Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 15


__ADS_3

Selama sisa perjalanan menuju ke kontrakannya, selama sisa perjalanan itulah Shanin menahan rasa perih di siku nya yang lecet akibat terjatuh tadi.


Perempuan itu melanjutkan perjalanannya dengan hati-hati sampai akhirnya Shanin dapat sampai ke kontrakannya dengan selamat.


Saat perempuan itu baru saja selesai membuka sepatu miliknya di depan pintu, tiba-tiba saja sebuah suara menyapa indera pendengarannya.


"Sha, tangan kamu kenapa?" Ternyata itu suara milik Bu Ayu, tetangga kontrakan di depannya.


"Eh Bu Ayu, gak kenapa-kenapa kok Bu, tadi cuma jatuh dari motor terus lecet sedikit."


"Jatuh dari motor kok cuma sih nak? Kamu juga kayak kesakitan gitu, mau ibu bantu?"


"Nggak usah Bu, abis ini lukanya mau aku kasih obat merah aja di dalem." Cegah Shanin.


Perempuan itu merasa tidak enak kepada tetangganya, apalagi ini sudah malam hari, sudah seharusnya orang-orang beristirahat.


"Ya udah kalo gitu, kalo ada apa-apa jangan sungkan buat panggil ibu ya."


"Iya Bu, makasih, aku masuk dulu."


Setelahnya keduanya masuk ke dalam kontrakan masing-masing, begitu sampai di dalam kontrakan kecil itu, Shanin langsung meletakkan dengan asal tas miliknya dan berjalan ke arah lemari yang ada di samping meja belajar untuk mencari kotak obat yang seingatnya dulu dia simpan di lemari itu.


"Awshh."


Perempuan itu sedikit meringis ketika kapas yang diatasnya terdapat obat merah mengenai permukaan kulit siku nya yang lecet.


Shanin menggigit bibir guna menahan rasa perih yang menjalar, perempuan itu dengan perlahan kembali memberikan obat merah yang sudah diteteskan ke kapas ke permukaan kulit nya yang lecet.


Setelah selesai dengan obat merah tadi, Shanin meniup-niup kecil luka lecetnya yang sudah diberikan obat merah tadi untuk sedikit memberikan sensasi sejuk dan tidak perih.


"Udah jam sepuluh aja, males banget buat mandi. Besok aja deh mandinya, lagipula tangan aku baru aja dikasih obat merah." Monolog perempuan itu.


Setelah mengatakan itu Shanin langsung beranjak masuk ke dalam kamarnya, dengan hati-hati perempuan itu mengganti pakaian kerja miliknya dengan pakaian santai yang nyaman untuk digunakan tidur olehnya.


Selesai berganti pakaian, Shanin langsung membaringkan dirinya di atas ranjang miliknya, perempuan itu tidak langsung memejamkan matanya.


Shanin memilih untuk menatap ke arah langit-langit kamarnya, ini merupakan kebiasaan setiap ingin tidur, perempuan itu pasti mengarahkan tatapannya ke atas untuk sekedar menetralkan pikirannya.


***


Pagi telah tiba, keadaan siku Shanin pun mulai membaik, perempuan itu baru saja selesai menghabiskan sarapannya.


Sebelumnya Shanin sudah memasangkan kain kasa steril pada luka lecetnya supaya cepat sembuh dan juga untuk mempermudah dirinya bekerja hari ini.


Ditengah dirinya yang sedang merapihkan diri di depan cermin, terdengar suara dering dari ponsel miliknya yang tergeletak di atas kasur.


"Halo?"


"Halo Sha, kata Ajeng hari ini kamu mau ke toko." Ternyata orang yang menelponnya adalah Gita.


"Iya Git, nanti siang sepulang kerja aku ke sana."


"Yey! Jangan bohong ya, awas aja kamu." Ancam seseorang yang ada diseberang sana.


"Iya-iya aku gak bohong, udah ah aku mau berangkat kerja dulu."


"Pagi banget berangkat jam segini."


"Tempat kerjanya aku yang sekarang tempatnya lebih jauh Git, mangkanya harus pagi-pagi."


"Pasti capek ya Sha?" Nada bicara Gita diseberang sana terdengar berbeda.


"Apaan sih Git, namanya juga kerja pasti capek."


"Heum, bener juga sih. Ya udah kamu hati-hati berangkat ke tempat kerjanya, kalo capek juga langsung istirahat jangan dipaksain."

