
Kini makanan yang ada di meja Samuel sudah habis tanpa tersisa sedikitpun, Shanin yang melihat itu pun beranggapan jika lelaki yang ada di depannya ini suka dengan menu yang ada di kafe ini.
"Kamu suka sama menu-menu yang ada di kafe ini Sam?" Tanya Shanin saat Samuel tengah mengelap mulutnya dengan tisu.
"Lumayan, untuk sementara ini menu-menu yang saya pesan sesuai dengan selera yang saya miliki." Jawab Samuel.
"Walaupun bukan aku yang masak tapi aku tetep seneng dengernya." Ucap Shanin dengan senyum manis di bibirnya, sudah tidak ada lagi rasa takut terhadap lelaki yang ada di depannya seperti tadi.
Sedangkan lelaki yang ada di hadapan perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai sebuah tanggapan, Samuel kemudian beranjak dari duduknya, Shanin yang melihat Samuel berdiri juga ikut melakukan hal yang sama.
"Saya harus kembali lagi ke kantor." Ucap Samuel sambil merogoh kantong celananya untuk mengambil dompet miliknya yang ada di dalam sana.
"Oh, kalo gitu hati-hati dijalan Sam." Balas Shanin.
"Kamu hari ini pulang sore atau malam?" Tanya Samuel.
"Hari ini aku kerja sampe malem, kenapa emangnya?"
"Tidak apa-apa, hanya bertanya saja. Hati-hati juga kalau begitu nanti malam, saya bayar makanan saya dulu." Ucap Samuel sambil membawa langkahnya ke arah kasir.
Melihat lelaki itu berjalan ke arah kasir, Shanin mengikutinya dari belakang dengan membawa piring-piring dan juga gelas kotor bekas Samuel tadi.
Lelaki itu membayar pesanan di kasir, sedangkan Shanin pergi ke area belakang untuk menyimpan piring dan juga gelas kotor tadi dan setelah selesai menyimpan barang itu, Shanin segera kembali ke dekat kasir.
Ternyata Samuel sudah selesai membayar dan sudah melenggang pergi, Shanin dapat melihat lelaki itu berjalan ke arah parkiran dimana mobil miliknya berada.
Shanin menatap kepergian Samuel tanpa bereaksi apapun, perempuan itu kemudian kembali bergabung dengan kedua teman kerjanya yang duduk di kursi dekat meja kasir.
"Kalian lagi marahan?" Pertanyaan dari Kila barusan membuat Shanin mengerutkan keningnya.
"Kalian siapa? Siapa yang marahan?" Shanin baling bertanya.
"Kamu sama cowok yang katanya temen kamu tadi." Jawab Kila.
"Marahan dari mananya deh? Biasa aja perasaan." Ucap Shanin.
"Cowok tadi mukanya keliatan asem banget, kayak yang lagi marahan sama pacarnya, iya kan Ann?" Kila meminta persetujuan dari Anna.
Sedangkan perempuan yang dimintai persetujuan itu hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kila.
"Iya kali lagi marahan sama pacarnya, bukan sama aku." Balas Shanin.
__ADS_1
"Yang aku maksud pacarnya itu kamu."
"Dih aneh banget deh, orang aku sama dia cuma temenan."
Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Shanin membuat kedua teman kerjanya itu menganggukkan kepala tanda mengiyakan tapi dengan ekspresi yang meledek.
Shanin yang melihat itu pun hanya memutar bola matanya malas, terserah mereka saja lah ingin berpikiran apa tentang dirinya dan Samuel, lagipula mau dijelaskan sedetail apapun mereka tidak akan percaya.
Waktu terus berlalu, ada beberapa pelanggan kafe yang sempat mampir tapi tidak dalam waktu yang berbarengan, maka dari itu kafe terlihat tetap sepi.
Sampai pada akhirnya jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, waktunya Anna untuk pulang dari kafe karena dia hanya bekerja sampe sore.
Sedangkan Shanin harus menyiapkan diri untuk melayani pelanggan tanpa bantuan siapapun karena Anna telah pulang dari kafe.
"Shanin, Kila, aku pulang duluan." Pamit Anna sambil berusaha merogoh kantong belakang celana jeans nya yang terdapat sebuah kunci motor didalamnya.
"Iya Anna hati-hati." Balas Shanin.
"Hati-hati Ann, jangan lupa juga sama semur dagingnya buat aku." Sedangkan ini adalah balasan yang diberikan oleh Kila.
