Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 5-pt1


__ADS_3

Keesokan harinya Shanin sudah siap dengan seragam yang melekat pada tubuhnya, pagi ini dia harus kembali berangkat ke toko bunga tempatnya bekerja.


Saat baru saja keluar dari dalam kamar, mata perempuan itu langsung menangkap sosok Samuel yang tengah duduk di atas kursi, menghadap ke arah meja belajarnya.


Dengan kedua tangannya yang memegang beberapa lembar desain komik milik Shanin yang entah kapan perempuan itu selesaikan, karena belakangan ini Shanin tidak memiliki waktu luang.


"Kamu kalo mau main keluar, jangan lupa kunci pintunya ya, taro kuncinya di atas pintunya aja, jangan jauh-jauh mainnya, kamu belum hafal tempat ini."


Memangnya Shanin pikir Samuel anak kecil? Nada bicaranya sangat persis seperti seorang ibu yang hendak meninggalkan anaknya di rumah sendirian.


Samuel hanya mengangguk menanggapi perkataan yang dilontarkan oleh Shanin dan kemudian tangannya menerima sebuah kunci yang diberikan oleh perempuan itu.


"Jam istirahat makan siang nanti aku usahain buat pulang, tapi kalo sampe jam satu aku belum juga pulang, kamu masak mie instan aja ya, mie nya di dalem rak yang ada di dapur." Jelas Shanin panjang lebar sambil memakai helm ke kepalanya.


Lagi-lagi Samuel hanya merespon perkataan itu hanya dengan sebuah anggukan kepalanya.


Shanin tidak ingin ambil pusing tentang hal itu, dia harus secepatnya berangkat ke tempat kerjanya.


"Aku berangkat, hati-hati di rumah." Ucap Shanin sebelum dirinya pergi keluar dari dalam kontrakan.


Bukankah seharusnya Samuel yang mengucapkan hati-hati pada Shanin? Ini malah sebaliknya, Shanin yang mengucapkan hati-hati pada lelaki yang akan dia tinggal sendirian di kontrakan ini.


Samuel dapat mendengar suara mesin motor milik Shanin yang ada di luar sana, suara itu semakin menjauh sampai kemudian menghilang.


Helaan nafas kasar terdengar dari lelaki itu sambil matanya menatap ke arah kunci kecil yang ada di genggamannya.


Tidak lama dari itu, dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kemudian membukanya, menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan di luar sana.


Sepi, satu kata yang terlintas di kepala Samuel. Meskipun kontrakan Shanin berada di kawasan padat penduduk tetapi saat jam kerja seperti ini orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Begitupun dengan anak-anak yang biasanya berlarian di depan kontrakan, pagi ini mereka harus berangkat ke sekolah.


Dengan kaki tertatih, Samuel berjalan menggunakan tongkat nya dengan hati-hati keluar dari dalam kontrakan dan setelah berada di luar, lelaki itu kembali menutup pintu kontrakan dan tidak lupa menguncinya sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Shanin.


Setelah memastikan jika pintunya telah terkunci, Samuel kemudian menaruh kunci tersebut di atas pintu itu, lagi-lagi dia melakukan hal ini sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Shanin.


Samuel mengeluarkan sebuah dompet yang ada di kantong celananya, di dalam sana terdapat beberapa kartu ATM, kartu nama dan juga kartu identitas miliknya.

__ADS_1


***


Untung saja jalanan pagi ini tidak macet, Shanin sudah sampai di depan toko bunga tempatnya bekerja. Di sana baru terdapat motor miliknya dan juga motor milik Ajeng setahunya.


Anak itu datang pagi-pagi seperti ini pasti karena hari ini bagiannya memegang kunci, karena biasanya Ajeng yang paling terakhir datang diantara anak toko lainnya.


"Tumben dateng pagi Sha."


Suara itu menyapa indera pendengaran Shanin saat perempuan itu baru saja masuk ke dalam toko, ternyata itu adalah suara milik Ajeng yang sedang mengelap kaca.


"Aku kan emang biasanya dateng pagi, emangnya kamu."


Mendapat jawaban seperti itu membuat Ajeng hanya bisa cengengesan disana.


Meninggalkan Ajeng yang sedang mengelap kaca, Shanin berjalan ke arah loker yang ada di toko ini, tempat biasanya para pegawai menyimpan barang bawaan.


