Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 50


__ADS_3

Akhirnya masakan yang tadi dimasak oleh Shanin dibantu oleh Samuel matang juga, walaupun pada kenyataannya Samuel tidak begitu membantu. Ayam goreng dan juga telur balado yang tadi dimasak oleh Shanin dibantu oleh Samuel sudah tersaji di atas piring dan siap untuk mereka santap.


"Sam, coba kamu cek nasinya udah mateng apa belum." Perintah Shanin kepada Samuel karena memang posisi lelaki itu dekat dengan keberadaan penanak nasi.


Tanpa mengucapkan apapun untuk membalas perintah Shanin, lelaki itu langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh perempuan itu meskipun dirinya tidak begitu tau nasi yang bagaimana yang sudah matang.


"Masa yang gini aja gak tau, udah mateng nasinya, kamu bawa ke ruang tengah ya." Ucap Shanin saat dirinya selesai mengecek nasinya sudah matang atau belum.


"Oh iya sekalian kamu bawa-bawa in juga ayam goreng sama telur balado nya, tapi nasinya dulu aja yang kamu bawa, jangan sekaligus." Sambung perempuan itu yang kini sedang mencuci peralatan masak yang tadi terpakai agar tidak terlalu menumpuk.


"Iya Sha, sebentar." Balas Samuel yang sedang membawa penanak nasi ke ruang tengah.


Sebenarnya Samuel benar-benar tidak suka disuruh-suruh seperti ini, tapi entah kenapa jika Shanin yang menyuruh dirinya, lelaki itu tidak sama sekali merasa keberatan ataupun marah, malah dengan cepat Samuel langsung melakukannya tanpa harus disuruh dua kali.


"Sudah semua, saya harus ngapain lagi?" Tanya Samuel sambil menghampiri Shanin yang sedang menyusun peralatan masak yang perempuan itu cuci tadi ke dalam rak.


"Nggak ada, kita langsung makan, tapi kamu cuci tangan dulu." Ucap Shanin.


Usai mengatakan hal tersebut, Shanin yang sudah mencuci tangannya itu meninggal Samuel di dapur, lelaki itu sedang mencuci tangannya seperti apa yang diperintahkan oleh Shanin barusan dan tidak lama dari itu Samuel langsung ikut duduk di samping Shanin yang berada di ruang tengah untuk menyantap makanan hasil masak mereka. Ah mungkin lebih tepatnya hasil memasak Shanin.


"Kamu mau pake lauk apa aja, Sam?" Tanya Shanin saat sedang mengambil nasi untuk dirinya sendiri dan juga untuk Samuel.


"Saya ayam gorengnya saja." Balas lelaki itu yang membuat dahi Shanin berkerut.


"Yakin ayam gorengnya aja? Gak mau telur balado nya?" Tanya Shanin memastikan.


"Iya itu saja." Jawab Samuel dengan pasti.


"Ya udah, nih." Ucap Shanin sambil memberikan sebuah piring yang sudah terisi dengan nasi dan juga ayam goreng sesuai dengan permintaan Samuel.


Sedangkan Shanin makan dengan ayam goreng dan juga telur balado yang dia masak tadi, keduanya sibuk dengan makanan masing-masing sampai pada akhirnya tanpa Shanin sadari jika sedari tadi Samuel terus memperhatikannya yang sedang makan dengan lahap.


Lelaki itu sedikit tergoda ketika Shanin terlihat sangat menikmati telur balado yang perempuan itu masak sendiri, tapi Samuel masih sedikit ragu untuk mencobanya.


"Saya boleh minta telur balado nya?" Pada akhirnya Samuel sudah tidak kuat menahan rasa penasarannya dengan rasa telur balado buatan Shanin.


"Ngapain izin? Ambil aja, kan tadi aku udah nawarin juga sama kamu." Balas Shanin yang menghentikan sejenak kegiatan makannya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Shanin, Samuel langsung menyendok telur balado tersebut dan menyimpannya di atas piring miliknya. Agar mulutnya bisa beradaptasi terlebih dahulu, lelaki itu hanya mencoba sedikit dan ternyata tanpa lelaki itu duga jika rasa telur balado benar-benar enak, apalagi ini buatan Shanin.


