
Sepertinya biasanya, hari ini Shanin harus kembali berangkat ke tempatnya kerjanya. Semalam Daniel menelpon dirinya untuk memberitahu jika motor matic kesayangannya itu sudah selesai di perbaiki dan siap untuk di antar ke kontrakan Shanin oleh temannya.
Awalnya Shanin menolak hal itu dengan baik-baik, tapi apa boleh buat, Daniel sudah menyuruh kepada temannya yang membenarkan motornya tadi untuk mengantarkannya ke kontrakan miliknya.
Maka dari itu, semalam tidak sampai satu jam setelah Daniel menelpon dirinya, motor miliknya sudah di antar ke kontrakan miliknya. Shanin tidak lupa untuk mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada lelaki itu.
Dan berniat untuk mengganti uang milik Daniel yang digunakan untuk biaya membenarkan motor milik perempuan itu, tapi lelaki itu dengan mentah-mentah menolaknya.
Semalam juga dia menanti kabar tentang Nanda, teman kerjanya yang katanya hilang itu, tapi sampai sekarang juga dia belum mendapatkan informasi apapun.
Karena sudah rapih dan siap untuk berangkat ke kafe tempatnya bekerja, Shanin langsung keluar dari dalam kontrakannya dan memakai sepatu miliknya di depan teras.
Tring.. Tring.. Tring...
Baru saja perempuan itu selesai mengikatkan tali sepatu miliknya, ponsel miliknya yang ada di dalam tas tiba-tiba berbunyi menandakan jika ada seseorang di seberang sana yang memanggil.
"Halo?"
"Hai Sha, kamu udah berangkat kerja belum?" Ternyata itu suara milik Kila, tadi Shanin belum sempat melihat namanya.
"Belum Kil, ini aku baru mau berangkat. Ada apa telepon pagi-pagi gini?"
"Oh gitu, aku cuma mau kasih tau aja ke kamu kalo Nanda belum juga ketemu sampai sekarang, rencananya nanti siang keluar dia mau lapor ke kantor polisi." Jelas Kila yang ada di seberang sana.
Mendengar penjelasan dari Kila membuat Shanin menghela nafas panjang, dirinya berharap semoga teman yang satu tempat kerja dengannya itu segera ditemukan.
"Kita tetep doain semoga Nanda baik-baik aja ya dimana pun itu. Teleponnya aku tutup ya Kil? Aku mau jalan nih."
"Iya, hati-hati di jalannya Sha, aku juga bentar lagi mau berangkat ke kafe."
Setelah itu panggilan keduanya pun terputus, Shanin langsung kembali memasukan ponsel miliknya kembali ke dalam tas dan meraih helm miliknya dan memakainya, perempuan itu harus berangkat ke kafe sekarang karena takut kesiangan.
Entah perasaan Shanin saja atau bagaimana, tapi kali ini motor miliknya lebih nyaman ketika di pakai, rasanya tidak seberat kemarin, apakah ini karena baru saja oli nya diganti?
Tidak sampai tiga puluh menit dirinya sudah sampai di tempat parkiran khusus karyawan yang ada di depan kafe tempatnya bekerja.
Perjalanannya yang tidak sampai memakan waktu tiga puluh menit itu karena jalanan pagi ini yang tidak seramai biasanya, maka dari itu Shanin dapat dengan cepat sampai di kafe tempatnya bekerja.
Kafe sudah buka menandakan jika sudah ada orang lain yang datang sebelum, mungkin orang yang kemarin membawa kunci kafe, salah seorang dari juru masak.
"Pagi."
Ucap Shanin sambil membuka pintu kafe, tidak ada sahutan apapun dari dalam, kafe itu pun masih tampak sepi, tapi Shanin dapat mendengar suara alat masak yang bertubrukan, sepertinya orang yang membawa kunci itu sedang ada di belakang.
Perempuan itu kemudian membawa langkahnya ke arah belakang kafe seperti biasanya yaitu untuk menyimpan tas yang dibawa tadi di belakang sana.
"Eh, Pak Rian, aku kira gak ada siapa-siapa."
Shanin basa-basi pada seorang lelaki dewasa yang merupakan salah satu juru masak yang kemarin membawa kunci itu.
"Kalo gak ada siapa-siapa, terus yang buka kafe siapa Sha?"
"Bener juga sih, lagian sepi banget di depan."
"Iya, soalnya tadi saya langsung ke belakang."
Shanin hanya mengangguk-anggukan kepalanya menanggapi perkataan lelaki yang lebih tua darinya itu, memang semua karyawan yang ada di bagian juru masak pasti sudah berumur.
