
Shanin menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang ini, sedangkan di sisi lain Samuel hanya menatap datar pemandangan yang ada di depannya.
Sekeras apapun usaha Shanin untuk menahan gejolak emosi miliknya, dia sudah terlanjur emosi sekarang ini karena melihat keadaan dapur miliknya.
"Samuel, kenapa bisa jadi kayak gini? Kamu mau bakar kontrakan aku?!" Suara milik Shanin sedikit meninggi di akhir.
Bukannya menjawab, lelaki itu malah diam saja seperti sikapnya sedari tadi, hal itu tentu saja semakin membuat darah Shanin mendidih.
"Kalau kamu gak mau tinggal disini, ya udah pergi aja! Bukannya bakar kontrakan aku kayak gini."
"Tidak sengaja."
Jawaban itu membuat Shanin membulatkan matanya, tidak sengaja dia bilang?! Tolong untuk lebih bersabar menghadapi lelaki seperti Samuel, Shanin.
"Nggak sengaja? Gimana bisa?"
Suara Shanin melemah dan matanya mulai memerah menahan air mata yang hendak turun.
"Tadi saya sedang membuat mie, tapi saya tidak sengaja ketiduran."
Samuel dengan terpaksa harus berbohong tentang hal yang sebenarnya, mana mungkin dia mengatakan dengan sejujurnya kepada Shanin.
Sontak saja jawaban yang dilayangkan oleh lelaki itu membuat Shanin menghela nafasnya kasar, dia jadi teringat pesannya kepada Samuel pagi tadi sebelum berangkat ke toko untuk bekerja.
Shanin lah yang tadi pagi menyuruh lelaki itu untuk memasak mie kalau perempuan itu tidak juga kembali sampai jam satu siang dengan membawa makanan.
Perempuan itu akhirnya hanya dapat mengusap wajahnya kasar karena kesal, mau menyalahkan Samuel pun ini bukan kesalahan lelaki itu sepenuhnya.
Setelah menarik nafas dalam-dalam, Shanin pun akhirnya mulai sedikit tenang.
"Huft, ya udah kamu ambil nasi ke piring, aku udah beli lauknya. Kamu makan duluan aja, aku mau beresin ini dulu."
"Biar sa-
"Nggak usah, udah sana makan aja." Dengan cepat Shanin langsung memotong ucapan Samuel dan menyuruh lelaki itu untuk segera makan.
Sepertinya Shanin tidak sempat kalau harus kembali lagi ke kantor, tangan milik perempuan itu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya yang ada di sana dan langsung menghubungi Ajeng.
Memberitahu teman kerjanya itu, jika Shanin tidak dapat kembali lagi ke toko dengan beralasan dia terjatuh dari motor saat hendak kembali ke rumah tadi.
Untungnya saja Ajeng bukan tipe orang yang banyak tanya, dengan cepat teman kerja Shanin itu pun memakluminya dan mengizinkannya untuk tidak datang lagi ke toko siang ini.
Dengan langkah yang berat, Shanin membawa tubuhnya mendekat ke arah kompor yang sudah gosong itu, tembok yang ada di dekat sana pun ikut gosong dibuatnya.
Perlahan tapi pasti, Shanin mulai membereskan kekacauan yang dibuat oleh lelaki yang beberapa ini menumpang di rumahnya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, akhirnya perempuan itu berhasil membereskan kekacauan tadi, meskipun tidak semuanya dapat kembali bersih, seperti tembok yang sangat susah untuk dibersihkan, mungkin satu-satunya jalan adalah dengan di cat ulang.
Dengan peluh yang ada di pelipisnya, Shanin melangkahkan kaki ke arah Samuel berada. Lelaki itu baru saja selesai makan siang, bisa dilihat dari nasi yang ada di piringnya sudah habis.
"Udah selesai makannya?" Tanya Shanin basa-basi walaupun sebenarnya dia sudah tau jawabannya apa.
"Sudah. Kamu sudah makan?" Tumben sekali lelaki ini bertanya balik.
"Belum, aku belum lapar."
"Makan, sebentar lagi akan sore tapi kamu belum makan siang."
Shanin dibuat terheran-heran dengan sikap lelaki yang ada di depannya ini, tumben sekali Samuel banyak bicara.
"Emang itu tujuan aku, biar sekalian makan malem."
Shanin mengatakan hal itu sambil mengambil piring kotor bekas makan Samuel tadi dari atas meja, perempuan itu kemudian melangkahkan kakinya kembali ke dalam dapur, lebih tepatnya ke arah wastafel untuk mencuci piring.
Samuel hanya menatap punggung perempuan itu dari belakang dan mulai menggila di balik tembok pembatas.
Membersihkan seperangkat alat makan tidak begitu memerlukan banyak waktu, piring-piring yang dicucinya tadi sudah tersusun rapih di dalam lemari alat makan.