__ADS_1


"Iya, aku tutup ya teleponnya."


Panggilan keduanya pun terputus, Shanin kembali meletakkan ponsel miliknya di atas kasur dan perempuan itu kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi.


Setelah selesai dengan segala urusannya di pagi hari, Shanin langsung keluar dari dalam kontrakan seperti biasanya dan tidak lupa dengan tas yang dia bawa, yang didalamnya terdapat bekal untuk makan siang hari ini.


***


"Ya ampun, Shanin. Itu tangan kamu kenapa?"


Suara milik Kila langsung menyapa indera pendengaran milik Shanin saat perempuan itu baru saja masuk ke dalam kafe tempatnya bekerja.


"Gak kenapa-kenapa kok Kil, cuma lecet aja."


Seharusnya jika seragam kerjanya berlengan panjang, siku Shanin yang kini terbungkus kain kasa tidak akan terlihat, tapi sayangnya seragam di kafe ini berlengan pendek yang membuat siku nya yang terluka langsung terlihat.


"Gak kenapa-kenapa mata kamu, ini sampe di perban kayak gini ya pasti luka. Kenapa bisa sampe kayak gini?"


"Ini masih lagi loh Kil, kamu udah cerewet banget. Aku gak kenapa-kenapa seriusan, itu cuma karena semalem aku jatuh dari motor aja."


"Jatuh dari motor kamu bilang cuma? Ya ampun, Shanin." Perkataan dari Kila mengingatkan Shanin pada Bu Ayu yang juga berkata demikian semalam.


"Udah ah berisik, aku mau kebelakang dulu."


Tanpa menunggu balasan dari Kila, Shanin langsung melangkah ke belakang, tempat biasanya dia menaruh tas bawaannya yang berisi barang-barang miliknya.


Setelah selesai menyimpan tasnya, Shanin kembali lagi ke depan menghampiri Kila karena ada satu hal yang ingin dia tanyakan.


"Hari ini kamu yang pegang kuncinya lagi?"


"Bukan, tadi yang pegang Mas Tio, tapi dia pergi dulu sebentar anterin anaknya ke sekolah."


"Ohh gitu, aku kira kuncinya dipegang lagi sama kamu."


Shanin tidak terlalu banyak berinteraksi dengan lelaki itu, karena memang sebenarnya dia baru akrab dengan Kila dan juga Nanda saja.


Di tengah percakapan antara Kila dan Shanin, terdengar suara deru mesin motor dari depan kafe, bukan deru mesin motor biasa, seperti suara motor sport.


"Itu motor Mas Tio?" Shanin bertanya pada Kila.


"Bukan, tadi pagi motornya bukan itu, lagian karyawan disini gak ada yang bawa motor kayak gitu." Jelas Kila.


Shanin hanya mengangguk-anggukan kepalanya menanggapi perkataan dari Kila tadi, tidak lama dari itu terdengar pintu kafe yang terbuka, muncullah sosok perempuan cantik di ambang pintu sana, dia Nanda.


"Loh Nan? Suara motor yang tadi itu punya kamu?" Kila langsung memberikan pertanyaan kepada Nanda yang baru saja datang.


"Bukan, aku hari ini gak bawa motor, itu motor kakak aku." Jelas Nanda yang dapat menjawab pertanyaan di benak kedua teman kerjanya itu.


"Ohh, punya kakak kamu. Biasanya yang punya motor kayak gitu ganteng-ganteng, kakak kamu ganteng gak?" Tentu saja ini pertanyaan yang dilayangkan oleh Kila, mana mungkin Shanin akan bertanya seperti itu.


"Kamu nih!" Shanin sedikit menyenggol bahu milik Kila yang ada disampingnya.


"Ganteng sih menurut aku, adiknya aja cantik. Tapi dia udah punya pacar Kil."


Kalimat terakhir yang dilayangkan oleh Nanda membuat guratan kekecewaan di wajah Kila, perempuan itu langsung dibuat cemberut oleh penjelasan dari Nanda.


Melihat Kila yang seperti itu membuat Nanda dan juga Shanin yang ada di depannya tertawa pelan.


"Masih ada cowok lain di luar sana, Kil. Lagipula kakak aku belum tentu suka sama kamu." Ucap Nanda sekali lagi yang membuat wajah Kila semakin masam.


"Kamu nih Nan, kan gak ada salahnya aku berharap."