__ADS_1
Kemudian perempuan itu memilih untuk langsung menyimpan tas bawaannya tadi di tempat biasa dirinya menyimpan barang tersebut.
"Aku ke depan dulu ya pak, mau beres-beres." Pamit Shanin kepada lelaki yang ada disitu.
"Iya, Sha."
Setelahnya Shanin langsung melenggang pergi ke depan, sorot matanya melirik kesana kemari untuk mencari keberadaan sapu yang akan dia gunakan untuk menyapu lantai kafe.
Sorot mata perempuan itu akhirnya menangkap keberadaan benda yang dicari olehnya, dengan cepat dirinya langsung mengambil benda itu dan menggunakannya.
Di tengah kegiatan menyapunya, tiba-tiba pintu terbuka yang membuat Shanin mengalihkan perhatiannya dari kegiatannya untuk melihat siapa pelaku yang membuka pintu itu.
Awalnya Shanin kira yang membuka pintu itu adalah salah satu karyawan yang belum datang ke kafe, tapi perkiraannya itu pupus saat melihat siapa yang saat ini sedang berada di ambang pintu, Samuel.
"Kafe nya belum buka, anda bisa kembali lagi ke sini nanti siang."
Ucap Shanin ramah seperti biasanya kepada seorang pelanggan, seakan perempuan tidak sedang memiliki masalah apapun dengan lelaki yang ada di ambang pintu sana.
"Bukan itu, kita harus bicara sebentar Sha."
"Gak ada yang perlu dibicarain lagi, Sam. Anggap aja kita gak pernah kenal, kayak yang sebelumnya."
"Tidak bisa, kita saling kenal Shanin, bahkan kita sempat tidur di atas ranjang bersama." Balas Samuel dengan santainya.
Mendengar perkataan Samuel yang terdengar ambigu itu, Shanin dengan cepat meletakkan sapu yang sedang dia pegang dan dengan cepat berjalan ke arah lelaki itu.
"Tolong jangan asal bicara."
"Saya tidak asal bicara, saya berbicara fakta." Bela lelaki itu.
"Ck, kita bicara diluar, aku gak mau karyawan lain denger pembicaraan kita."
Saat sudah di luar kafe, Shanin melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari tempat yang pas untuk keduanya berbicara dan tidak terlihat oleh karyawan lain.
Sorot matanya tertuju pada sebuah pohon mangga yang sedikit tinggi di seberang kafe, perempuan itu kemudian berjalan ke sana diikuti oleh Samuel dari belakang.
"Mau ngomong apa?" Tanya Shanin tanpa basa-basi lagi saat dirinya baru saja sampai di bawah pohon itu.
"Saya minta maaf." Balas Samuel.
"Minta maaf? Minta maaf buat apa?" Tanya Shanin sekali lagi.
"Minta maaf karena saya pergi gitu aja dari kontrakan kamu dan sudah berbohong kepada kamu selama ini."
"Berbohong? Berbohong soal apa lagi?"
"Saya sebenarnya tidak hilang ingatan."
Sontak saja ucapan yang dilayangkan oleh Samuel membuat Shanin membelalakkan matanya, perempuan itu tidak menyangka bahwa selama ini dia dibohongi oleh lelaki yang kini ada dihadapannya.
"A-apa?" Shanin sudah sanggup berkata-kata lagi mendengar perkataan Samuel sebelumnya.
"Tolong maafkan saya, saya terpaksa melakukan itu. Saat itu saya memang benar-benar kecelakaan dan masuk ke dalam sungai sampai akhirnya di temukan oleh kamu, kecelakaan yang saya alami disebabkan oleh kakak kandung saya sendiri yang memang sedari dulu tidak suka dengan kehadiran saya." Jelas lelaki itu panjang lebar di hadapan Shanin.
"Maka dari itu untuk sementara waktu saya bersembunyi di kontrakan kamu dan pura-pura hilang ingatan agar kamu mau menampung saya." Lanjutnya.
Mendengar hal itu Shanin dibuat bengong, mencoba mencerna kata demi kata yang dilayangkan oleh lelaki yang ada di hadapannya, sekarang ini perempuan itu benar-benar tidak tau harus bereaksi atau berekspresi seperti apa.
__ADS_1
"Shanin? Saya minta maaf ya." Ucapan Samuel ini membuat Shanin tersadar dan kembali menatap ke arah lelaki itu.
"Kenapa? Kenapa harus aku?" Tanya Shanin kebingungan.
