mengenalkan Samuel pada Anna.
"Ohh teman kamu, maaf ya atas ucapan saya tadi." Ucap Anna yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa." Balas Samuel singkat.
"Kalo gitu aku balik ke sana lagi ya, Sha." Pamit Anna sebelum perempuan itu melenggang pergi dari hadapan kedua manusia, Shanin dan Samuel.
"Tadi itu teman kamu?" Tanya Samuel pada Shanin.
"Ya iyalah, seragam dia aja sama kayak aku, semua karyawan yang kerja disini itu temen aku." Jawab Shanin.
Samuel hanya menganggukkan kepalanya menanggapi jawaban yang diberikan oleh perempuan yang ada di depannya saat ini, lelaki itu kemudian meminum minuman yang dia pesan tadi.
"Oh iya, kamu mau ngomong apa?" Tanya Shanin sambil menatap ke arah lelaki itu.
"Saya ingin kamu bekerja di perusahaan saya." Ucap Samuel dengan santainya.
Mendengar perkataan dari Samuel itu tentu saja membuat Shanin terkejut, dirinya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh lelaki yang ada di depannya ini.
"Aku kan udah bilang semalem sama kamu kalo aku gak mau." Jawab Shanin dengan malas.
"Saya mohon, perusahaan saya benar-benar butuh orang seperti kamu."
"Seperti aku kayak gimana? Bahkan aku jauh dari kata bisa, gimana kamu bisa menyimpulkan sampe segitunya?"
"Perusahaan saya sedang membutuhkan seseorang di bidang desain dan saya tau kalo kamu bisa dalam bidang itu."
"Aku gak punya pengalaman apapun di bidang itu Sam dan juga aku cuma bisa desain komik biasa." Ucap Shanin.
"Saya yakin kamu punya bakat di bidang itu."
"Apa yang membuat kamu yakin sampai segitunya sama aku?"
"Sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu semenjak karyawan di bidang desain mengundurkan diri, saya sudah terpikirkan kepada kamu. Saya merasa kamu benar-benar berpotensi di bidang itu, mengingat kamu merupakan seorang yang pekerja keras dan juga penuh inovasi." Jelas Samuel panjang lebar.
Baru kali ini Shanin mendengar Samuel berbicara panjang lebar di hadapannya, biasanya lelaki itu akan berbicara padanya dengan kalimat-kalimat singkat.
"Aku gak bisa Sam, aku baru aja pindah ke tempat kerja yang ini dan gak mungkin aku langsung keluar dari sini begitu aja."
"Biar saya yang bicara sama atasan kamu."
"Jangan! Gak usah, aku masih pengen kerja disini."
Perkataan Shanin barusan membuat Samuel menghela nafasnya jengah, entah dengan cara apalagi lelaki itu dapat membujuk perempuan yang ada di depannya ini untuk menuruti permintaannya.
"Kamu lagi butuh seseorang di bagian desain kan?" Shanin terlihat menjeda perkataannya.
"Aku bisa bantu untuk itu, aku bisa aku kerjain pas sepulang kerja dari kafe." Lanjutnya.
"Itu akan membuat kamu kerja dua kali dan pasti akan sangat melelahkan, Sha."
"Oh ya udah kalo kamu gak mau."
Samuel dibuat frustasi dengan perempuan yang kini ada di hadapannya, lelaki itu mana mungkin tega melihat Shanin kelelahan karena harus bekerja dua kali dalam sehari.
"Baiklah-baiklah, saya tidak akan memaksakan kamu tentang itu. Jika memang kamu ingin seperti itu, saya menyanggupi keinginan kamu untuk bekerja setelah selesai bekerja di kafe." Final Samuel.
"Tapi gak kenapa-kenapa kan kalo aku kerjanya dari kontrakan?"
Samuel sempat berfikir sebentar mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Shanin barusan.
"Oke, saya setuju dengan itu."
Setelah itu keduanya dipenuhi oleh keheningan, Shanin pun tidak ada pekerjaan apapun yang harus perempuan itu kerjakan.
"Jadi, aku mulai kerjanya kapan?" Shanin kembali membuka pembicaraan.
"Hari senin, kamu bisa?"
"Bisa, oke kalo gitu nanti aku tanya-tanya lagi ke kamu kalo ada yang mau aku tanyain."
Mendengar perkataan Shanin barusan, Samuel pun menganggukan kepalanya sebagai tanggapan dan kembali meminum minuman sampai habis.
"Kamu masih ada kerjaan? Pulang jam berapa?"
"Masih, aku pulang jam delapan malem." Jawab Shanin.
