
Pada malam harinya saat Shanin baru saja selesai membereskan kafe dan bersiap-siap untung pulang, pintu kafe kembali terbuka menunjukkan sosok Samuel yang berdiri di ambang pintu sana.
Shanin kira lelaki itu tidak akan datang, namun nyatanya kini lelaki itu sudah berdiri di ambang pintu kafe dengan jas yang tadi siang dia pakai sudah terlampir di lengannya dan juga dua kancing teratas kemejanya sudah terbuka membuat Shanin terpesona dalam beberapa detik.
Keduanya melakukan kontak mata, Samuel mulai berjalan mendekat ke arah Shanin yang masih berdiri di dekat tempat kasir seorang diri karena memang Anna sudah pulang terlebih dahulu sore tadi dan juga Kila yang sedang berada di belakang kafe untuk mengambil barang bawaannya.
"Ngapain kesini sih Sam? Bukannya langsung pulang aja." Ucap Shanin sambil menatap ke arah Samuel.
"Hanya inget, lagipula tidak ada larangan untuk saya datang kesini."
Mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Samuel membuat Shanin memutarkan bola matanya malas, perempuan itu memilih untuk melenggang pergi keluar dari dalam kafe meninggalkan Samuel yang masih berdiri di tempat tadi.
Dapat ditebak jika Samuel langsung mengikuti Shanin dari belakang berusaha untuk menyamakan langkahnya, mereka berjalan beriringan menuju ke area parkir. Entah sengaja atau bagaimana, mobil Samuel malah terparkir asal menghalangi motor Shanin untuk keluar dari parkiran.
"Asal-asalan banget jadi orang, mobil kamu bikin motor aku gak bisa keluar tau gak sih Sam?" Shanin mengatakan itu sambil memutar tubuhnya agar menghadap ke arah Samuel yang ada di belakangnya.
"Memang itu tujuan saya, agar kamu tidak pergi begitu saja." Balas lelaki itu dengan santainya.
Terdengar suara helaan nafas panjang dari sang perempuan ketika mendengar jawaban tidak masuk akan yang dilontarkan oleh Samuel barusan, Shanin sudah cukup lelah untuk kembali menanggapi lelaki itu sebenarnya.
"Mau kamu apa sih Sam? Aku capek, mau pulang." Ucap Shanin dengan wajah yang lesu tanda kelelahan dan butuh istirahat.
"Saya antar kamu pulang menggunakan mobil saya agar dapat segera beristirahat." Lagi-lagi Samuel menjawab dengan asal pertanyaan dari Shanin.
"Jangan aneh-aneh, aku bawa motor sendiri kalo kamu lupa."
"Itu bisa diurus, nanti saya akan menyuruh anak buah saya untuk membawa motor milikmu sampai dengan aman ke kontrakan."
__ADS_1
"Terlalu ribet, aku masih kuat kalo cuma bawa motor dari sini sampe ke kontrakan aku." Shanin mengatakan itu sambil meraba-raba tas selempang miliknya untuk mencari kunci motor miliknya.
"Nurut apa kata saya, mana kunci motor kamu?"
"Buat apaan?"
"Udah sini mana? Mau saya kasih ke bawahan saya untuk membawanya ke kontrakan milikmu.
Karena malas untuk berdebat lebih lama lagi bersama dengan Samuel, Shanin langsung menyerahkan kunci motor miliknya itu kepada lelaki itu tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Masuk dulu aja." Ucap Samuel sambil membukakan pintu mobil di bagian depan untuk Shanin.
Setelah Shanin berhasil duduk di kursi penumpang, Samuel pun ikut masuk ke dalam mobil tersebut di sisi lain, lelaki itu tidak langsung menyalakan mesin mobil miliknya, Samuel memilih untuk membuka ponsel pribadi miliknya dan berniat untuk menelpon bawahannya dan beritahu mereka untuk menjalankan perintah yang dia berikan.
Terdengar suara milik Samuel yang sedang berbicara dengan lawan bicaranya di seberang sana, Shanin tidak ingin ambil pusing dan memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada kursi yang kini dia duduki.
