
Pagi ini Shanin sudah terbangun seperti biasanya karena harus berangkat ke kafe tempat dirinya bekerja. Semalam tidurnya benar-benar tidak bisa tenang karena terus teringat perkataan Samuel di telepon semalam.
Tidur Shanin tidak dapat tenang karena dirinya terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Samuel itu, perempuan itu awalnya sempat berpikir jika lelaki yang ada diseberang sana mabuk semalam sampai berkata demikian.
Tapi dari nada bicara yang diberikan oleh lelaki itu, tidak ada sama sekali tanda-tanda dirinya sedang mabuk, lelaki itu dengan jelas mengatakannya dan bahkan sempat mengulang perkataannya.
"Huft, semoga aja hari ini dia gak bener-bener ke kafe." Ucap Shanin kepada dirinya sendiri sebelum perempuan itu mengendarai motornya meninggalkan kontrakan menuju ke kafe tempat kerjanya.
Sesampainya di kafe, Shanin langsung mengambil lap seperti biasanya untuk mengelap meja kafe yang berdebu, beberapa karyawan juga sudah datang, salah satunya adalah Kila, Anna hari ini libur jadi tentu saja teman kerja Shanin yang satu itu tidak akan datang ke kafe.
Baru saja Shanin mengelap salah satu meja yang ada disana, tiba-tiba pintu kafe terbuka menandakan ada seseorang yang masuk, awalnya Shanin mengira jika itu mungkin salah satu karyawan yang baru saja datang.
Tapi matanya secara otomatis membelalakkan saat melihat Samuel yang kini sudah berdiri di ambang pintu sana, menatap ke arahnya dan mulai menjalan mendekat pada dirinya.
Shanin tidak menyangka jika lelaki itu akan senekat ini datang pagi-pagi sekali ke kafe, yang seharusnya lelaki itu berangkat ke kantor tempat dirinya bekerja.
Lidah Shanin kelu tidak dapat mengatakan apapun saat ini juga, membiarkan keduanya saling bertatapan beberapa detik.
"Shanin, saya serius soal semalam dan saya juga siap jika kamu menyuruh untuk mengulangi kata-kata saya semalam sekarang juga." Ucap Samuel.
Shanin yang mendengar perkataan itu terdiam kaku, bingung ingin mengatakan apalagi karena dirinya benar-benar gugup saat ini.
"Sam, kamu emangnya gak ke kantor hari ini?" Shanin malah bertanya tentang hal yang diluar topik pembicaraan laki-laki itu.
Samuel menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Saya akan berangkat ke kantor setelah ini, tolong kamu beri saya jawaban atas pernyataan cinta saya semalam, Shanin."
Sontak saja Shanin semakin dibuat membisu saat ini, perempuan itu tidak tau harus merespon bagaimana pernyataan lelaki itu semalam.
"Pernyataan yang mana?"
"Apa perlu saya ulangi? Baiklah." Ucap Samuel sambil menumpu salah satu kakinya di hadapan Shanin, lelaki itu berlutut.
"Sam, bangun, ngapain kayak gitu?"
Shanin berusaha membuat Samuel kembali berdiri karena takut jika ada karyawan lain yang melihatnya, untung saja Kila masih ada di belakang.
"Bangun ih Sam, takut ada karyawan lain yang liat." Baru kali ini Shanin memerintah kepada Samuel.
Melihat perempuan yang ada di hadapannya nampak tidak nyaman dengan apa yang dia lakukan, Samuel pun kembali berdiri sesuai apa yang diperintahkan oleh perempuan itu.
__ADS_1
Samuel kemudian meraih kedua tangan Shanin untuk lelaki itu genggaman dan matanya menatap mata Shanin secara dalam.
"Tangan aku kotor Sam, habis pegang lap kotor barusan." Ucap Shanin sambil berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Samuel.
Bukannya melepaskan genggamannya, Samuel malah semakin mengeratkan genggaman tangannya itu sambil menggelengkan kepala tanda bahwa itu tidak masalah.
"Saya rasa saya jatuh cinta sama kamu Shanin." Ucap Samuel.
Shanin semakin dibuat diam mendengar perkataan itu, dia tidak tau harus bagaimana menanggapi perkataan Samuel barusan.
"Saya tidak memaksa kamu untuk menerima atau membalas pernyataan cinta saya barusan, ini saya lakukan agar hati saya merasa lega."
"Sam, aku gak bisa." Balas Shanin pelan.
Sebenarnya Shanin tidak sungguh-sungguh mengatakan itu, dirinya tentu saja sadar diri jika dirinya dan Samuel benar-benar berbeda dari sudut pandang manapun.
Padahal dalam hati kecil Shanin pun merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Samuel, tapi Shanin merasa tidak pantas jika harus bersanding dengan lelaki itu.
