
Biasanya Shanin bangun tidur pagi-pagi sekali, bahkan ketika sang surya belum tampak pun Shanin sudah tersadar dari tidurnya, tapi tidak untuk hari ini, karena hari ini perempuan itu libur, dia ingin bangun di siang hari sesekali.
Jarum jam sudah menunjukkan ke angka sembilan pagi, tapi masih belum ada pergerakan apapun dari perempuan yang masih bergelut di alam mimpinya itu.
Tring... Tring... Tring...
Suara dering dari ponsel milik perempuan itu yang berada di nakas dekat tempat tidurnya berbunyi, mengusik kegiatan tidurnya.
Dengan mata yang masih terpejam, Shanin meraba-raba atas nakas tempat dimana ponselnya disimpan dan kemudian setelah tangannya menyentuh benda yang dia cari, perempuan itu pun langsung mengambilnya.
Shanin mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat siapa si penelpon di seberang sana karena matanya yang masih terpejam.
"Halo?" Suara parau milik Shanin khas orang bangun tidur.
"Halo Sha, kamu baru bangun ya? Nanti sore jadi ya."
"Seharusnya aku masih tidur sekarang, aku bangun gara-gara suara dering handphone. Kamu telpon aku cuma buat kasih tau kalo sore kita jadi ke festival?"
"Iya cuma itu aja, teleponnya aku tutup ya."
"Kam-
Tut...
Belum selesai Shanin mengucapkan kalimatnya, panggilan langsung terputus secara sepihak dari pihak di seberang sana. Hal itu membuat Shanin mengeram rendah karena kesal waktu tidurnya diganggu oleh temannya yang satu itu.
Shanin kemudian meletakkan dengan asal ponsel miliknya di atas kasur, perempuan itu kemudian kembali memejamkan matanya untuk melanjutkan kegiatan tidurnya yang sempat terganggu tadi.
Tidak lama dari itu, kamar milik Shanin dipenuhi keheningan karena pemiliknya yang memang sudah kembali tertidur tanpa menghasilkan suara sedikitpun disana.
Di tempat lain di waktu yang sama, seorang lelaki juga sama keadaannya seperti Shanin tadi. Dia Samuel, lelaki itu tidak berniat untuk beranjak dari tempat tidurnya ataupun membuka kedua matanya.
Hari minggu memang dijadikan ajang balas dendam atas hari-hari sebelumnya, balas dendam agar bisa bangun siang dari tidurnya.
***
Kini jarum jam sudah menunjukkan ke angka jam dua belas siang lewat dua puluh menit, Shanin sudah terbangun dari tidurnya tapi tidak ada niatan untuk beranjak dari atas kasur.
Dirinya masih mempunyai waktu sekitar tiga jam sebelum dirinya berangkat ke festival tapi sebelumnya dia harus menjemput Gita terlebih dahulu di rumahnya.
Karena merasa bosan, Shanin akhirnya beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dia makan disana.
"Ini di dapur beneran gak ada apa-apa yang bisa aku makan?" Tanya Shanin pada dirinya sendiri ketika tidak berhasil menemukan apapun yang bisa dimakan olehnya disana.
Perempuan itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya, setelah itu kembali keluar dari dalam sana dengan wajah yang lebih segar.
Shanin memilih untuk duduk di kursi yang ada di depan meja belajarnya berusaha untuk mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul sepenuhnya.
Tiba-tiba saja suara dering dari ponsel miliknya menusuk masuk ke dalamnya telinganya, ponsel itu masih ada di dalam kamar, tapi suaranya terdengar sampai ke luar kamar.
Dengan perasaan malas, perempuan itu membawa langkah kakinya masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya yang berbunyi tadi.
Tertera nama Gita yang ada di layar ponsel sana, Shanin menghela nafasnya kasar, kenapa temannya yang satu ini sangat sering menelponnya?
"Halo, ada apa lagi sih Git?" Tanya Shanin dengan sedikit rasa kesal pada seseorang di seberang sana.
