
Kembalinya sang CEO tentu saja langsung menjadi pembicaraan para karyawan di perusahaan, tidak hanya di dalam perusahaan saja, bahkan berita ini sudah tersebar ke berbagai telinga karena stasiun televisi sudah memberitakan mengenai kembalinya Samuel ke perusahaan setelah dinyatakan menghilang akibat kecelakaan yang menimpanya tempo hari.
Kini Samuel berada di sebuah ruangan, ruang kerja milik ayahnya. Lelaki itu sedang duduk di sebuah sofa dengan ayah dan juga Regard sang kakak kandung yang ada di sampingnya.
"Selama ini kamu kemana saja?"
Sang ayah membuka pembicaraan di tengah keheningan yang menyelimuti, sedangkan sang kakak kandung sedari tadi semenjak Samuel menampakkan batang hidungnya, Regard tidak berbicara apapun.
"Tidak kemana-mana."
"Tidak kemana-mana bagaimana? Kamu menghilang selama 8 hari, banyak orang-orang yang khawatir dengan keadaan kamu."
"Orang-orang? Termasuk orang yang ada di hadapan saya saat ini?" Tanya balik Samuel sambil melirik ke arah kakaknya.
"Apa yang kamu maksud? Tentu saja kita semua khawatir."
Samuel menyunggingkan senyumnya mendengar perkataan yang dilontarkan oleh ayahnya itu dan terlihat wajah milik Regard yang tampak tegang.
"Tidak apa-apa, lupakan soal itu."
"Kembali ke pertanyaan awal, kemana saja kamu selama ini?" Sang ayah kembali bertanya.
"Ayah tidak perlu tau, yang penting saya baik-baik saja."
Terdengar helaan nafas panjang dari sang ayah yang mendengar jawaban dari anak bungsunya itu, yang kemudian menyenderkan tubuhnya ke sofa.
Lain halnya dengan Regard, lelaki itu sedari tadi masih saja terdiam dengan tatapan penuh kebencian dari matanya, sedangkan Samuel hanya menatap remeh saudara kandungnya itu.
"Ada apa? Kenapa menatap saya seperti itu?"
Akhirnya Samuel mulai membuka pembicaraan dengan Regard yang sedari tadi hanya terdiam.
"Kau yang terlalu percaya diri, tidak ada yang menatap dirimu." Regard mengelak.
Pusing mendengar kedua putranya yang seperti sebentar lagi akan beradu mulut, sang ayah yang sempat terdiam tadi, akhirnya kembali angkat bicara.
"Sudah-sudah. Jadi sekarang bagaimana Sam? Kau akan kembali ke rumah lagi?
__ADS_1
Pertanyaan yang dilontarkan sang ayah hanya dibalas dengan sebuah anggukan dari si bungsu.
"Baguslah kalau begitu, kau juga sudah lama tidak menjenguk ibu mu yang ada di rumah sakit."
Ah Samuel jadi teringat sosok ibunya yang sudah lama tidak dia lihat di rumah sakit, saat itu ketika dia hendak pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibu nya malah sebuah kecelakaan menimpanya.
Yang membuat dirinya tidak sadarkan diri dan akhirnya ditemukan oleh Shanin, sejak saat itu niatnya yang hendak menjenguk sang ibu pun harus dibatalkan.
***
Lain halnya dengan keadaan Shanin saat ini, perempuan itu sedari tadi tidak fokus bekerja dengan pikiran yang entah pergi melayang kemana.
Semenjak kejadian dirinya yang tidak sengaja melihat Samuel bersama perempuan lain di sebuah hotel dan lebih parahnya lagi masuk ke dalam kamar yang sama, di dalam hati Shanin seperti ada yang mengganjal.
"Ish! Apaan sih aku kok malah mikirin dia?!"
Shanin menggerutu sambil menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran tentang Samuel dari kepalanya.
"Sha, kamu kenapa?" Tanya Gita yang baru saja sampai di hadapan Shanin.
"Aku gak kenapa-kenapa kok Git."
"Nggak, aku nggak kenapa-kenapa. Udah kamu sana masuk ke dalem lagi, banyak pesanan yang harus kamu urus loh."