"Oh nanti malam, sebenarnya jika kamu pulang saat ini, saya ingin mengajak kamu jalan-jalan sebentar."
__ADS_1
"Jalan-jalan kemana? Aku lagi males, pengen cepet-cepet pulang ke kontrakan."
"Hm, ya sudah kalau begitu saya bayar minuman ini dan akan kembali ke kantor." Ucap Samuel sambil beranjak dari duduknya.
Shanin pun hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan, perempuan itu pun ikut beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah lelaki itu dari belang menuju ke arah kasir.
Sesampainya di depan kasir, Samuel langsung membayar minuman yang dia pesan tadi dan tidak lupa untuk berpamitan kepada Shanin.
"Saya akan kembali ke kantor sekarang." Ucap Samuel di hadapan Shanin.
"Iya, hati-hati."
Lelaki itu pun melenggang pergi dari hadapan Shanin, sedangkan Shanin yang kini berada di belakangnya terus menatap ke arah lelaki itu sampai bahu milik Samuel tidak lagi terlihat oleh matanya.
"Itu yang kamu bilang cuma temen, Sha?" Tanya Kila.
Suara tiba-tiba dari Kila barusan membuat Shanin sedikit terperanjat karena terkejut, saat ini memang posisi Shanin masih berada di dekat meja kasir.
"Dia beneran cuma temen aku, emangnya kenapa? Kok kamu kayak gak percaya banget sama aku?"
"Kalian keliatan kayak pasangan yang punya hubungan serius deh, sumpah." Ucap Kila dengan tampang tidak berdosa nya.
Sontak saja Shanin langsung menatap tajam ke arah teman kerjanya itu, yang benar saja dirinya dan Samuel menjadi sepasang manusia yang memiliki hubungan serius?!
"Kamu nih kalo ngomong asal aja. Gak mungkin juga lah, aku sama dia tuh berbeda dari sudut mana pun."
"Tapi menurut aku, kalian cocok kok. Pasti orang-orang yang belum tau hubungan kalian yang sebenernya bakalan ngira kalo kamu sama dia pacaran." Jelas Kila pada Shanin.
"Berarti orang itu yang salah liat, udah ah aku mau ke kamar mandi dulu."
Karena malas mendengar perkataan Kila tentang dirinya dan juga Samuel, Shanin memilih untuk pergi meninggalkan teman kerjanya itu ke kamar mandi.
Padahal Shanin hanya mengarang ingin ke kamar mandi saja agar tidak terus mendengarkan ocehan dari teman kerjanya yang banyak omong itu.
Setelah beberapa menit dirinya terdiam di kamar mandi, perempuan itu pun memilih untuk keluar dari sana dan langsung berjalan ke meja yang diatasnya terdapat buku menu yang sempat dia simpan di atas sana tadi.
Hal tadi Shanin lakukan karena saat dirinya baru saja keluar dari area belakang, lebih tepatnya saat dirinya baru saja selesai dari kamar mandi, dirinya melihat tiga orang pelanggan yang datang, maka dari itu Shanin langsung mengerjakan pekerjaannya.
"Selamat sore, ini buku menunya tuan dan nyonya." Sapa Shanin ramah sambil menyerahkan buku menu ke hadapan ketiga pelanggan tadi.
Perempuan itu dengan setia berdiri di dekat meja itu, menunggu para pelanggan tadi selesai memilih pesanan yang mereka inginkan dan mencatatnya pada buku catatan kecil miliknya seperti biasa.
"Baiklah, pesanan bisa ditunggu."
Shanin mengatakan itu sambil sedikit membungkukkan badannya dan disertai dengan senyuman hangat di wajahnya, kemudian melenggang pergi dari hadapan ketiga pelanggan tadi menuju ke arah juru masak untuk menyerahkan selembar kertas yang berisi catatan pesanan pelanggan barusan.
"Sha, aku pulang duluan ya." Ucap Anna dengan membawa tas selempang miliknya dari arah belakang.
Shanin baru ingat jika hari ini jadwalnya Anna pulang sore dan dirinya yang pulang malam.
"Oh iya Ann, hati-hati di jalannya ya."
"Iya, kamu juga semangat kerjanya dan semoga aja gak ada pelanggan yang ngeselin." Balas Anna yang diakhiri dengan sebuah kekehan.
"Aamiin."
Setelah itu Anna meninggalkan Shanin sendirian di dekat juru masak sedang menunggu pesanan yang harus dia antar selesai dan siap diantarkan.
Ting!
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya yang Shanin tunggu-tunggu tiba juga, suara lonceng tadi adalah pertanda bahwa pesanan pelanggan telah selesai dibuat dan siap untuk diantarkan.
