
Sekarang jarum jam sudah menunjukkan ke angka setengah lima dan sedari tadi ponsel milik Shanin terus berbunyi tanda adanya panggilan masuk, panggilan dari Gita.
Teman Shanin yang satu itu sudah menyuruhnya untuk segera datang ke toko karena sebentar lagi jam kerjanya akan habis.
Dengan setelah yang lebih santai, perempuan itu keluar dari dalam kontrakannya sambil menenteng sebuah tas di tangan kanannya dan kemudian naik ke atas motor untuk mengendarai motor itu.
Butuh waktu beberapa menit untuk Shanin sampai di depan sebuah toko bunga yang pernah menjadi tempat kerjanya tidak lama ini, perempuan itu dapat melihat motor milik kedua temannya yang masih terparkir disana.
Dengan cepat perempuan itu turun dari motor dan membuka helm yang tadi membungkus kepalanya, setelah itu Shanin langsung mengalahkan kakinya untuk masuk ke dalam toko itu.
"Selamat data-"
Perkataan dari Gita yang kini berdiri di depannya terpotong karena melihat yang ada di depannya, orang yang dia tunggu-tunggu sedari tadi.
"Ya ampun Sha! Aku kangen banget sama kamu!"
Saking antusiasnya, Gita langsung memeluk tubuh milik Shanin dengan erat. Karena pelukan mendadak yang diberikan oleh temannya itu membuat luka yang ada di siku nya tertekan.
"Awshh, pelan-pelan Git."
Shanin mencoba untuk melepaskan pelukan dari temannya itu.
"Eh eh? Kamu kenapa Sha?" Tanya Gita kebingungan mendengar Shanin yang meringis.
"Ya ampun! Tangan kamu kenapa?!" Lanjutnya ketika baru menyadari siku Shanin yang di perban.
"Berisik ih, tangan aku gak kenapa-kenapa."
"Gak kenapa-kenapa mata kamu! Itu kamu tadi meringis karena apa? Pasti karena sakit kan?"
"Udah ih bawel, Ajeng kemana?"
Shanin bertanya sambil matanya yang melirik ke setiap sudut toko ini guna menemukan keberadaan sosok satu temannya lagi.
"Jawab dulu pertanyaan aku tadi, tangan kamu kenapa?"
"Semalem gak sengaja jatuh dari motor Git, tapi sekarang udah gak kenapa-kenapa kok."
"Kok bisa sih?! Kamu nih kalo bawa motor suka gak hati-hati."
"Iya-iya aku yang salah. Sekarang jawab pertanyaan aku tadi, Ajeng dimana?"
"Anak itu terlalu betah di belakang, kamu kalo mau ketemu sama dia ke belakang aja." Jawab Gita.
"Tapi menurut aku mending gak usah deh, bentar lagi palingan dia balik lagi ke sini, karena jam kerjanya udah abis." Lanjutnya.
Shanin hanya mengangguk-anggukan kepalanya menanggapi perkataan Gita barusan, perempuan itu memilih untuk melenggang pergi meninggalkan temannya itu.
__ADS_1
Shanin saat ini sedang duduk di salah satu kursi yang biasanya menjadi tempat duduk para pelanggan, tapi sore ini tidak sedang ada satu pun pelanggan yang mampir.
"Sepi banget Git toko nya." Shanin kembali mengeluarkan suaranya.
"Tadi siang lumayan rame, sepi karena udah sore aja kayaknya." Jawaban seadanya yang diberikan oleh Gita.
Tidak lama dari itu, terdengar derap langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Mata Shanin langsung teralih ke sumber suara itu, ternyata suara derap langkah kaki itu berasal dari Ajeng yang berjalan mendekat ke arah Shanin dan Gita.
"Loh Sha? Kamu udah dari tadi sampai ke sini?" Pertanyaan itu datang dari Ajeng yang baru saja sampai di hadapannya.
"Sekitar lima belas yang lalu kayaknya." Jawab Shanin seadanya.
"Kok gak panggil aku sih?"
"Kata Gita kamu bentar lagi juga keluar dari sana, mangkanya dia ngusulin buat aku nunggu disini aja."
"Gita nih sok ngide, kalo tau dari tadi Shanin udah sampe, aku bakalan keluar dari tadi dari sana."
"Ya udah sih Jeng, yang penting kamu nya udah ketemu sama Shanin." Gita membela diri.
"Terserah kamu deh."
Setelah mengatakan itu, Ajeng ikut bergabung untuk duduk dengan kedua temannya sambil menunggu menit-menit jam kerjanya berakhir.