"Iya-iya Kil tenang aja, bye! Semangat kerja bagaikan kudanya." Sebelum pergi dari kedua teman kerjanya.
Tubuh ramping dan tinggi milik Anna menghilangkan dibalik pintu kafe, Shanin dengan Kila memilih untuk saling diam di kursinya masing-masing.
Shanin yang mendengar namanya oleh Kila hanya berdeham sebagai jawaban.
"Aku pengen lanjut kuliah deh." Ucap Kila.
"Ya lanjut aja Kil kalo kamu mau dan sanggup buat jalaninnya." Balas Shanin.
"Tapi aku ragu buat itu."
"Apa yang bikin kamu ragu?"
"Aku udah tunda kuliah empat tahun, rasanya pasti bakalan aneh." Ucap Kila.
"Dicoba dulu, lagipula menurut aku oke-oke aja mau kuliah di umur berapa pun dan telat kuliah itu gak masalah." Shanin menanggapi itu dengan santai.
"Oke nanti aku coba omongin sama orang tua aku dulu."
Setelah itu keduanya dipenuhi dengan keheningan, dalam hati Shanin tiba-tiba terbesit kembali keinginan untuk melanjutkan pendidikannya ketika mendengar Kila memiliki rencana untuk berkuliah.
__ADS_1
Tapi rasanya mustahil untuk Shanin melakukan itu, hidupnya serba pas-pasan, syukur-syukur dirinya mempunyai uang untuk makan dan bayar kontrakan.
"Kamu semangat sekolahnya, jangan malas-malasan biar bisa masuk PTN impian." Ucapan sang ayah kembali terngiang-ngiang di dalam kepala Shanin.
Dulu ketika mendengar ayahnya berkata demikian membuat Shanin dengan semangat menjalani hari-hari di sekolah dan belajar dengan giat, perempuan itu tersenyum kecil mengingat itu.
Bagaimana dirinya dan juga teman-teman sekelas membicarakan PTN apa yang akan menjadi pilihan mereka, seakan sangat yakin dia akan masuk ke PTN itu, apalagi dengan adanya dorongan dari sang ayah.
"Sha, jangan ngelamun." Suara itu membuat Shanin tersadar dari lamunannya.
"Gak ngelamun, aku cuma ngantuk." Balas Shanin.
"Orang aku yang lihat sendiri kamu melamun."
"Perasaan kamu aja kali, aku ke belakang dulu deh mau cuci muka."
Shanin kemudian langsung beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah belakang lebih tepatnya ke arah kamar mandi untuk mencuci mukanya berharap agar dirinya menjadi lebih segar.
Setelah selesai dengan kegiatan itu, Shanin langsung kembali ke kursi yang ada di dekat kasir tadi, perempuan itu kemudian merogoh ponsel miliknya untuk memainkannya karena merasa bosan.
Saat ponsel itu menyala, langsung ada beberapa notifikasi yang ada disana, salah satunya adalah panggilan tidak terjawab dari Ajeng.
Shanin mengerutkan keningnya bingung kenapa Ajeng menelponnya, apa perempuan itu hanya salah pencet?
Kemudian perempuan itu memilih untuk menelpon balik nomor teman kerjanya di tempat sebelumnya itu, panggilan pertama tidak terjawab, Shanin kembali melakukan panggilan yang kedua, tapi hasilnya tetap sama, tidak dijawab juga.
"Telepon siapa Sha?" Tanya Kila saat melihat temannya menelpon seseorang.
"Temen aku." Jawab Shanin.
"Temen apa temen?" Kila kembali menggoda Shanin.
"Beneran temen Kil, nih kamu lihat sendiri namanya Ajeng, tadi dia nelpon aku tapi gak ke angkat, mangkanya aku telpon balik takut penting, eh malah gak diangkat." Jelas Shanin panjang lebar pada Kila.
"Ohh gitu, lagi sibuk kali, coba telpon nanti aja." Saran Kila.
"Mungkin, ya udah deh nanti aku telpon lagi nanti malem."
Setelah itu Shanin kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celananya dan perempuan itu memilih untuk beranjak dari duduknya.
Berjalan masuk ke area belakang untuk mengambil lap basah, daripada bosan Shanin berinisiatif untuk mengelap meja-meja bekas pelanggan tadi agar lebih bersih.
__ADS_1
BERSAMBUNG.