Karena pesanan ketiga pelanggan tadi yang lumayan banyak, Shanin harus membawa pesanan itu dengan cara membagi dua, tapi hal itu tidak jadi dia lakukan ketika Kila menghampiri dirinya dan bersedia untuk membantunya membawa pesanan tersebut.
"Sini biar aku bantu, Sha. Kamu bawa nampan satunya, biar aku bawa yang ini." Ucap Kila sambil meraih sebuah nampan yang ada di atas meja.
Hanya terlihat sebuah anggukan yang diberikan oleh Kila sebagai sebuah tanggapan terhadap perkataan Shanin tadi, perempuan itu pun berjalan terlebih dahulu ke arah meja pelanggan tadi sambil membawa sebuah nampan yang berisi pesanan.
Disusul oleh Shanin yang juga samanya dengan Kila tadi, yaitu sama-sama membawa satu buah nampan yang berisi pesanan dari pelanggan.
Tiba di dekat meja si pelanggan, Shanin tidak langsung meletakkan pesanan pelanggan tadi di atas meja karena dirinya harus menunggu Kila yang belum selesai meletakkan semua pesanan pelanggan tadi di atas meja.
Tapi tidak lama dari itu, Kila sudah selesai dengan urusannya, perempuan itu pun langsung pergi dari sana tidak lupa dengan memberikan senyuman ramah pada pelanggan yang ada di hadapannya.
Bergantian dengan Shanin yang dengan hati-hati meletakkan pesanan ke atas meja pelanggan satu persatu.
"Silahkan dinikmati, semoga suka dengan makanan dan juga minuman di kafe ini." Ucap Shanin ramah dengan sebuah senyuman yang terukir di wajahnya sebelum perempuan itu melenggang pergi dari hadapan ketiga pelanggan tadi.
"Kil, makasih ya tadi udah bantuin." Ucap Shanin saat dirinya baru saja sampai di depan meja kasir tempat Kila berada.
"Ya ampun Sha, kan tadi kamu udah bilang. Lagian biasa aja kali, aku juga statusnya masih karyawan disini, jadi udah semestinya ngelakuin itu."
"Iya juga sih, tapi gak apa-apa, aku tetep mau bilang makasih."
"Iya-iya terserah kamu aja deh."
"Kok aku jadi tiba-tiba lapar gini ya? Padahal tadi siang aku udah makan." Ucap Shanin sambil mengusap-usap perutnya yang terasa lapar.
"Itu kan pas siang Shanin, wajar aja kalo sekarang udah lapar lagi. Bentar deh, kayaknya aku punya roti di dalem tas."
"Roti buat apaan?" Tanya Shanin kebingungan.
"Ya buat kamu makan lah, biar gak lapar lagi, roti sama nasi sama aja, sama-sama berkarbohidrat, kamu tunggu disini ya."
Setelah mengatakan itu, Kila melenggang pergi begitu saja dari hadapan Shanin menuju ke arah belakang dimana tas miliknya berada disana, tas yang didalamnya terdapat roti yang dimaksud oleh Kila tadi.
Tidak lama dari itu, Kila terlihat berjalan kembali ke arah meja kasir dimana saat ini Shanin sedang berada disana, dengan kedua tangannya yang membawa masing-masing sebungkus roti merek terkenal yang biasanya ada di minimarket.
"Nih, buat kamu sama, buat aku satu. Ini dapet semalem aku beli di minimarket dekat rumah." Jelas Kila sambil menyodorkan sebungkus roti yang dia ambil tadi ke hadapan Shanin.
"Wah, makasih banyak loh Kil, nanti aku ganti deh rotinya."
"Gak perlu kali Sha, udah makan aja."
Mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Kila, Shanin pun langsung mengangguk menanggapinya. Perempuan itu langsung membuka bungkus roti yang diberikan oleh Kila tadi dan memakannya, begitu pun dengan Kila yang melakukan hal yang sama.
"Kamu sering bawa bekel pengganjal perut kayak gini?" Tanya Shanin ditengah acara mengunyah roti yang ada di dalam mulutnya.
"Gak sering juga sih, kalo aku abis dari minimarket aja dan beli roti."
"Ohh gitu, aku juga mau bawa deh nanti."
"Iya, bawa aja, daripada kamu kelaparan."
"Enak aja kelaparan!"
"Emang beneran kelaparan kan? Itu kamu makan rotinya kayak orang yang lagi dikejar target aja."
"Ini aku cuma lapar biasa aja ya, bukan kelaparan tau Kil."
"Iya-iya terserah kamu aja deh."