"Iya-iya aku juga tau, ini mau cari angin dulu, sumpek tau di dalem terus."
"Di dalem kan banyak bunga-bunga Git, harusnya kan adem."
"Iya juga sih, tapi aku tetap ngerasa sumpek, karena ada Ajeng kali ya disana."
Memang pada dasarnya kedua teman kerja Shanin itu tidak pernah akur, ada saja kesempatan dimana mereka berdua saling meledek satu sama lain.
"Tapi beneran loh Sha, dari tadi aku perhatiin kamu kayak yang lagi gak fokus gitu." Lanjut Gita.
"Perasaan kamu aja kali ah. Udah sana ih, aku juga ngerasa sumpek nih karena ada kamu disini."
Shanin mengucapkan itu sambil diakhiri dengan sebuah kekehan yang dibalas oleh suara mendengus milik Gita, yang sedetik kemudian perempuan itu melenggang pergi dari hadapan Shanin.
__ADS_1
Jarum jam masih terus berjalan sampai menunjukkan waktunya istirahat untuk makan siang. Tidak seperti biasanya, untuk jam istirahat kali ini, Shanin tidak lagi pulang ke kontrakannya.
Lagipula dia pikir Samuel sudah dapat melakukan semuanya dengan sendiri karena memang lelaki itu sudah tidak lagi memakai tongkat yang sempat Shanin belikan kala itu.
"Yuk Sha, cari makan."
Kali ini suara tersebut berasal dari Ajeng yang berjalan beriringan dengan Gita dari arah belakang sambil membenarkan ikat rambut di kepalanya.
"Ayo, sebentar aku ambil uang dulu."
Setelah mengatakan itu, Shanin langsung bangkit dari posisi kasir dan berjalan ke arah dimana loker miliknya berada untuk mengambil uang untuk membeli makanan.
Kini mereka bertiga, Shanin, Gita dan juga Ajeng tengah berada di sebuah warung makan yang ada di seberang toko tempat mereka bekerja.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu sering pergi-pergi keluar sih Sha pas lagi kerja?"
Ditengah acara makan siangnya, Ajeng membuka suara untuk bertanya kepada Shanin, teman kerjanya yang memang belakangan ini sering pergi begitu saja ketika sedang bekerja.
Sebenarnya Shanin enggan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Ajeng, tapi mau tidak mau dia harus menjawabnya agar temannya itu tidak bertanya lebih lanjut.
"Eumm.. aku kan kemarin-kemarin udah cerita kalo sepupu aku tinggal di kontrakan aku dan sekarang dia lagi sakit, disana dia nggak ada yang urus."
Memang benar jika sudah membuat satu kebohongan, pasti akan ada kebohongan lain, buktinya saja seperti Shanin sekarang ini.
"Emangnya belum sembuh juga?" Kali ini Gita yang bertanya.
"Belum, dia emang orangnya kayak gitu, sekalinya sakit pasti lama."
Setelah mengatakan itu, Shanin meminum minuman yang ada di hadapannya untuk mengusir rasa gugupnya, perkataan Shanin tadi dibalas dengan anggukan oleh kedua temannya.
Shanin dapat menghela nafas nya lega karena kedua temannya itu tidak lagi bertanya kepadanya, mereka kembali pada kegiatan makan siang nya masing-masing, sebentar lagi waktu istirahat akan habis dan mereka harus kembali ke toko untuk bekerja.
"Sini uang kalian, biar aku bayar ke kasirnya."
Shanin bangkit dari duduknya, ketiganya telah selesai dengan makanan mereka tadi dan kini waktunya untuk membayar makanan tadi.
Ajeng dan juga Gita menyerahkan uang milik mereka masing-masing kepala Shanin seperti yang Shanin minta, setelah mendapatkan uang dari kedua temannya Shanin melangkahkan kaki ke arah kasir untuk membayar.
__ADS_1
Tidak lama dari itu Shanin kembali ke hadapan kedua temannya dengan uang kembalian yang ada di telapak tangannya yang kemudian dia masukkan ke dalam saku celananya.
BERSAMBUNG.