"Santai dong, Sha. Kamu udah siap belum?"
"Siap buat apa? Kan acaranya nanti jam tiga."
"Tapi aku pengen kita berangkat sekarang aja, mau mampir dulu ke mall. Jadi sebelum kesana, kita ke mall dulu."
"Jam segini panas banget tau Git, lagian mau ngapain sih kamu ke mall?"
"Ada yang harus aku beli, sekalian juga mau manjain mata, tiap hari liatnya macam-macam bunga terus."
"Gak bisa nanti aja pas pulang dari festival?"
"Festivalnya selesainya pasti malem."
"Ya udah jangan nunggu festival itu selesai." Usul Shanin.
"Gak seru dong kalo gitu. Udah sana cepetan siap-siap, aku tunggu kamu jemput ke rumah sekarang juga."
"Tap-
Tut...
Belum sempat Shanin menyelesaikan perkataannya, panggilan tersebut langsung terputus secara sepihak membuat Shanin mengeram rendah.
Walaupun dengan perasaan malas, Shanin tetap meraih handuk miliknya yang tergantung dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi berniat untuk mandi.
__ADS_1
Tidak butuh waktu yang lama untuk perempuan itu selesai dari kegiatan mandinya tadi, kini Shanin sudah berada di depan lemari pakaian miliknya untuk memilih baju apa yang sekiranya cocok untuk dia kenakan.
Pilihan terakhirnya jatuh kepada celana jeans dan juga kemeja flanel miliknya, setelan yang nyaman untuk dirinya menghadiri festival.
Perempuan itu memoles wajahnya dengan make up tipis agar terlihat lebih cantik, selesai dengan kegiatannya tadi, Shanin langsung meraih salah satu tas miliknya yang tergantung dan memasukkan ponsel, dompet dan juga lipstik ke dalamnya.
"Mana panas banget lagi nih." Keluh Shanin saat dirinya baru saja keluar dari dalam kontrakan.
"Panas-panas gini mau kemana, Sha?" Pertanyaan tiba-tiba itu datang dari pak agung yang sedang duduk santai di teras depan kontrakannya.
"Eh pak agung, ini aku mau main sama temen."
"Ohh gitu, ya udah hati-hati di jalannya."
"Iya pak makasih, aku pergi dulu ya." Pamit Shanin sebelumnya motor miliknya melenggang pergi meninggalkan lontarkan itu.
Jalanan siang ini sangat ramai, ditambah dengan fakta bahwa hari ini adalah hari libur, maka tidak aneh jika jalanan kota menjadi sangat ramai walaupun sedang terik-teriknya.
Rumah Gita cukup jauh keberadaannya dari kontrakan Shanin, tiga puluh menit saja seperti tidak akan cukup untuk dirinya sampai ke sana, ditambah dengan keadaan jalanan siang ini yang ramai membuat motornya harus berjalan dengan lambat.
Sekitar setengah jam lebih akhirnya Shanin sampai di depan rumah Gita, perempuan itu sudah pernah beberapa kali berkunjung ke sana sebelumnya.
Karena malas untuk memanggil Gita dari luar, Shanin memilih untuk mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas dan memanggil Gita lewat panggilan suara.
"Halo Git? Aku udah di depan nih, cepetan kesini."
"Sebentar, aku kesana, lagian kenapa gak masuk aja sih?"
"Gak deh males, udah cepetan kesini, panas tau." Keluh Shanin.
"Iya-iya bentaran."
Shanin pun secara sepihak memutus panggilan tersebut dan kembali memasukan ponsel miliknya ke dalam tas. Tidak lama dari itu terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya dengan tergesa, Gita lah pelakunya, dia berjalan tergesa-gesa dengan membawa sebuah helm di tangannya.
"Dari tadi?" Gita langsung bertanya saat dirinya baru saja sampai di hadapan Shanin.
"Nggak, pas baru datang kesini, aku langsung telepon kamu." Balas Shanin.
