
Shanin dan Samuel keluar dari toko pakaian lelaki tadi dengan salah satu tangan Shanin yang menenteng dua kantong belanjaan.
Jika kalian berpikir kenapa tidak Samuel saja membawa belanjaan itu? Kenapa harus Shanin? Jawabannya adalah Shanin tidak mungkin tega membiarkan lelaki itu kesusahan membawa belanjaan dengan keadaan kaki nya yang masih terluka.
Lagipula kantong belanjaan yang berisi pakaian milik Samuel itu tidak terlalu berat, jadi tidak perlu khawatir tentang hal itu.
Tepat sekali saat mereka berdua beberapa langkah meninggalkan toko pakaian lelaki tadi, terdapat toko pakaian perempuan, awalnya Shanin tidak menyadari hal itu, Samuel yang memberitahu itu dan menyuruhnya untuk pergi ke sana.
"Ke sana." Ucap Samuel sambil menunjuk ke salah satu toko pakaian.
Shanin pun mengikuti ke arah mana jari lelaki itu menunjuk, ternyata ke arah toko pakaian perempuan, padahal Shanin berniat untuk belanja bulanan terlebih dahulu, tapi mau tidak mau perempuan itu harus menuruti permintaan yang diberikan oleh sang lelaki.
Saat kaki milik Shanin masuk ke dalam toko pakaian perempuan itu, dia lagi-lagi dibuat takjub dengan isinya, tersirat sebuah ide untuk membeli semua pakaian yang ada disini, tapi itu kan tidak mungkin terjadi.
"Wow, bagus-bagus banget, jadi pengen beli semuanya deh." Gumam Shanin yang ternyata dapat di dengar oleh Samuel.
Lelaki itu menatap ke arah perempuan bergumam tadi, Samuel tidak dapat menyembunyikan senyumnya saat melihat perempuan yang ada di sampingnya begitu antusias.
"Nanti saya beliin sekalian sama toko-tokonya." Ucap Samuel.
"Ngaco!"
Padahal Samuel bisa saja membeli toko itu sekarang juga, tapi untuk situasi sekarang seperti hal itu tidak memungkinkan.
Setelah menyangkal perkataan Samuel, Shanin melangkahkan mendahului lelaki itu menuju ke arah jejeran pakaian yang dipajang pada manekin, semua pakaian yang ada disini sangat cantik.
"Menurut kamu baju yang itu bagus gak?" Tanya Shanin pada Samuel dengan jari yang menunjuk ke arah salah satu baju yang ada disana.
"Bagus." Balas Samuel singkat.
"Cuek banget, huh!" Shanin mendengus.
"Memang itu bagus, Shanin. Tadi kan kamu cuma bertanya bagus atau tidak, mangkanya saya jawab bagus." Samuel mencoba untuk menjelaskan maksudnya kepada perempuan yang ada di sampingnya.
Acara berbelanja di pakaian perempuan itu pun terus berlanjut, Shanin membeli lima pasang pakaian. Sebelumnya dia tidak pernah belanja pakaian sebanyak ini, sebulan sekali pun dia jarang membeli baju, paling hanya ketika hendak ada acara-acara tertentu.
Kemudian dilanjut dengan belanja bulanan, seperti kebutuhan dapur dan juga berbagai macam makanan serta cemilan yang nantinya akan ditaruh di dalam kulkas.
***
Mereka berdua sampai di rumah sore hari, wajah Shanin terlihat sangat lelah, begitupula dengan Samuel yang sama lesunya.
"Kamu mau makan apa hari ini? Biar aku masak dulu."
Dengan wajah yang masih sama lesunya, Shanin mengatakan hal itu kepada Samuel. Melihat perempuan itu kelelahan pun, Samuel melarang Shanin untuk memasak.
__ADS_1
"Kita pesan online saja, lebih baik kamu mandi dan tolong berikan ponsel kamu agar saya yang memesan."
Shanin dengan senang hati menerimanya, karena jujur saja dia benar-benar lelah, bahkan untuk beranjak ke kamar mandi saja dia malas.
"Nih."
Perempuan itu menyodorkan ponsel miliknya pada Samuel sesuai dengan permintaan si lelaki, kemudian Shanin meninggalkan lelaki itu, menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan Samuel, lelaki itu sedang mengotak-atik ponsel milik Shanin untuk memesan makanan melalui aplikasi di ponsel tersebut.
Tidak lama dari itu, terdengar suara mesin motor dari luar kontrakan, dapat dipastikan jika itu adalah kurir yang mengirim makanan.
Samuel bangkit dari duduknya dan keluar dari kontrakan untuk mengambil pesanan yang tadi dia pesan. Dikeluarkannya beberapa lembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya.
"Mas, ini kebanyakan." Ucap sang kurir ketika menerima beberapa lembar uang dari Samuel.
"Tidak apa-apa, buat bapak aja. Makasih ya pak." Balas Samuel sambil meraih dua kantong belanjaan dari tangan sang kurir.