"Gimana? Enak?" Tanya Shanin saat melihat bagaimana ekspresi Samuel saat memakan telur balado buatannya.


"Lumayan, masih bisa dimakan." Balas lelaki itu.


Sontak saja balasan dari Samuel membuat Shanin kesal, tinggal bilang enak apa susahnya sih? Tapi karena tidak ingin ribut sekarang ini, perempuan itu memilih untuk kembali menikmati kegiatan makannya, begitupun dengan Samuel yang terlihat menikmati makanan di piring miliknya.


Tiba-tiba saja Samuel tersedak dan mulai terbatuk-batuk, Shanin dengan segera langsung menuangkan air minum dan memberikannya kepada Samuel yang langsung diterima oleh lelaki yang sedang tersedak itu.


"Mangkanya makannya pelan-pelan Sam, gak bakalan ada yang minta ini." Shanin menasihati lelaki yang baru saja tersedak itu.


Segelas air minum yang diberikan oleh Shanin tadi langsung diminum habis oleh Samuel, lelaki itu sedikit merasa lega karena sudah tidak terbatuk-batuk lagi.


"Terimakasih, saya akan makan pelan-pelan." Ucap Samuel yang kemudian melanjutkan kegiatan makannya.


Tanpa Shanin ketahui jika sebenarnya Samuel saat ini benar-benar sedang menahan malu karena tersedak tadi, lelaki itu mengingat bagaimana di awal dia tidak ingin memakan telur balado sampai pada akhirnya saat ini dirinya sampai tersedak seperti tadi karena makan telur balado dengan terburu-buru seperti orang kelaparan.


Keduanya pun kembali pada makanannya masing-masing yang masih tersisa diatas piring, tapi kali ini Samuel makan lebih pelan-pelan dari yang sebelumnya takut nantinya malah kembali malu karena tersedak lagi.


Tidak lama dari itu Shanin menyelesaikan makannya, begitupula dengan Samuel, sebelum beranjak dari tempat duduknya, Shanin menyempatkan diri untuk meminum segelas air putih untuk menghilangkan rasa hausnya setelah makan tadi.

__ADS_1


"Kamu bawa piring kotornya ke belakang ya Sam, aku mau nyapu ini dulu, nanti aku cuci." Titah Shanin kepada Samuel yang sama-sama baru selesai makan itu.


Lagi-lagi Samuel langsung menurutinya tanpa harus disuruh dua kali oleh Shanin, lelaki itu langsung beranjak dari duduknya sambil membawa piring kotor bekas dirinya dan juga Shanin.


Sedangkan Shanin, perempuan itu melakukan apa yang dia katakan sebelumnya pada Samuel yaitu menyapu, jika dilihat-lihat mereka layaknya sepasang suami istri yang sedang berbagi tugas.


Butuh waktu beberapa menit untuk Shanin menyelesaikan pekerjaan sedangkan Samuel sudah kembali duduk di kursi yang ada di ruang tengah kontrakan Shanin sambil memainkan ponsel miliknya.


"Kamu kapan mau pulangnya?" Tanya Shanin saat melihat Samuel yang sedang duduk santai, bukan bermaksud untuk mengusir lelaki itu tapi hari sudah semakin malam,


"Sebentar, saya masih ingin berada disini." Balas Samuel.


"Mau ngapain?"


"Hanya ingin." Jawaban singkat itulah yang membuat Shanin merasa kesal.


"Ya udah terserah kamu." Setelah mengatakan itu Shanin langsung meninggalkan Samuel di sana.


Butuh waktu beberapa menit untuk Shanin menyelesaikan pekerjaan sedangkan Samuel sudah kembali duduk di kursi yang ada di ruang tengah kontrakan Shanin sambil memainkan ponsel miliknya.


"Kamu kapan mau pulangnya?" Tanya Shanin saat melihat Samuel yang sedang duduk santai, bukan bermaksud untuk mengusir lelaki itu tapi hari sudah semakin malam,


"Sebentar, saya masih ingin berada disini." Balas Samuel.


"Mau ngapain?"


"Hanya ingin." Jawaban singkat itulah yang membuat Shanin merasa kesal.


"Ya udah terserah kamu." Setelah mengatakan itu Shanin langsung meninggalkan Samuel di sana.