Dirogohnya sebuah kunci kecil yang ada di dalam tas selempang nya, perempuan itu kemudian membuka loker tersebut dan memasukkan tas selempang nya ke dalam sana.


Setelah selesai menaruh tas tersebut, Shanin kemudian berjalan ke arah kasir, yang merupakan tempatnya menjalankan tugas.


Selain menjadi kasir, Shanin juga sesekali menjadi pengirim bunga tersebut jika kurir yang biasanya bertugas tidak masuk atau ketika sedang banyak pesanan yang harus diantar.


"Ya ampun Git, kenapa buru-buru gitu sih? Masih pagi ini." Shanin berkata kepada Gita yang baru saja memasuki toko.


Mendengar perkataan itu keluar dari mulut Shanin, Gita hanya tersenyum tidak jelas di ambang pintu sana, masih pagi gini nih anak udah gila aja, Shanin membatin melihat kelakuan teman kerjanya itu.


"Takutnya pak bos udah dateng." Balas Gita.


"Kan kamu bisa liat di depan udah ada mobilnya Pak Bima apa belum."


"Oh iya ya, aku lupa."


Shanin hanya bisa menghela nafas pasrah mendengar jawaban dari temannya itu, sedangkan Gita sudah pergi dari sana, menuju ke arah loker untuk menyimpan barang bawaannya.


"Oh iya Sha, kemarin aku kayak ngeliat kamu di rumah sakit pas aku lagi kirim bunga."


Perkataan tiba-tiba dari Gita itu membuat Shanin gugup seketika, apa Gita melihat dirinya dan juga Samuel?

__ADS_1


"O-oh itu aku lagi jenguk saudara aku yang sakit, kenapa gak panggil aku aja?" Shanin berbasa-basi pada Gita.


"Tadinya mau aku panggil, tapi aku malu sama cowok yang lagi bareng sama kamu."


"Ahh.. dia sepupu aku, itu aku jenguk dia kemarin." Balas Shanin dengan gugup.


"Pantesan kemarin kamu bantuin dia jalan, ganteng ya sepupu kamu Sha."


"Kamu nih! Dia itu udah punya pacar tau." Sekali lagi Shanin harus berbohong kepada teman kerjanya itu.


"Yahh padahal mau aku deketin." Ucap Gita sambil cengengesan.


"Liat yang bening dikit, langsung jelalatan."


Itu bukan suara milik Shanin, melainkan suara milik Ajeng yang berjalan ke arah Shanin dan juga Gita, dengan membawa lap basah di tangannya, karena memang dia baru saja selesai mengelap kaca.


"Suka-suka aku dong." Balas Gita dengan nada sewotnya.


"Suka-suka aku dong, suka-suka aku dong, gak ada yang suka sama kamu."


"Ck, awas ah minggir, aku mau ke belakang."


Setelah mengatakan itu, Gita melangkah ke belakang dengan tubuh yang sengaja menyenggol bahu milik Ajeng, anak itu merajuk.


Sedangkan Shanin hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan dua teman kerjanya itu di pagi ini.


***


Sedangkan di tempat lain, seorang lelaki baru saja keluar dari sebuah kantor bank dan kalian pasti dapat menebak apa yang dilakukan lelaki itu sebelum.


Kalau bukan mengambil uang, maka opsi lainnya yaitu menyetor uang, tapi barusan lelaki itu baru saja mengambil uang miliknya, dia adalah Samuel.


"Sepertinya saya harus membeli ponsel terlebih dahulu untuk menghubungi Jessi." Monolog lelaki itu sambil memasukkan sebuah dompet ke dalam kantong kemeja yang sedang dia pakai.


Berjalan dengan dibantu sebuah tongkat, Samuel melangkahkan kaki ke tepi jalan untuk menunggu taksi yang akan dia tumpangi menuju ke pusat perbelanjaan.


Karena memang disini cukup ramai dan sudah masuk kedalam perkotaan, tidak susah untuk mendapatkan sebuah taksi, tidak sampai sepuluh menit Samuel berhasil mendapatkan taksi yang dia cari.

__ADS_1


"Ke mall terdekat pak." Ucap Samuel saat baru saja menutup pintu mobil.


"Baik tuan."


__ADS_2