"Tadi kamu kemana aja? Pintunya kebuka, nggak dikunci."
Tanya Shanin yang baru saja kembali dari arah dapur sehabis mencuci piring dengan sebuah lap kecil yang dia gunakan untuk mengelap tangan basahnya.
Dahi milik perempuan tadi mengerut heran dengan jawaban yang diberikan oleh lelaki itu.
Mengerti dengan pertanyaan yang mungkin saja akan perempuan itu layangkan, Samuel langsung menjelaskan pada Shanin tanpa perlu perempuan itu repot-repot bertanya padanya.
"Dompet saya masih ada di saku celana saya yang saya pakai saat tenggelam itu dan saya juga masih sangat ingat dengan pin kartu ATM saya. Maka dari itu tadi saya keluar mencari ATM dan mengambil beberapa rupiah untuk keperluan saya selama disini."
Shanin dibuat ternganga oleh penjelasan panjang yang lelaki itu berikan dengan wajahnya yang tetap saja datar.
"Dan ini, tolong kamu pegang dan pakai sesuai dengan kebutuhan kita berdua selama saya menumpang disini." Lanjut Samuel sambil menyerahkan sebuah kartu ATM kepada Shanin.
Lagi-lagi perempuan itu dibuat ternganga atas apa yang baru saja terjadi, dia kemudian melirik ke arah telapak tangan kanannya yang terdapat sebuah kartu di atasnya.
"Tap-
"Pakai itu."
Kali ini giliran Samuel yang memotong ucapan Shanin, Samuel dengan cepat memotong ucapan Shanin sebelumnya perempuan itu melanjutkan perkataannya.
"Ini kebanyakan Sam."
__ADS_1
"Memangnya kamu sudah tau isi di dalam kartu itu berapa?"
Shanin hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh Samuel.
"Intinya, isi di dalam kartu itu cukup untuk keperluan saya dan juga kamu selama saya menumpang di kontrakan kamu."
Shanin hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan dari Samuel, dia masih tidak percaya dengan benda kecil yang kini ada di tangannya itu.
***
Saat diberi sebuah kartu ATM oleh Samuel, Shanin langsung terpikirkan apa saja yang akan dia beli menggunakan kartu itu. Salah satunya adalah membeli cat tembok untung mengecat ulang tembok dapurnya yang menghitam karena ulah lelaki itu.
"Mau ikut aku belanja gak? Atau mau disini aja?" Tanya Shanin yang sudah mengganti seragam kerjanya menjadi baju santai.
"Ikut."
Setelah mengatakan hal itu, Samuel langsung bangkit dan mengikuti Shanin dari belakang, keluar dari kontrakan.
"Oh iya, kita harus beli baju sama celana buat kamu, yang aku beliin kemarin kan cuma dua pasang."
Mendengar perkataan Shanin, Samuel hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan yang dilontarkan oleh perempuan itu.
Saat Shanin hendak memakai sepatu yang biasa perempuan itu pakai sehari-hari ketika bekerja, Samuel memicingkan matanya menatap ke arah sepatu yang sudah usang itu.
"Sekalian beli sepatu kamu juga."
Mendengar apa yang dibicarakan oleh Samuel, Shanin secara spontan langsung melirik ke bawah, lebih tepatnya ke arah sepatu miliknya. Benar, aku harus beli sepatu baru! Shanin pun berpikir demikian.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka berdua sampai di salah satu mall yang terdekat dari kontrakan Shanin.
Awalnya perempuan itu berniat untuk berbelanja di pasar tradisional saja, tapi Samuel menyuruhnya, ah lebih tepatnya memaksanya untuk pergi ke mall.
Mau tidak mau Shanin hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Samuel, toh lagipula nanti dia akan berbelanja menggunakan kartu ATM milik lelaki itu.
"Mau beli apa dulu?" Tanya Shanin saat mereka berdua baru saja masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu.
"Terserah kamu."
Shanin mendengus mendengar jawaban yang diberikan oleh lelaki yang ada disampingnya, perempuan itu pun memilih untuk menyelusuri jajaran toko terlebih dahulu, siapa tau ada yang menarik di matanya.
Mata milik perempuan itu menangkap sebuah toko pakaian lelaki yang didepannya banyak sekali manekin yang berjejer mengenakan pakaian yang dijual di toko itu.
Perempuan itu dengan cepat meraih tangan Samuel dan mengajak lelaki itu untuk mengikutinya.
"Ayo ke sana, kita beli pakaian buat kamu dulu."
__ADS_1
Di dalam toko pakaian lelaki itu, Shanin menyuruh Samuel untuk memilih pakaian mana yang dia suka, Samuel pun tanpa merasa keberatan melakukan perintah dari perempuan itu.
BERSAMBUNG.