Akhirnya masakan yang tadi dimasak oleh Shanin dibantu oleh Samuel matang juga, walaupun pada kenyataannya Samuel tidak begitu membantu. Ayam goreng dan juga telur balado yang tadi dimasak oleh Shanin dibantu oleh Samuel sudah tersaji di atas piring dan siap untuk mereka santap.


"Sam, coba kamu cek nasinya udah mateng apa belum." Perintah Shanin kepada Samuel karena memang posisi lelaki itu dekat dengan keberadaan penanak nasi.


Tanpa mengucapkan apapun untuk membalas perintah Shanin, lelaki itu langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh perempuan itu meskipun dirinya tidak begitu tau nasi yang bagaimana yang sudah matang.


"Masa yang gini aja gak tau, udah mateng nasinya, kamu bawa ke ruang tengah ya." Ucap Shanin saat dirinya selesai mengecek nasinya sudah matang atau belum.


"Oh iya sekalian kamu bawa-bawa in juga ayam goreng sama telur balado nya, tapi nasinya dulu aja yang kamu bawa, jangan sekaligus." Sambung perempuan itu yang kini sedang mencuci peralatan masak yang tadi terpakai agar tidak terlalu menumpuk.


"Iya Sha, sebentar." Balas Samuel yang sedang membawa penanak nasi ke ruang tengah.


Sebenarnya Samuel benar-benar tidak suka disuruh-suruh seperti ini, tapi entah kenapa jika Shanin yang menyuruh dirinya, lelaki itu tidak sama sekali merasa keberatan ataupun marah, malah dengan cepat Samuel langsung melakukannya tanpa harus disuruh dua kali.


"Sudah semua, saya harus ngapain lagi?" Tanya Samuel sambil menghampiri Shanin yang sedang menyusun peralatan masak yang perempuan itu cuci tadi ke dalam rak.


"Nggak ada, kita langsung makan, tapi kamu cuci tangan dulu." Ucap Shanin.


Usai mengatakan hal tersebut, Shanin yang sudah mencuci tangannya itu meninggal Samuel di dapur, lelaki itu sedang mencuci tangannya seperti apa yang diperintahkan oleh Shanin barusan dan tidak lama dari itu Samuel langsung ikut duduk di samping Shanin yang berada di ruang tengah untuk menyantap makanan hasil masak mereka. Ah mungkin lebih tepatnya hasil memasak Shanin.


"Kamu mau pake lauk apa aja, Sam?" Tanya Shanin saat sedang mengambil nasi untuk dirinya sendiri dan juga untuk Samuel.


"Saya ayam gorengnya saja." Balas lelaki itu yang membuat dahi Shanin berkerut.


"Yakin ayam gorengnya aja? Gak mau telur balado nya?" Tanya Shanin memastikan.


"Iya itu saja." Jawab Samuel dengan pasti.


"Ya udah, nih." Ucap Shanin sambil memberikan sebuah piring yang sudah terisi dengan nasi dan juga ayam goreng sesuai dengan permintaan Samuel.

__ADS_1


Sedangkan Shanin makan dengan ayam goreng dan juga telur balado yang dia masak tadi, keduanya sibuk dengan makanan masing-masing sampai pada akhirnya tanpa Shanin sadari jika sedari tadi Samuel terus memperhatikannya yang sedang makan dengan lahap.


Lelaki itu sedikit tergoda ketika Shanin terlihat sangat menikmati telur balado yang perempuan itu masak sendiri, tapi Samuel masih sedikit ragu untuk mencobanya.


"Saya boleh minta telur balado nya?" Pada akhirnya Samuel sudah tidak kuat menahan rasa penasarannya dengan rasa telur balado buatan Shanin.


"Ngapain izin? Ambil aja, kan tadi aku udah nawarin juga sama kamu." Balas Shanin yang menghentikan sejenak kegiatan makannya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Shanin, Samuel langsung menyendok telur balado tersebut dan menyimpannya di atas piring miliknya. Agar mulutnya bisa beradaptasi terlebih dahulu, lelaki itu hanya mencoba sedikit dan ternyata tanpa lelaki itu duga jika rasa telur balado benar-benar enak, apalagi ini buatan Shanin.


