
Setelah beberapa menit Shanin menunggu pesanan milik Samuel dibuat, akhirnya yang dia tunggu-tunggu jadi juga. Perempuan itu kemudian langsung membawa nampan berisi pesanan Samuel tadi masih dengan wajah datarnya, tidak ada senyuman ramah seperti biasanya disana.
"Ini pesanannya, silahkan dinikmati." Ucap Shanin yang berusaha ramah seperti biasanya sambil meletakkan satu persatu pesanan milik Samuel tadi di atas meja lelaki itu.
"Kamu marah sama saya?" Tanya Samuel dengan menatap ke arah Shanin.
Perempuan yang baru selesai meletakkan pesanan Samuel di atas meja itu sedikit bingung dengan pertanyaan yang Samuel berikan kepadanya.
"Aku?" Tanya Shanin memastikan.
"Iya kamu, lagipula tidak ada orang lain disini." Benar juga apa yang dikatakan oleh Samuel.
"Nggak, aku gak kenapa-kenapa." Jawab Shanin.
"Tapi raut wajah kamu tidak menunjukkan hal demikian." Ucap Samuel.
"Jangan sok tau deh Sam, kamu bukan pakar ekspresi." Balas Shanin.
"Memang saya bukan pakarnya, tapi saya cukup paham dengan itu."
"Terserah kamu deh, aku lagi males debat sama kamu." Setelah mengatakan itu Shanin berniat untuk berbalik dan meninggalkan tempat itu, namun tangannya terlanjur ditahan oleh Samuel.
"Tunggu sebentar." Ucap lelaki itu.
"Ada apa lagi?"
"Hari ini kamu pulang sore kan?"
Bagaimana Samuel bisa tau? Apakah lelaki itu memperhatikan Shanin sampai sebegitu nya? Entahlah, lupakan soal itu.
"Iya, mau ngapain emangnya?"
"Saya ingin mengajak kamu jalan-jalan dan makan malam." Ajak Samuel.
"Lain kali aja deh Sam, aku lagi males ngapa-ngapain hari ini."
"Saya mohon Shanin, kali ini saja. Malam itu kamu juga pernah menolak ajakan saya seperti ini, untuk kali ini tolong kamu terima ya?"
Mendengar permohonan dari lelaki yang ada di hadapannya membuat Shanin menimbang-nimbang sebentar, benar juga apa yang dikatakan oleh Samuel tadi, waktu itu dirinya sempat menolak ajakan dari lelaki itu.
"Baiklah-baiklah aku mau, tapi hanya sampai jam delapan malem aja." Ucap Shanin pada akhirnya.
"Oke, kamu keluar kerja jam berapa? Biar saya langsung jemput kesini saja."
"Aku pulang dulu aja deh Sam, mau ganti baju sama bersih-bersih badan dulu." Balas Shanin.
"Baiklah kalau begitu, jadi jam berapa saya bisa menjemput kamu ke kontrakan?" Tanya Samuel sekali lagi.
"Jam lima aja ya, aku keluar dari kafe jam empat." Ucap Shanin.
"Oke, sampai jumpa nanti sore. Kamu bisa kembali bekerja lagi."
Setelah mendengar perkataan dari Samuel, Shania langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi dari sana dengan sebuah nampan kosong di tangannya.
"Kok gak ditemenin sih Sha?" Pernyataan itu datang dari Kila saat Shanin lewat di depan kasir yang kebetulan saat ini tidak ada pelanggan yang ingin membayar.
"Ya emangnya kenapa? Masalah buat kamu?" Balas Shanin sewot.
__ADS_1
"Santai aja kali Sha, sensitif banget deh kayak pantat bayi."
Mendengar perkataan nyeleneh dari teman kerjanya itu membuat Shanin mendengus kesal dan memilih untuk melanjutkan langkahnya ke arah kursi yang sempat perempuan itu duduki tadi.
"Udah ketemu pacar kok masih cemberut aja?" Tanya Anna.
Shanin menghela nafasnya kasar mendengar pertanyaan Anna yang sedang bermain ponsel di sebelahnya. Tidak Kila tidak Anna, kedua teman kerjanya itu sama saja.
"Aku kan udah bilang kalo dia itu bukan pacar aku Ann." Balas Shanin.
"Calon pacar kalo gitu."
"Terserah kamu deh."
Shanin tidak sanggup lagi menghadapi Kila dan juga Anna, keduanya sama-sama cerewet, apalagi jika sudah menyangkut tentang Samuel.