"Mending kamu ambil tas punya kamu di belakang sekarang deh Git, biar nanti kita bisa langsung pergi." Usul Ajeng pada temannya.
Perkataan yang diberikan oleh Gita dibalas anggukan oleh keduanya. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Gita mengambil tas miliknya yang ada di belakang, setelah mendapatkan barang yang dia cari, perempuan itu langsung kembali menghampiri teman-temannya.
"Udah?" Shanin bertanya.
"Udah nih, sekarang aja yuk? Cuma tinggal dua menitan lagi." Ucap Gita sambil menatap ke arah jam tangan miliknya.
"Gak kenapa-kenapa nih?" Tanya Shanin menyakinkan."
"Gak kenapa-kenapa, udah yuk. Kunci tokonya kamu yang pegang kan Git?" Tanya Ajeng."
"Iya, yuk keluar."
Ketiganya pun berjalan beriringan keluar dari dalam toko dan Gita langsung mengunci toko tersebut, sedangkan kedua temannya yang ada di belakang dirinya sibuk mengobrol.
"Sha, aku baru sadar kalo tangan kamu di perban, kenapa?"
Berbeda dengan ekspresi yang Gita berikan tadi, kali ini Ajeng bertanya seperti itu dengan ekspresi yang santai.
"Semalem jatuh Jeng, udah gak kenapa-kenapa kok."
"Kenapa bisa kayak gitu sih? Lain kali hati-hati mangkanya kalo bawa motor."
__ADS_1
"Iya-iya aku bakalan lebih hati-hati lagi."
"Udah ngobrolnya?"
Tiba-tiba suara milik Gita hadir di antara percakapan Shanin dan Ajeng, perempuan itu ternyata sudah selesai dengan acara mengunci tokonya tadi.
"Udah selesai kunci pintu tokonya?" Bukannya menjawab, Ajeng justru balik bertanya pada Gita.
"Udah, yuk jalan sekarang aja."
Ketiganya kemudian menghampiri motor milik mereka masing-masing, mereka sudah memiliki rencana ingin pergi kemana.
Mereka bertiga berjalan beriringan di jalan raya kota sore ini, keadaan jalan raya cukup ramai, mengingat kalau ini merupakan jam-jam nya orang-orang pulang dari tempat kerjanya.
Butuh sekitar tiga puluh menitan untuk ketiganya sampai di tempat yang dituju, mall menjadi tujuan utama mereka.
Lebih tepatnya arena bermainnya, meskipun usia mereka sudah bukan kanak-kanak lagi, tapi apa salahnya bermain di tempat seperti ini?
Diantara ketiganya, Gita lah yang terlihat sangat excited, perempuan yang satu itu tidak henti-hentinya mengoceh membicarakan ingin memainkan permainan apa saja di dalam sana.
"Kemana dulu nih?"
Shanin bertanya kepada dua temannya saat mereka baru saja menginjakkan kaki di lantai dua mall ini.
"Beli minum dulu kayaknya, aku haus." Usul Ajeng.
"Iya nih aku juga haus." Setuju Gita.
Shanin pun hanya menyetujui permintaan kedua temannya itu, sekarang ketiganya berjalan memasuki sebuah toko minuman dengan brand terkenal yang ada di dalam mall itu.
Tidak ingin berlama-lama di dalam sana, setelah mereka bertiga mendapatkan minuman yang mereka inginkan, ketiganya langsung kembali keluar dari dalam toko itu, berjalan ke tujuan utama mereka, arena bermain.
"Duh, kayaknya hari ini tabungan aku bakalan berkurang banyak." Ucap Gita disela-sela langkah ketiganya.
"Gak kenapa-kenapa kali Git, gak tiap hari ini kayak gini, cuma sesekali aja." Ucap Shanin menanggapi perkataan Gita.
"Bener tuh kata Shanin, lagian kamu juga sok-sokan hemat begitu padahal tiap hari jajan mulu." Ajeng menyela.
"Emang aku hemat kali." Bantah Gita.
"Udah ih kalian ribut terus gak ada damai-damai nya." Shanin mencoba untuk melerai kedua temannya itu.
"Ajeng tuh." Gita mencoba untuk membela diri.
"Iya-iya aku yang salah." Ajeng hanya bisa mengalah dari temannya itu.
Setelah pembicaraan itu, ketiganya masih lanjut berjalan ke tujuan utama mereka dengan tangan ketiganya yang membawa minuman yang tadi sempat mereka beli.
__ADS_1
BERSAMBUNG.