Balasan Shanin barusan dihadiahi oleh sebuah anggukan di kepala oleh Gita, perempuan itu kemudian memakai helm yang dia bawa tadi ke kepalanya.
"Mau berangkat kapan nih?" Tanya Gita saat dirinya selesai memasangkan helm di kepalanya.
"Iya-iya sabar Sha."
Gita pun langsung naik ke atas jok motor belakang dan berpegang pada Shanin yang ada di depannya. Sedangkan Shanin, perempuan itu sudah siap untuk menjalankan motor miliknya itu.
"Udah siap?" Tanya Shanin memastikan.
"Udah, ayo jalan." Balas Gita di belakangnya.
Mendengar balasan itu, Shanin pun langsung melajukan motor miliknya membelah jalanan kota di siang yang terik ini.
Untungnya saja rumah Gita tidak terlalu jauh dari mall ataupun kampus tempatnya berkuliah, yang dimana di kampus itulah festival diadakan.
Keduanya butuh waktu beberapa menit untuk sampai di tempat pusat perbelanjaan itu, Shanin langsung memarkirkan motornya di tempat parkir motor.
Selesai memarkirkan motor miliknya di tempat yang seharusnya, Shanin dan Gita pun berjalan masuk ke dalam bangunan mall tersebut.
"Emangnya kamu mau beli apaan sih Git?"
"Aku mau beli sepatu baru buat besok kerja, sepatu aku yang kemarin udah rusak." Jelas Gita kepada Shanin.
"Oh, dimana belinya?"
"Kita keliling-keliling dulu aja sambil aku cari-cari sepatu yang cocok buat aku."
"Hm oke, aku ikutin kamu aja."
"Ya udah, ayo."
Ajak Gita yang berjalan terlebih dahulu di depan Shanin yang kemudian disusul oleh Shanin dari belakang, keduanya berjalan beriringan mengitari pelosok mall.
Setelah berkeliling beberapa menit di dalam mall, akhirnya Gita menemukan toko sepatu yang menarik perhatiannya, dengan cepat perempuan itu menarik Shanin agar ikut masuk ke dalam toko sana.
"Bagus-bagus semua deh sepatu disini, bikin aku bingung aja." Ucap Gita dengan tatapan yang mengagumi koleksi-koleksi sepatu yang terpajang di atas rak.
"Pilih sesuai kebutuhan kamu aja, katanya tadi mau cari sepatu buat kerja."
"Iya-iya Sha aku tau, tapi sekali-kali gak kenapa-kenapa kali kalo aku beli sepatu kayak gini, siapa tau nanti aku butuh buat datang ke pesta." Jelas Gita.
"Pesta siapa yang mau kamu datengin? Kayak sering di undang aja ke acara-acara begituan."
__ADS_1
"Jangan kejam gitu dong Sha kata-katanya, aku nangis nih."
"Lebay, udah ih cepet pilih mau sepatu yang mana."
"Bentar, aku lihat-lihat dulu."
Setelah mengatakan itu, Gita pun melangkah terlebih dahulu di depan Shanin untuk melihat secara dekat deretan sepatu-sepatu yang tersusun rapih di dalam rak.
Mau tidak mau Shanin pun melakukan hal yang sama seperti yang temannya itu lakukan, siapa tau dirinya menemukan sepatu yang cocok dengannya sehingga dia juga bisa membelinya.
"Menurut kamu yang itu bagus gak, Sha?" Tanya Gita pada Shanin sambil menunjuk ke arah salah satu sepatu yang ada di dalam rak.
"Yang item itu?"
"Iya yang itu, yang dekat sama sepatu boots coklat."
"Bagus, cocok kayaknya di kamu." Jawab Shanin jujur karena memang dia merasa jika sepatu itu sepertinya akan cocok jika kenakan oleh Gita.
"Bener gak nih?" Tanya Gita kurang yakin dengan jawaban yang diberikan oleh Shanin.