"Tunggu sebentar ya, bawahan saya akan segera datang sendiri, sini dulu mas"
Setelah itu tidak ada lagi suara yang mengganggu tidurnya, tapi perempuan itu mulai merasa jika mobil yang kini tengah ditumpangi mulai berjalan tapi lagi-lagi perempuan itu tidak peduli dan tetap melanjutkan.
Beberapa menit kemudian Samuel sudah masuk ke dalam gang terakhir dekat kontrakan milik Zendaya, saat sampai di depan. Samuel dengan perlahan menepuk pipi Shanin, berusaha untuk membangunkan perempuan itu.
Shanin yang merasa kegiatan tidurnya terganggu berusaha untuk membuka kelopak matanya dan menyesuaikan cahaya yang masuk, saat matanya berhasil terbuka, wajah tampan milik Samuel langsung terpampang di hadapannya.
"Udah sampe?" Shanin bertanya untuk memastikan, perempuan itu belum sadar sepenuhnya.
"Iya udah, ayo turun dulu nanti tidurnya lanjut di kamar kamu." Ucap Samuel sambil membuka sabuk pengaman miliknya.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain tidur di kamar aku?!" Tanya Shanin dengan suara yang sedikit tinggi.
Mendengar hal itu membuat Samuel terkekeh, rupanya Shanin salah menangkap maksud dari perkataannya tadi.
"Kamu salah paham, maksud saya tidur kamu yang bisa lanjut di kamar kamu nanti." Jelas Samuel kepada Shanin.
Shanin yang belum sadar sepenuhnya hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan ikut membuka sabuk pengaman miliknya tapi sepertinya perempuan itu kesulitan melakukan hal itu, sabuk pengamannya tidak terbuka walaupun Shanin sudah berkali-kali berusaha membukanya.
Samuel yang melihat itupun langsung memiliki inisiatif untuk membantu perempuan itu, mendekatkan diri ke arahnya dan mulai menjulurkan tangannya untuk membuka sabuk pengaman tersebut.
"Kalo nggak bisa tuh bilang." Ucap Samuel sambil berusaha untuk membuka sabuk pengaman milik Shanin.
Hanya butuh satu kali percobaan untuk Samuel membuka sabuk pengaman tersebut, kini sabuk pengaman itu sudah berhasil terbuka dan keduanya langsung keluar dari dalam mobil, berjalan mendekat ke arah kontrakan Shanin.
Sampai di depan kontrakan milik Shanin, perempuan itu langsung mengeluarkan kunci pintu kontrakannya yang ada di dalam tas selempang miliknya dan langsung membuka pintu yang sebelumnya terkunci itu.
"Kamu mau masuk dulu?" Tawar Shanin pada Samuel yang kini masih ada di hadapannya.
Mendengar pertanyaan dari Shanin membuat Samuel menggelengkan kepalanya. "Nggak, sudah terlalu malam. Saya akan langsung pulang."
"Ya udah kalo gitu hati-hati di jalan, aku masuk duluan ya soalnya ngantuk banget gak kuat." Ucap Shanin.
"Iya, selamat malam." Balas Samuel.
Setelah itu Shanin langsung masuk ke dalam kontrakannya meninggalkan Samuel yang masih berada di luar, perempuan itu langsung masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan diri di sana tanpa berniat untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu saking mengantuk nya.
Lain halnya dengan lelaki yang masih berada di luar kontrakan milik Shanin, Samuel tidak langsung pergi setelah Shanin meninggalkannya untuk masuk ke dalam, lelaki itu justru duduk terlebih dahulu di teras kontrakan Shanin sambil menatap langit malam dan tidak lama dari itu Samuel mengeluarkan bungkus rokok dari dalam kantong celananya.
__ADS_1
Lelaki itu menyalakan satu batang rokok dan menyesapnya, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Samuel saat ini, dirinya masih menatap langit sambil menyesap batang rokok miliknya di sana.
BERSAMBUNG.