"Tidak apa-apa, sudah saya bilang tadi jika saya tidak memaksa kamu untuk menerima atau membalas perasaan saya."
"Maaf." Shanin tertunduk ketika mengatakan itu.
"Aku tetap bakalan minta maaf sama kamu." Ucap Shanin sambil menatap ke arah Samuel.
"Kalau begitu saya tidak akan menerima permintaan maaf dari kamu karena kamu tidak bersalah."
Merasa jika genggaman Samuel di tangannya mulai merenggang, Shanin langsung melepaskan tangannya dari genggaman itu.
"Kamu jangan lupa cuci tangan abis ini ya, tangan aku kotor soalnya tadi."
Lihat, Shanin malah membahas hal lain yang menurut Samuel tidak penting untuk saat ini, bahkan perempuan itu lebih mementingkan keadaan tangannya yang kotor daripada hatinya yang sedang sakit saat ini karena ditolak oleh dia.
"Iya-iya, kalau gitu saya pergi ke kantor dulu, makan siang nanti saya akan kembali kesini." Ucap Samuel.
"Mau ngapain lagi?"
"Tentu saja untuk makan siang, memangnya untuk apalagi datang siang-siang kesini?" Tanya Samuel seolah menggoda Shanin.
"O-oh iya yah, ya udah sana cepet berangkat takut telat."
__ADS_1
"Saya pemilik perusahaan itu kalau kamu lupa, jadi tidak masalah mau saya telat atau tidak masuk kerja sekalipun." Memang sifat orang kaya yang satu ini sulit untuk dihilangkan.
"Iya-iya deh terserah kamu aja mau gimana, tolong minggir deh aku mau lewat, mau ngelap kaca jendela."
Menderita permintaan perempuan itu, Samuel langsung menyingkir dari sana agar Shanin dapat lewat di depannya, karena memang posisinya tadi menghalangi jalan Shanin.
"Semang kerjanya, saya pergi ke kantor dulu."
Setelah mengatakan itu Samuel langsung melenggang pergi dari dalam kafe dengan perasaan lega sekaligus kecewa, lelaki itu tidak sungguh-sungguh mengatakan jika tidak masalah kalau seandainya Shanin tidak menerima atau menolak pernyataan cinta.
Di dalam hatinya, Samuel berharap besar jika Shanin dapat membalas perasaannya, tapi lelaki itu tidak ingin egois dengan memaksakan pilihan perempuan itu.
Sedangkan di dalam kafe, Shanin mengelap kaca jendela dengan pikiran yang melayang entah kemana. Perempuan itu masih memikirkan tentang pernyataan cinta Samuel tadi, Shanin takut jika balasannya pada lelaki tadi malah membuat Samuel sakit hati terhadapnya.
Walaupun lelaki itu sudah mengatakan tidak apa-apa tentang hal itu, tapi tetap saja Shanin merasa tidak enak, apalagi saat dirinya kembali teringat bagaimana ekspresi kecewa dari Samuel tadi saat dirinya menolak pernyataan cinta lelaki itu.
Tidak terasa kaca jendela yang dia lap tadi sudah bersih walaupun dia melakukan itu sambil melamun, Shanin kemudian berjalan ke arah belakang untuk menyimpan lap bekas mengelap kaca tadi, tapi saat di tengah jalan, perempuan itu malah dihadang oleh Kila.
"Etss, nanti dulu."
"Ada apa sih, Kil? Aku mau taruh lap ini ke belakang." Ucap Shanin sambil menunjukkan lap kotor tadi pada Kila.
"Tadi aku lihat semuanya loh Sha, kasian banget temen kamu itu ditolak mentah-mentah sama kamu." Ucap Kila.
"Emangnya aku keterlaluan banget ya sama dia?"
"Ya iyalah! Kamu tau gak sih kalo tadi temen kamu itu kelihatan kecewa banget denger tanggapan kamu yang kayak gitu?"
"Aku bingung Kil harus kayak gimana."
"Apa yang bikin kamu bingung? Soal perasaan kamu?"
"Iya, aku bingung sama perasaan aku sendiri. Aku emang ngerasa nyaman ada di samping dia, tapi aku juga ngerasa takut disaat yang bersamaan, takut kalau semisalnya aku terlalu berharap sama dia." Jelas Shanin.
"Tapi kamu juga bisa denger sendiri tadi kalo dia cinta sama kamu, apalagi yang mesti kamu takuti?"
"Gak tau deh aku bingung, jangan bahas itu lagi."
Setelah mengatakan hal itu Shanin langsung melenggang pergi ke tujuan awalnya yaitu area belakang, meninggalkan Kila yang terdiam di tempatnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.