"Aku udah jujur loh tadi, kalo kamu gak percaya sih gak apa-apa."
"Iya-iya deh percaya, aku mau beli yang itu aja deh. Kira-kira ada gak ya yang pas sama ukuran kaki aku?"
"Kamu kok malah tanya itu ke aku? Ya tanya ke pegawainya lah Git."
"Bener juga, ya udah biar aku ke sana dulu, tanya ke si mba itu." Ucap Gita sambil menunjuk ke arah seorang karyawan perempuan yang ada di sana.
Melihat Gita yang melenggang pergi dari hadapannya, Shanin kembali mengedarkan pandangannya untuk melihat sepatu-sepatu yang ada di toko ini, tapi sepertinya tidak ada yang cocok dengan seleranya.
Di tengah kegiatan melihat-lihatnya, terlihat Gita yang kembali berjalan ke arahnya dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Gimana? Ada ukurannya?" Tanya Shanin.
"Ada dong, lagi diambil di belakang sama si mba nya." Jawab Gita.
"Syukur deh kalo gitu, abis ini kita mau kemana lagi?"
"Makan dulu yuk Sha, kamu udah makan?"
"Belum, ya udah kalo gitu abis ini kita langsung cari tempat makan."
"Iya."
Tidak lama dari itu, karyawan perempuan tadi menghampiri Gita dengan membawa sebuah kotak berisi sepatu yang sesuai ukurannya dengan ukuran kaki Gita.
"Ini sepatu yang ukurannya 38, bisa di coba dulu." Ucap si karyawan tadi sambil menyerahkan sepasang sepatu pada Gita.
Gita pun tanpa ragu-ragu langsung menerimanya dan mencoba sepatu itu di kakinya untuk melihat apakah ukurannya pas atau tidak.
"Ukurannya udah pas segini." Ucap Gita saat dirinya mengenakan sepatu tadi di kakinya.
"Aku jadi ambil yang ini, tolong dibungkus ya mba." Lanjutnya.
Gita kembali melepas sepatu yang sempat dirinya coba barusan dan menyerahkan kembali pada karyawan perempuan tadi untuk dibungkus.
"Gak ada sepatu yang pengen kamu beli disini, Sha?"
"Nggak ada deh kayaknya Git, aku kurang tertarik aja gitu, lagipula aku baru beli sepatu baru minggu lalu." Balas Shanin seadanya.
"Oh ya udah kalo gitu."
Tidak lama dari itu si karyawan perempuan tadi sudah kembali ke hadapan Gita dengan membawa kantong belanjaan yang tentu saja berisi sepatu yang Gita inginkan tadi.
"Ini sepatunya, bisa urus pembayaran di kasir ya." Ucap si karyawan perempuan sambil menyerahkan kantong belanjaan tadi kepada Gita.
"Oke, makasih ya mba." Balas Gita.
Shanin dan Gita pun berjalan ke arah meja kasir berada untuk melakukan pembayaran, setelah Gita selesai mengurus pembayaran sepatu miliknya tadi, keduanya langsung keluar dari dalam toko tadi.
Seperti yang telah dibicarakan oleh keduanya saat masih di dalam toko sepatu tadi, keduanya sepakat untuk mencari restoran untuk makan siang karena memang baik Gita maupun Shanin, keduanya sama-sama belum makan siang.
"Disini aja gak apa-apa Sha makannya?" Tanya Gita saat keduanya berada di depan restoran ala Jepang.
"Gak masalah, aku udah lapar soalnya, yuk masuk." Balas Shanin yang berjalan lebih dulu dari Gita.
Sesampainya di dalam, keduanya memilih untuk duduk di kursi yang masih kosong dan tidak lama setelah mereka duduk, datanglah seorang pelayan yang membawa buku menu ke arah mereka.
Tidak banyak menu yang mereka berdua pesan, tapi setidaknya menu yang mereka pesan itu dapat membuat mereka merasa kenyang siang ini.
BERSAMBUNG.
__ADS_1