Perempuan itu memilih untuk kembali memejamkan matanya sejenak, lagipula kafe saat ini sudah mulai sepi pelanggan, sudah waktunya untuk Shanin merenggangkan otot-ototnya sejenak.
***
Shanin baru saja sampai di depan kontrakan miliknya, perempuan itu langsung pulang ke kontrakan setelah dari kafe tanpa mampir ke tempat yang lain terlebih dahulu.
Hal itu dia lakukan agar dirinya dapat cepat-cepat membersihkan diri dan memakai pakaian yang sekiranya cocok untuk dirinya pakai. Alasan lain dirinya cepat-cepat pulang ke kontrakan adalah karena dirinya tidak ingin terlambat dan membuat Samuel menunggu.
Tapi tunggu? Kenapa Shanin terlihat sangat antusias sekarang? Bukannya perempuan itu tadi saat Samuel mengajaknya tampak malas? Memang suasana hati perempuan sangat mudah berubah-ubah.
Tring.. tring.. tring..
Suara dering ponsel miliknya Shanin menggema di dalam kamar perempuan itu, sedangkan si pemilik kini sedang sibuk memilih baju yang akan dia kenakan, perempuan itu baru saja selesai dari kegiatan mandinya.
Dengan terpaksa Shanin berjalan ke arah nakas dimana ponsel miliknya berada dan meraih benda pipih itu, melihat siapa orang yang menelpon dirinya, ternyata nama Samuel terpampang jelas di layar sana.
"Kamu sudah siap?" Samuel yang berada di seberang sana balik bertanya.
"Belum, tapi kamu otw sekarang aja deh kayaknya ke kontrakan aku, biar pas aku udah selesai, kamu juga sampe kesini." Usul Shanin.
"Baiklah saya akan berangkat sekarang, jangan terlalu buru-buru, dandan yang cantik."
"Emang biasanya aku gak cantik?" Tanya Shanin. Ah, sepertinya Samuel salah berbicara seperti itu.
"Cantik, kamu selalu cantik Shanin. Tapi wajah kamu rasanya akan semakin cantik jika ditambah dengan hiasan yang cantik juga."
Mendengar ucapan Samuel yang berada di seberang sana membuat pipi Shanin memanas, perempuan itu dibuat bersemu karena dipuji seperti itu oleh Samuel.
"Halo? Kamu masih disana kan Sha?"
"O-oh iya aku masih disini Sam, teleponnya aku tutup dulu ya. Aku mau lanjut dandan dulu." Balas Shanin dengan gugup.
Saking gugupnya, Shanin langsung memutuskan panggilan secara sepihak begitu saja tanpa mendengarkan balasan dari Samuel, entah kenapa hanya dipuji seperti itu oleh Samuel membuat Shanin gugup setengah mati.
Perempuan kembali mencari baju yang menurutnya cocok untuk dikenakan olehnya, setelah menemukan baju yang cocok, Shanin dengan segera memoles wajahnya dengan riasan tipis agar tetap terkesan natural.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk perempuan itu selesai dengan kegiatannya, suara ketukan pintu kontrakan milik Shanin terdengar sampai ke dalam kamar, sudah dapat ditebak jika seseorang yang mengetuk pintu itu dari luar adalah Samuel.
Shanin yang sudah siap dengan riasannya langsung meraih tas selempang yang akan dia kenakan kali ini untuk melengkapi penampilannya.
Perempuan itu kemudian berjalan ke arah pintu kontrakan, membuka pintu yang sempat diketuk oleh Samuel dari luar tadi. Saat pintu terbuka sorot mata Shanin langsung dapat menangkap sosok Samuel yang berdiri di hadapannya dengan setelan yang lebih santai dari biasanya.
__ADS_1
Lelaki itu terlihat meneliti penampilan Shanin dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa berkedip sedikitpun membuat Shanin sedikit kebingungan.
"Sam? Kenapa? Penampilan aku aneh ya?" Tanya Shanin sambil menatap ke arah lelaki itu.
Samuel yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Shanin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Kamu sangat cantik Shanin, saya sampai tidak bisa berkedip melihatnya."
Kedua pipi milik Shanin kembali dibuat bersemu karena mendengar perkataan Samuel barusan, bahkan kali ini Shanin berkali-kali lipat lebih gugup dibandingkan saat lelaki itu mengatakannya di dalam telepon.