Karena sudah malas menanggapi perkataan dari teman kerjanya itu, Kila memilih untuk diam dan keduanya kini fokus dengan masing-masing roti yang sedang mereka makan.
"Tadi temen cowok kamu yang kesini, ada urusan apa? Kalian keliatan serius banget ngobrolnya."
"Jadi kamu bener-bener merhatiin aku sama temen aku banget ya?"
__ADS_1
"Gak merhatiin juga sih, tapi beberapa kali mata aku tertuju ke arah kalian berdua, mungkin udah kehendak hati aku aja.'
"Kehendak hati kehendak hati, bilang aja kamu kepo."
"Itu kamu tau." Balas Kila.
Mendengar balasan dari Kila barusan membuat Shanin menghela nafasnya panjang, teman kerjanya yang satu ini memang benar-benar, ada saja kelakuannya.
"Dia cuma ngobrol masalah kerjaan." Ucap Shanin menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh Kila tadi.
"Masalah kerjaan siapa?"
"Ya dia lah! Aku mah gak ada masalah apapun di tempat kerja."
"Biasa aja dong, aku tanya cuma buat pastiin aja."
"Iya-iya deh percaya."
Keduanya pun asik mengobrol sampai ketiga pelanggan tadi berjalan ke arah meja kasir, berniat untuk membayar pesanan yang mereka pesan tadi.
"Ini kembaliannya, terimakasih sudah berkunjung ke restoran ini, ditunggu kembali kedatangannya."
Kila mengatakan itu dengan ramah disertai dengan senyuman manis pada wajahnya saat dirinya menyerahkan uang kembalian pada pelanggan tadi.
Karena sudah selesai dengan urusannya, pelanggan tadi pun melenggang, pergi dari hadapan Shanin juga Kila, keluar dari dalam kafe.
"Kok jadi bosen gini ya, banyak pelanggan capek, gak banyak pelanggan bosen." Ucap Shanin tiba-tiba.
"Ya namanya juga hidup, Sha."
"Hm, bener juga sih apa yang kamu bilang."
"Iya dong! Aku kan selalu benar." Bangga Kila.
"Selalu benar dari mananya? Ini mungkin karena kamu lagi beruntung aja."
"Kalo gitu aku beruntung tiap hari dong."
"Terserah kamu deh Kil, aku pusing kalo ngobrol sama kamu."
"Di bekerja ada kotak obat, kayaknya ada obat buat pusing juga, mau aku ambilin?" Tawar Kila.
"Nggak usah, aku mau ke belakang aja ambil air dingin aja di kulkas." Tolak Shanin.
"Pusing kok minum air dingin sih, Sha? Nanti tambah pusing kepalanya."
"Suka-suka aku."
Setelah mengatakan itu, Shanin langsung melenggang pergi dari hadapan teman kerjanya itu menuju ke arah belakang untuk mengambil air dingin yang ada di kulkas.
Sesampainya di depan kulkas, Shanin langsung membukanya dan meraih satu botol air dingin yang ada disana untuk dirinya minum.
Setelah berhasil meraih air, perempuan itu langsung meminumnya dengan sekali tegukan, rasa haus di tenggorokannya langsung berkurang.
"Ahh seger banget." Ucap Shanin saat dirinya baru saja meminum air dari dalam kulkas tadi.
"Loh? Kamu ngapain ada disini, Sha."
Suara tiba-tiba dari belakangnya itu membuat Shanin sedikit terkejut dan terperanjat.
"Eh?! Ya ampun Mas Tio, aku kira siapa, ngagetin aja muncul tiba-tiba."
"Maaf deh kalo tadi sempat gak ngenalin kamu dari belakang, aku kira siapa tadi yang berdiri di depan kulkas."
"Ohh gitu, aku gak nyadar kalo lagi ada Mas Tio. Eh! Aku harus balik lagi ke depan takut ada pelanggan yang datang lagi sama mau beresin meja bekas pelanggan tadi."
"Iya udah sana." Balas Tio.
Selesai mendengar perkataan itu, Shanin langsung melenggang pergi dari hadapan Mas Tio di dapur anda menuju ke arah meja pelanggan dimana ada pelanggan yang baru saja datang tadi dan belum mendapatkan buku menu sebagai referensi bagi pelanggan untuk memesan menu makanan dan minuman yang ada di kafe itu.
"Ini buku menunya." Ucap Shanin sambil menyerahkan buku menu kepada si pelanggan yang baru datang dan duduk tadi.
Setelah beberapa menit dia menunggu pelanggan tadi selesai memilih menu yang ingin dia pesan, Shanin kemudian mencatat pesanan apa saja yang dipesan oleh pelanggan tersebut.