"Gimana? Enak?" Tanya Shanin saat melihat bagaimana ekspresi Samuel saat memakan telur balado buatannya.


"Lumayan, masih bisa dimakan." Balas lelaki itu.


Sontak saja balasan dari Samuel membuat Shanin kesal, tinggal bilang enak apa susahnya sih? Tapi karena tidak ingin ribut sekarang ini, perempuan itu memilih untuk kembali menikmati kegiatan makannya, begitupun dengan Samuel yang terlihat menikmati makanan di piring miliknya.


Tiba-tiba saja Samuel tersedak dan mulai terbatuk-batuk, Shanin dengan segera langsung menuangkan air minum dan memberikannya kepada Samuel yang langsung diterima oleh lelaki yang sedang tersedak itu.


"Mangkanya makannya pelan-pelan Sam, gak bakalan ada yang minta ini." Shanin menasihati lelaki yang baru saja tersedak itu.


Segelas air minum yang diberikan oleh Shanin tadi langsung diminum habis oleh Samuel, lelaki itu sedikit merasa lega karena sudah tidak terbatuk-batuk lagi.


"Terimakasih, saya akan makan pelan-pelan." Ucap Samuel yang kemudian melanjutkan kegiatan makannya.


Tanpa Shanin ketahui jika sebenarnya Samuel saat ini benar-benar sedang menahan malu karena tersedak tadi, lelaki itu mengingat bagaimana di awal dia tidak ingin memakan telur balado sampai pada akhirnya saat ini dirinya sampai tersedak seperti tadi karena makan telur balado dengan terburu-buru seperti orang kelaparan.


Keduanya pun kembali pada makanannya masing-masing yang masih tersisa diatas piring, tapi kali ini Samuel makan lebih pelan-pelan dari yang sebelumnya takut nantinya malah kembali malu karena tersedak lagi.


Tidak lama dari itu Shanin menyelesaikan makannya, begitupula dengan Samuel, sebelum beranjak dari tempat duduknya, Shanin menyempatkan diri untuk meminum segelas air putih untuk menghilangkan rasa hausnya setelah makan tadi.


"Kamu bawa piring kotornya ke belakang ya Sam, aku mau nyapu ini dulu, nanti aku cuci." Titah Shanin kepada Samuel yang sama-sama baru selesai makan itu.


Lagi-lagi Samuel langsung menurutinya tanpa harus disuruh dua kali oleh Shanin, lelaki itu langsung beranjak dari duduknya sambil membawa piring kotor bekas dirinya dan juga Shanin.


Sedangkan Shanin, perempuan itu melakukan apa yang dia katakan sebelumnya pada Samuel yaitu menyapu, jika dilihat-lihat mereka layaknya sepasang suami istri yang sedang berbagi tugas.


Butuh waktu beberapa menit untuk Shanin menyelesaikan pekerjaan sedangkan Samuel sudah kembali duduk di kursi yang ada di ruang tengah kontrakan Shanin sambil memainkan ponsel miliknya.


"Kamu kapan mau pulangnya?" Tanya Shanin saat melihat Samuel yang sedang duduk santai, bukan bermaksud untuk mengusir lelaki itu tapi hari sudah semakin malam,


"Sebentar, saya masih ingin berada disini." Balas Samuel.


"Mau ngapain?"


"Hanya ingin." Jawaban singkat itulah yang membuat Shanin merasa kesal.


"Ya udah terserah kamu." Setelah mengatakan itu Shanin langsung meninggalkan Samuel di sana.


Butuh waktu beberapa menit untuk Shanin menyelesaikan pekerjaan sedangkan Samuel sudah kembali duduk di kursi yang ada di ruang tengah kontrakan Shanin sambil memainkan ponsel miliknya.


"Kamu kapan mau pulangnya?" Tanya Shanin saat melihat Samuel yang sedang duduk santai, bukan bermaksud untuk mengusir lelaki itu tapi hari sudah semakin malam,


"Sebentar, saya masih ingin berada disini." Balas Samuel.


"Mau ngapain?"


"Hanya ingin." Jawaban singkat itulah yang membuat Shanin merasa kesal.


"Ya udah terserah kamu." Setelah mengatakan itu Shanin langsung meninggalkan Samuel di sana.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2