"Saya tidak pernah menargetkan kamu, tapi saat itu hanya kebetulan kamu yang datang membantu saya di sungai itu."
"Dan soal kamu yang tiba-tiba pergi, alasan apa yang akan kamu kasih ke aku?"
"Saya tidak berniat untuk pergi meninggalkan kamu saat itu juga tanpa sepatah katapun, tapi keadaan yang mendesak yang membuat saya harus datang ke perusahaan milik saya saat itu juga dan kemudian saya tidak bisa kembali lagi ke kontrakan kamu karena ayah saya yang terus menahan saya di rumah." Jelas Samuel panjang lebar.
"Bersama perempuan yang ada di hotel saat itu?"
Mendengar perkataan yang dilemparkan oleh Shanin membuat Samuel mengerutkan keningnya merasa bingung, perempuan yang ada di hotel? Siapa? Lelaki itu benar-benar tidak mengingat tentang hal itu.
"Perempuan di hotel? Apa yang kamu maksud? Mungkin kamu salah lihat." Jawab Samuel.
"Aku jelas-jelas lihat dengan mata kepala aku sendiri kalo kamu masuk ke salah satu kamar hotel berduaan sama perempuan itu dan setelah itu kamu langsung menghilang bagai ditelan bumi."
Samuel kembali mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ingat tentang hari itu, ah! Dirinya ingat sesuatu, pasti Shanin salah paham pada dirinya, padahal saat itu dirinya sekarang bersama dengan sekretarisnya dan memang benar keduanya masuk ke dalam kamar hotel, tapi hanya untuk membicarakan masalah perusahaan saja.
"Sepertinya kamu salah paham."
"Salah paham bagian mananya?"
"Perempuan yang kamu maksud itu adalah sekretaris pribadi saya, dan saat itu kami berdua masuk ke dalam hotel hanya sekedar membicarakan masalah perusahaan, tidak lebih."
"Harus banget di kamar hotel?" Hei! Kenapa Shanin bertingkah seperti seorang pacar yang sedang cemburu seperti ini?
"Itu karena saya harus berganti pakaian juga, saat itu kan saya hanya menggunakan pakaian biasa, maka dari itu saya menggantinya dengan sebuah jas di dalam kamar hotel." Samuel kembali menjelaskan tentang kesalahpahaman yang terjadi.
"Hmm, baiklah. Ada lagi yang mau kamu bicarain? Aku harus balik lagi ke kafe buat kerja."
Walaupun sebenarnya Shanin belum sepenuhnya percaya dengan penjelasan dari lelaki itu, Shanin hanya ingin segera mengakhiri pembicaraan ini karena dirinya yang harus segera kembali ke kafe.
"Masih ada, saya mohon sama kamu buat jangan mencoba menghindar dari saya."
"Buat apa?" Tanya Shanin kebingungan.
"Eumm itu maksud saya, saya ingin berteman dengan kamu, jadi tolong jangan menghindar dari saya." Samuel menjawab dengan gugup.
"Baiklah, kita bersikap layaknya seorang teman biasa. Kalo gitu aku masuk ke kafe lagi."
Tanpa menunggu balasan dari lelaki yang ada di depannya, Shanin langsung melenggang pergi begitu saja dari bawah pohon mangga itu dan menyebrang ke sisi lain, lebih tepatnya kembali ke arah kafe tempat dirinya bekerja.
Shanin tidak dapat menyembunyikan senyumnya di wajahnya, entah kenapa perempuan itu dapat sebahagia ini saat ini juga, padahal dirinya hanya berbicara biasa saja tidak ada unsur kemesraan apapun.
"Sha, kemana aja?! Aku kira kamu ilang juga, soalnya pak Rian bilang tadi kamu udah datang ke kafe tapi kamu nya malah gak ada."
Saat Shanin baru saja kembali masuk ke dalam kafe itu, tiba-tiba saja suara mercon milik Kila langsung menyerangnya.
"Aku gak kemana-mana kok, Kil. Cuma jalan-jalan aja di depan cari angin, lagian mana ada yang mau culik aku."
"Bener juga sih apa yang kamu bilang, tapi jangan gitu lagi dong Sha."
"Iya-iya ini yang terakhir, nanti kalo aku mau kemana-mana, aku hubungin kamu dulu."
Shanin berkata demikian hanya sebuah candaan semata, mana mungkin dirinya memberitahu kepada Kila kemana saja dirinya pergi, memangnya Kila mamah dia?
__ADS_1
BERSAMBUNG.