"Baiklah, bisa ditunggu sebentar ya kak." Ucap Shanin sebelum dirinya pergi dari hadapan pelanggan itu menuju ke arah juru masak untuk menyerahkan selembar kertas yang berisi pesanan dari pelanggan seperti biasa.
Membutuhkan waktu beberapa menit untuk pesanan pelanggan tadi selesai dimasak dan siap untuk disajikan, setelah lonceng berbunyi yang menandakan pesanannya sudah siap, Shanin langsung meraih nampan yang berisi pesanan pelanggan tadi dan membawanya ke arah meja si pelanggan dengan hati-hati agar tidak terjatuh.
"Silahkan dinikmati, semoga suka dengan makanan dan juga minuman kafe ini." Ucap Shanin saat perempuan itu baru saja selesai meletakkan pesanan pelanggan tadi di atas meja.
Setelah mengatakan itu, Shanin pun melenggang pergi dari hadapan si penjual dengan sebuah nampan kosong yang ada di tangannya yang tadi sempat digunakan untuk membawa pesanan para pelanggan.
Saat Shanin yang sedang duduk santai dengan Kila, tiba-tiba saja dari arah pintu kafe terlihat seorang anak kecil laki-laki yang datang dengan tergesa masuk ke dalam sana, membuat sebuah keributan dengan suara tangisnya yang menggelar.
Shanin langsung berjalan dengan cepat ke arah sumber suara dan mencoba untuk menenangkan tangisan anak kecil itu yang seperti tidak akan berhenti dalam waktu yang sebentar.
"Ya ampun, kamu kenapa? Cup cup jangan nangis lagi, mamah sama papah kamu kemana?" Tanya Shanin dengan pelan-pelan pada anak kecil itu.
Bukannya sebuah jawaban yang diterima oleh Shanin, melainkan suara tangisan milik anak kecil itu yang semakin mengeras.
"Aduh, udah dong jangan nangis, mau kakak beliin es krim gak?"
Kata es krim sepertinya memang sangat menggoda di telinga anak-anak, lihat saja sekarang ini, tangis anak kecil itu langsung terhenti saat Shanin menawarinya es krim.
"Sha? Anak siapa sih tadi? Berisik banget tau." Keluh Kila saat dirinya baru saja sampai di hadapan Shanin.
"Aku juga gak tau, tiba-tiba masuk ke kafe ini terus nangis kenceng banget."
"Anak kecil emang bener-bener bikin pusing, coba kamu bawa keluar dulu, siapa tau orang tua nya ada di luar." Usul Kila.
Shanin pun mengangguk setuju mendengar perkataan Kila.
"Yuk kita beli es krim nya di luar." Ajak Shanin pada anak kecil itu.
Shanin menjulurkan telapak tangannya agar anak kecil itu dapat meraihnya dan keduanya pun keluar dari dalam kafe.
Perempuan itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk menemukan sosok orang tua dari anak kecil ini, tapi Shanin tidak dapat mengetahui tentang hal itu mengingat dirinya yang tidak kenal dengan wajah orang tua dari anak itu.
"Kamu inget gak gimana muka mamah sama papah kamu?"
Lagi-lagi bukannya menjawab, anak kecil itu malah kembali mengerutkan bibirnya tanda ingin kembali menangis, tapi dengan cepat Shanin menahan hal tersebut.
"Jangan nangis lagi, ayo kita beli es krim disana." Ajak Shanin pada anak lelaki itu sambil menunjuk ke arah dimana terdapat pedagang es krim yang biasanya ada di taman.
Tapi saat Shanin baru saja melangkah kakinya beberapa langkah dari tempat semula, suara milik seseorang menghentikannya.
"Kevin!" Panggil seorang perempuan yang sepertinya sudah lebih tua darinya itu.
Perempuan yang lebih tua dari Shanin itu berjalan dengan tergesa ke arah nya membuat Shanin kebingungan.
"Maaf, dia anak saya. Terimakasih kasih sudah menemukannya, sedari tadi saya sudah berusaha menemukan dia, akhirnya dia dapat ketemu kembali." Jelas si perempuan yang lebih tua itu dengan nafas yang tidak betul karena kelelahan akibat berlari.
"Oh, ibu ini mamahnya?" Tanya Shanin memastikan.
"Iya, saya mamahnya kak." Jawab perempuan itu.
Tanpa ada perasaan curiga sekecil apapun, Shanin tanpa basa-basi langsung kembali menyerahkan anak kecil tersebut pada orangtuanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.