"Udah-udah, masih pagi jangan pada ribut." Shanin mencoba untuk melerai keduanya.


"Loh, Sha? Tangan kamu kenapa?" Pertanyaan itu datang dari Nanda yang baru menyadari tangan Shanin yang terbungkus oleh perban.

__ADS_1


"Cuma lecet doang kok gara-gara jatuh dari motor semalem." Jawab Shanin santai.


"Cuma cuma, cuma kok sampe lecet kayak gitu." Bukannya Nanda yang menjawab, justru kali ini Kila yang tiba-tiba saja bersuara.


"Ya ampun, mangkanya kalo bawa motor tuh hati-hati." Ucap Nanda dengan suara lembutnya.


"Emang aku nya lagi kena musibah aja kali, mau hati-hati gimanapun kalo yang namanya musibah mah tetep bakalan kejadian."


"Tapi tetap aja kamu harus hati-hati, Sha. Kita kan masih bisa cegah itu bisa gak terjadi."


"Iya-iya, Nan. Nanti aku bakalan lebih hati-hati lagi, udah ah aku pusing liat kalian berdua ngomong terus."


"Kita kayak gini demi kamu tau." Ucap Kila.


"Ya udah maaf deh, iya besok aku bakalan lebih hati-hati lagi biar gak kayak gini."


"Nah gitu doang, kalo gitu aku kebelakang dulu simpan tas." Pamit Nanda yang melenggang pergi ke arah belakang.


Selepas kepergian Nanda ke belakang, Shanin dan Kila tidak tau ingin melakukan apa. Shanin melirik ke arah kaca kafe yang terlihat berembun, perempuan itu berinisiatif untuk mengelapnya.


"Kil, lap ada dimana deh?"


"Mau ngapain?"


"Aku mau lap kaca tuh, berembun gak enak dipandang."


"Ohh, tuh di belakang coba tanyain ke Nanda, kemarin bekas dia."


Tanpa memberikan jawaban apapun kepada Kila, Shanin melenggang pergi untuk menghampiri Nanda yang ada di belakang.


Saat kakinya baru saja menginjak lantai dapur, perempuan itu dapat melihat perawakan ramping milik Nanda yang membelakanginya, temannya itu seperti sedang menerima telepon di ponselnya.


Tidak ingin mengganggu temannya yang sedang teleponan dengan orang lain di seberang sana, Shanin memilih untuk menunggu temannya itu selesai dengan urusannya.


Sambil menunggu teman kerjanya menyelesaikan panggilannya, Shanin duduk di kursi yang biasanya digunakan untuk sekedar beristirahat sejenak oleh para karyawan.


"Loh Sha? Ngapain disini?" Tanya Nanda sambil berjalan ke arah Shanin.


"Nungguin kamu."


"Nungguin aku? Mau ngapain?" Tanya Nanda sekali lagi.


"Mau tanya lap yang kemarin kamu pake ada dimana? Aku mau lap kaca di depan."


"Ohh itu, tuh di bawah."


Nanda mengatakan itu sambil tangannya yang menunjuk ke bawah yang terdapat sebuah kotak penyimpanan, ternyata lap itu dia taruh di situ.


Karena sudah mengetahui keberadaan lap itu, Shanin menjulurkan tangannya untuk menggapai benda itu yang ada di dalam kotak.


"Ada?" Tanya Nanda.


"Ada nih." Balas Shanin sambil menunjukkan sebuah lap yang ada di tangannya.


Setelah mengatakan itu Shanin kemudian langsung kembali berdiri, keluar dari area belakang menuju ke depan.


Saat perempuan itu sudah keluar dari area belakang, saat itu juga dia melihat beberapa karyawan yang mulai berdatangan, ada beberapa yang sudah masuk ke dalam kafe dan ada beberapa yang masih ada di parkiran.


Perempuan itu mulai mengelap kaca yang berembun tadi, tidak lama dari itu sudah ada pelanggan yang datang, Shanin memilih untuk tidak beranjak dari tempatnya, toh masih ada Nanda yang bisa menggantikannya melayani pelanggan yang sedikit itu.


Pagi-pagi seperti ini memang pelanggan tidak terlalu ramai, berbeda saat siang nanti apalagi saat sudah memasuki waktunya makan siang orang-orang kantor.


Pelanggan akan sangat membeludak bahkan beberapa pesanan harus dibawa pulang karena semua kursi sudah terisi penuh saking ramainya.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2