"Ng-nggak deh biasa aja, perasaan kamu aja kali." Ucap Shanin sambil menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Kamu sudah siap?" Tanya Samuel.
"Sebentar aku pake sendal aku dulu."
Setelah mengatakan itu, Shanin mengambil sandal yang biasanya dia gunakan untuk berpergian di rak sepatu kecil yang ada di depan kontrakannya.
Tidak menghabiskan waktu yang lama, perempuan itu kini sudah benar-benar siap dengan sandal cantik di kaki jenjangnya, Samuel yang melihat itu semakin dibuat terpana.
"Sudah? Ayo jalan sekarang." Ajak Samuel.
Shanin mengangguk mendengar ajakan dari Samuel barusan, keduanya kini berjalan beriringan menuju ke arah mobil Samuel yang terparkir tidak jauh dari sana.
Saat sampai di tempat mobil Samuel terparkir, lelaki itu dengan manisnya membukakan pintu penumpang yang ada di sebelah kursi pengemudi agar Shanin dapat masuk ke dalam sana.
Shanin pun dengan senang hati menerimanya, perempuan itu kemudian langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang yang ada di sebelah kursi pengemudi.
Disusul oleh Samuel yang masuk juga ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.
"Pakai dulu seatbelt nya." Ucap Samuel kepada Shanin.
Shanin yang mendengar itu pun langsung meraih seatbelt dan berusaha untuk memakainya, namun ternyata Shanin cukup kesusahan untuk menggunakan itu karena benda itu macet saat ditarik oleh tangannya.
"Biar saya bantu." Samuel mengatakan itu sambil meraih seatbelt milik Shanin dan berusaha untuk memakainya pada perempuan itu.
Jarak antara keduanya cukup dekat sekarang ini, Shanin menahan nafasnya saat wajah milik Samuel terpampang jelas di hadapannya.
Dilihat dari jarak yang lebih dekat, wajah tampan milik Samuel membuat Shanin terpana seketika, mata perempuan itu terpaksa pada pahatan ini di wajah milik lelaki itu.
Shanin sedikit terperanjat saat tatapan mata keduanya bertabrakan, dengan cepat Shanin langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sedangkan Samuel yang melihat Shanin yang sedang salah tingkah hanya tersenyum tipis.
Setelah itu Samuel langsung menyalakan mesin mobilnya dan mobil itu pun mulai melaju secara perlahan karena memang saat ini masih berada di dalam gang yang cukup sempit.
Saat mobil yang mereka berdua tumpangi sudah masuk ke dalam jalan raya, Samuel menambah laju kecepatan mobil tersebut.
"Emangnya kita mau kemana Sam?" Shanin akhirnya membuka suara setelah keduanya diterpa keheningan.
"Rahasia, tempat yang selalu saya kunjungi akhir-akhir ini, saya yakin kamu akan menyukainya." Balas Samuel sambil menatap ke arah depan karena memang lelaki itu sedang menyetir sekarang ini.
Shanin yang mendengar itu pun hanya menganggukkan kepalanya, semoga saja apa yang dikatakan oleh lelaki itu benar jika Shanin akan menyukai juga tempat tersebut.
"Bagaimana dengan rancangan milik kamu? Sudah selesai?" Tanya Samuel sambil melirik ke arah Shanin yang ada di kursi penumpang di sebelahnya.
"Oh iya, aku lupa bilang sama kamu kalo rancangan punya aku udah selesai. File nya belum aku pindahin ke laptop karena kemarin aku revisi lewat handphone aku disela-sela pekerjaan aku di kafe. Nanti kalo udah aku pindahin ke laptop, bakalan langsung aku kirim ke kamu." Jelas Shanin panjang kali lebar.
Kalian tidak lupa kan kalau sekarang Shanin sudah menjadi pegawai Samuel? Walaupun perempuan itu diberikan kebebasan untuk mengerjakan pekerjaannya di kontrakan setelah pulang bekerja di kafe.
"Bagus kalau begitu, nanti biar saya cek terlebih dahulu agar mengetahui apa yang harus direvisi atau tidak." Balas Samuel.
__ADS_1
Shanin menganggukan kepalanya mengerti dan keduanya kembali dipenuhi oleh keheningan setelah itu, Samuel yang fokus menyetir dan Shanin yang kini mengarahkan pandangannya keluar jendela untuk melihat-lihat keadaan jalanan kota di sore ini.
BERSAMBUNG.