"Saya juga makasih loh mas, kalau begitu saya duluan."
Samuel hanya membalas dengan sebuah anggukan dan kemudian kembali masuk ke dalam kontrakan, bertepatan dengan itu, Shanin keluar dari dalam kamar dengan wajah yang lebih segar dari yang sebelumnya.
Sorot mata Shanin langsung tertuju pada dua kantong belanjaan besar yang ada di kedua tangan Samuel, di kantong tersebut terdapat sebuah logo restoran mewah setahu Shanin.
"Sam, banyak banget belinya?! Siapa yang mau abisin?"
"Ini banyak banget, emangnya kamu sanggup buat abisin? Kenapa boros banget sih?!"
Perempuan itu memang agak sensitif dengan hal-hal yang menurutnya hanya menghambur-hamburkan uang begitu saja.
"Kita yang habiskan, lagipula tidak setiap hari seperti ini." Jawab lelaki itu dengan santainya.
Shanin dibuat ternganga dengan jawaban yang diberikan oleh lelaki yang ada di depannya, perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya takjub.
"Tapi gak sebanyak ini juga Sam, kita ini cuma berdua, aku yakin gak bakalan abis."
Lelaki itu tidak menghiraukan perkataan yang dilayangkan oleh perempuan yang ada di hadapannya dan memilih untuk duduk di lantai menaruh kantong belanjaan yang sedari tadi dia bawa.
Terdengar helaan nafas panjang milik Shanin, perempuan itu pun mengikuti apa yang Samuel lakukan, Shanin ikut duduk di samping lelaki itu.
"Tolong ambilkan piring."
Shanin jengah mendengar penuturan Samuel, walaupun dengan berat hati perempuan itu tetap melakukan apa yang lelaki itu perintahkan padanya karena sebenarnya Shanin juga lapar dan butuh makan.
Setelah mendapatkan benda yang dia butuhkan di dapur, Shanin kembali lagi ke hadapan Samuel dengan tangan yang sudah membawa alat makan.
__ADS_1
Bungkus makanan itu dibuka satu persatu, melihatnya saja Shanin sudah dibuat kenyang karena begitu banyak makanan di hadapannya.
"Sam, separuhnya aku kasih ke tetangga sebelah ya? Aku gak yakin kita berdua bisa habisin ini, kan mubasir kalo dibuang."
Lelaki itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai jawaban dan sudah bergelut dengan makanan yang ada di piringnya.
Sedangkan Shanin sedang sibuk memisah-misahkan makanan yang akan diberikan kepada tetangga sebelahnya, dia kenal dekat dengan tetangga kanan kontrakannya.
Penghuni kontrakan sebelah adalah seorang bapak-bapak yang sudah berumur tua tetapi masih harus tetap bekerja demi menghidupi keluarganya yang ada di kampung.
"Mau kemana?"
Samuel bertanya demikian saat melihat Shanin yang beranjak dari duduknya dengan sebuah kantong plastik yang ada di tangannya.
"Ke kontrakan Pak Ahmad di sebelah, mau kasih ini." Jawab Shanin sambil menunjukkan kantong plastik yang ada di tangan kanannya.
"Nanti saja, makan dulu."
"Sebentar doang, dia pasti baru pulang kerja terus pastinya bakalan lapar."
Setelah mengatakan hal itu, Shanin langsung keluar dari dalam kontrakan menuju ke kontrakan sebelah untuk memberikan kantong plastik yang berisi makanan.
Tok.. tok.. tok..
"Permisi pak, ini aku Shanin."
Perempuan itu mengetuk pintu dan juga mengucapkan permisi agar orang yang berada di dalam mengetahui keberadaannya di depan.
Tidak lama dari itu pintu kontrakan tersebut terbuka dan menampilkan sosok pria tua, Pak Ahmad.
"Loh? Shanin, ada apa?"
"Ini pak aku ada sedikit makanan, aku lagi ada rezeki lebih." Ucap Shanin sambil tangan yang menyerahkan sebuah plastik kantong yang dia bawa tadi.
"Ya ampun, makasih banyak nak. Semoga rezekinya lancar terus, tau aja kalo bapak lagi lapar." Balas Pak Ahmad disertai kekehan di akhir.
Shanin pun ikut terkekeh mendengarnya. "Ya udah kalo gitu aku ke kontrakan lagi ya pak."
"Iya, makasih sekali lagi."
Langkah kaki perempuan itu pun kembali membawanya dirinya masuk ke dalam kontrakannya, terlihat Samuel yang sedang makan dengan lahapnya di dalam sana.
"Udah kasih makanan ke tetangga kamu?" Tanya Samuel saat Shanin baru saja mendudukkan dirinya kembali.
"Udah."
__ADS_1
Hanya satu kata yang diucapkan oleh Shanin untuk membalas pertanyaan sang lelaki, perempuan itu kemudian mulai memakan makanan yang ada di atas piring.
BERSAMBUNG.